Sabtu, 12 Februari 2011

Jihad Mawar (di taman yang terlupakan)


Dari sudut lain kota wali kisah ini dimulai. Bermula dari sebuah taman yang tak kunjung menjadi sorotan penduduk kota ini. Taman yang terlupakan. Meski ia tak seindah dulu, tapi setiap sudutnya menyimpan pesona masa lalu. Ia masih berdiri diantara hiruk pikuk kota semi metropolis ini. Tapi berdiri diantara kekokohan batu-batu ini membuatku sedikit tenang. Ketenangannya mampu melayangkan beban-beban pikiranku sejenak.



Siang itu, aku melingkar bersama delapan mawar di pendopo tua taman ini. Merenungi dua masa perjalanan kami di taman perjuangan yang telah menyatukan kami. Taman perjuangan, taman lain yang jauh lebih indah dari taman ini. Tapi keduanya bernasib sama. Keindahan keduanya seringkali terlupakan karena di luar sana banyak keindahan-keindahan semu yang lebih menarik hati.



Aku dan delapan mawarku yang tengah bersemi ini masih menikmati belaian lembut angin dan kesunyian yang meneduhkan hati. Membuat kami larut dalam dunia kami. Tapi kami cukup sadar ketika seorang wanita cantik berkulit putih dengan balutan pakaian yang “seadanya” dan pria berperawakan asing disampingnya memberanikan diri menyapa. Sedikit berbasa-basi. Selayaknya orang Indonesia yang “katanya” terkenal akan keramahannya, kami balas sapa dan senyum mereka dengan penuh keramahan. Masih dengan keramahan dan kepolosan ketika pinta mereka berfoto bersama kami penuhi. Dan masih dengan wajah ramah dan polos membalas sapa mereka sebelum ketiganya berlalu dari kami. Dan kami kembali larut memasuki dunia kami. Kembali pada taman perjuangan. Hari itu selesai menciptakan semangat yang tercipta bersama untaian ukhuwah.



Dan sehari di taman yang terlupakan itu kini meninggalkan jejak yang tak kami buat dengan sadar. Jejak yang bisa menghapus jejak-jejak kebaikan yang kami dan saudara-saudara kami buat dengan susah dan payah. Nila setitik rusak susu sebelanga. Pepatah itu begitu nyaring di telinga dan menari lincah di alam bawah sadar. Seekor harimau ganas siap berdiri menghadang di tengah perjalanan ini. Cukup membuat kami geram untuk melawannya. Karena ia tak kami duga kehadirannya. Terlebih karena ia hadir dari jejak yang dulu tercipta dari keramahan sebuah taman yang terlupakan. Belum cukup seekor harimau yang masih belum nampak. Jauh di belahan bumi lainnya, seekor singa yang berlipat kali ganasnya menanti perjalanan kami. Tapaknya telah lama menjejak bahkan mungkin tapaknya setia berada di balik bayang-bayang langkah yang tak disadari. Entah apa yang membuat kedua hewan symbol keganasan ini bernafsu menyantap kami. Setidaknya kami tau keduanya berada dalam satu komando.



Aku diingatkan pada lembaran kisah perjalanan Rasulullah ketika beliau dihina bahkan di tuduh orang gila. Bukan sebuah perjalanan yang nyaman tapi indah dinikmati dalam keimanan. Begitupun jalan yang kami tempuh, ia tak senyaman perjalanan ke bali ataupun kualalumpur. Tapi setelah jalan ini akan ada jalan yang berujung pada keindahan yang tak berujung. Berujung pada Sang Maha Indah. Kiranya ini yang membuat kami kuat dan siap atas berbagai keganasan di luar sana yang memiliki banyak langkah untuk menghapus dan menghancurkan langkah-langkah yang ditapaki Rasulullah untuk sebuah kejayaan Islam. Dan kami yang berusaha meneruskan perjuangannya adalah mangsa empuk bagi makhluk-makhluk ganas di luar sana.



Untukmu wahai kekasih Allah, kami melebur bersama jiwa yang dikuasai rindu padamu..



* Suratan Tuhan kita disini, menapaki cerita bersama. Kisah ini kan menjadi oleh-oleh untuk anak cucu kita nanti, ukhti. biarkan mereka tau bahwa pernah ada kisah diantara kita di taman yang terlupakan untuk Sang Maha Indah di penghujung indahnya taman perjuangan. (Assyifa)