“Lilin harapan itu kan selalu ada. Tuliskan mimpi-mimpimu dengan sebuah pensil. Dan berikan penghapusnya pada Allah, Sang Maha Mengetahui. Yang akan menghapus bagian yang salah. Dan menggantinya dengan rencana-Nya yang lebih indah”
Kalau kata Nidji, “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia”. Lalu bagaimana mimpi menurutmu?Aku mendefinisikan mimpi dari mimpi-mimpiku.
Impian pertamaku, menjadi seorang penulis. Sebuah impian yang sederhana. Bukan tak beralasan. Aku ingin tetap hidup meski sudah tiada nanti. Karena ilmu yang bermanfaat adalah amal yang takkan pernah putus meski jiwa tak lagi membersamai raga. Ia akan tetap mengalir jernih, seperti percikan air wudhu yang menghadirkan kebaikan di setiap tetesnya. Kemudian ia mengalir ke dalam ruang pikir pasang-pasang mata yang membacanya hingga menginspirasi gerak langkah mereka menuju kebaikan. Meskipun hasil karyaku tak seindah milik maestro sastra. Impian besar tanpa perjuangan merealisasikannya sama saja nihil. Memulainya adalah dengan menulis dan menulis. Minimalnya satu tulisan satu minggu. Bergabung bersama dengan mereka yang memiliki impian yang sama untuk bersama-sama belajar, untuk saling berbagi inspirasi dan semangat.
Impian keduaku, aku ingin mengelola atau mempunyai sekolah alam. Karena bagiku, kelas itu seperti penjara yang memenjarakan pikiranku. Tembok-temboknya seakan-akan menghimpitku, menghimpit ruang fikirku. Membelengguku. mungkin apa yang kurasakan dirasakan pula oleh mereka, anak-anak usia sekolah lainnya. Perhatikan reaksi mereka ketika bel istirahat dan bel pulang berbunyi. Bersorak gemibira, keceriaan nampak menguasai wajah mereka. Artinya mereka menganggapnya sebagai sebuah kebebasan. Bebas dari kelas yang membelenggu mereka. Sifat dasar anak-anak adalah bermain dan berimajinasi. Maka biarkan mereka berbaur dengan alam terbuka agar pikiran mereka terbuka seluas-luasnya. Jangan memaksa mereka masuk ke dunia kita, dunia orang dewasa yang kaku. Tapi kita yang harus masuk ke dunia mereka. Membuat mereka nyaman belajar karena keinginan hati mereka sendiri, bukan membuat mereka belajar dengan terpaksa di bawah tekanan. Membiarkan mereka akrab dengan alam juga mengakrabkan mereka dengan Sang Maha Indah, Sang Pencipta alam.
Beralih ke mimpiku selanjutnya, aku ingin sekali mondok di kampung Inggris Pare, Madiun. Memfasihkan bahasa inggrisku yang masih berada di underlevel. Dan juga menjejakkan kaki di negeri di atas awan. kawah bromo. Yang selama ini hanya bisa kupandangi lewat gambar. Melihat gambarnya saja sudah membuatku berdecak kagum pada keindahannya. Keindahan Sang Maha Indah, Keindahan di balik semua keindahan. Dan dilanjutkan dengan berkuda di padang pasir berbisik. Mencoba merasakan rasanya berkuda di padang pasir seperti Asma binti abu bakar, aisyah dan srikandi-srikandi pada jaman Rasulullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar