Selasa, 08 November 2011

Aku ingin langit tetap biru bersama hujan


Aku ingin menari bersama hujan. Tapi aku tak ingin langit menjadi kelam karena hujan datang. Aku ingin langit tetap biru bersama hujan. Aku ingin bernyanyi diiringi gemericik air. Tapi aku tak ingin langit menggelegar bersama gemuruh petir. Aku ingin langit tetap biru bersama hujan. Aku ingin melayang bersama riak-riak air. Tapi aku tak ingin langit menjadi panggung pertunjukan kilatan halilintar. Aku ingin langit tetap biru bersama hujan.
Aku ingin terbang bersama sapuan lembut angin hingga terjatuh di pelangi. Menikmati hujan di atas pijakan pelangi. Dan bersandar pada pelangi untuk menyapa birunya langit dari dekat. Melompat dari satu awan ke awan lain hingga sampai tepat diatas guguran sakura. Mengantarkan hujan menyemai sakura. Dan membawa sakura di sandaran pelangi. Menikmati hujan bersama sakura di atas pijakan pelangi dan menaburkan sakura di birunya langit.
Berharap Engkau yang berada di balik rahasia birunya langit tersenyum melihat tingkahku yang konyol. Tak apa, asal Engkau tak memalingkan wajahMu dariku. Karena aku terlalu takut bahkan untuk sekedar membayangkannya.



Di bawah langitNya, 30 oktober 2011

Assyifa,

Benderang lilin di birunya langit


Satu per satu lilin harapanku mulai benderang. Meski bukan aku yang memantik cahayanya. Namun dua diantara lilin-lilin harapanku mungkin takkan pernah menyala. Bukan karena aku tak punya api untuk memantik cahayanya. Aku punya. Dan bukan karena aku tak tau caranya. Aku tau. Tapi aku sendiri yang telah merusak sumbunya. Dan api untuk dua lilin itu akan aku simpan dan ku berikan pada lilin harapan milik ia yang telah memantikkan cahaya untuk satu per satu lilin-lilin harapanku. Dan akan aku tempatkan disamping dua lilinku yang telah kehilangan sumbunya. Agar tetap benderang sekalipun ia telah kehilangan harapan untuk benderang. Untuk bersama-sama benderang menerangi gelap di sekitarnya. Meski mereka takkan sebenderang mentari yang menerangi biru langit.


Di bawah langitNya, 30 oktober 2011

Assyifa

Kau lebih dari sekedar sahabat

Aku ingin kau lebih dari sekedar sahabatku. Dan aku tak ingin menyebut hubungan kita ini adalah hubungan persahabatan. Aku lebih suka menyebutnya, persaudaraan. Berawal dari satu pertanyaan sederhana di teras masjid. “apa hikmah yang didapat dari kebersamaan kita selama 4 tahun lebih ini?”. Dan itu jadi PR untukku menemukan hikmah dari kisah kita. Karena aku percaya bahwa setiap kisah pasti ada hikmahnya. Begitu juga dengan kisah kita.

Dari seorang Hawa, aku belajar tentang arti keteguhan, optimisme totalitas dan semangat dalam berjuang. kau wanita yang tangguh, ukhti. Ada kebersamaan-kebersamaan yang kita lewati berdua. Ada beberapa kisah dan hal yang kita simpan sendiri. terimakasih telah mempercayaiku dan terimakasih telah mau mendengarkan kisahku. Dan kita masih punya satu proyek penelitian yang kita bicarakan minggu malam, kita sudah punya gambaran rumusan masalah dan hipotesisnya tinggal mengumpulkan data dan menganalisisnya. Tapi penelitianmu yang sesungguhnya tetap harus jadi prioritas utama, taklukkanlah professormu itu. Idul adha kemarin kupikir bisa membalaskan dendam kita pada mereka yang sudah membantai kita mencuci dapur di idul adha tahun lalu, ternyata mereka tidak datang. Hemm. Aku masih ingat ketika kita berdua menangis berjamaah di LDK 2, kita memiliki latar belakang yang berbeda dengan tangisan akhwat yang lainnya dan itulah sebabnya kenapa kita masih tersedu saat yang lain sudah selesai dengan tangisannya. Kita memiliki motif yang sama saat menangis waktu itu. Yang tau hanya aku, kau, Dia dan dia yang telah membuat kita menangis. Terimakasih telah menemaniku menangis..

Dari seorang Wiwit, aku belajar tentang kedewasaan, kemandirian dan belajar menjadi seorang yang bijak dan tenang. And you still my best patner, ukhti. Satu tahun di DIKWAH bersamamu adalah hal luar biasa yang kudapatkan di tahun kedua menginjakkan kaki di Nurul Ilmi. Bersama 2 patner kita yang hmm.. luar biasa itu, pak kadep yang sering kita bertiga omelin kalo sms ga di bales dan pak kabid yang selalu membuat kita kenyang tertawa. Aku merasakan itulah tim tersolid yang pernah kutemukan. Si MINI, Tadzakur, IMAGE, dan flashdisk yang kita beli dari hasil patungan adalah awal dari mimpi yang kita bangun bersama meskipun mimpi itu harus kau lanjutkan sendiri setelah kita terpisah di tahun berikutnya. Terimakasih ya sudah menemaniku menangis saat bu keput 2008 mengumumkan aku harus melanjutkan amanahnya yang artinya adalah aku harus terpisah darimu. Aku semakin terisak ketika kau memelukku, saat itu yang terlintas dalam bayanganku adalah episode-episode kebersamaan kita di DIKWAH. Terimakasih juga sudah menemaniku menangis saat peresmian Masjid baru Nurul Ilmi. Kau tau sebab aku menangis saat itu..

Dari seorang Ery, aku belajar menjadi pribadi yang ceria, yang selalu memperlihatkan wajah cerianya setiap kali bertemu saudara-saudaranya sekalipun sedang ada masalah. Suasana menjadi ceria ketika kau hadir. Dan taukah kau ukhti?saat kau tak ada, kami selalu rindu dan terbayang gayamu yang khas, yang polos dan apa adanya. Kau menjadi dirimu sendiri. ada saat-saat kita berdua menjadi sangat kompak yang selalu membuat mereka (hawa, risna, nia, Uji, wit. Red)terpesona pada kita. Hhe. Entahlah apa sebutannya. Terimakasih untuk keceriaan dan semangat yang selalu kau tularkan….

Dari seorang Risna, aku belajar tentang sifat tawadhu, totalitas perjuangan, dan pengorbanan dalam berjuang. Kaupun wanita yang tangguh. Aku juga belajar mensyukuri nikmat darimu. satu kalimatmu yang masih kuingat sampai sekarang, “syukuri nikmat agar hati tak banyak menuntut”. Kalimat itu sangat menginspirasiku, ukhti. Masih ingatkah kau?saat kita menerobos hujan bersama princess, kau memboncengku naik sepeda dari kampus 2 ke kampus 1. It’s so romantic, ukhti. Hhe. Kita punya mimpi yang sama bahkan kita bertarung untuk mendapatkannya, mimpi menjadi menteri pendidikan negeri ini. Kali ini aku takkan lagi memaksamu menjadi wakil menteri pendidikan. Karena satu hal, mungkin aku tak bisa mendapatkan mimpi itu, ukhti. Dan aku berharap kau akan terus berjuang mendapatkannya. Aku ingin melihatmu menjadi menteri pendidikan negeri ini. Mungkin suatu saat nanti anakku atau mungkin muridku akan meneruskan estafet perjuanganmu sebagai menteri pendidikan. Terimakasih telah banyak menginspirasiku..

Dari seorang Fujiarti, aku belajar menjadi pribadi yang amanah, sederhana, dan mandiri. Bandung, 20 desember 2010 kita mengawali mimpi yang sama; sebuah sekolah alam. Terimakasih sudah menemaniku dalam perjalanan sehari semalam itu, ukhti. Ada hal yang hanya diketahui oleh kau, aku, Dia dan mereka. Aku tak tau apa jadinya jika saat itu aku tak pergi bersamamu. Hhe. Rasanya rindu ingin kembali ke tempat itu. Aku akan berjuang untuk menghadirkan tempat seperti itu disini. Dan aku akan mengajakmu merealisasikan mimpi kita. Terimakasih juga karena kau sudah menularkan seleramu padaku. Mulai dari tas, gamis, sampai sepatu. Sekarang ibu sudah tak pernah protes lagi atas pilihan barang-barang yang aku beli. Semua karena ilmu yang kau bagi denganku..

Dari seorang Nia, aku belajar tentang kesabaran, keteguhan dan pengorbanan seorang anak terhadap orangtuanya juga pengorbanan seorang adik untuk kakaknya. Ukhti, orang-orang seringkali sulit membedakan kita, seringkali tertukar yang mana Indri dan yang mana Nia bahkan ada yang menyebut kita kembar. Entah darimana asalnya. Mungkin karena kita terlampau sering bersama ditambah kesukaan kita yang sama; mie dan cappucino. Yang aku tau, kita sama-sama bandel titik. Terimakasih sudah mengajariku arti penting seorang adik untuk kakak. Darimu, aku belajar menjadi seorang kakak yang baik untuk adikku. Kurasa, kau paling tau betapa aku menyayangi adikku. Sudah sering rasanya aku menangis karena hal itu di hadapanmu. Terimakasih sudah menenangkanku saat aku merasa gagal menjadi seorang kakak. Terimakasih juga sudah 2 kali membuatku khawatir dan bingung. Kau tentu tak lupa kejadian kau menghilang saat malam LDK 1 tahap 2 di bobos.

Dari seorang Ayu, aku belajar menjadi seorang akhwat yang lembut, dari tutur kata, cara memadukan warna dalam berpakaian, cara bicara, pokoknya akhwat banget. Sampai-sampai kalau melihatmu, aku seperti melihat es krim berjalan. Manis banget, hhe. Terimakasih sudah mengajariku menjadi akhwat yang feminim. Di balik sikap polosmu, kau begitu cerdas. Tapi kau selalu rendah hati dengan kelebihanmu itu. Kita sama-sama memiliki kekurangan yang sama, sama-sama kekurangan berat badan. Hhe. Kurasa belum ada yang memenangkan kompetisi yang kita berdua buat sendiri, yang pesertanya kita sendiri, dan juri nya pun kita sendiri. Kita pun belum menentukan deadline kompetisi itu, ukhti. Kurasa, perlu ada pembicaraan khusus untuk membahs kompetisi kita itu. Hhe. Terimakasih sudah memotivasiku..

Dari seorang Tika, aku belajar menjadi pribadi yang selalu ceria, semangat dan bijak. Kau tau, kau adalah orang yang luar biasa ukhti. aku berharap bisa bertemu denganmu di negeri sakura. Nanti jika kantong ajaib doraemon sudah ditemukan, aku akan mengajakmu terbang kesana. Hhe. Kejarlah mimpimu ukhti, sebanyak apapun dan apapun itu.

Dari seorang Yuli, aku belajar menjadi pribadi yang tangguh. Aku begitu bangga dan salut padamu, ukhti. Mengerjakan skripsi dan menyelesaikannya tepat waktu saat usia kendunganmu sudah besar bahkan kau melahirkan ditemani tugas skripsi. Kau seorang mahasiswi sekaligus ibu yang luar biasa. Tak semua orang bisa menjalankan dua peran dengan tugas yang berbeda itu dalam waktu yang bersamaan. Aku yakin jagoan kecilmu bangga memiliki ibu sepertimu. Terimakasih sudah memberiku satu keponakan yang sampai saat ini belum kujenguk. Maafkan aku ya, titip salam sayang dan titip satu cubitan sayang dariku untuknya

Dari seorang Dewi, aku belajar tentang pengorbanan untuk adik-adik. Untuk mereka, kau siap berkorban. Kau begitu tangguh, ukhti. Terimakasih sudah membantuku meyakinkan ibuku tentang satu hal. Sungguh itu sangat membantuku. Hhe.

Satu lagu untukmu, ukhtifillah. “

bergegaslah, ukhti... tuk sambut masa depan



tetap berpegang tangan, saling berpelukan



berikan senyuman tuk sebuah perpisahan



kenanglah ukhti... kita untuk slamanya!





satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori



satu cerita teringat didalam hati



karena kau berharga dalam hidupku, ya ukhti



untuk satu pijakan menuju masa depan







saat duka bersama, tawa bersama



berpacu dalam prestasi... hal yang biasa



satu persatu memori terekam



didalam api semangat yang tak mudah padam



kuyakin kau pasti sama dengan diriku



pernah berharap agar waktu ini tak berlalu



ukhti... kau tahu, kau tahu kan?



beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan





Thanks for being part of my life…