Dunia Mahasiswa tak luput dari dunia pendidikan. Karena di dunia pendidikanlah mahasiswa dibesarkan dan di balik gelar intelektual yang disandang mahasiswa terdapat tanggung jawab besar untuk membangun negeri lewat tangannya. Sebuah gelar yang tak main-main karena membangun negeri bukanlah hal yang main-main, maka sudah sepantasnya perjalanan ini dicermati dengan baik-baik tak hanya sekedar mencari nilai dan gelar belaka. Maka kemanakah akhirnya arus akan membawa kita nantinya?akankah kita menjadi bagian dari mereka yang hanya mencari nilai dan gelar saja?
Pembesar-pembesar yang kini duduk di kursi mewah di gedung DPR itu, dulunya adalah mahasiswa. Kinerja mereka saat ini bisa jadi adalah dampak dari perjalanan mereka selama di bangku kuliah. Mereka yang tertidur saat rapat, bisa jadi karena terbiasa tertidur saat kuliah. Mereka yang gemar bermain suap, bisa jadi karena mereka terbiasa menyuap seonggok uang untuk nilai A saat kuliah. Karena waktu minimal 4 tahun di bangku kuliah itu, berperan besar untuk membentuk karakter seseorang. Bangku kuliah adalah mesin pencetak pemimpin, dimana seharusnya stock calon pemimpin tersedia dengan kualitas yang membanggakan.
Hal inilah yang perlu digaris bawahi, sistem pembelajaran di bangku kuliah seharusnya bisa menjadi sebuah proses pendewasaan dalam diri mahasiswa di usia transformasi dari siswa menuju mahasiswa, dari remaja menuju dewasa. Maka bukan lagi saatnya memanjakan mereka dengan nilai-nilai besar tanpa memahamkan moral yang baik sebagai bekal mereka sebagai calon pemimpin.
Akan ada banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter, termasuk lingkungan sekitar. Sedangkan, citra mahasiswa yang kini melekat adalah citra buruk. Mereka yang tenggelam dengan dunia narkoba, free sex, dan dunia glamour dalam kasus-kasus yang terpampang di televisi, tak lain adalah mereka yang bergelar mahasiswa, para calon pemimpin bangsa.
Iri rasanya melihat sejarah ke belakang, dimana semangat mencari ilmu di bangku kuliah didasari oleh semangat membangun bangsa, seperti yang dilakukan Ki Hajar Dewantoro, Bung Hatta, Bung karno dan kawan-kawan seperjuangan beliau di masa memperjuangkan kemerdekaan. Belum terlambat kiranya, membangkitkan semangat itu di diri mahasiswa saat ini meski tantangan yang dihadapi tak mudah karena harus bersaing dengan dunia yang semakin menjanjikan kebahagiaan semu melalui gaya hidup yang tak lagi bisa di sebut sebagai gaya hidup orang-orang berpendidikan.
Di luar sana banyak fenomena-fenomena yang tak bisa dipungkiri menjadi trend orang-orang yang mengaku dirinya kaum intelektual. Dengan mudahnya mereka mendapat gelar sarjana tanpa kerja keras merasakan bangku kuliah. Rasanya murah sekali sebuah gelar yang mahal pertanggungjawabannya itu jika hanya dijadikan prasyarat untuk mendapat jabatan terlebih dengan niat menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Maraknya kasus tersebut yang kini bukanlah hal yang tabu itu, telah mencoreng dunia pendidikan terutama dunia kampus. Serta mencoreng semangat yang susah payah dibangun pahlawan-pahlawan pendidikan yang kini hanya tercatat dalam kumpulan lembaran-lembaran sejarah, yang hanya tercetak untuk sekedar dihafalkan tanpa di maknai sebagai semangat perjuangan membangun bangsa.
Jadi, saatnya menjadikan semangat membangun negeri sebagai landasan semangat menempuh bangku kuliah, semangat mencari ilmu.
_Assyifa_
Jumat, 24 September 2010
Sabtu, 04 September 2010
Menyambut wajah baru Nurul Ilmi
Ijinkan aku bertutur tentang Nurul Ilmiku. Dalam beberapa waktu ke depan ia akan berganti wajah. Mungkin akan setinggi dan sekekar gedung-gedung pencakar langit atau seindah istana sulaiman. Terlintas, ia akan nampak gagah berdiri dengan bangganya mendampingi macan ali. Seketika itu pula wajah lamanya yang kusam, kecil, lusuh tersisih di sudut kandang macan ali itu akan lenyap seketika. tapi aku tak mampu begitu saja melupakan wajah lusuh itu. Wajah lusuh yang menampilkan guratan-guratan kebahagiaan, kesedihan, kebanggaan, kekecewaan, kebersamaan dan menyimpan banyak garis-garis kenangan.
Ramadhan ini mungkin akan menjadi ramadhan terakhir buat kami menatap Nurul ilmi dalam rupa lamanya. Ramadhan demi Ramadhan telah kami lewati di setiap sudutnya, menghadirkan beribu kenangan dan kerinduan. Di setiap sudutnya ada rasa yang tertinggal, sedih dan tangis di sekretariat yang penuh sesak itu, tawa dan canda di dapur yang sempit itu, ingatkah kau dapur sempit itu tempat favorit kita bereksperimen dengan macam-macam bahan makanan, di tempat yang sama itu juga kita menikmati hasil ekperimen kita tanpa peduli bahwa di hadapan kita adalah toilet (Astagfirullah, kalo di pikir2 parah juga ya indra perasa kita?hehe...). Banyak rasa yang tertinggal disana bahkan mungkin akan terkubur seiring dengan lenyapnya puing-puing hijaunya. Rasa pahit dan manisnya jalan ini, jalan yang mempertemukan berbagai hati dan menyatukannya dalam bingkai ukhuwah.
Detik-detik menyambut wajah baru Nurul Ilmi, menyisihkan keresahan. Apa yang bisa dibanggakan dari kemegahan wajah barunya jika ternyata hanya memperjelas kekosongan yang ada selama ini? Kemegahan itu dirasa percuma ketika pusat kampus pindah ke sudut lain kota ini. Lalu siapa yang akan menikmati kemegahan yang harusnya dinikmati seluruh elemen kampus untuk merasakan kenyamanan ruhani?
Ketika semuanya berpindah ke lain hati, ke sudut lain dimana terdapat banyak keterbatasan dibalik kemewahan dan kemegahannya. Kupikir mereka yang telah nyaman berada di pusat kampus yang baru itu akan berpikir berulang kali untuk sekedar meluncurkan mobil-mobil mewahnya, apalagi melangkahkan kaki ke tanah berpijaknya Nurul Ilmi dan macan ali berdiri kokoh. Kokoh namun hampa. Shaf-shaf shalat yang biasanya hanya terisikan satu-dua baris, mungkin akan semakin habis dimakan jarak dan waktu. Sedangakan di seberang sana, tak ada kenyamanan ruhani yang akan didapatkan ribuan orang yang menghuninya kecuali keterbatasan dan ketidaknyamanan. Terbelenggu oleh ruangan kecil sesak, pengap. Di ruangan sempit itu kami harus rela berdesak-desakan bercampur baur laki-laki dan perempuan ditambah dengan enggannya air mengalir untuk sekedar membasahi wajah kami. Di seberang sana, Nurul Ilmi berdiri kokoh, terhampar luas, memanjakan jiwa-jiwa yang ingin merasakan kenikmatan ruhani melalui shalat tapi kemewahannya tiada guna karena ia hanya mampu termangu melihat barisan shaf yang semakin terkikis.
Untuk jiwa-jiwa yang telah disatukan dalam dakwah yang bersemi di Nurul Ilmi ini, perjuangan ini belum usai. Jangan pernah biarkan Nurul Ilmi berjuang seorang diri untuk menebar warna islam yang indah. Bukan Nurul Ilmi yang kita perjuangkan, tapi dakwah islam!! Bukan Nurul Ilmi yang membutuhkan kita, bukan juga dakwah yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah.
_Assyifa_
Ramadhan ini mungkin akan menjadi ramadhan terakhir buat kami menatap Nurul ilmi dalam rupa lamanya. Ramadhan demi Ramadhan telah kami lewati di setiap sudutnya, menghadirkan beribu kenangan dan kerinduan. Di setiap sudutnya ada rasa yang tertinggal, sedih dan tangis di sekretariat yang penuh sesak itu, tawa dan canda di dapur yang sempit itu, ingatkah kau dapur sempit itu tempat favorit kita bereksperimen dengan macam-macam bahan makanan, di tempat yang sama itu juga kita menikmati hasil ekperimen kita tanpa peduli bahwa di hadapan kita adalah toilet (Astagfirullah, kalo di pikir2 parah juga ya indra perasa kita?hehe...). Banyak rasa yang tertinggal disana bahkan mungkin akan terkubur seiring dengan lenyapnya puing-puing hijaunya. Rasa pahit dan manisnya jalan ini, jalan yang mempertemukan berbagai hati dan menyatukannya dalam bingkai ukhuwah.
Detik-detik menyambut wajah baru Nurul Ilmi, menyisihkan keresahan. Apa yang bisa dibanggakan dari kemegahan wajah barunya jika ternyata hanya memperjelas kekosongan yang ada selama ini? Kemegahan itu dirasa percuma ketika pusat kampus pindah ke sudut lain kota ini. Lalu siapa yang akan menikmati kemegahan yang harusnya dinikmati seluruh elemen kampus untuk merasakan kenyamanan ruhani?
Ketika semuanya berpindah ke lain hati, ke sudut lain dimana terdapat banyak keterbatasan dibalik kemewahan dan kemegahannya. Kupikir mereka yang telah nyaman berada di pusat kampus yang baru itu akan berpikir berulang kali untuk sekedar meluncurkan mobil-mobil mewahnya, apalagi melangkahkan kaki ke tanah berpijaknya Nurul Ilmi dan macan ali berdiri kokoh. Kokoh namun hampa. Shaf-shaf shalat yang biasanya hanya terisikan satu-dua baris, mungkin akan semakin habis dimakan jarak dan waktu. Sedangakan di seberang sana, tak ada kenyamanan ruhani yang akan didapatkan ribuan orang yang menghuninya kecuali keterbatasan dan ketidaknyamanan. Terbelenggu oleh ruangan kecil sesak, pengap. Di ruangan sempit itu kami harus rela berdesak-desakan bercampur baur laki-laki dan perempuan ditambah dengan enggannya air mengalir untuk sekedar membasahi wajah kami. Di seberang sana, Nurul Ilmi berdiri kokoh, terhampar luas, memanjakan jiwa-jiwa yang ingin merasakan kenikmatan ruhani melalui shalat tapi kemewahannya tiada guna karena ia hanya mampu termangu melihat barisan shaf yang semakin terkikis.
Untuk jiwa-jiwa yang telah disatukan dalam dakwah yang bersemi di Nurul Ilmi ini, perjuangan ini belum usai. Jangan pernah biarkan Nurul Ilmi berjuang seorang diri untuk menebar warna islam yang indah. Bukan Nurul Ilmi yang kita perjuangkan, tapi dakwah islam!! Bukan Nurul Ilmi yang membutuhkan kita, bukan juga dakwah yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah.
_Assyifa_
Langganan:
Komentar (Atom)