Kontak Kick Andy
Mungkin suatu saat akan kutemukan sakura di negeri kangguru,atau kangguru di negeri sakura...
Jumat, 30 September 2011
Jumat, 16 September 2011
Sabtu, 03 September 2011
Jejak–Jejak Perindu Surga
“Di malam penuh bintang, diatas sajadah yang kubentang. Sedu sedan sendiri mengadu pada Yang Maha Kuasa. Sesak dadaku menangis pilu saat kuurai dosa-dosaku. Urat nadi pun tau aku hampa. Di hadapanMu, ku tiada artinya. Hanya Engkau yang tau siapa aku tetapkanlah seperti malam ini, sucikan diriku selama-lamanya..”
Nasyid diatas mengingatkanku pada malam ke 28 ramadhan yang mengantarkanku pada jejak-jejak cinta di ujung sajadah, di bawah lindungan kubah masjid terbesar di kota ini.
Saat itu langit belum bisa dikatakan malam untuk terlelap atau merebah melepas lelah. Saat aku tertampar tepat di ayat-ayat terakhir penutup juz 29 di akhir raka’at tarawih.
“celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). Sungguh, orang-orang yang bertaqwa berada dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (di sekitar) mata air. Dan buah-buah yang mereka sukai. (Katakan kepada mereka), “makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang kamu kerjakan.” Sungguh, demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). (Katakan kepada orang-orang kafir), “makan dan bersenang-senanglah kamu (di dunia) sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhaka!”. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). Dan apabila dikatakan kepada mereka, “rukuklah”, mereka tidak mau rukuk. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). Maka kepada ajaran manakah (selain Al Qur’an) ini mereka beriman.” (QS Al mursalat;40-50)
Ya Rabb… ternyata surga masih jauh untukku. Tapi tidak untuk mereka para perindu surga di hadapanku. Tubuh-tubuh renta dan kaki-kaki yang tak lagi kokoh berdiri lama bukanlah penghalang mereka untuk tetap istiqomah sampai di raka’at 23 sholat tarawih malam itu. Ahh… surga begitu dekat rasanya bagi mereka. Sedangkan aku dan beberapa jama’ah lain yang notabenenya anak muda dan masih kuat, sudah menyerah terlebih dulu di raka’at ke 8.
Penghujung malampun datang dan kantung mata kurasakan semakin berat. Hingga akhirnya aku kembali menyerah terlelap bersama Al Qur’an di pelukan. Sampai lantuan suara merdu seorang wanita tua menuntunku kembali ke alam sadarku. Aku tersadar dan menyadari bahwa ini waktu yang tepat untukku mengejar surga, mendekatinya.
Malam ke 28 ramadhan itu aku merasa surga begitu dekat denganku dalam sujud-sujud panjangku bersama sujud-sujud para perindu surga. Ya Rabb… aku ingin malam itu tak segera berakhir, titahkan pada matahari agar sejenak berputar hingga langit malam menaungiku lebih lama.
Saat fajar terbit, aku kembali melihat para perindu surga. Mereka yang kulihat istiqomah hingga raka’at terkhir tarawih, mereka yang menggelar sajadah untuk sujud panjang tadi malam, mereka yang antusias mendengarkan siraman penyejuk hati khas surga di tengah malam, mereka yang melantunkan merdu ayat-ayat cintaNya, mereka yang kembali lagi dan masih bertahan menahan kantuk untuk ilmu yang tersaji setelah sholat subuh. Dan mereka adalah kaum ibu. Aku bergetar menyimpan kagum. Bukankah mereka telah begitu lelah bergelut dengan tugas mereka di rumah?semenjak menyiapkan sahur, mengurus rumah, mengurus anak-anak dan suami mereka, menyiapkan hidangan buka puasa, dan sederet jadwal padat mereka. Dan mereka mengkhususkan waktu untuk Rabbnya di tengah kelelahan panjangnya, ini adalah istirahat mereka . Karena bagi mereka surga terasa begitu dekat dalam kedekatannya dengan Sang Tuan Rumah Surga. Bagiku, Surga bukan saja di bawah telapak kaki ibu tapi surga ada di setiap jejak-jejak mereka.
Duhai Rabb yang membolak-balikan hati, tempatkan hatiku bersama dengan para perindu surga. Biarkan jejak-jejaknya melebur bersama setiap jejak langkahku hingga aku menemukanMu di surgaMu…
Di bawah langitNya, 29 Ramadhan 1432H
Assyifa
Langganan:
Komentar (Atom)