Kamis, 27 Januari 2011

Ikatlah Budaya Mengikat ilmu

“Maaf, saya tidak bisa menulis”
Mungkin kita pernah atau bahkan sering sekali menemukan jawaban seperti ini ketika kita meminta seseorang untuk menulis. Bukankah menulis telah menjadi makanan sehari-hari semenjak kita resmi mengenakan seragam merah putih. Kali ini konteksnya berbeda, menulis bukanlah menyalin atau tepatnya memindahkan tulisan guru di papan tulis ke buku catatan, apalagi memindahkan jawaban teman ke lembar jawaban milik sendiri saat ujian. Tentu bukanlah menulis seperti itu yang di maksud. Meskipun pada kenyataannya, menulis telah mengalami penyempitan makna.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, menulis berarti (1) membuat huruf, angka, dsb; (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang dan membuat surat) dengan tulisan; mengarang cerita;
Berdasarkan makna diatas, menulis bisa dimaknai sebagai kemampuan atau ketrampilan seseorang dalam mengemukakan gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan dengan media tulisan. Sepertinya, kata ketrampilan di atas perlu di garis bawahi sehingga menulis akan menjadi sama seperti ketrampilan lainnya; berenang, menyanyi,dll dimana dibutuhkan latihan untuk dapat melakukannya dengan baik. Begitu juga, menulis. Sebuah pemahaman yang salah jika orang enggan menulis dikarenakan menulis bukanlah bakatnya. Menurut Marion Zimmer bradley – seorang penulis terkenal- menerangkan bahwa sembilan puluh persen kesuksesan menulis adalah berasal dari kerja kerasnya, sedangkan bakat dan inspirasi hanya memiliki andil sepuluh persen. Maka dapat disimpulkan bahwa kita hanya perlu membiasakan diri dengan budaya menulis.
Budaya menulis adalah salah satu budaya intelektual yang seharusnya akrab dengan kehidupan mahasiswa yang seringkali disebut sebagai kaum intelektual. Kiranya miris sekali jika untuk menyelesaikan tugas makalah bahkan skripsi sekalipun, banyak dari mahasiswa kita hari ini yang menyelesaikannya dengan sangat instan (red: copy paste karya orang lain). Seakan-akan tugas menulis adalah beban berat yang membebani pundak. Mahasiswa kita hari ini telah jauh terbuai pada gemerlap budaya nir-intelektualnya. Ternyata penyakit ini juga dialami oleh para guru dan dosen. Padahal di Amerika, menulis dan membuat sebuah karya tulis adalah kegiatan sehari-hari para guru dan dosen. Bagaimana dengan para guru dan dosen kita?. Entahlah mungkin beliau tak punya banyak waktu untuk membagikan ilmu yang dikuasainya melalui tulisan.
Sepertinya stigma berat tentang kegiatan menulis ini tak hanya menjangkiti kalangan mahasiswa dan dosen yang menyebutkan dirinya sebagai kaum intelektual tetapi memang sebagian masyarakat kita menganggapnya demikian. Hal tersebut dapat dibuktikan oleh data milik UNESCO bahwa Jepang, mampu menerbitkan 60.000 judul buku per tahunnya. Sedangkan Indonesia dengan jumlah yang penduduknya yang jauh lebih banyak hanya menerbitkan 2000 buku per tahunnya. Berdasarkan data tersebut dapat kita ketahui bahwa minat menulis juga membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah.
Menulis dan membaca memang sepasang kegiatan yang tak bisa dipisahkan. Untuk dapat menulis, kita dituntut untuk banyak membaca. Karena membaca adalah proses mengolah informasi menjadi pengetahuan dan intelektual sehingga pengetahuan kita semakin bertambah, dan semakin bertambah pula ilmu yang dapat dibagikan melalui tulisan. Ilmu itu seperti buruan maka ikatlah dengan menuliskannya. sekiranya itulah pesan yang disampaikan Imam Syafi’i, bahwa ilmu haruslah ditulis untuk menjaganya. Bukankah ketika lidah lebih buas melemparkan kata-kata, ada tangan yang siap menggerakan kata-kata melaui goresan pena. Tak perlu menantikan gelar besar di ujung nama untuk menghasilkan sebuah karya besar. Karena kita takkan pernah tahu apakah usia kita akan sampai pada saat dimana gelar tersebut bersanding dengan nama kita. Sedangkan amal yang takkan pernah putus ketika jiwa tak lagi membersamai raga salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Tulisan yang kita buat takkan pula mati ketika kita tak lagi hidup di dunia ini. Ia akan jadi amal yang mengalir untuk setiap kebaikannya.
Maka menulis dan membaca sudah sepantasnya menjadi sebuah kebutuhan bukan lagi kewajiban apalagi beban yang berat. Jadi, selamat berkarya!!. Berikanlah harapan pada negeri ini bahwa calon pemimpinnya mampu mempersembahkan karya untuk masa depan bangsanya. ( Assyifa )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar