Selasa, 23 Agustus 2011

Lilin harapanku (3)


Terlalu banyak kata untuk negeri sakura. Selanjutnya, mimpiku yang kelima. Menjadi seorang menteri pendidikan negeri ini. Aku ingin merubah sistem pendidikan di negeri ini, dengan menggabungkan sistem pendidikan jepang dan sistem pendidikan islam. Lagi-lagi aku sudah terlalu jatuh cinta pada keduanya, Islam dan negeri sakura itu. Silahkan menertawakanku karena aku sendiri pun terkadang menertawakan mimpiku yang satu ini, terlebih dengan IPK yang pas-pasan. Setidaknya jikapun tak sampai kugapai mimpi ini, aku akan tetap berkontribusi untuk dunia pendidikan. Aku ingin memulainya dengan konsep “belajar yang bermanfaat adalah belajar tentang proses belajar”, kalimat ini merupakan kutipan Carl Roger yang sebenarnya sudah jauh-jauh hari Allah ingatkan pada kita. bahwa Allah tidak menilai hasil yg kita capai melainkan Allah akan menilai proses yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil tersebut. Lalu adakah yg penilaiannya lebih adil dari Sang Maha Adil?. jadi pendidikan berorientasi pada proses bukan hasil. Agar tak ada lagi sarjana abal-abal yang hanya menjadikan gelarnya sebagai bekal menipu.
Dan mimpi untuk berjalan mengelilingi hamparan bumi Allah yang luas ini. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada masjid.berawal dari masjid penuh cinta, Nurul Ilmi aku berharap bisa mengunjungi masjid-masjid dan saudara-saudara sesama muslim di negeri-negeri non muslim. Agar aku mampu belajar untuk lebih banyak bersyukur dilahirkan di negeri ini, dimana kami bisa bebas menjalankan amalan islam. Tidak seperti mereka (muslim-muslim di Negara non muslim.red)yang mungkin harus mengalami intimidasi dan tekanan dalam menjalankan ibadahnya. Serta menyusuri puing-puing sejarah kejayaan islam, agar menjadi semangatku dalam berjuang di jalan ini. Bahwa islam pernah mendapatkan kejayaannya dan akan mendapatkan kemabli kejayaannya sutu saat nanti. Dan aku ingin menjadi bagian dari mereka yang berjuang mengembalikan kejayaan islam, bukan hanya sebagai penonton. Akhirnya mengakhiri perjalananku di negeri tempat Rasulullah dilahirkan dan negeri islam pertama. Mekkah dan madinah yang dirindukan. Menikmati sujud-sujud panjangku di Masjidil Haram.
Akhir dari semua mimpi itu adalah menemui wajah Sang Maha Indah dan kekasihNya di bawah langit surga, berdekatan dengan ibunda Khadijah dan putrinya yang kukagumi, Fatimah Azzahra yang didampingi Ali bin Abi thalib. Menjadi bagian dari bidadari surga bersama bidadari lainnya terutama bidadari bernama ibu yang mendampingi seorang lelaki bijak bernama ayah. Mendampingi mujahid yang telah menjaga hatiku dalam diam dan berharap kelak menjadi imamku sampai ke surga. bercanda tawa bersama permata-permata kecil yang nanti akan kuantarkan ke dunia hingga ke surga. Dan berkumpul kembali bersama saudara-saudara seperjuanganku di jalan dakwah yang penuh cahaya ilmu…
Seindah apapun rencana kita, jauh lebih indah rencana Sang Maha Indah… maka kuserahkan semua harapku padaNya karena aku yakin ada rahasia dibalik birunya langit..

Di bawah langitNya, 22 Agustus 2011

Assyifa



LIlin harapanku (2)



Mimpi berikutnya mungkin akan panjang kuceritakan, melangkahkan kaki di bawah birunya langit negeri sakura. Banyak hal yang membuatku terpikat pada negeri itu, berikut ini adalah beberapa karakter orang jepang yang diambil dari blog seorang teman.
Kerja Keras. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.
Malu. Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum
Hidup Hemat. Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Bukankah Islam telah lebih dulu mengajarkan kepada kita untuk tidak bersikap berlebihan dalam berbelanja.
Loyalitas. Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
Inovasi. Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.
Pantang Menyerah. Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
Budaya Baca. kalau datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.
Kerjasama Kelompok. Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu
bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
Mandiri. Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Seorang anak TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua. Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari kita naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang .
Diluar daripada banyaknya keburukan yang mungkin kita temui dalam tubuh negeri sakura itu, setidaknya aku seperti diingatkan pada beberapa ajaran-ajaran islam yang secara tidak langsung mereka lakukan. Seperti kerja keras mereka, aku ingat pada pesan Allah bahwa Ia takkan merubah nasib suatu kaum, jika kita tidak berusaha untuk mengubahnya sendiri. Aku juga diingatkan pada rasa Malu, sekalipun penempatan rasa malu pada diri mereka (orang jepang.red) tidaklah tepat. Tapi sekali lagi, aku ingin mengambil hikmah di balik keburukannya. Kalau ada nikmat Allah yang dikaruniakan sebagai mahkota kehormatan manusia, pastilah malu salah satunya. Kalau ada perisai yang dianugerahkan untuk melawan syetan dan nafsu, mungkin malu adalah bahan dari bagian terluarnya. Kalau ada pakaian yang menutup aurat lahir dan batin, jadilah malu sbg benang-benangnya. Malu juga yang menjadi mahkota yusuf yang membuatnya agung dihadapan tipu daya Zulaikha. Malu yang menjadi perisai Abu Bakar Al Miski yang memakai baju besi lumuran kotoran manusia ketika seorang wanita cantik dan kaya mangajak berzina. Malu juga adalah pakaian rasulullah sampai beliau lebih terjaga oleh rasa itu dari pada gadis dalam pengantin.
“sesungguhnya diantara kalimat kenabian yang mula-mula adalah : jika kamu sudah tak lagi mamiliki rasa malu, lakukan saja apa yang kau mau” (HR. Bukhari). Dan banyak hal lain yang bisa dikupas dan direnungi, bahwa sekalipun mereka bukan seorang muslim, tapi mereka hampir sebagian besar telah melakukan amalan-amalan islam yang tidak mereka sadari. Sedangkan negeriku, Indonesia?negeri dengan penduduk yang mayoritasnya islam tidak atau mungkin belum bisa mengamalkannya. Belum bukan tidak. Karena aku yakin harapan itu masih ada…. )I(
Dan dibalik semua itu, ada sakura disana yang menginspirasiku. Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Senin, 22 Agustus 2011

Lilin harapanku (1)



“Lilin harapan itu kan selalu ada. Tuliskan mimpi-mimpimu dengan sebuah pensil. Dan berikan penghapusnya pada Allah, Sang Maha Mengetahui. Yang akan menghapus bagian yang salah. Dan menggantinya dengan rencana-Nya yang lebih indah”
Kalau kata Nidji, “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia”. Lalu bagaimana mimpi menurutmu?Aku mendefinisikan mimpi dari mimpi-mimpiku.
Impian pertamaku, menjadi seorang penulis. Sebuah impian yang sederhana. Bukan tak beralasan. Aku ingin tetap hidup meski sudah tiada nanti. Karena ilmu yang bermanfaat adalah amal yang takkan pernah putus meski jiwa tak lagi membersamai raga. Ia akan tetap mengalir jernih, seperti percikan air wudhu yang menghadirkan kebaikan di setiap tetesnya. Kemudian ia mengalir ke dalam ruang pikir pasang-pasang mata yang membacanya hingga menginspirasi gerak langkah mereka menuju kebaikan. Meskipun hasil karyaku tak seindah milik maestro sastra. Impian besar tanpa perjuangan merealisasikannya sama saja nihil. Memulainya adalah dengan menulis dan menulis. Minimalnya satu tulisan satu minggu. Bergabung bersama dengan mereka yang memiliki impian yang sama untuk bersama-sama belajar, untuk saling berbagi inspirasi dan semangat.
Impian keduaku, aku ingin mengelola atau mempunyai sekolah alam. Karena bagiku, kelas itu seperti penjara yang memenjarakan pikiranku. Tembok-temboknya seakan-akan menghimpitku, menghimpit ruang fikirku. Membelengguku. mungkin apa yang kurasakan dirasakan pula oleh mereka, anak-anak usia sekolah lainnya. Perhatikan reaksi mereka ketika bel istirahat dan bel pulang berbunyi. Bersorak gemibira, keceriaan nampak menguasai wajah mereka. Artinya mereka menganggapnya sebagai sebuah kebebasan. Bebas dari kelas yang membelenggu mereka. Sifat dasar anak-anak adalah bermain dan berimajinasi. Maka biarkan mereka berbaur dengan alam terbuka agar pikiran mereka terbuka seluas-luasnya. Jangan memaksa mereka masuk ke dunia kita, dunia orang dewasa yang kaku. Tapi kita yang harus masuk ke dunia mereka. Membuat mereka nyaman belajar karena keinginan hati mereka sendiri, bukan membuat mereka belajar dengan terpaksa di bawah tekanan. Membiarkan mereka akrab dengan alam juga mengakrabkan mereka dengan Sang Maha Indah, Sang Pencipta alam.
Beralih ke mimpiku selanjutnya, aku ingin sekali mondok di kampung Inggris Pare, Madiun. Memfasihkan bahasa inggrisku yang masih berada di underlevel. Dan juga menjejakkan kaki di negeri di atas awan. kawah bromo. Yang selama ini hanya bisa kupandangi lewat gambar. Melihat gambarnya saja sudah membuatku berdecak kagum pada keindahannya. Keindahan Sang Maha Indah, Keindahan di balik semua keindahan. Dan dilanjutkan dengan berkuda di padang pasir berbisik. Mencoba merasakan rasanya berkuda di padang pasir seperti Asma binti abu bakar, aisyah dan srikandi-srikandi pada jaman Rasulullah.

Sabtu, 20 Agustus 2011