Sakura... aku tau. Masa yang kau jalani ketika musim gugur, bukanlah masa yang mudah untuk kau lalui. Mungkin kau pun merasakan pedihnya dan sakitnya ketika harus melihat mata-mata yang memandangmu sebagai sesuatu yang sempurna yang tak pernah marah, tak pernah sedih, tak pernah menangis. Mereka hanya tau hadirmu mampu menebar senyum dan semangat untuk mereka.
Sakura... ajari aku untuk belajar tersenyum meski hati perih menanggung pedih. Ajari aku bagaimana cara menyembunyikan kesedihan dari mereka yang mengharapkan senyumku.
Sakura... ada masanya kau bersemi dengan indah dan ada pula masa dimana kau harus gugur. Bukan untuk selamanya, tapi kau gugur untuk kembali. Hanya untuk sejenak beristirahat untuk mempersembahkan senyum yang lebih indah dari sebelumnya, untuk mereka...
Kau tau sakura...Rasulullah pun demikian. Allah memberikannya perjalanan yang luar biasa ke tujuh lapis langit sebagai hadiah penghibur hati setelah perjalanan dakwahnya dihujani kerikil tajam dan membuatnya terpuruk dalam ketidakberdayaan. Lalu beliau kembali setelah perjalanan panjangnya dengan wajah berseri. Wajah siapa yang tak berseri jika bertemu langsung dengan Allah tanpa hijab. Mendengar kisahnya pun, jantungku berdebar kencang apalagi jika aku benar-benar melihat wajah Sang Maha Indah tanpa hijab.
Sakura.. perjalanan Rasulullah itu adalah rehatnya untuk kembali, sepertimu yang akan kembali setelah musim gugur ...
Dan bagaimana dengan ku??
Sungguh aku tak ingin mengeluh, sakura.. tidak!!
Apakah mereka mau menerimaku apa adanya?menerimaku yang tak sesempurna yang mereka harapkan?aku juga bisa sedih, aku bisa marah, aku bisa kecewa, aku bisa lelah, aku bisa terpuruk, aku tak sesempurna yang mereka pikirkan. Apakah setelah ini mereka mau menerimaku?setelah aku tak bisa sesempurna yang mereka harapkan...
Aku lelah harus berpura-pura sempurna untuk menjaga senyum mereka. Aku tak ingin seperti lilin yang menerangi tetapi habis terkikis sendiri.
Wahai kekasih Allah... aku melebur bersama jiwa yang dikuasai rindu padamu, disini disaat ku mulai rapuh..
Di Bawah LangitNya, 24 Juni 2011
Assyifa
Kamis, 23 Juni 2011
Andai setiap tempat adalah masjid

“Kalau mau ceramah di masjid aja!!”
“Ngapain pake kerudung, emang mau pengajian di masjid?!”
Kebanyakan orang beranggapan bahwa dakwah hanya berlaku di masjid, islam hanya berlaku di masjid. Sehingga apakah untuk menyampaikan kebenaran harus merubah semua tempat menjadi masjid. Agar dakwah dapat disampaikan di semua tempat, agar islam bisa tegak di semua tempat.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua wanita menutup auratnya. Maka sejuk sekali mata ini memandang, takkan ada wanita-wanita yang memakai pakaian “seadanya”.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua orang berkata lembut dan santun. Maka sejuk sekali telinga ini mendengarnya, takkan ada orang-orang yang berkata kasar.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua perempuan dan laki-laki menjaga jarak dan adab pergaulan. Maka sejuk sekali hati ini merasakannya, takkan ada perempuan dan laki-laki yang bergaul bebas tak berbatas.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua orang menggunakan waktunya untuk beribadah. Maka sejuk sekali hidup ini dilalui, takkan ada orang-orang yang menggunakan waktunya untuk bermaksiat dan menyekutukan Allah dengan “rabb-rabb” yang lain.
Andai setiap tempat adalah masjid, yang selalu terasa sejuknya meski tak ber-AC
Sejuk sekali dunia ini dihuni...
Andai mereka tau bahwa islam itu begitu indah. Karena Islam tak sekedar ritual di masjid.
Semua ritual ketika berada di masjid seperti menjaga wudhu, berinfaq, beribadah, menutup aurat, menjaga pandangan antara non muhrim sebenarnya bukan sekedar ritual ketika berada dalam masjid saja. Tapi semua itu adalah nilai-nilai islam yang harus kita jaga dimanapun dan kapanpun kaki melangkah.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, Ya Rabb... dan istiqomahkanlah kami di jalanmu yang lurus. Wallahu’alam bishowab
Di bawah langit-Nya, 23 Juni 2011
Assyifa
Langganan:
Komentar (Atom)