Aku, sakura diantara kelopak-kelopak mawar di taman perjuangan ini.
Biarkan warnaku terselip diantara biru, putih, hitam, hijau, kuning dan warna-warni mawar ini. Meski warnaku tak se-elok warna mereka.
Aku ingin belajar menjadi luar biasa dari mereka tanpa harus mengubah diri menjadi mawar. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, sakura.
Aku percaya bahwa kebersamaan itu lebih indah, dan aku yakin episode kebersamaanku bersama mereka adalah bagian terindah dari episode hidupku.
Kebersamaan ini membuatku mengerti akan indahnya perbedaan jika kita mau saling memahami dan saling mengisi.
Untuk Mawar-Mawar yang bersemi di taman perjuangan. Mawar-Mawar yang bersemi bersama pancaran Nurul Ilmi. Jangan biarkan duri sebagai perisaimu patah oleh angin berhembus tak tentu arah. Karena Mawar tanpa duri sebagai perisainya kan mudah rapuh. Jagalah perisai itu ukhti, jaga pula hatimu agar tak mudah rapuh oleh rasa yang semu. Karena engkau adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Jaga keindahanmu hingga waktu yang tepat tiba.
*mumpung lagi musim bunga mawar nech, tulisan ini kupersembahkan untuk all akhwat IMMNI agar ukhuwah qt terjalin erat dengan saling mengingatkan dalam kebaiakan. Syukron atas ukhuwahnya selama ini ukhti...
-Assyifa-
Sabtu, 27 November 2010
Musim semi di bawah birunya langit negeri sakura
Sakura... Hanya dengan menatapnya meski lewat gambar, telah mampu membuat mataku berbinar-binar. Rasa yang sama ketika ku menatap sekerumunan manusia berbalut putih mengelilingi ka’bah. Seakan ada kerinduan yang menggenang di hatiku untuk melihat keduanya secara langsung dalam radius yang dekat dari bola mataku. Mungkin rasa rindu yang sama dimiliki jutaan umat ini untuk melihat saksi bisu perjalanan Nabi Ibrahim As dan Rasulullah Saw di masjid kebanggaan umat itu. Tapi tak banyak yang memiliki rasa rindu yang kumiliki untuk sakura.
Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Seperti halnya mawar yang cantik dengan duri sebagai perisainya. Seperti halnya teratai yang tumbuh cantik meski ia hidup di lumpur yang kotor. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya.
Sakura... bunga berparas cantik ini terlihat jauh lebih cantik ketika ia berada dalam Jama’ahnya. Bersama dengan kelopak-kelopak sakura yang lainnya. Berkerumun seperti bola salju, berkerumun seperti kerumunan Jama’ah yang berdzikir di sekeliling Ka’bah. Sakura pun berdzikir meng-agungkan asma Allah dengan caranya sendiri. Seperti halnya caranya ia mekar, kelopaknya akan lebih dulu mekar sebelum daunnya. Sebuah kehormatan untuknya, karena tahun ajaran baru sekolah dimulai bertepatan dengan primadona musim semi di Jepang ini bermekaran, seakan ia menjadi inspirasi dan semangat baru yang akan bersemi di hati orang-orang sekelilingnya. Meskipun usianya hanya bertahan kurang lebih dua minggu.
Seperti sakura yang selalu menepati janjinya. Janji untuk kembali mekar dengan indahnya setelah ia berguguran. Janji untuk memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang melihatnya dan menantikannya. Meski untuk tumbuh setelah ia berguguran, ia harus melewati masa-masa yang sulit.
Seperti sakura yang mampu menjadi inspirasi, mampu memberikan semangat untuk orang-orang di sekelilingnya meskipun usianya begitu singkat. Tapi, di usia singkat nya itu, ia mampu memberikan keteduhan, kebahagiaan, menebarkan semangat dan insipirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Meski setelah itu ia harus melewati masa sulitnya di musim gugur, sebuah takdir yang tak bisa ia pungkiri. Tapi ia selalu berjanji untuk kembali hadir memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang menantikan semangat baru darinya. Tanpa orang-orang itu harus tau masa-masa sulitnya untuk kembali tumbuh. Ia hanya ingin orang-orang di sekelilingnya bahagia atas kehadirannya.
Aku mungkin tak seberuntung sakura yang memiliki kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya untuk bisa memberikan yang terbaik dalam hidup. Karena ketika sakura belum bisa memberikan yang terbaik sebelum ia gugur, ia masih memiliki kesempatan di musim semi berikutnya. Sedangkan aku, ketika gugur nanti takkan ada lagi kesempatan berikutnya untukku.
Bagiku, ia tercipta begitu indah dengan filsofi hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Biarkan aku sejenak menembus anganku, bermain dengan imajinasiku dimana aku bisa menjumpainya dalam musim semi di bawah langit biru negeri sakura. Dan mengakhiri perjalanan imjinasiku di sebuah masjid yang juga cantik. Masjid yang cantik bukan karena bangunannya yang megah nan agung, tapi cantik karena ia dibangun dengan rasa cinta kepada Allah dan selalu dipenuhi jutaan umat yang juga mencintai Allah. Diringi dengan rasa cintaku untuk Allah dan atas ijinNya, aku berharap imajinasi itu kan benar-benar kudapati menjadi nyata bagiku. (Assyifa)
Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Seperti halnya mawar yang cantik dengan duri sebagai perisainya. Seperti halnya teratai yang tumbuh cantik meski ia hidup di lumpur yang kotor. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya.
Sakura... bunga berparas cantik ini terlihat jauh lebih cantik ketika ia berada dalam Jama’ahnya. Bersama dengan kelopak-kelopak sakura yang lainnya. Berkerumun seperti bola salju, berkerumun seperti kerumunan Jama’ah yang berdzikir di sekeliling Ka’bah. Sakura pun berdzikir meng-agungkan asma Allah dengan caranya sendiri. Seperti halnya caranya ia mekar, kelopaknya akan lebih dulu mekar sebelum daunnya. Sebuah kehormatan untuknya, karena tahun ajaran baru sekolah dimulai bertepatan dengan primadona musim semi di Jepang ini bermekaran, seakan ia menjadi inspirasi dan semangat baru yang akan bersemi di hati orang-orang sekelilingnya. Meskipun usianya hanya bertahan kurang lebih dua minggu.
Seperti sakura yang selalu menepati janjinya. Janji untuk kembali mekar dengan indahnya setelah ia berguguran. Janji untuk memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang melihatnya dan menantikannya. Meski untuk tumbuh setelah ia berguguran, ia harus melewati masa-masa yang sulit.
Seperti sakura yang mampu menjadi inspirasi, mampu memberikan semangat untuk orang-orang di sekelilingnya meskipun usianya begitu singkat. Tapi, di usia singkat nya itu, ia mampu memberikan keteduhan, kebahagiaan, menebarkan semangat dan insipirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Meski setelah itu ia harus melewati masa sulitnya di musim gugur, sebuah takdir yang tak bisa ia pungkiri. Tapi ia selalu berjanji untuk kembali hadir memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang menantikan semangat baru darinya. Tanpa orang-orang itu harus tau masa-masa sulitnya untuk kembali tumbuh. Ia hanya ingin orang-orang di sekelilingnya bahagia atas kehadirannya.
Aku mungkin tak seberuntung sakura yang memiliki kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya untuk bisa memberikan yang terbaik dalam hidup. Karena ketika sakura belum bisa memberikan yang terbaik sebelum ia gugur, ia masih memiliki kesempatan di musim semi berikutnya. Sedangkan aku, ketika gugur nanti takkan ada lagi kesempatan berikutnya untukku.
Bagiku, ia tercipta begitu indah dengan filsofi hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Biarkan aku sejenak menembus anganku, bermain dengan imajinasiku dimana aku bisa menjumpainya dalam musim semi di bawah langit biru negeri sakura. Dan mengakhiri perjalanan imjinasiku di sebuah masjid yang juga cantik. Masjid yang cantik bukan karena bangunannya yang megah nan agung, tapi cantik karena ia dibangun dengan rasa cinta kepada Allah dan selalu dipenuhi jutaan umat yang juga mencintai Allah. Diringi dengan rasa cintaku untuk Allah dan atas ijinNya, aku berharap imajinasi itu kan benar-benar kudapati menjadi nyata bagiku. (Assyifa)
Kamis, 11 November 2010
Alam kemerdekaan tanpa batas
Episode kisah perjuangan mereka yang bergelar pahlwan Indonesia itu hanya terekam lewat lembaran-lembaran sejarah tanpa memiliki arti lebih selain untuk sekedar dihafalkan. Seakan perjuangan telah berakhir dengan berakhirnya halaman terakhir buku sejarah bangsa ini selesai di baca. Semangat membangun negeri yang mereka miliki seakan dianggap telah selesai seiring dengan deklarasi kemerdekaan Negara ini dikumandangkan sehingga tak perlu lagi semangat perjuangan itu dikobarkan di Negara yang telah “merdeka” saat ini.
Semakin terlena oleh kemerdekaan semu ini membuat generasi muda kita memandang kemerdekaan negara kita ini sebagai kemerdekaan tanpa batas. Merdeka melakukan apapun yang mereka mau meski akibatnya adalah rusaknya moral mereka bahkan moral negeri ini. Nikmatnya hidup di negeri yang telah “merdeka” ini jika bisa mendapatkan apa yang diinginkan; mobil mewah, HP canggih, fashion berkelas, kehidupan glamour, pergaulan tanpa batas. Maka untuk apa semangat berjuang membangun negeri?hanya membuang-buang waktu. Sekiranya itulah yang ada dalam mindset mereka saat ini di alam kemerdekaan tanpa batas.
Entahlah, jika mereka begitu menikmati penjajahan pemikiran sebagai sebuah kemerdekaan, haruskah negeri ini merasakan kembali nikmatnya penjajahan fisik untuk bisa memancing semangat berjuang pemudanya??
(Assyifa)
Semakin terlena oleh kemerdekaan semu ini membuat generasi muda kita memandang kemerdekaan negara kita ini sebagai kemerdekaan tanpa batas. Merdeka melakukan apapun yang mereka mau meski akibatnya adalah rusaknya moral mereka bahkan moral negeri ini. Nikmatnya hidup di negeri yang telah “merdeka” ini jika bisa mendapatkan apa yang diinginkan; mobil mewah, HP canggih, fashion berkelas, kehidupan glamour, pergaulan tanpa batas. Maka untuk apa semangat berjuang membangun negeri?hanya membuang-buang waktu. Sekiranya itulah yang ada dalam mindset mereka saat ini di alam kemerdekaan tanpa batas.
Entahlah, jika mereka begitu menikmati penjajahan pemikiran sebagai sebuah kemerdekaan, haruskah negeri ini merasakan kembali nikmatnya penjajahan fisik untuk bisa memancing semangat berjuang pemudanya??
(Assyifa)
Langganan:
Komentar (Atom)