Ketertarikanku pada langit biru bukanlah kebetulan semata. Karena aku tau ada banyak rahasia di balik birunya langit itu. Rasanya aku ingin sekali berada diantara birunya langit. Melebur bersama birunya, hingga aku tersapu angin dan menembus setiap lapisan-lapisannya. Mencari tau setiap rahasia yang tersimpan di setiap kerak langit.
Aku akan jadikan awan sebagai pena untuk melukiskan kata di bias birunya langit. Melukiskan wajah Sang Maha Indah. Meskipun kurasa sekumpulan awan yang dikumpulkan dari ujung langit ke ujung langit pun takkan cukup melukiskan keindahan-Nya.
Tapi dengan apa aku bisa menyentuhkan jemariku ke birunya langit. Meminjam sayap sekawanan burung?Meluncur bersama percikan bunga api yang dilemparkan ke angkasa?atau berdiri di puncak gunung tertinggi dan meringankan tubuhku hingga membiarkan angin membawaku bersamanya?
Aku tau aku takkan mampu menjangkau langit biru, aku hanya mampu memandanginya dalam kekaguman. Mengagumi birunya yang dihiasi bias putih awan. Melihat dengan iri serombongan burung yang melenggang indah mengepak-ngepakkan sayapnya semaunya hingga mampu membawa mereka menembus lapis demi lapis langit.
Aku hanya tau satu rahasia dari banyak rahasia yang tersimpan di balik birunya langit itu, bahwa Dia yang berada di balik keindahan langit biru adalah rahasia terindah. Lebih dari sekedar terindah.
“KAU terindah dan selalu terindah. Harus bagaimana ku mengungkapkannya. KAU Pemilik hatiku..”
Di bawah Langit- Nya, 27 Mei 2011
Assyifa
Jumat, 27 Mei 2011
Rabu, 18 Mei 2011
Meracik kebahagiaan dalam lukisan kata

Assyifa, bukanlah sebuah nama yang diabadikan dalam akte lahirku. Bukan pula nama yang dihadiahkan ayah dan ibuku untuk putri pertama mereka. Bukan.
Aku, seorang gadis kecil yang lemah dan pemalu. Dan semua itu terekam di balik dinding Taman kanak-kanak (TK), bernama TK Assyifa.
Ya, Assyifa adalah nama almamater TK tempatku melawan rasa takut. Takut akan keramaian, takut pada orang banyak, takut pada rasa lemahku, takut pada diriku sendiri, takut pada rasa yang kuciptakan sendiri. Aku suka berimajinasi, dan aku takut keramaian, orang banyak, rasa lemahku dan rasa takutku mengambilku dari dunia imajinasiku. Tanyakan pada Assyifa, ia tau banyak tentangku. Sayangnya, ia tak lagi mampu kujumpai. Terakhir kali aku mencarinya, ia sudah tak lagi berdiri tegak di tempatnya. Ia sudah tergantikan. Tapi ia masih berdiri tegap di hatiku, ku abadikan ia di sebuah ruang di hatiku. Dan kini ia menjelma menjadi seorang pelukis kata. Meskipun lukisan kata nya tak bisa disebut lukisan yang indah.
Setiap nama adalah doa dan harapan. Asysyifa bisa diartikan penyembuh, obat. Aku ingin setiap kata yang kulukis bisa menjadi obat untuk kegelisahan, obat untuk kesedihan, obat untuk kekecewaan, obat untuk ketakutan,obat untuk kerinduan. Aku memang bukan seorang dokter yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, tapi aku ingin membuat senyum di wajah yang menyimpan sedih dan sakit. Dan obat yang kumiliki bukan butiran-butiran pil yang menyeramkan. Aku hanya punya lukisan kata, yang ingin kubagi dalam warna bahagia, tawa, semangat, keceriaan untuk wajah yang membutuhkannya.
Tenanglah, aku takkan menyaingi dokter dan tukang obat. Karena aku dan mereka tentu berbeda. Jika dokter bisa membuat orang yang sakit menjadi ketakutan melalui diagnosisnya yang ia tulis di atas kertas resep. Aku ingin membuat senyum untuk mereka melalui lukisan kataku di atas kertas. Jika tukang obat bisa membuat harapan dan kebahagiaan melalui obat yang ia racik. Aku ingin meracik kebahagiaan untuk mereka dalam butiran-butiran huruf yang berkumpul dalam lukisan kata.
Karena setiap kalimat yang kita baca mampu menyihir ruang fikir kita. Jika kita membaca sesuatu yang menakutkan maka akan menciptakan ketakutan dalam ruang fikir kita, dan membuat mata akan terpejam, tangan dan kaki melemah, jantung berdetak kencang dikuasai ketakutan. Begitupun dengan hati, jika kalimat yang dibaca mampu menyentuh hati dan mewarnai hati dengan celupan warna Illahi, maka akan mempengaruhi organ tubuh yang lainnya dan setiap aktivitas dikuasai oleh cinta pada Nya. Seperti kata Rasulullah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging bernama hati, jika daging itu baik maka baiklah seluruh anggota tubuh lainnya. Maka kalimat positif yang ingin ku goreskan dalam lukisanku. Tapi untuk meluluhkan hati orang lain tidaklah muda, aku harus mampu meluluhkan hatiku terlebih dulu. Dan untuk meluluhkan hatiku, opick telah menjawabnya dalam lagunya, obat hati. Wallahu’alam bishowab
Di bawah Langit-Nya, 13 mei 2011
Assyifa
Langganan:
Komentar (Atom)



