Rabu, 16 Maret 2011
Galeri Lukisan wajah Sang Maha Indah

Gumpalan kepenatan menggumpal dan bergumpal bersarang di seisi kepala. Ingin rasanya membuangnya ke lautan lepas. Membiarkannya menari bersama tarian ombak hingga terdampar ke pulau tak bertuan atau melemparkannya sebagai makanan ikan.
Dan sore yang dinanti pun datang. Disambut birunya langit yang membias biru dengan air laut. Pesonanya menentramkan hati. Meski ia tak sebanding dengan pesona pantai pulau dewata. Tapi cukup mengobati rinduku pada ketenangan.
Menyusuri jalan setapak di tepi laut. Diiringi empat pasang kaki pejalan tangguh (begitu mereka menyebutnya), aku berkawan akrab dengan bebatuan. Menikmati kelincahan tarian ombak dan nyanyian angin. Tentram rasanya. Tak banyak wajah yang kami temui disini. Membuat kami bebas berekspresi. Untuk kedua kalinya Bersenandung lagu yang baru saja kami nyanyikan untuk mengiringi suapan sekotak tiramisu di hari lahir seseorang. Sebuah lagu yang sama dengan senandung penyemangat aksi di jalan. Bingkai kehidupan. Entahlah mungkin hanya ikan-ikan yang mendengar senandung merdu kami. Atau bahkan mungkin diam-diam mereka ikut bersenandung merdu bersama kami.
Aku benar-benar telah dibuat jatuh cinta pada wajah alam. Pada langit biru, pada keanggunan bias warna lautan, dan syahdunya kehijauan di kaki gunung. Benar-benar wajah alam yang indah. Menginspirasiku untuk melukiskan wajah Sang Penciptanya yang pasti jauh lebih dari sekedar indah. Tentu saja bukan lukisan dalam semburat warna kuas di atas kanvas. Tapi lukisan dalam kata oleh goresan pena. Dan menyimpan lukisan itu dalam galeri hatiku. Agar suatu saat ketika aku dipertemukan dengan wajah Sang Maha Indah, aku bisa membuka kembali lukisan itu dan meyakini kekeliruanku. Keliru bahwa sebenarnya wajah-Nya jauh lebih indah dari lukisan-lukisan dalam galeri hatiku. Bahkan keindahan-Nya tak mampu terlukiskan lewat kata maupun semburat cat lukis.
Di bawah langit-Nya, 14 maret 2011
-Assyifa-
Langganan:
Komentar (Atom)