Selasa, 31 Januari 2012

Memprioritaskan prioritas hidup

Belum lama kita dihebohkan oleh tragedy maut tugu tani. Pemeran utamanya seorang gadis yang menutupi kepalanya dengan kerudung saat disorot kamera. Belakangan, banyak orang yang penasaran dengan kehidupan pribadinya. Beberapa media dengan semangat memberitakan bahwa wanita di balik setir mobil maut itu adalah wanita yang rajin beribadah dan berasal dari keluarga yang religious. Ibunya seorang hajjah dan dia aktif di kegiatan-kegiatan keagamaan. Alhasil muncul banyak cibiran dan hujatan bukan saja ditujukan padanya tapi juga pada identitas muslimnya. Kasus diatas hanya satu dari kasus-kasus lainnya dan hal ini bukan hujatan dan cibiran pertama dan satu-satunya untuk islam. Sayangnya, banyak dari masyarakat kita yang justru menyalahkan syariat islamnya atau identitas muslimnya bukan orangnya. Maka tak heran jika muncul pernyataan-pernyataan berikut.
“Percuma aja pake jilbab, tapi kelakuannya ga bener. Lebih baik ga pke jilbab sekalian”
“Sekarang sich banyak orang yang STMJ (sholat terus maksiat jalan) jadi ngapain juga sholat”
Memang agak sulit mengakuinya, tapi setidaknya dua pernyataan diatas cukup mewakili kondisi umat islam saat ini. Banyak dari kita yang “rajin”beribadah tapi masih saja gemar bermaksiat. lalu untuk apa beribadah?alangkah jauh lebih baik orang yang jarang atau bahkan tidak pernah beribadah tapi berkelakuan baik. Ironis, alasan tersebut dipegang teguh oleh mereka yang sadar, tidak sadar atau mungkin tak berniat sadar bahwa sebenarnya mereka telah berteman akrab dengan pasukan setan. Bukan. Bukan berteman akrab, tapi lebih tepatnya berserah diri pada setan dan hawa nafsu.
Pernyataan tersebut tidak mutlak salah dan tidak mutlak juga benar. Tidak mutlak salah karena faktanya fenomena tersebut banyak terjadi di sekitar kita. Bahkan bukan lagi bersifat tabu. Tapi tidak pula mutlak benar. Karena pada hakikatnya mereka tak sebenar-benarnya sholat juga tak sebenar-benarnya menutup aurat.
Hakikatnya sholat mampu mencegah perbuatan keji dan munkar. Lalu bagaimana dengan mereka yang rajin sholat tetapi masih bermaksiat?karena sholat mereka sebatas ritual. Hanya menggugurkan kewajiban. Bukan sebuah kebutuhan. Dengan sholat, karakter seseorang terbentuk. Dengan sholat, seseorang melatih keseimbangan otak kanan dan otak kiri nya, menyeragamkan apa yang ada di hati, lisan dan gerakan. Bukankah dalam hidup, sepatutnya hati, lisan dan perbuatan memiliki keseragaman. Dengan sholat pula, kita belajar bersabar.
Hakikat kita mengenakan jilbab bukan sekedar menutup aurat, bukan sekedar menunjukan identitas bahwa kita adalah seorang muslimah. Tapi sebuah ketaatan pada Sang Maha Indah, Sang Pemilik hakiki tubuh indah ini. Pernahkah kita berfikir, bahwa sebenarnya tubuh kita ini bukanlah sepenuhnya milik kita. Ada Dzat yang memilikinya. Pemiliknya hanya menitipkannya pada kita untuk dijaga dengan pakaian yang menutup aurat. Lalu, kita sebagai pihak yang hanya dititipkan tak mau memenuhi permintaannya. Padahal sejatinya tubuh ini bukan milik kita.
Islam bukan sekedar simbol. Bukan sekedar ritual belaka. Islam bukan hanya sholat, mengaji, puasa, dan haji. Islam bukan sekedar hubungan kita dengan Allah saja. Islam tak sekedar berada di masjid. Jadi tak perlu lagi mengerutkan kening ketika ada orang yang berbicara tentang politik, ekonomi, sosial, pendidikan dikaitkan dengan islam. Karena Islam telah mengatur semuanya bahkan untuk sekedar hal kecil seperti makan, minum, tidur, dll.
Kita tercipta untuk beribadah kepada Allah. Dan itu tujuan kita hidup di dunia ini. Seperti dalam surat al hujjurat ayat
“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku”
Maka beribadah adalah tujuan hidup kita, menjadikannya priorotas hidup. Tak sekedar itu, kita juga perlu memprioritaskan kualitasnya. Memprioritaskan kualitas ibadah kita. Lalu apa yang kita cari jika ibadah bukan lagi menjadi prioritas hidup kita??
Wallahu’alam bishowab

Di bawah LangitNya, 30 Januari 2012

Assyifa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar