
Assyifa, bukanlah sebuah nama yang diabadikan dalam akte lahirku. Bukan pula nama yang dihadiahkan ayah dan ibuku untuk putri pertama mereka. Bukan.
Aku, seorang gadis kecil yang lemah dan pemalu. Dan semua itu terekam di balik dinding Taman kanak-kanak (TK), bernama TK Assyifa.
Ya, Assyifa adalah nama almamater TK tempatku melawan rasa takut. Takut akan keramaian, takut pada orang banyak, takut pada rasa lemahku, takut pada diriku sendiri, takut pada rasa yang kuciptakan sendiri. Aku suka berimajinasi, dan aku takut keramaian, orang banyak, rasa lemahku dan rasa takutku mengambilku dari dunia imajinasiku. Tanyakan pada Assyifa, ia tau banyak tentangku. Sayangnya, ia tak lagi mampu kujumpai. Terakhir kali aku mencarinya, ia sudah tak lagi berdiri tegak di tempatnya. Ia sudah tergantikan. Tapi ia masih berdiri tegap di hatiku, ku abadikan ia di sebuah ruang di hatiku. Dan kini ia menjelma menjadi seorang pelukis kata. Meskipun lukisan kata nya tak bisa disebut lukisan yang indah.
Setiap nama adalah doa dan harapan. Asysyifa bisa diartikan penyembuh, obat. Aku ingin setiap kata yang kulukis bisa menjadi obat untuk kegelisahan, obat untuk kesedihan, obat untuk kekecewaan, obat untuk ketakutan,obat untuk kerinduan. Aku memang bukan seorang dokter yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, tapi aku ingin membuat senyum di wajah yang menyimpan sedih dan sakit. Dan obat yang kumiliki bukan butiran-butiran pil yang menyeramkan. Aku hanya punya lukisan kata, yang ingin kubagi dalam warna bahagia, tawa, semangat, keceriaan untuk wajah yang membutuhkannya.
Tenanglah, aku takkan menyaingi dokter dan tukang obat. Karena aku dan mereka tentu berbeda. Jika dokter bisa membuat orang yang sakit menjadi ketakutan melalui diagnosisnya yang ia tulis di atas kertas resep. Aku ingin membuat senyum untuk mereka melalui lukisan kataku di atas kertas. Jika tukang obat bisa membuat harapan dan kebahagiaan melalui obat yang ia racik. Aku ingin meracik kebahagiaan untuk mereka dalam butiran-butiran huruf yang berkumpul dalam lukisan kata.
Karena setiap kalimat yang kita baca mampu menyihir ruang fikir kita. Jika kita membaca sesuatu yang menakutkan maka akan menciptakan ketakutan dalam ruang fikir kita, dan membuat mata akan terpejam, tangan dan kaki melemah, jantung berdetak kencang dikuasai ketakutan. Begitupun dengan hati, jika kalimat yang dibaca mampu menyentuh hati dan mewarnai hati dengan celupan warna Illahi, maka akan mempengaruhi organ tubuh yang lainnya dan setiap aktivitas dikuasai oleh cinta pada Nya. Seperti kata Rasulullah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging bernama hati, jika daging itu baik maka baiklah seluruh anggota tubuh lainnya. Maka kalimat positif yang ingin ku goreskan dalam lukisanku. Tapi untuk meluluhkan hati orang lain tidaklah muda, aku harus mampu meluluhkan hatiku terlebih dulu. Dan untuk meluluhkan hatiku, opick telah menjawabnya dalam lagunya, obat hati. Wallahu’alam bishowab
Di bawah Langit-Nya, 13 mei 2011
Assyifa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar