Selasa, 19 Oktober 2010

sebiru hari ini-edcoustic

aku ingin mencintaimu by edcoustic

Maher Zain - Insha Allah | ماهر زين - إن شاء الله

Surau redup di usia senjanya

penyakit itu datang lagi, setiap kali aku merindukan kebersamaan itu
aku lagi-lagi tak bisa meredamnya
dan lagi-lagi hanya bisa menuangkannya lewat kata
tapi ternyata barisan kata-kata itu telah membunuh rasa lain
membunuh rasa dalam tautan hati bernama ukhuwah
entahlah, masih adakah rasa cinta itu untukku??
aku lagi-lagi harus merasakan akibatnya sendiri
kembali sendiri, disini di surau kecil yang hanya diterangi temaram lampu yang redup
entahlah, andaikan aku bisa berlari dari suaru redup ini
karena surau ini telah kehilangan jiwa nya
tapi lagi-lagi pikiranku lebih memilih titah tuhannya ketimbang titahku
surau redup ini di usia senjanya..
fisiknya memang rapuh, bahkan hampir rubuh dan runtuh
tapi dulu di masa kejayaan nya ia begitu istimewa meski rapuh
karena masih ada jiwa-jiwa yang menguatkannya
tapi kini...
ia semakin redup karena satu demi satu jiwanya telah hilang
sebelum ia benar-benar dihilangkan
dan aku, aku hanya bisa menangis sendri disini di surau yang hanya tinggal menunggu waktunya

aku lelah dan jenuh titik

Jika ditanya Lelah?? Ya aku Lelah!! Harus membagi-bagi pikiranku.

Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk focus pada satu hal, kuliah dan Memikirkan masa depanku titik.

Jika ditanya Jenuh?? Ya aku jenuh!!bergelut dengan aktifitas yang itu-itu saja.

Sekali lagi jika aku boleh memilih aku akan memilih untuk berkelana sesuka hatiku, menikmati masa mudaku titik.

Kupikir jika pertanyaan itu datang padamu, jawabanmu pun tak akan jauh berbeda denganku.

Benarkan??

Hayo ngaku…. .

Lalu bagaimana jika pertanyaan itu hadir di hadapan Rasulullah dan para sahabat dulu, kira-kira apakah jawaban beliau semua? Apakah jawaban beliau semua sama denganku?

Andaikan ketika dulu beliau semua ditanyakan hal yang sama dan menjawab hal yang sama denganku, apa jadinya kita hari ini??

Mungkin kau dan aku saat ini sedang menyembah berhala yang terbuat dari tepung roti.

Mungkin tak akan ada istilah emansipasi wanita. Karena jangankan emansipasi wanita, mungkin ibu kartinipun belum tentu bertahan hidup hingga dewasa untuk memikirkan emansipasi.

Dan begitu pula aku, mungkin usiaku tak sampai 3 bulan purnama pun sudah di kubur hidup- hidup karena bayi perempuan adalah sebuah aib.

Mungkin, mungkin dan masih banyak mungkin-mungkin yang lain..

Mari kita biarkan pikiran kita bekerja masing-masing untuk membayangkan berbagai kemungkinan itu.............................................................................................................

Dan… sekarang bangunlah….sudah cukup!!!

Bangun dari mimpi buruk itu!!

Bukalah matamu... tenanglah..

Karena kita tidak sedang ada di dunia sekelam dan sehitam yang kau bayangkan itu.

Lihatlah!! Tepung-tepung roti itu bisa kita makan sekarang, tak perlu lagi kita sembah.

Dan aku bisa merasakan betapa aku dihormati sebagai kaum wanita. semua itu karena tak ada kata LELAH dan JENUH dalam kamus perjuangan Rasulullah dan para sahabat.

Tapi taukah kau?

Rasulullah dan para sahabatpun pernah merasakan dilema.

Dilema ketika harus meninggalkan harta, keluarga, pekerjaan dan semua yang dicintainya di Mekah untuk hijrah ke Madinah.

Tetapi beliau semua membulatkan tekad untuk dakwah ini

Sebulat tekadnya seorang Abu Bakar Asshidiq ketika ditanya

”jika kau infak kan seluruh hartamu di jalan Allah, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?

Dengan mantap beliau menjawab ”cukup Allah dan RasulNya saja”.

Se- mantap pilihan Mush'ab bin 'Umair untuk meninggalkan kemewahan, ketampanan, dan semua kenikmatan duniawi yang tak semua orang beruntung memilikinya.

Jika saja Rasulullah dan para sahabat dulu mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib kita saat ini, tak dapat merasakan betapa indahnya islam

Jika saja aku dan kau mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib anak cucu kita nanti, tak mengenal apa itu indahnya islam??

Mengapa tidak mungkin??

Taukah kau, mengapa kita sudah sulit bahkan tak bisa lagi melihat lambang negara kia, sang garuda??

Karena ia tak ada yang melestarikan,

Dan begitupun dengan dakwah ini...

Lalu, apa maksudnya ku sampaikan hal ini padamu??

Kau akan menemukan jawabannya di dasar hatimu..

Dan kuharap mutiara perjuangan ini yang kan kau temukan di dasar hatimu

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH Rahmat Abdullah).”

Dan akhirnya.......

kejenuhan dan kelelahanpun berkata”aku lelah dan jenuh titik. ” (loch??)

*afwan, tidak ada maksud menyindir, menghardik, menghakimi, mengajari,dsb

Ini hanya sebuah renungan pribadi yang ingin ana bagi dengan ikhwah semua.

Bagi yang sedang merasakannya, semoga bisa bermanfaat

Bagi yang sedang tidak merasakannya, semoga bisa menjadi penguat diri sebelum terjadi.

Bagi yang tersinggung dan tidak menyukai notes ini, mohon dimaafkan lahir dan batin...

Bagi yang ingin memberi kritik, saran, protes, bahkan demo...

Silahkan, InsyaAllah kebagian pahala

Pahala untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran

Assyifa ^_^