“Wahai Dzat yang lebih benderang dari bulan, sampaikan pada bulan agar mau menerangi jalan adikku menuju ridho Mu. Sehingga ia takkan lagi berminat untuk menoleh ke belakang, ke jalan gelap yang telah membuatku kehilangan dia. Sungguh, aku tak ingin lagi melihatnya kembali menoleh ke masa lalunya”.
Selamat datang di taman perjuangan, adikku... di bawah nauangan cahaya ilmu...
Aku tau kau bukan lagi adik kecilku. Kau sudah dewasa, dan semoga kau pun cukup dewasa untuk memilih mana yang benar dan salah. Mungkin itu juga yang membuat ayah enggan lagi memanggilmu “dede”.
“Kemana jagoan ayah?”. Hampir setiap pulang kerja apabila ayah tak menemukanmu, pertanyaan itu di lontarkan ayah sembari mengusap kepalaku. Belakangan aku tau kebiasaan ayah itu ternyata tak sekedar kebiasaan seorang ayah pada anak perempuanya. Itu adalah bentuk rasa sayang dan cinta beliau pada kita. Ayah memang tak pernah mengusap kepalamu seperti ia mengusap kepalaku setiap kali pulang kerja. Karena Ayah hendak mengajarkan pada kita, bahwa wanita itu harus dijaga dan disayangi dengan kelembutan. Ayah juga mengajarimu bagaimana menjadi dewasa. setiap kali ia mengajakmu bicara, ia selalu menganggapmu seorang laki-laki dewasa bukan lagi anak laki-laki bungsunya, “kalau tidak mau terjatuh, kita harus lihat ke bawah jangan terus melihat ke atas”. Taukah kau adikku. Ada pelajaran dibalik kalimat itu. Ayah ingin mengajari kita, bahwa hidup itu tidak boleh sombong. Harus rendah hati. Kita juga tidak akan pernah bersyukur dan cenderung mudah dipermainkan hawa nafsu jika kita terus melihat orang-orang yang lebih tinggi dari kita. tapi kita harus sering melihat ke bawah dimana masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dari kita agar kita bisa bersyukur dan peduli pada kesulitan orang. kau tau kenapa ayah suka sekali melantunkan surat Al Insyirah di setiap ia meng-imami kita dalam shalat. Karena ada ayat yang ia ingin kita selalu mengingatnya, “ setelah kesulitan pasti ada kemudahan”. Aku selalu mengingatnya, ayah. Dan dengan itu, aku akan siap kembali bangkit setiap kali terjatuh.
Aku hampir sulit menemukan ayah menangis. Aku hanya mendapatkanya pada tiga waktu. Ketika aki meninggal, ketika adik kesayangannya terkulai sakit di Jakarta, dan ketika kau harus merasakan dinginnya rumah sakit di jogja seorang diri. Aku tau dimana kelemahannya. Ia akan menangis ketika orang yang ia sayangi sakit dan membutuhkannya, sedang ia tak berada disampingnya.
Aku selalu ingat diskusi-diskusi panjang kita dengan ayah. Kita asyik membicarakan apa saja yang kita suka; politik, agama, dan kehidupan. Begitu juga dengan khayalan kita bertiga. Dimana kau menjadi presiden negeri ini, aku menjadi menteri pendidikannya dan ayah lebih memilih menjadi penasehat spiritual kita. Kalau sudah begitu, ibu hanya menjadi pendengar setia dan kemudian tertidur pulas. Seakan-akan diskusi kita adalah dongeng pengantar tidurnya. Kita tak hanya kompak dalam diskusi, kita bertiga juga kompak dalam hal menggoda ibu. Saat-saat seperti itulah yang selalu aku nantikan, karena Ayah dan ibu bekerja setiap hari maka saat dimana kita berkumpul adalh saat dimana aku memutar diri menjadi anak manja.
Dan suatu hari nanti, cepat atau lambat aku pasti akan merindukan saat-saat itu..
Sejak kecil, kita sudah diajarkan mandiri oleh ayah dan ibu. Kita terbiasa ditinggal kerja keduanya dari pagi hingga petang. Ayah dan ibu ingin agar aku bisa belajar menjadi seorang kakak yang baik untukmu, karena ketika ayah dan ibu tidak di rumah kau adalah tanggungjawabku, tugasku untuk menjagamu. Dan sampai saat ini pun aku masih merasa kau adalah tanggungjwabku. Aku ingin menjaga langkahmu, agar kau tak lagi salah langkah.
Adikku, aku tau ada gurat kegelisahan pada wajah ayah dan terutama ibu melihat kita hari ini. Melihat bekas-bekas lelah di wajah kita dalam mengarungi jalan yang panjang ini, jalan yang berat untuk dilalui. Terlebih jalanmu masih sangat panjang, adikku. Kau akan menemukan petir dan halilintar di jalan ini. Tapi yakinlah, di ujung jalan ini kau dan aku bisa menghadiahkan langit surga untuk ayah dan ibu..
Di bawah langitNya, 4 April 2011
With love,
Assyifa
sedih sekali teteh...semangat
BalasHapus