Selasa, 19 Oktober 2010

Surau redup di usia senjanya

penyakit itu datang lagi, setiap kali aku merindukan kebersamaan itu
aku lagi-lagi tak bisa meredamnya
dan lagi-lagi hanya bisa menuangkannya lewat kata
tapi ternyata barisan kata-kata itu telah membunuh rasa lain
membunuh rasa dalam tautan hati bernama ukhuwah
entahlah, masih adakah rasa cinta itu untukku??
aku lagi-lagi harus merasakan akibatnya sendiri
kembali sendiri, disini di surau kecil yang hanya diterangi temaram lampu yang redup
entahlah, andaikan aku bisa berlari dari suaru redup ini
karena surau ini telah kehilangan jiwa nya
tapi lagi-lagi pikiranku lebih memilih titah tuhannya ketimbang titahku
surau redup ini di usia senjanya..
fisiknya memang rapuh, bahkan hampir rubuh dan runtuh
tapi dulu di masa kejayaan nya ia begitu istimewa meski rapuh
karena masih ada jiwa-jiwa yang menguatkannya
tapi kini...
ia semakin redup karena satu demi satu jiwanya telah hilang
sebelum ia benar-benar dihilangkan
dan aku, aku hanya bisa menangis sendri disini di surau yang hanya tinggal menunggu waktunya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar