Aku menyudutkan diri di sudut belakang mobil angkutan umum ini. Sengaja posisi ini aku ambil agar tak ada yang menggangguku menikmati pemandangan di luar kaca jendela. Lagipula orang seisi mobil sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Tanpa ada suara. Hening. Hanya deruman mobil tua ini yang terdengar. Ada yang sibuk memperhatikan jalan, ada yang sibuk dengan layar hape nya, tak sedikit yang melemparkan pandangan tak berarah seperti halnya aku. Sebenarnya kata yang lebih tepatnya adalah melamun. Bemain-main dalam ruang fikirku yang dilintasi banyak pikiran yang membuatku sedikit penat. Untuk menghilangkan penat, sengaja aku naik mobil angkutan yang rutenya lumayan jauh untuk sampai di rumahku. Aku ingin sesekali menikmati sore melintasi keramaian kota wali-ku ini. Ah, kota wali. Entahlah nama itu sedikit aneh didengar dengan apa yang kulihat di balik jendela mobil ini. Kota ini sedikit lebih mirip dengan ibukota yang hiruk pikuk itu. Lihat saja, sudah berapa banyak pusat perbelanjaan yang kulewati. Sudah ada delapan buah pusat perbelanjaan dan kesemuanya ramai pengunjung. Dan itu belum cukup, masih ada beberapa pusat perbelanjaan lainnya yang tak terlewati oleh rute angkot ini. Luar biasa, masyarakat kita ini ternyata punya banyak uang untuk meramaikan pusat-pusat perbelanjaan yang tak pernah terlihat sepi di satiap harinya. Dari sudut jendela, aku sempat beberapa kali melihat beberapa pakaian yang tergantung di etalase toko. Dan hal ini menarik perhatianku. Bukan tertarik untuk memilikinya tapi menarik perhatianku untuk kembali bertanya-tanya. Hampir semua model pakaiannya lebih cocok untuk dipakai adik-adik kecilku. Tapi manequinne yang memakainya terlihat bukan manequinne anak-anak. Yang lebih mengejutkan beberapa jarak dari toko itu, kulihat lagi manequinne dengan pakaian mini tadi. Kali ini mannequinne nya berjalan rapat dengan seorang pria. Rapat sekali, seakan-akan jalan begitu sempitnya untuk dilewati. Padahal jika ku boleh memperkirakan, jalan trotoar itu bisa dilewati oleh empat orang. Entahlah mungkin dunia begitu sempit untuk mereka yang sedang jatuh cintanya.
Tiiiinnnnn.....tiinnnnn.... lagi-lagi bunyi klakson mobil itu mengagetkanku. Tapi cukup membuatku tersadar bahwa saat ini aku sedang terjebak macet. Padahal menurutku, jalan protocol ini sudah cukup lebar. tapi mengapa masih saja terjadi macet. Jika boleh menebak, mungkin karena jumlah kendaraan pribadi yang semakin bertambah. Baik motor maupun mobil yang jumlahnya semakin bertambah saja tiap tahunnya. Sekali lagi, masyarakat kita ini sudah cukup sejahtera rupanya dengan mampu membeli kendaraan pribadi lebih dari satu unit. Apakah kota kecil ini harus punya beberapa unit busway juga untuk mengatasi kemacetan?. Dan ini yang tidak kusukai, polusi dimana-mana. Padahal bumi kita ini sudah banyak keluhan karena global warming. Aku jadi ingat tayangan di televisi yang menggambarkan keramain jalan-jalan di pusat kota Jepang yang diramaikan oleh orang-orang yang berjalan kaki dan beberapa asyik dengan mengayuh sepedanya. Bukan berarti tak ada kendaraan umum, tapi kendaraan umum menjadi pilihan utama berpergian daripada menggunakan kendaraan pribadi. Tentu saja menjadi pilihan utama, karena fasilitasnya yang berkualitas. Jadwal keberangkatan yang tepat waktu, kondisi dalam kendaraan yang bersih dan nyaman membuat mereka lebih memilih kendaraan ini daripada harus capek-capek mengendarai sendiri kendaraan mereka. Dengan begitu mereka akan dengan santainya tertidur pulas dalam kendaraan. Ups, tidak. Mereka tidak memilih tidur dalam kendaraan, mereka lebih memilih membaca. Luar biasa, hal yang sangat jarang kutemui di negeri tercintaku ini. Disini, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur atau yang jauh lebih baiknya mengobrol dan kebanyakan melamun, seperti aku ini sekarang. Ah, lagi-lagi negeri sakura itu yang melintas di ruang fikirku. Semakin membuatku ingin berdiri di bawah birunya langit negeri sakura itu. tapi bukan berarti aku seorang pengkhianat atau bahkan penjajah karena mendambakan negeri sakura itu. aku tetap mencintai negeriku, negeri yang sudah susah payah diperjuangkan bung hatta, dan kawan-kawannya. Aku ingin mencuri ilmu dari negeri sakura yang pernah mencuri kekayaan negeriku dulu. (Hehe...) .
Ya Allah, aku tak sadar sedang tersenyum-senyum sendiri. Tak sadar juga bahwa dari balik spion mobil ada sepasang mata yang memperhatikanku. Tak perlu ge-er karena itu sepasang mata milik pak supir yang sedari tadi memperhatikanku dengan tatapan kesal dan curiga. Tatapannya memberiku isyarat tentang pertanyaan yang mungkin dari tadi menganggu konsentrasi mengemudinya.
“sebenarnya mau kemana sich ni anak naik dari kampus, sampe sekarang mau balik lagi ke kampus kok belum turun-turun juga. Dia pikir ini bus pariwisata??bayar Cuma seribu lima ratus juga.” Kira-kira begitu bunyi tatapannya.
Tebakanku itu cukup membuatku malu juga. Ah, kuniatkan dua perempatan lagi aku akan turun. Andai saja bapak itu tau kalau sebenarnya jarak dari kampus ke rumahku bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Maaf ya pak, nanti akan aku lebihkan seribu lagi ongkosnya.
Aduh tak baik juga lama-lama memperhatikan tatapan mencurigakan pak supir, aku kan harus ghadwul bashar. Apalagi kalo istrinya tau, bisa disemprotnya aku. Tenang saja bu, jangan curiga dulu. sudah ada nama yang mengisi hatiku kok. (eits, namanya siapa?? Wah bisa-bisa di sidang kaderisasi nech. Jd kaderisasi nyidang kaderisasi dong. Tenang aja, baru nama Allah yg boleh menetap di hatiku selain nama RasulNya, kedua orangtuaku, dan adikku. Nama lainnya masih menanti. Aduh salah lagi).
Sudahlah daripada imajinasiku semakin tak jelas seperti sinetron-sinetron di televisi, lebih baik aku siapkan lima logam koin untuk ongkos (maklum mahasiswa, uang koin juga masih untung daripada tidak ada uang sama sekali). Ooopss.. tiba-tiba telingaku mendengar suara gemerincing koin yang jatuh ke lantai mobil. Kupikir itu punyaku, langsung saja bola mataku menuruti instruksi dari telingaku untuk segera mencari larinya suara koin tadi. Ternyata ia tepat di samping sepatuku. Ku pungut koin itu, tapi ada yang aneh. Perasaan koinku warnanya perak, kenapa jadi kuning?. Belum selesai menjawab pertanyaanku sendiri, aku dikejutkan suara bening dari samping kananku.
“teh, itu punya aku”. Pinta seorang anak kecil yang pipinya nyaris sama dengan bakpau.
“ooh, punya ade toh?maaf ya, ini koinnya”. Ujarku sembari menyodorkan koinnya. Yang kemudian di sambut senyum polosnya dan diakhiri ucapan terimakasih.
Tak lama kemudian ia berteriak lantang, “kiliiii pakkk….stopp”. begitu mobil berhenti ia langsung turun dengan tak lupa menggendong tas ranselnya yang besarnya hampir sepadan dengan tubuhnya. Aarghh dia lebih baik, tasnya sesuai dengan orangnya. Sedangkan aku, tasku jauh lebih besar. tidak seimbang dengan tubuhku yang kecil.
Sayang sekali, ia bergegas turun padahal baru saja aku mau memulai percakapan dengannya, syukur-syukur bisa sedikit saja mencubit pipinya. Uh, aku memang tak bisa melihat anak kecil yang pipinya chubby, rasanya ingin mencubit saja. Dari beberapa penumpang di mobil itu hanya dia saja yang wajahnya enak di lihat, bukan karena pipi chubby nya tapi karena hampir semua penumpang wajahnya dingin melihatku dengan penampilan seperti ini. Jilbab besar dengan tas ransel yang juga besar, huft mungkin pikir mereka aku ini teroris yang membawa bom. Tapi aku berharap anak kecil tadi turun memang karena tempat tujuannya sudah sampai, bukan kerena ketakutan melihatku kemudia ia bergegas turun. Sejenak terdiam, aku tersadar bocah tadi turun sendiri, aku hampir tak ingat dimana dia naik tadi dan dengan siapa, ini gara-gara aku terlalu asyik dengan bayangan negeri sakura-ku. Tapi seingatku, dia memang naik sendiri dan turun sendiri tanpa ditemani siapa-siapa. heum, bocah sekecil dan selucu itu berani berpergian seorang diri. Tidak takutkah dia diculik orang seperti aku ini, yang gemes melihat anak kecil selucu dia. Tidak. Maksudku, kemana orangtua nya hingga membiarkan anaknya pergi sendirian. Aku ingat, ini kali kedua aku berpapasan dengan seorang anak kecil yang pergi sendirian. Beberapa waktu yang lalu, seorang anak kecil masih dengan seragam merah-putihnya tepat duduk di hadapanku dalam sebuah angkutan umum. Tangannya menggenggam erat buku bersampul merah, yang kuduga adalah raportnya. Karena hari itu, hari pembagian raport. Wajahnya sesekali tak bisa menahan senyum. Pasti isi raport bersampul merah itu yang membuatnya sumringah. Yang pasti isinya tak berwarna merah seperti sampulnya, karena ia tak bisa menyembunyikan wajah ceria nya. Mungkin ia sudah tak sabar menunjukan raportnya ke kedua orangtuanya di rumah. Karena setauku, dia naik angkot seorang diri. Dengan semangat, ia berteriak hendak turun. Begitu kaki nya menginjak aspal jalan, ia segera berlari dengan penuh semangat menyusuri lorong sempit menuju rumahnya. Semua penumpang di dalam mobil dibuatnya terkesima. Seorang ibu berujar “ hebat, anak sekecil itu sudah berani naik angkot sendirian”.
Ah, jadi ingat ibuku. Dulu ketika aku kecil, aku tak pernah bisa lepas dari ibu. ketika masih di bangku TK, ibu tak pernah absent untuk berdiri di sampingku baik di luar maupun di dalam kelas sekalipun. Bahkan ketika jam istirahat semua anak-anak bermain dengan teman-temanya, aku asyik berlindung di balik punggung ibu. Ajakan teman-teman bermain tak sedikitpun membuatku tergoda. Biar saja aku disebutnya anak mama, aku memang bukan anak mama kok, tapi aku anak ibu (hehe sama aja). Sampai SD pun aku tetap seperti itu, tapi kali ini aku mulai terpaksa menerima ditinggal ibu ketika jam belajar dan istirahat. Ibu hanya mengantar sampai gerbang sekolah dan menjemputku sepulang sekolah. Ibu memang tak pernah berhenti menjagaku karena selain fisikku memang lemah, aku adalah wasiat yang ditinggalkan mbah putriku sebelum wafat. Kata ibu, mbah putri minta ibu buat menjagaku. Aku tak tau apa alasan mbah putri, kenapa dari sekian banyak cucu-cucunya hanya namaku yang disebut diakhir nafasnya. Karena itu, aku tak pernah diijinkan ibu untuk pergi seorang diri. terlebih naik kendaraan umum sendiri apalgi aku mudah sekali mengantuk dan tertidur ketika naik mobil. Ibu takut, aku tak sadar diculik orang karena terlelap seorang diri di mobil. Biar begini-begini aku kan anak perempuan ibu yang paling cantik (Karena memang ayah ibu hanya punya 1 anak laki-laki dan satu anak perempuan,hehe). Jika ingat masa kecil dan melihat aku yang sekarang seperti tak percaya. Aku yang pemalu, yang dalam sehari hanya mau mengeluarkan sedikit kalimat, aku yang cenderung menangis ketika berhadapan dengan orang banyak. Sekarang, aku sudah berani bicara di depan orang banyak, ibu. Apalagi aku akan menjadi guru, bagaimana jadinya jika gurunya menangis ketika masuk kelas karena berhadapan dengan banyak orang. Dan dakwah memiliki andil di dalamnya. Selain karena didikan ibu dan ayah yang berusaha mengajariku untuk mandiri setelah kami hidup nomaden (berpindah-pindah). Juga karena dakwah aku berubah, ketika SMA ku mulai tergerak ikut organisasi remaja masjid. Dan masjid kecil sekolahku itulah saksi bisu perubahanku begitu juga masjid kecil di bawah cahaya ilmu di kampusku. Ternyata benar kata orang, cinta bisa merubah segalanya. Dan cintaku pada jalan yang kupilih ini yang telah membuatku berubah menjadi lebih baik. Aku bersyukur bisa mengenal dan berada dalam jalan ini, terimakasih Allahku atas karuniaMu ini..
Ngomomg-ngomong soal jalan, aku sudah sampai di jalan mana ini. Ya Rabb, perempatan yang kutuju sudah terlewat. Aku harus berhenti disini. Aku bergegas berteriak untuk turun. Sepertinya air muka pak supir berubah ceria ketika mendengar suaraku. Terlebih ketika ku lebihkan ongkosnya, kali ini ia malah melempar senyum. Hehe.. terimakasih ya pak atas perjalanannya. Perjalanannya membuatku men-tafakuri kehidupan ini. semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa kuambil selama perjalanan tepat 45 menit ini. Semoga Allah menambahkan rizki bapak ya.
-Assyifa-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar