Ijinkan aku bertutur tentang Nurul Ilmiku. Dalam beberapa waktu ke depan ia akan berganti wajah. Mungkin akan setinggi dan sekekar gedung-gedung pencakar langit atau seindah istana sulaiman. Terlintas, ia akan nampak gagah berdiri dengan bangganya mendampingi macan ali. Seketika itu pula wajah lamanya yang kusam, kecil, lusuh tersisih di sudut kandang macan ali itu akan lenyap seketika. tapi aku tak mampu begitu saja melupakan wajah lusuh itu. Wajah lusuh yang menampilkan guratan-guratan kebahagiaan, kesedihan, kebanggaan, kekecewaan, kebersamaan dan menyimpan banyak garis-garis kenangan.
Ramadhan ini mungkin akan menjadi ramadhan terakhir buat kami menatap Nurul ilmi dalam rupa lamanya. Ramadhan demi Ramadhan telah kami lewati di setiap sudutnya, menghadirkan beribu kenangan dan kerinduan. Di setiap sudutnya ada rasa yang tertinggal, sedih dan tangis di sekretariat yang penuh sesak itu, tawa dan canda di dapur yang sempit itu, ingatkah kau dapur sempit itu tempat favorit kita bereksperimen dengan macam-macam bahan makanan, di tempat yang sama itu juga kita menikmati hasil ekperimen kita tanpa peduli bahwa di hadapan kita adalah toilet (Astagfirullah, kalo di pikir2 parah juga ya indra perasa kita?hehe...). Banyak rasa yang tertinggal disana bahkan mungkin akan terkubur seiring dengan lenyapnya puing-puing hijaunya. Rasa pahit dan manisnya jalan ini, jalan yang mempertemukan berbagai hati dan menyatukannya dalam bingkai ukhuwah.
Detik-detik menyambut wajah baru Nurul Ilmi, menyisihkan keresahan. Apa yang bisa dibanggakan dari kemegahan wajah barunya jika ternyata hanya memperjelas kekosongan yang ada selama ini? Kemegahan itu dirasa percuma ketika pusat kampus pindah ke sudut lain kota ini. Lalu siapa yang akan menikmati kemegahan yang harusnya dinikmati seluruh elemen kampus untuk merasakan kenyamanan ruhani?
Ketika semuanya berpindah ke lain hati, ke sudut lain dimana terdapat banyak keterbatasan dibalik kemewahan dan kemegahannya. Kupikir mereka yang telah nyaman berada di pusat kampus yang baru itu akan berpikir berulang kali untuk sekedar meluncurkan mobil-mobil mewahnya, apalagi melangkahkan kaki ke tanah berpijaknya Nurul Ilmi dan macan ali berdiri kokoh. Kokoh namun hampa. Shaf-shaf shalat yang biasanya hanya terisikan satu-dua baris, mungkin akan semakin habis dimakan jarak dan waktu. Sedangakan di seberang sana, tak ada kenyamanan ruhani yang akan didapatkan ribuan orang yang menghuninya kecuali keterbatasan dan ketidaknyamanan. Terbelenggu oleh ruangan kecil sesak, pengap. Di ruangan sempit itu kami harus rela berdesak-desakan bercampur baur laki-laki dan perempuan ditambah dengan enggannya air mengalir untuk sekedar membasahi wajah kami. Di seberang sana, Nurul Ilmi berdiri kokoh, terhampar luas, memanjakan jiwa-jiwa yang ingin merasakan kenikmatan ruhani melalui shalat tapi kemewahannya tiada guna karena ia hanya mampu termangu melihat barisan shaf yang semakin terkikis.
Untuk jiwa-jiwa yang telah disatukan dalam dakwah yang bersemi di Nurul Ilmi ini, perjuangan ini belum usai. Jangan pernah biarkan Nurul Ilmi berjuang seorang diri untuk menebar warna islam yang indah. Bukan Nurul Ilmi yang kita perjuangkan, tapi dakwah islam!! Bukan Nurul Ilmi yang membutuhkan kita, bukan juga dakwah yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah.
_Assyifa_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar