Kamis, 05 Januari 2012

Menjaganya dalam diam

************
“Nan, boleh bunda tanya sesuatu?”suara bunda membuatku keluar dari ruang imajinasiku.
“apa sich yang ndak buat bunda” jawabku sekenanya masih dengan jari jemari di atas keyboard.
“Kinan pernah ngerasain jatuh cinta?”kali ini pertanyaan bunda mampu menghentikan tarian jemariku di atas keyboard komputer.
Sebelum menjawab pertanyaannya ku sempatkan melemparkan senyum lebar, “Bunda ini aneh dech pertanyaannya”.
Tapi sepertinya senyum lebarku semakin membuat kening bunda berkerut, “aneh gimana?yang aneh itu kamu, Nan. Yang bunda lihat anak gadis seusia kamu itu sudah banyak yang kenal ma cowo. Tuh liat Rani anaknya pak RT hampir setiap hari diantar jemput pacarnya, belum lagi kalo malam minggu banyak anak-anak muda sini yang main keluar atau diapelin ma pacarnya kayak Erna, diah, nita, rosi, vera, lina, sarah, siti, karin, ...”. hampir saja bunda mengabsen semua anak gadis satu RW kalo saja suara SMS di hape bunda tidak berdering. Aku masih mengutak atik tulisanku sembari menuggu kalimat lanjutan dari bunda sekaligus menerka-nerka anak gadis siapa lagi yang belum bunda sebutkan tadi. Rasanya aku tau, sepertinya tinggal satu nama yg tertinggal. Kinan, namaku sendiri. Hehe..
Masih dengan hape di tangannya, bunda melanjutkan kalimatnya “mereka itu seusia kamu bahkan ada yang lebih muda dari kamu tapi beda sekali dengan kamu. Bunda ga pernah liat kamu jalan bareng sama cowo, apalagi malam minggu kerjaannya Cuma ngeberantakin buku dimana-mana. Bunda takut kalau....kalau kamu...”
“kalo kinan ga normal maksud bunda??”sergapku langsung
“iyaaa... bukan itu aja. Bunda juga takut nanti kalau kamu ga laku apalagi kamu kalau pake baju nakutin, udah kayak teroris aja gimana ada laki-laki yang mau deketin kamu kalo penampilan kamu kayak gitu, yang ada mereka lari ketakutan duluan . Nan... Kamu ini udah 22 tahun loch...”.
Aku menghela nafas panjang, “ bundaaa.... anak perempuan bunda yang paaaling cantik ini normal kok, sumpeh dech!! Hehehe... kinan pernah jatuh cinta tapi ga musti di kasih tau ke orang-orang kan bunda?masa kinan harus umumin di masjid kalo kinan lagi jatuh cinta, pengumuman-pengumuman bapak ibu warga RW 03 diberitahukan bahwa putri dari bapak Aji yaitu Kinan sedang jatuh cinta. Kan ga gitu bunda?hehehe...” godaku sembari merebahkan diri di pangkuan bunda.
“huh, kamu ini kalau dibilangin. Bunda ini serius loch Nan...” kali ini memang wajah bunda jauh lebih serius. Hanya perasaanku saja apa memang sebenarnya wajah bunda memang sudah serius sejak pertanyaan awal tadi.
Akupun mencoba lebih serius sekarang, “kinan juga serius bunda. Kinan pernah jatuh cinta, tapi Kinan lebih nyaman untuk menyimpan sendiri perasaan Kinan biar Cuma Kinan dan Allah aja yang tau. Kinan gak mau dipermainkan sama perasaan Kinan sendiri kayak di sinetron-sinetron itu loch bunda, bunuh diri Cuma gara-gara cinta. Naudzubillah.. Kinan juga lebih nyaman dengan penampilan Kinan seperti ini, Kinan merasa lebih aman dan lebih pede. Ketimbang harus buka-bukaan, ga dijamin dech Kinan aman dari mata-mata jahil. Nanti kalo udah waktunya juga, jodoh Kinan datang sendiri tanpa harus dicari apalagi dikejar-kejar. Jadi bunda tenang aja dechh....”.
Percakapan sore itu berakhir dengan baik meskipun aku tau bunda masih gelisah dengan masa depanku. Masa depan??hemm.. apa memang sepertinya aku harus sudah memikirkan masa depan??tapi kuliahku masih setahun lagi, lagipula amanah di kampus masih seabrek-abrek.
************
Sore ini betul-betul menyebalkan, rencanaku melahap buku yang baru aku beli siang tadi gagal. Gara-gara cowo aneh di depanku sekarang.
“Kinan, bunda sama tante Dina pergi dulu ya. Kamu temenin mas Gilang di rumah, di ajak ngobrol mas Gilangnya. Kasian kan sudah jauh-jauh dari Malang Cuma mau ketemu kamu. Nak Gilang, tante tinggal dulu ya”. Sapaan bunda dibales anggukan kepala dan senyum dari mas Gilang.
Kata bunda, mas gilang itu dulu adalah teman kecilku. Sejak aku usia 2 tahun. Aduuh.. aku mana ingat waktu usiaku sekecil itu. Dia tetangga depan rumah sebelum aku pindah ke rumahku sekarang ini. Apalagi setelah SMP mas Gilang pindah ke Malang sampai sekarang sudah bekerja disana.
“Kamu sudah besar ya de. Beda loch sama waktu kecil, sekarang jauh lebih cantik. Terakhir ketemu waktu kamu masih SD ya. Sekarang sudah mau lulus kuliah. Mas ga nyangka waktu itu cepat ya de, sejak mas pindah ke malang. Mas keingetan kamu terus loch. Sudah sebesar apa kamu sekarang, sudah lebih cantik sepertinya. Dan ternyata firasat mas benar. Pantas aja begitu ada kesempatan pulang kesini, mas rasanya langsung pingin ketemu kamu. Gak sabar pingin liat wajah ayu kamu. Wah setelah ketemu kamu kayaknya mas akan sering-sering kesini. Boleh kan?kapan-kapan kita harus jalan-jalan berdua, nonton di bioskop, keliling kota naik motor, kalau perlu kamu mas ajak jalan-jalan ke Malang. Malang itu pemandangannya indah de, kayak wajah kamu.”
Preettt…. !!!Haduuuuhhhhh.... telingaku panas mendengarnya apalagi kelimat panjang yang ia keluarkan itu isinya rayuan gombal semua. Geli mendengarnya. Sepertinya aku harus cari cara untuk menghentikan mulut manisnya itu.
“mas gilang suka main game kan?adikku punya game baru loch mas. Pokoknya mas harus coba. Dijamin seru abisss dech” ucapku sedikit memaksa sembari berjalan mengambil game baru yang kemarin dibelikan ayah untuk adikku. Untung saja aku ingat bunda pernah bilang kalo dia maniak game dan untungnya adikku sedang tidur jadi ia tidak tau kalo game nya aku pinjam untuk menutup mulut mas gilang.
Ternyata strategiku berhasil. Dia lupa sama rayuan pulau kelapanya. Game baru itu sudah menyita semua konsentrasinya. Alhasil, aku bisa melahap buku baruku sampai menunggu bunda pulang.
************
Jam dinding di kamarku menunjukan waktu pukul 08.00 WIB, itu artinya 1 jam lagi hidupku akan berubah.
“Untuk yang terakhir kalinya loch kak, kakak yakin dengan keputusan ini?” serangan fajar dari adik sepupuku Mitha, membuatku mengernyitkan kening.
“kenapa sih de, kok nanya begitu?”
“ga apa-apa, aku Cuma aneh aja. Kakak yakin mau menikah dengan cowo yang kaku gitu, ga ada romantis-romantisnya” ucapnya polos. Mendengarnya, aku nyaris tertawa terbahak-bahak. Untung aku ingat, sudah banyak orang di rumahku. Aku tidak bisa menahan tawa. Aku biarkan Mitha bingung dan kesal menungguku selesai tertawa.
“dia itu bukan Cuma ga romantis de. Dia ga pernah ngasih kakak bunga kayak pacar kamu, dia ga pernah ngapelin kakak, dia ga pernah ngajak kakak jalan, dia ga pernah menyentuh kakak, dia ga pernah menatap mata kakak, dia ga pernah memberikan perhatian berlebihan ke kakak, dan parahnya lagi, dia ga pernah menyatakan cinta ke kakak bahkan sampai detik ini, 1 jam menjelang ijab qobul. Parah banget kan?” jawabku santai sembari membalas SMS yang masuk ke HP ku.
“hahh??kok kakak mau sih??jangan-jangan dia ga cinta ma kakak. Aduhhh.. kalo Mitha jadi kakak, Mitha kabur deh dari sekarang”. Ucapnya panic sendiri. dan aku semakin tak tahan untuk tidak tertawa.
“Mitha sayaaang… Justru kakak mau menikah dengan dia karena dia ga pernah ngasih kakak bunga, ga pernah ngapelin kakak, ga pernah ngajak kakak jalan, ga pernah menyentuh kakak, ga pernah menatap mata kakak, ga pernah memberikan perhatian berlebihan ke kakak, dan karena dia ga pernah menyatakan cinta ke kakak bahkan sampai detik ini. Dan kakak bersyukur untuk itu… itu tandanya dia benar-benar sayang sama kakak”
“sayang darimana?kakak baru pertama kali kenal dia ya?kakak dijodohin?”
“ga kok, kakak udah kenal dia 3 tahun. Dan kakak sendiri yang milih dia. Kamu inget ga, waktu kita bantuin bunda ngejagain murid-murid TK nya bunda ikut acara outbond?dia kan salah satu E.O nya waktu itu”
“iya, aku inget. Tapi aku ga habis pikir. Waktu itu kakak ma dia kan diem-dieman aja. Kayak orang musuhan.”
Aku tersenyum mendengarnya, dan aku terbiasa mendapatkan respon seperti ini. Seperti 3 bulan yang lalu…
Sudah dua jam aku uring-uringan di hadapan ayah dan bunda. Dan ayah menangkapnya.
“kamu kenapa sih nan?ada yang mau disampein ke ayah bunda?”
“Kok ayah tau” batinku mengunggam
“bismillahirrahmaniirahim….. ayaaaahhh… bundaaaa….. mmm… menurut ayah bunda kalo……mmm…bukan..bukan… begini maksud kinan, ayah ma bunda….. ngijinin ga kalo…semisalnya…. Ada yang ….mmm….. aduuuhh gimana yaaa… gini…kalo kinan…. Kalo ada yang ngelamar kinan jadi istrinyaaaa??” ucapku pelan sampai-sampai mandi keringat
“apa???” jawab ayah bunda kompak. Dan aku tak berani menatap mata keduanya. Bunda segera mendekatiku, dan mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“kamu ga hamil kan nan??” tanya bunda sembari memegang perutku.
“Bundaaa…. Ya gak lah. Bunda ni aneh deh”
“Bukan sayang, bunda heran. Kamu tiba-tiba minta ijin untuk nikah. Nah, pacar aja ga punya. Jangankan pacar, teman laki-laki juga ga ada, mas gilang aja kamu cuekin. Ini tiba-tiba minta ijin nikah, yang bener aja. Jujur deh, kamu hamil nan?”
“Bundaaaa… wallahi kinan ga hamil dan kinan ga apa-apa. Kinan sehat wal afiat dan kinan sadar sesadar-sadarnya. Kan bunda sendiri yang bilang ke kinan kalo kinan harus mulai memikirkan masa depan. Nah, ini kinan sedang memikirkan masa depan bundaaaa…”
Bunda tak menjawab, hanya melihat ayah tajam dan dibalas ayah dengan senyum.
“kalo ayah n bunda ngijinin. Besooookkkk……… orangnya akan ke rumah”
“apa??” jawab ayah bunda serempak untuk kedua kalinya
“mau lamaran besok nan??kamu ini gimana masa mau lamaran besok, baru ngomongnya sekarang”
“bukan lamaran bundaaa.. Cuma mau kenalan dulu ma ayah bunda. Sendirian kok.”
Hening. Lama sekali tak ada respon. Hanya ayah bunda yang sedang saling menatap. Sepertinya mereka punya bahasa isyarat sendiri lewat mata yang tak bisa diterjemahkan lewat kata-kata. Fiuhh.. dan aku semakin gemetar.
“baiklah, ayah tunggu besok” jawaban ayah membuatku sedikit lega.
“tapi… ayah mau kenal dulu orangnya ya, ga langsung mutusin kasih ijin kamu apa ga.”
“siap ayah…!!” ucapku sambil mencium tangan keduanya dan segera pergi ke kamar.
Keesokan harinya, setelah pertemuan sore itu. aku dipanggil untuk disidang oleh ayah dan bunda di ruang keluarga. Hasil sidang menyatakan bahwa ayah dan bunda memberikan respon positive terhadap ikhwan yang ku kenalkan sore itu.
************
Cerita diatas bisa terjadi pd siapa sj terutama para akhwat ADK. so, dakwah pd keluarga juga sangat diperlukan dari sekarang terkait konsep pergaulan islami.

Di bawah langitNya, 20 Desember 2011

Assyifa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar