Rabu, 19 Oktober 2011

Jingga di Indahnya Senja

Siang itu Adzan Dzuhur berkumandang indah menyapa jiwa-jiwa yang selalu merindukan Rabbnya. Seorang gadis berlari terburu-buru menuju masjid kampus, jilbab birunya yang terjuntai panjang dibiarkannya diterpa angin. Wajahnya kini tampak lebih bercahaya dengan setetes air wudhu yang belum mau pergi dari wajahnya yang teduh. Namanya Senja, seorang mahasiswi berprestasi dengan segudang aktifitasnya sebagai aktifis dakwah kampus. Seantero kampus pun tau sosoknya yang lembut, santun, cerdas, gesit, mencerminkan seorang muslimah yang taat. Setidaknya citranya begitu mempesona seakan tak ada celah sedikitpun. Sebagai seorang akhwat, ia begitu menjaga izzahnya.
Suatu hari, kampus hijau itu geger oleh sebuah akun jejaring social yang menampilkan foto seorang gadis berparas cantik dengan pakaian mengumbar aurat. Memang hal seperti bukan lagi hal yang tabu saat ini. Tetapi menjadi sangat tabu ketika masyarakat kampus begitu mengenali sosok gadis tersebut. Dan gadis itu adalah gadis yang dikenali masyarakat kampus sebagai Senja, sosok aktifis berprestasi yang begitu kuat menjaga izzahnya sebagai seorang wanita muslimah selama ini.
“ternyata jilbab panjangnya itu hanya topeng!!”
“dakwah… dakwah….?! Percuma!!!kalo ga bisa mendakwahi diri sendiri, munafik!!!”
Pedas, tajam lidah dimana suara itu berasal. Tak sampai tiga hari, foto itu bersebaran di pojok-pojok kampus hijau, tentunya di bumbui dengan kalimat-kalimat yang pedas dan tajamnya nya mengalahkan cabai rawit dan keris milik Ken Arok. Efeknya pun tak hanya beimbas pada Senja, sang pemeran utama. Pandangan sinis yang dialamatkan pada Senja kini mampir juga pada Citra LDK yang selama ini mendapat tempat istimewa di hati masyarakat kampus. Krisis kepercayaan mulai bertebaran di hati masyarakat kampus pada LDK, hal ini terbukti dengan semakin menipisnya jumlah mahasiswa/i yg hadir di agenda-agenda LDK yang biasanya selalu kebanjiran peserta.
Akhirnya sidang pun terpaksa di adakan terkait dengan fenomena ini,tentu saja dengan menghadirkan senja sebagai aktris utama. Hanya air mata yang berbicara, cukup menjelaskan betapa perihnya hatinya menghadapi hal ini. Bukan karena nama baiknya yang hancur, tapi karena imbasnya dirasakan pada dakwah di kampus ini. Kata yang sempat ia lontarkan hanya kata maaf dan penyesalan sebelum akhirnya ia tak kuasa menahan tangisnya, kemudian pergi meninggalkan wajah heran bercampur iba milik saudara-saudara seperjuangannya. Senja beruntung karena ia memiliki saudara-saudara yang melingkarinya dengan ikatan ukhuwah. Bahkan mereka menduga ada pihak-pihak yang memanipulasi fotonya.
“Mungkin saja ada yang tidak suka pada Senja atau mungkin pada LDK sehingga membuat makar seperti ini, kita harus menyelidikinya dan mengusut tuntas kasus ini. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena ini bukan saja menyangkut harga diri ukh Senja tapi juga harga diri LDK dan yang terpenting harga diri Islam!!” Orasi singkat dari Akh Hilmi, beberapa menit ketika Senja meninggalkan ruangan. Ikhwan yang satu ini memang terkenal orator ulung, hobinya aksi di jalan. Tak heran, orasi dadakannya itu mampu membakar semangat saudara-saudaranya.
Mereka masih melanjutkan orasi berikutnya dari akh Hilmi, mencoba menyusun strategi pembongkaran makar. Sedangkan aku, aku memilih untuk mencari senja, tak perlu bingung-bingung mencarinya. Aku tau kemana ia pergi, di pojok teras masjid yang berhimpitan dengan kolam yang meneduhkan. Senja masih tersedu ketika aku menghampirinya. Tanpa kata, dengan lembut aku mengelus kepala saudara yang sangat aku kasihi. Demi Rabbku yang jiwaku berada di tangan Nya, aku tersayat melihat tangisnya. Aku bisa merasakan perihnya luka yang ia rasakan. Dan Demi Rabbku, aku mutlak tak percaya bahwa foto tersebut adalah fotonya. Aku mengenalnya sejak masa awal bimbingan mahasiswa baru, ia ku jumpai sebagai seorang muslimah yang taat dan pandai menjaga dirinya sebagai wanita muslimah. Senja juga yang membuatku berubah menjadi lebih baik seperti ini, mengenal dan mencintai dakwah.
Untuk beberapa menit kubiarkan Senja menghabiskan sisa airmatanya di pelukanku. Pelukan dan diamku cukup untuk menenangkan Senja. Tanpa diminta, Senja pun mulai angkat bicara tentang masalah pelik yang sedang dihadapinya.
“Ukhti, afwan ya ana sudah menghancurkan mimpi-mimpi dakwah kita di kampus ini. Ana sudah membuat nama islam jelek padahal kita semua sudah susah dan payah berjuang mewarnai kampus kita dengan warna islam. Tapi ana sudah merusak warna itu, menodai perjuangan antum semua. Ana....” sengaja ku tarik lagi ia dalam pelukku erat-erat sebagi tanda bahwa ia tak boleh meneruskan kata-katanya.
“anti ingat, anti yang selalu bilang kalo setiap muslim itu bagaikan satu tubuh, ketika ada yang sakit maka yang lainpun merasakan sakit yang sama. Kalo anti masih sayang ana, teman-teman dan dakwah ini. Anti ga boleh lagi mengeluarkan kata-kata itu. Ana ga mau denger lagi, ukh. Sakit ana dengernya. Kita disini yakin, kalo anti ga bersalah meskipun anti ga menceritakan apa yang sebenernya terjadi”.
Isak tangis Senja jauh lebih redam, ia lemparkan pandangannya ke langit biru seperti mencari sesuatu di balik birunya langit itu. Dan ia pun mulai berkisah,
”Foto itu asli, ukh. Bukan manipulasi...” pernyataan yang cukup membuatku tersentak.
“Gadis di foto itu Jingga namanya. Dia..... adik kembarku. Orangtuaku membawa kami pindah ke jepang ketika usia kami masih 3 tahun. Kami dibesarkan dalam budaya disiplin Jepang beserta kebebasannya, gaya yang hidup bebas, sebebas-bebasnya. Hal ini yang akhirnya memaksa kakek dan nenekku terbang ke Jepang untuk menyelamatkan salah satu dari kami, dan akulah yang beruntung saat itu. Aku dibawa pulang ke Indonesia oleh kakek dan nenekku ketika usiaku 10 tahun. Sejak saat itu hingga saat ini aku hidup di bawah bimbingan kakek dan nenekku. Dan disini, aku mendapatkan pendidikan agama yang tak kudapatkan di Jepang. Sedangkan Jingga, ia tumbuh menjadi gadis modern dengan prinsip hedonisme yang telah melekat dalam hidupnya sejak kecil. Setelah 20 tahun membiarkan Jingga di bawah pendidikan yang tak bermoral, Jingga dipaksa pulang ke Indonesia oleh kakekku. Beliau semakin gelisah dengan kondisi Jingga saat ini. Dan...Jingga akan menjadi bagian dari kampus kita mulai pekan depan”
“Ya Allah...” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku
“Aku tau bahwa foto itu adalah foto Jingga, ia coba beradaptasi dengan kampus barunya melalui dunia maya. Berteman dengan beberapa mahasiswa kampus ini lewat jejaring sosial itu. Hanya saja...”
Aku merangkul erat sahabat sekaligus saudara terbaikku itu. Kali ini aku yang menangis di pundaknya. Menanti kalimat lanjutan darinya.
“Sungguh ukhti, aku tak peduli dengan penilaian orang terhadapku saat ini. Biar saja mereka bilang aku munafik dan sebagainya. Tapi aku merasa berdosa pada LDK dan dakwah ini. Aku merasa telah mengkhianatinya. Satu hal lagi, ukh. Aku merasa telah gagal sebagai aktifis dakwah kampus. Aku mungkin bisa berhasil melebarkan sayapku untuk dakwah ini, menjadi bagian dari keberhasilan dakwah kampus kita meskipun kini aku telah menghancurkannya. Aku gagal sebagai aktifis dakwah keluarga. Aku gagal mengajak adikku kepada kebenaran. Aku dan Jingga adalah kembar identik. Sungguh tak ada perbedaan yang nampak diantara kami berdua. Tapi itu menyakitkanku ukh. Ketika melihat Jingga berpakaian mini, aku seperti melihat diriku yang terbalut dalam busana “seadanya” itu. Jika melihat Jingga bergaul bebas dengan teman laki-lakinya, aku seperti melihat tubuh yang dijamahi dengan bebas oleh para pria itu adalah tubuhku. Aku merasa...”
“Sudah ukhti, jangan dilanjutkan. Aku tak sanggup mendengarnya..” Tangis Senja kembali pecah di pelukku.
Aku menunggu ia benar-benar tenang sebelum membuka kata.
“Anti tau, kisah nabi Nuh As yang tak mampu membawa anak dan istrinya ikut serta dalam perahunya. Anti tau, kisah nabi Ayyub As yang menahan sakit sendiri ditinggalkan keluarganya. Anti tau, bahkan Rasulullah Saw pun tak mampu mengajak paman tercintanya, Abu Thalib masuk islam sampai akhir hayatnya. Tapi apakah Rasulullah Saw mundur dari dakwah ini. Tidak ukh. Beliau melanjutkan dakwahnya sekalipun beliau tak mampu mengajak pamannya. Anti tau, kisah nabi Yunus As yang putus asa setelah tak ada satupun kaumnya yang mau mengikuti ajarannya. Allah sengaja mengirim Nabi Yunus masuk ke dalam perut Hiu untuk bermuhasabah atas keputusasaannya. Ukhti, kita hanya diwajibkan untuk berikhtiar sedangkan hasilnya biarkan menjadi hak prenogatif Allah swt”. Alhamdulillah kalimatku itu mampu menenangkan hatinya. ‘
Dan burung pipit melintas di atas kolam di hadapan kami. Menari indah di langit Senja yang hangat hari itu.
******
Seminggu kemudian, seisi kampus dilanda gempar oleh kehadiran Senja dengan penampilan yang “seadanya”. Rambutnya yang berwarna kemerah-merahan di biarkan terurai panjang disapu angin. Kaosnya yang ketat terlihat sepadan dengan rok mini nya yang memamerkan kakinya yang jenjang. Lebih mirip dengan boneka barbie. Belum hilang keterkejutan mereka melihat sosok Senja dengan Chasing baru. Mereka dikejutkan dengan kejutan berikutnya. Di belakang si barbie, seorang gadis mengikuti langkahnya di belakang. Gadis itu juga Senja dengan jilbab panjangnya seperti biasa. Mereka dibuat terkesima oleh dua gadis cantik ini.
Senja tak banyak bicara sejak awal kasus ini sampai akhirnya kehadiran Jingga di kampus. Ia membiarkan orang menilainya sesuka hati mereka. Setelah hari dimana ia mencurahkan hatinya padaku di bawah langit senja. Senja bangkit dari keterpurukannya. Ia yang kemarin-kemarin mulai lenyap dari kegiatan LDK karena kasus itu, akhirnya mau kembali aktif dengan berbagai kesibukan dakwah kampusnya. Ia tak lagi peduli dengan sindiran pedas dan lirikan tajam orang-orang. hanya ia balas dengan senyuman. Kisah Rasulullah Saw yang menguatkannya, kisah dimana Rasulullah Saw diuji Allah dengan kutukan, fitnah, caci maki, tuduhan, lemparan batu, kotoran hewan bahkan cucuran darah menghiasi tubuhnya di setiap hari. Aku sungguh bangga pada saudaraku ini. Aku mencintaimu karena Allah, ukhti. Setelah halilintar dan petir yang kau temui di jalan ini, pasti akan ada pelangi yang akan menambah indah langit biru.
Setelah kehadiran Jingga beberapa hari di kampus, masyarakat kampus sudah mengerti dengan sendirinya apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada sepatah katapun yang harus dikeluarkan Senja. Banyak kata maaf yang ia terima setiap harinya dari banyak orang di kampus. Dengan lapang hati, ia telah memaafkan mereka jauh sebelum mereka meminta maaf.
Tetapi hal itu tak membuat Senja tenang begitu saja. Ia masih gelisah dengan sikap adikknya, ia masih belum mampu mengubah adiknya menjadi lebih baik. Hingga akhirnya, seorang pria mampu mengubah si cantik Jingga. Pria itu bernama Ibad, yang dikenal sebagai mantan ketua LDK yang alim, cerdas, santun dan lincah. Entahlah pesona akh Ibad mampu membuat Jingga bermetamorfosis menjadi gadis muslimah. Ya, kini ia mulai mencoba berjilbab bahkan mau mengikuti mentoring di kampus. Akh Ibad tak berbuat apa-apa untuk merubah Jingga. Semua karena wajah akh Ibad mirip dengan wajah mantan kekasih Jingga di Jepang yang telah meninggal karena kecelakaan. Karena itulah Jingga ingin menjadi wanita yang mampu menarik hati akh Ibad. Mungkin awalnya niatnya tidak baik, tidak ikhlas karena Allah. Tapi mentoring telah benar-benar mengubahnya. Tentunya tak lepas dari bimbingan kakak kembarnya, senja. Senja tau, akh Ibad memiliki andil atas perubahan Jingga.
Aku tau persis, sempat ada kekaguman yang ia simpan untuk akh Ibad yang sangat menghormati akhwat. Hanya sebatas kagum untuk Senja, tapi aku berharap ada harapan lebih untuk keduanya berpatner dalam kehidupan selanjutnya di negara kecil bernama keluarga. Entahlah mengapa aku sangat mengharapkan hal itu, mungkin karena hal itu pula yang aku lihat dari pancaran wajah akh Ibad setiap kali bertemu Senja.
**********
Hari-hari semakin indah dilewati Senja. Jingga yang semakin muslimah, tugas akhirnya yang telah rampung, dan... khitbah seorang ikhwan untuknya. Dan benar saja harapanku terwujud. Ikhwan itu adalah akh Ibadurrahman. tapi ia gundah mengambil keputusan. Ia tau persis perasaan Jingga pada akh Ibad. Senja tak ingin melihat Jingga kembali ke masa lalunya jika ia tau cintanya tak berbalas. Di setiap malam, ia untaikan doa dalam sholat istikharah. Tapi hasilnya semakin membuatnya gundah. Seakan-akan Allah menunjukkan bahwa akh Ibad adalah imam yang Allah pilihkan untuknya.
Aku tau persis hati Senja, hatinya lembut selembut salju. Ia tak sampai hati bahagia di atas penderitaan orang lain apalagi Jingga, saudara kembarnya sendiri. Terlebih dampak buruk yang mungkin akan mempengaruhi Jingga.
Di bawah langit senja, ia sampaikan keputusannya padaku. Bahwa ia menolak pinangan akh Ibad. Ia meminta akh Ibad untuk menikahi Jingga. Aku, orang pertama yang menolak keputusannya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Senja sudah bulat.
“Jika niat akhi menikah adalah karena Allah, tentu antum takkan terlalu ambil pusing sekalipun bukan ana yang akan mendampingi akhi. Yang penting, akhwat itu adalah akhwat yang sholihah”
Dan dengan hati yang sebenarnya berat, akh Ibad pun menikah dengan Jingga. Ia ingin menjaga niat ikhlasnya dalam menikah.
Setahun sudah mereka menikah dan Jingga dianugerahi calon bayi yang ada dalam rahimnya. Hari itu ketika layar senja terkembang, Jingga bertarung nyawa untuk melahirkan anaknya. Tapi kondisinya begitu lemah. Beberapa jam setelah bayi nya lahir, Allah menjemput Jingga kembali ke tanganNya. Sebelumnya, ada pesan yang Jingga sampaikan pada suami tercintanya dan kakak kembarnya. Jingga ingin akh Ibad menikahi Senja setelah ia tiada nanti.
Semburat warna jingga di langir senja tertutup oleh awan hitam yang kemudian disusul dengan pertunjukan hujan di langit senja saat itu menemani hujan airmata kami yang menemaninya. Selamat tinggal Jingga... semoga Allah menempatkanmu bersama orang-orang yang sholeh. Amiiiin....
Seminggu berikutnya, aku menjadi saksi bahagia atas pernikahan saudara terbaikku, Senja dan akh Ibad. Aku menatap bahagia mereka yang bersanding di pelaminan bersama Jingga di pelukanku. Ya, bayi mungil yang baru berusia seminggu itu diberi nama sama dengan nama ibunya, Jingga.
Kutatap langit, ada Jingga di indahnya Senja.........

Kamis, 13 Oktober 2011

Wahai Pemilik hatiku, aku titip hatiku padaMu...

Entahlah rasa apa yang sedang mengamuk dalam hati ini.
Apakah ada setan yang terselip hingga membuatnya sesak??
Sampai kapan rasa ini terus menyesak ya Rabb..
Rasanya aku ingin sekali merobek tubuhku untuk mengambil hatiku. Aku ingin tau ada apa di dalam sana hingga rasanya ia begitu menyesak. Jika ia terlihat begitu kotor, aku ingin membasuhnya dengan air mata penyesalan dan mengusir semua setan yang mengganggunya.
Mungkinkah karena ada rasa yang lahir belum pada waktunya. Mungkinkah aku tak bisa menjaganya, hingga mengundang setan hadir menyelinap di celah-celah rasa itu.
Untukmu yang telah terlanjur hadir dalam ruang pikirku, bantu aku menjaga hati kita.
Ijinkan aku mengusir rasa yang tertulis atas namamu dari hatiku.
Aku takkan membuangnya, hanya menitipkannya pada Pemilik Hatiku sampai waktunya tiba. Aku yakin ia akan aman bersama Pemilik hatiku. Sehingga setan tak tertarik untuk menyelinap.
Biar sesak dan sulit untuk melewatinya asalkan ridhoNya di tangan kita pada akhirnya.
Suatu saat rasa itu akan aku ambil kembali disaat yang tepat, saat rasa itu telah halal untuk bersemayam dihatiku dan setan tak punya hak mengganggunya lagi.
Istiqomahkan aku ya Rabb, sampai waktu itu tiba...
Di bawah langitNya, 08 oktober 2011

Assyifa

Kamis, 06 Oktober 2011

Cintaku tak bisa dinilai lewat angka

Dan inilah aku. Aku memang tak seperti yang lain. Bahkan hasil akhirku di perjalanan studi ini bisa jadi penghalang mimpiku. Sudah pasti hasilnya tak sebagus yang lain bahkan mungkin tak bisa disebut bagus. Setidaknya itu yang tergambar dari kumpulan angka yang kudapat selama 4 tahun ini. Tentu telah lahir banyak alasan yang melatarbelakanginya. Bahkan mungkin alasan itu yang membuat orang memicingkan mata dengan hasil yang kuperoleh ini. Ya, inilah hasil dari berjibaku dengan organisasi. Selamat menikmati. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Penyesalan yang mana?menyesal karena telah menghabiskan sebagian waktuku untuk jalan dakwah ini?kujawab dengan pasti, TIDAK!!. Aku tidak pernah menyesal ada di jalan ini. Karena aku benar-benar percaya bahwa Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama Allah. Aku percaya. Jikapun harus ada yang aku sesali, maka itu adalah kekhilafanku sendiri yang tak bisa membagi waktu dengan baik antara kuliah dan amanah dakwah ini. Ya, aku menyesali diriku sendiri bukan pilihanku.
Aku puas dengan hasil ini. Setidaknya dengan hasil ini, aku tidak menipu diriku sendiri, menipu orangtuaku, menipu orang-orang sekitarku dan yang paling penting aku tidak menipu Sang Maha Mengetahui, Allah. Hanya Allah, kertas-kertas ujian dan semua tugas-tugasku yang tau pasti bagaimana caraku untuk mendapatkan angka ini. Sekalipun angka-angka itu tak mampu mewakili apa yang telah aku dapatkan. Biarlah kata munafik terlempar di wajahku, ketika aku tak ingin menipu diri dengan menyontek sekalipun hanya tugas. Ya, silahkan semua orang bebas berpendapat tentangku.
Biarkan aku jelek di mata mereka, asal tidak di mata-Mu. Biarkan mereka palingkan wajah mereka dariku, asal jangan Kau palingkan wajah-Mu dariku. Bukankah Allah menilai proses bukan hasil dan adakah penilaian yang lebih adil dari Sang Maha adil?
Ayah…ibu… biarkan aku membuatmu bangga dengan caraku sendiri. biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Maaf jika caraku ini membuatmu sedikit kecewa, tapi ijinkan aku membuktikan bahwa suatu saat nanti, aku akan mempersembahkan langit surga untukmu… langit surga yang nilainya tak terwakilkan lewat angka… karena cintaku tak dinilai dengan angka.

Di Bawah LangitNya, 06 oktober 2011

Assyifa..