Rabu, 16 Maret 2011
Galeri Lukisan wajah Sang Maha Indah

Gumpalan kepenatan menggumpal dan bergumpal bersarang di seisi kepala. Ingin rasanya membuangnya ke lautan lepas. Membiarkannya menari bersama tarian ombak hingga terdampar ke pulau tak bertuan atau melemparkannya sebagai makanan ikan.
Dan sore yang dinanti pun datang. Disambut birunya langit yang membias biru dengan air laut. Pesonanya menentramkan hati. Meski ia tak sebanding dengan pesona pantai pulau dewata. Tapi cukup mengobati rinduku pada ketenangan.
Menyusuri jalan setapak di tepi laut. Diiringi empat pasang kaki pejalan tangguh (begitu mereka menyebutnya), aku berkawan akrab dengan bebatuan. Menikmati kelincahan tarian ombak dan nyanyian angin. Tentram rasanya. Tak banyak wajah yang kami temui disini. Membuat kami bebas berekspresi. Untuk kedua kalinya Bersenandung lagu yang baru saja kami nyanyikan untuk mengiringi suapan sekotak tiramisu di hari lahir seseorang. Sebuah lagu yang sama dengan senandung penyemangat aksi di jalan. Bingkai kehidupan. Entahlah mungkin hanya ikan-ikan yang mendengar senandung merdu kami. Atau bahkan mungkin diam-diam mereka ikut bersenandung merdu bersama kami.
Aku benar-benar telah dibuat jatuh cinta pada wajah alam. Pada langit biru, pada keanggunan bias warna lautan, dan syahdunya kehijauan di kaki gunung. Benar-benar wajah alam yang indah. Menginspirasiku untuk melukiskan wajah Sang Penciptanya yang pasti jauh lebih dari sekedar indah. Tentu saja bukan lukisan dalam semburat warna kuas di atas kanvas. Tapi lukisan dalam kata oleh goresan pena. Dan menyimpan lukisan itu dalam galeri hatiku. Agar suatu saat ketika aku dipertemukan dengan wajah Sang Maha Indah, aku bisa membuka kembali lukisan itu dan meyakini kekeliruanku. Keliru bahwa sebenarnya wajah-Nya jauh lebih indah dari lukisan-lukisan dalam galeri hatiku. Bahkan keindahan-Nya tak mampu terlukiskan lewat kata maupun semburat cat lukis.
Di bawah langit-Nya, 14 maret 2011
-Assyifa-
Sabtu, 12 Februari 2011
Jihad Mawar (di taman yang terlupakan)

Dari sudut lain kota wali kisah ini dimulai. Bermula dari sebuah taman yang tak kunjung menjadi sorotan penduduk kota ini. Taman yang terlupakan. Meski ia tak seindah dulu, tapi setiap sudutnya menyimpan pesona masa lalu. Ia masih berdiri diantara hiruk pikuk kota semi metropolis ini. Tapi berdiri diantara kekokohan batu-batu ini membuatku sedikit tenang. Ketenangannya mampu melayangkan beban-beban pikiranku sejenak.
Siang itu, aku melingkar bersama delapan mawar di pendopo tua taman ini. Merenungi dua masa perjalanan kami di taman perjuangan yang telah menyatukan kami. Taman perjuangan, taman lain yang jauh lebih indah dari taman ini. Tapi keduanya bernasib sama. Keindahan keduanya seringkali terlupakan karena di luar sana banyak keindahan-keindahan semu yang lebih menarik hati.
Aku dan delapan mawarku yang tengah bersemi ini masih menikmati belaian lembut angin dan kesunyian yang meneduhkan hati. Membuat kami larut dalam dunia kami. Tapi kami cukup sadar ketika seorang wanita cantik berkulit putih dengan balutan pakaian yang “seadanya” dan pria berperawakan asing disampingnya memberanikan diri menyapa. Sedikit berbasa-basi. Selayaknya orang Indonesia yang “katanya” terkenal akan keramahannya, kami balas sapa dan senyum mereka dengan penuh keramahan. Masih dengan keramahan dan kepolosan ketika pinta mereka berfoto bersama kami penuhi. Dan masih dengan wajah ramah dan polos membalas sapa mereka sebelum ketiganya berlalu dari kami. Dan kami kembali larut memasuki dunia kami. Kembali pada taman perjuangan. Hari itu selesai menciptakan semangat yang tercipta bersama untaian ukhuwah.
Dan sehari di taman yang terlupakan itu kini meninggalkan jejak yang tak kami buat dengan sadar. Jejak yang bisa menghapus jejak-jejak kebaikan yang kami dan saudara-saudara kami buat dengan susah dan payah. Nila setitik rusak susu sebelanga. Pepatah itu begitu nyaring di telinga dan menari lincah di alam bawah sadar. Seekor harimau ganas siap berdiri menghadang di tengah perjalanan ini. Cukup membuat kami geram untuk melawannya. Karena ia tak kami duga kehadirannya. Terlebih karena ia hadir dari jejak yang dulu tercipta dari keramahan sebuah taman yang terlupakan. Belum cukup seekor harimau yang masih belum nampak. Jauh di belahan bumi lainnya, seekor singa yang berlipat kali ganasnya menanti perjalanan kami. Tapaknya telah lama menjejak bahkan mungkin tapaknya setia berada di balik bayang-bayang langkah yang tak disadari. Entah apa yang membuat kedua hewan symbol keganasan ini bernafsu menyantap kami. Setidaknya kami tau keduanya berada dalam satu komando.
Aku diingatkan pada lembaran kisah perjalanan Rasulullah ketika beliau dihina bahkan di tuduh orang gila. Bukan sebuah perjalanan yang nyaman tapi indah dinikmati dalam keimanan. Begitupun jalan yang kami tempuh, ia tak senyaman perjalanan ke bali ataupun kualalumpur. Tapi setelah jalan ini akan ada jalan yang berujung pada keindahan yang tak berujung. Berujung pada Sang Maha Indah. Kiranya ini yang membuat kami kuat dan siap atas berbagai keganasan di luar sana yang memiliki banyak langkah untuk menghapus dan menghancurkan langkah-langkah yang ditapaki Rasulullah untuk sebuah kejayaan Islam. Dan kami yang berusaha meneruskan perjuangannya adalah mangsa empuk bagi makhluk-makhluk ganas di luar sana.
Untukmu wahai kekasih Allah, kami melebur bersama jiwa yang dikuasai rindu padamu..
* Suratan Tuhan kita disini, menapaki cerita bersama. Kisah ini kan menjadi oleh-oleh untuk anak cucu kita nanti, ukhti. biarkan mereka tau bahwa pernah ada kisah diantara kita di taman yang terlupakan untuk Sang Maha Indah di penghujung indahnya taman perjuangan. (Assyifa)
Rabu, 09 Februari 2011
Kamis, 27 Januari 2011
Ikatlah Budaya Mengikat ilmu
“Maaf, saya tidak bisa menulis”
Mungkin kita pernah atau bahkan sering sekali menemukan jawaban seperti ini ketika kita meminta seseorang untuk menulis. Bukankah menulis telah menjadi makanan sehari-hari semenjak kita resmi mengenakan seragam merah putih. Kali ini konteksnya berbeda, menulis bukanlah menyalin atau tepatnya memindahkan tulisan guru di papan tulis ke buku catatan, apalagi memindahkan jawaban teman ke lembar jawaban milik sendiri saat ujian. Tentu bukanlah menulis seperti itu yang di maksud. Meskipun pada kenyataannya, menulis telah mengalami penyempitan makna.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, menulis berarti (1) membuat huruf, angka, dsb; (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang dan membuat surat) dengan tulisan; mengarang cerita;
Berdasarkan makna diatas, menulis bisa dimaknai sebagai kemampuan atau ketrampilan seseorang dalam mengemukakan gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan dengan media tulisan. Sepertinya, kata ketrampilan di atas perlu di garis bawahi sehingga menulis akan menjadi sama seperti ketrampilan lainnya; berenang, menyanyi,dll dimana dibutuhkan latihan untuk dapat melakukannya dengan baik. Begitu juga, menulis. Sebuah pemahaman yang salah jika orang enggan menulis dikarenakan menulis bukanlah bakatnya. Menurut Marion Zimmer bradley – seorang penulis terkenal- menerangkan bahwa sembilan puluh persen kesuksesan menulis adalah berasal dari kerja kerasnya, sedangkan bakat dan inspirasi hanya memiliki andil sepuluh persen. Maka dapat disimpulkan bahwa kita hanya perlu membiasakan diri dengan budaya menulis.
Budaya menulis adalah salah satu budaya intelektual yang seharusnya akrab dengan kehidupan mahasiswa yang seringkali disebut sebagai kaum intelektual. Kiranya miris sekali jika untuk menyelesaikan tugas makalah bahkan skripsi sekalipun, banyak dari mahasiswa kita hari ini yang menyelesaikannya dengan sangat instan (red: copy paste karya orang lain). Seakan-akan tugas menulis adalah beban berat yang membebani pundak. Mahasiswa kita hari ini telah jauh terbuai pada gemerlap budaya nir-intelektualnya. Ternyata penyakit ini juga dialami oleh para guru dan dosen. Padahal di Amerika, menulis dan membuat sebuah karya tulis adalah kegiatan sehari-hari para guru dan dosen. Bagaimana dengan para guru dan dosen kita?. Entahlah mungkin beliau tak punya banyak waktu untuk membagikan ilmu yang dikuasainya melalui tulisan.
Sepertinya stigma berat tentang kegiatan menulis ini tak hanya menjangkiti kalangan mahasiswa dan dosen yang menyebutkan dirinya sebagai kaum intelektual tetapi memang sebagian masyarakat kita menganggapnya demikian. Hal tersebut dapat dibuktikan oleh data milik UNESCO bahwa Jepang, mampu menerbitkan 60.000 judul buku per tahunnya. Sedangkan Indonesia dengan jumlah yang penduduknya yang jauh lebih banyak hanya menerbitkan 2000 buku per tahunnya. Berdasarkan data tersebut dapat kita ketahui bahwa minat menulis juga membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah.
Menulis dan membaca memang sepasang kegiatan yang tak bisa dipisahkan. Untuk dapat menulis, kita dituntut untuk banyak membaca. Karena membaca adalah proses mengolah informasi menjadi pengetahuan dan intelektual sehingga pengetahuan kita semakin bertambah, dan semakin bertambah pula ilmu yang dapat dibagikan melalui tulisan. Ilmu itu seperti buruan maka ikatlah dengan menuliskannya. sekiranya itulah pesan yang disampaikan Imam Syafi’i, bahwa ilmu haruslah ditulis untuk menjaganya. Bukankah ketika lidah lebih buas melemparkan kata-kata, ada tangan yang siap menggerakan kata-kata melaui goresan pena. Tak perlu menantikan gelar besar di ujung nama untuk menghasilkan sebuah karya besar. Karena kita takkan pernah tahu apakah usia kita akan sampai pada saat dimana gelar tersebut bersanding dengan nama kita. Sedangkan amal yang takkan pernah putus ketika jiwa tak lagi membersamai raga salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Tulisan yang kita buat takkan pula mati ketika kita tak lagi hidup di dunia ini. Ia akan jadi amal yang mengalir untuk setiap kebaikannya.
Maka menulis dan membaca sudah sepantasnya menjadi sebuah kebutuhan bukan lagi kewajiban apalagi beban yang berat. Jadi, selamat berkarya!!. Berikanlah harapan pada negeri ini bahwa calon pemimpinnya mampu mempersembahkan karya untuk masa depan bangsanya. ( Assyifa )
Mungkin kita pernah atau bahkan sering sekali menemukan jawaban seperti ini ketika kita meminta seseorang untuk menulis. Bukankah menulis telah menjadi makanan sehari-hari semenjak kita resmi mengenakan seragam merah putih. Kali ini konteksnya berbeda, menulis bukanlah menyalin atau tepatnya memindahkan tulisan guru di papan tulis ke buku catatan, apalagi memindahkan jawaban teman ke lembar jawaban milik sendiri saat ujian. Tentu bukanlah menulis seperti itu yang di maksud. Meskipun pada kenyataannya, menulis telah mengalami penyempitan makna.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, menulis berarti (1) membuat huruf, angka, dsb; (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang dan membuat surat) dengan tulisan; mengarang cerita;
Berdasarkan makna diatas, menulis bisa dimaknai sebagai kemampuan atau ketrampilan seseorang dalam mengemukakan gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan dengan media tulisan. Sepertinya, kata ketrampilan di atas perlu di garis bawahi sehingga menulis akan menjadi sama seperti ketrampilan lainnya; berenang, menyanyi,dll dimana dibutuhkan latihan untuk dapat melakukannya dengan baik. Begitu juga, menulis. Sebuah pemahaman yang salah jika orang enggan menulis dikarenakan menulis bukanlah bakatnya. Menurut Marion Zimmer bradley – seorang penulis terkenal- menerangkan bahwa sembilan puluh persen kesuksesan menulis adalah berasal dari kerja kerasnya, sedangkan bakat dan inspirasi hanya memiliki andil sepuluh persen. Maka dapat disimpulkan bahwa kita hanya perlu membiasakan diri dengan budaya menulis.
Budaya menulis adalah salah satu budaya intelektual yang seharusnya akrab dengan kehidupan mahasiswa yang seringkali disebut sebagai kaum intelektual. Kiranya miris sekali jika untuk menyelesaikan tugas makalah bahkan skripsi sekalipun, banyak dari mahasiswa kita hari ini yang menyelesaikannya dengan sangat instan (red: copy paste karya orang lain). Seakan-akan tugas menulis adalah beban berat yang membebani pundak. Mahasiswa kita hari ini telah jauh terbuai pada gemerlap budaya nir-intelektualnya. Ternyata penyakit ini juga dialami oleh para guru dan dosen. Padahal di Amerika, menulis dan membuat sebuah karya tulis adalah kegiatan sehari-hari para guru dan dosen. Bagaimana dengan para guru dan dosen kita?. Entahlah mungkin beliau tak punya banyak waktu untuk membagikan ilmu yang dikuasainya melalui tulisan.
Sepertinya stigma berat tentang kegiatan menulis ini tak hanya menjangkiti kalangan mahasiswa dan dosen yang menyebutkan dirinya sebagai kaum intelektual tetapi memang sebagian masyarakat kita menganggapnya demikian. Hal tersebut dapat dibuktikan oleh data milik UNESCO bahwa Jepang, mampu menerbitkan 60.000 judul buku per tahunnya. Sedangkan Indonesia dengan jumlah yang penduduknya yang jauh lebih banyak hanya menerbitkan 2000 buku per tahunnya. Berdasarkan data tersebut dapat kita ketahui bahwa minat menulis juga membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah.
Menulis dan membaca memang sepasang kegiatan yang tak bisa dipisahkan. Untuk dapat menulis, kita dituntut untuk banyak membaca. Karena membaca adalah proses mengolah informasi menjadi pengetahuan dan intelektual sehingga pengetahuan kita semakin bertambah, dan semakin bertambah pula ilmu yang dapat dibagikan melalui tulisan. Ilmu itu seperti buruan maka ikatlah dengan menuliskannya. sekiranya itulah pesan yang disampaikan Imam Syafi’i, bahwa ilmu haruslah ditulis untuk menjaganya. Bukankah ketika lidah lebih buas melemparkan kata-kata, ada tangan yang siap menggerakan kata-kata melaui goresan pena. Tak perlu menantikan gelar besar di ujung nama untuk menghasilkan sebuah karya besar. Karena kita takkan pernah tahu apakah usia kita akan sampai pada saat dimana gelar tersebut bersanding dengan nama kita. Sedangkan amal yang takkan pernah putus ketika jiwa tak lagi membersamai raga salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Tulisan yang kita buat takkan pula mati ketika kita tak lagi hidup di dunia ini. Ia akan jadi amal yang mengalir untuk setiap kebaikannya.
Maka menulis dan membaca sudah sepantasnya menjadi sebuah kebutuhan bukan lagi kewajiban apalagi beban yang berat. Jadi, selamat berkarya!!. Berikanlah harapan pada negeri ini bahwa calon pemimpinnya mampu mempersembahkan karya untuk masa depan bangsanya. ( Assyifa )
Tepat 45 menit di sudut angkot (judul yang aneh?!)
Aku menyudutkan diri di sudut belakang mobil angkutan umum ini. Sengaja posisi ini aku ambil agar tak ada yang menggangguku menikmati pemandangan di luar kaca jendela. Lagipula orang seisi mobil sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Tanpa ada suara. Hening. Hanya deruman mobil tua ini yang terdengar. Ada yang sibuk memperhatikan jalan, ada yang sibuk dengan layar hape nya, tak sedikit yang melemparkan pandangan tak berarah seperti halnya aku. Sebenarnya kata yang lebih tepatnya adalah melamun. Bemain-main dalam ruang fikirku yang dilintasi banyak pikiran yang membuatku sedikit penat. Untuk menghilangkan penat, sengaja aku naik mobil angkutan yang rutenya lumayan jauh untuk sampai di rumahku. Aku ingin sesekali menikmati sore melintasi keramaian kota wali-ku ini. Ah, kota wali. Entahlah nama itu sedikit aneh didengar dengan apa yang kulihat di balik jendela mobil ini. Kota ini sedikit lebih mirip dengan ibukota yang hiruk pikuk itu. Lihat saja, sudah berapa banyak pusat perbelanjaan yang kulewati. Sudah ada delapan buah pusat perbelanjaan dan kesemuanya ramai pengunjung. Dan itu belum cukup, masih ada beberapa pusat perbelanjaan lainnya yang tak terlewati oleh rute angkot ini. Luar biasa, masyarakat kita ini ternyata punya banyak uang untuk meramaikan pusat-pusat perbelanjaan yang tak pernah terlihat sepi di satiap harinya. Dari sudut jendela, aku sempat beberapa kali melihat beberapa pakaian yang tergantung di etalase toko. Dan hal ini menarik perhatianku. Bukan tertarik untuk memilikinya tapi menarik perhatianku untuk kembali bertanya-tanya. Hampir semua model pakaiannya lebih cocok untuk dipakai adik-adik kecilku. Tapi manequinne yang memakainya terlihat bukan manequinne anak-anak. Yang lebih mengejutkan beberapa jarak dari toko itu, kulihat lagi manequinne dengan pakaian mini tadi. Kali ini mannequinne nya berjalan rapat dengan seorang pria. Rapat sekali, seakan-akan jalan begitu sempitnya untuk dilewati. Padahal jika ku boleh memperkirakan, jalan trotoar itu bisa dilewati oleh empat orang. Entahlah mungkin dunia begitu sempit untuk mereka yang sedang jatuh cintanya.
Tiiiinnnnn.....tiinnnnn.... lagi-lagi bunyi klakson mobil itu mengagetkanku. Tapi cukup membuatku tersadar bahwa saat ini aku sedang terjebak macet. Padahal menurutku, jalan protocol ini sudah cukup lebar. tapi mengapa masih saja terjadi macet. Jika boleh menebak, mungkin karena jumlah kendaraan pribadi yang semakin bertambah. Baik motor maupun mobil yang jumlahnya semakin bertambah saja tiap tahunnya. Sekali lagi, masyarakat kita ini sudah cukup sejahtera rupanya dengan mampu membeli kendaraan pribadi lebih dari satu unit. Apakah kota kecil ini harus punya beberapa unit busway juga untuk mengatasi kemacetan?. Dan ini yang tidak kusukai, polusi dimana-mana. Padahal bumi kita ini sudah banyak keluhan karena global warming. Aku jadi ingat tayangan di televisi yang menggambarkan keramain jalan-jalan di pusat kota Jepang yang diramaikan oleh orang-orang yang berjalan kaki dan beberapa asyik dengan mengayuh sepedanya. Bukan berarti tak ada kendaraan umum, tapi kendaraan umum menjadi pilihan utama berpergian daripada menggunakan kendaraan pribadi. Tentu saja menjadi pilihan utama, karena fasilitasnya yang berkualitas. Jadwal keberangkatan yang tepat waktu, kondisi dalam kendaraan yang bersih dan nyaman membuat mereka lebih memilih kendaraan ini daripada harus capek-capek mengendarai sendiri kendaraan mereka. Dengan begitu mereka akan dengan santainya tertidur pulas dalam kendaraan. Ups, tidak. Mereka tidak memilih tidur dalam kendaraan, mereka lebih memilih membaca. Luar biasa, hal yang sangat jarang kutemui di negeri tercintaku ini. Disini, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur atau yang jauh lebih baiknya mengobrol dan kebanyakan melamun, seperti aku ini sekarang. Ah, lagi-lagi negeri sakura itu yang melintas di ruang fikirku. Semakin membuatku ingin berdiri di bawah birunya langit negeri sakura itu. tapi bukan berarti aku seorang pengkhianat atau bahkan penjajah karena mendambakan negeri sakura itu. aku tetap mencintai negeriku, negeri yang sudah susah payah diperjuangkan bung hatta, dan kawan-kawannya. Aku ingin mencuri ilmu dari negeri sakura yang pernah mencuri kekayaan negeriku dulu. (Hehe...) .
Ya Allah, aku tak sadar sedang tersenyum-senyum sendiri. Tak sadar juga bahwa dari balik spion mobil ada sepasang mata yang memperhatikanku. Tak perlu ge-er karena itu sepasang mata milik pak supir yang sedari tadi memperhatikanku dengan tatapan kesal dan curiga. Tatapannya memberiku isyarat tentang pertanyaan yang mungkin dari tadi menganggu konsentrasi mengemudinya.
“sebenarnya mau kemana sich ni anak naik dari kampus, sampe sekarang mau balik lagi ke kampus kok belum turun-turun juga. Dia pikir ini bus pariwisata??bayar Cuma seribu lima ratus juga.” Kira-kira begitu bunyi tatapannya.
Tebakanku itu cukup membuatku malu juga. Ah, kuniatkan dua perempatan lagi aku akan turun. Andai saja bapak itu tau kalau sebenarnya jarak dari kampus ke rumahku bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Maaf ya pak, nanti akan aku lebihkan seribu lagi ongkosnya.
Aduh tak baik juga lama-lama memperhatikan tatapan mencurigakan pak supir, aku kan harus ghadwul bashar. Apalagi kalo istrinya tau, bisa disemprotnya aku. Tenang saja bu, jangan curiga dulu. sudah ada nama yang mengisi hatiku kok. (eits, namanya siapa?? Wah bisa-bisa di sidang kaderisasi nech. Jd kaderisasi nyidang kaderisasi dong. Tenang aja, baru nama Allah yg boleh menetap di hatiku selain nama RasulNya, kedua orangtuaku, dan adikku. Nama lainnya masih menanti. Aduh salah lagi).
Sudahlah daripada imajinasiku semakin tak jelas seperti sinetron-sinetron di televisi, lebih baik aku siapkan lima logam koin untuk ongkos (maklum mahasiswa, uang koin juga masih untung daripada tidak ada uang sama sekali). Ooopss.. tiba-tiba telingaku mendengar suara gemerincing koin yang jatuh ke lantai mobil. Kupikir itu punyaku, langsung saja bola mataku menuruti instruksi dari telingaku untuk segera mencari larinya suara koin tadi. Ternyata ia tepat di samping sepatuku. Ku pungut koin itu, tapi ada yang aneh. Perasaan koinku warnanya perak, kenapa jadi kuning?. Belum selesai menjawab pertanyaanku sendiri, aku dikejutkan suara bening dari samping kananku.
“teh, itu punya aku”. Pinta seorang anak kecil yang pipinya nyaris sama dengan bakpau.
“ooh, punya ade toh?maaf ya, ini koinnya”. Ujarku sembari menyodorkan koinnya. Yang kemudian di sambut senyum polosnya dan diakhiri ucapan terimakasih.
Tak lama kemudian ia berteriak lantang, “kiliiii pakkk….stopp”. begitu mobil berhenti ia langsung turun dengan tak lupa menggendong tas ranselnya yang besarnya hampir sepadan dengan tubuhnya. Aarghh dia lebih baik, tasnya sesuai dengan orangnya. Sedangkan aku, tasku jauh lebih besar. tidak seimbang dengan tubuhku yang kecil.
Sayang sekali, ia bergegas turun padahal baru saja aku mau memulai percakapan dengannya, syukur-syukur bisa sedikit saja mencubit pipinya. Uh, aku memang tak bisa melihat anak kecil yang pipinya chubby, rasanya ingin mencubit saja. Dari beberapa penumpang di mobil itu hanya dia saja yang wajahnya enak di lihat, bukan karena pipi chubby nya tapi karena hampir semua penumpang wajahnya dingin melihatku dengan penampilan seperti ini. Jilbab besar dengan tas ransel yang juga besar, huft mungkin pikir mereka aku ini teroris yang membawa bom. Tapi aku berharap anak kecil tadi turun memang karena tempat tujuannya sudah sampai, bukan kerena ketakutan melihatku kemudia ia bergegas turun. Sejenak terdiam, aku tersadar bocah tadi turun sendiri, aku hampir tak ingat dimana dia naik tadi dan dengan siapa, ini gara-gara aku terlalu asyik dengan bayangan negeri sakura-ku. Tapi seingatku, dia memang naik sendiri dan turun sendiri tanpa ditemani siapa-siapa. heum, bocah sekecil dan selucu itu berani berpergian seorang diri. Tidak takutkah dia diculik orang seperti aku ini, yang gemes melihat anak kecil selucu dia. Tidak. Maksudku, kemana orangtua nya hingga membiarkan anaknya pergi sendirian. Aku ingat, ini kali kedua aku berpapasan dengan seorang anak kecil yang pergi sendirian. Beberapa waktu yang lalu, seorang anak kecil masih dengan seragam merah-putihnya tepat duduk di hadapanku dalam sebuah angkutan umum. Tangannya menggenggam erat buku bersampul merah, yang kuduga adalah raportnya. Karena hari itu, hari pembagian raport. Wajahnya sesekali tak bisa menahan senyum. Pasti isi raport bersampul merah itu yang membuatnya sumringah. Yang pasti isinya tak berwarna merah seperti sampulnya, karena ia tak bisa menyembunyikan wajah ceria nya. Mungkin ia sudah tak sabar menunjukan raportnya ke kedua orangtuanya di rumah. Karena setauku, dia naik angkot seorang diri. Dengan semangat, ia berteriak hendak turun. Begitu kaki nya menginjak aspal jalan, ia segera berlari dengan penuh semangat menyusuri lorong sempit menuju rumahnya. Semua penumpang di dalam mobil dibuatnya terkesima. Seorang ibu berujar “ hebat, anak sekecil itu sudah berani naik angkot sendirian”.
Ah, jadi ingat ibuku. Dulu ketika aku kecil, aku tak pernah bisa lepas dari ibu. ketika masih di bangku TK, ibu tak pernah absent untuk berdiri di sampingku baik di luar maupun di dalam kelas sekalipun. Bahkan ketika jam istirahat semua anak-anak bermain dengan teman-temanya, aku asyik berlindung di balik punggung ibu. Ajakan teman-teman bermain tak sedikitpun membuatku tergoda. Biar saja aku disebutnya anak mama, aku memang bukan anak mama kok, tapi aku anak ibu (hehe sama aja). Sampai SD pun aku tetap seperti itu, tapi kali ini aku mulai terpaksa menerima ditinggal ibu ketika jam belajar dan istirahat. Ibu hanya mengantar sampai gerbang sekolah dan menjemputku sepulang sekolah. Ibu memang tak pernah berhenti menjagaku karena selain fisikku memang lemah, aku adalah wasiat yang ditinggalkan mbah putriku sebelum wafat. Kata ibu, mbah putri minta ibu buat menjagaku. Aku tak tau apa alasan mbah putri, kenapa dari sekian banyak cucu-cucunya hanya namaku yang disebut diakhir nafasnya. Karena itu, aku tak pernah diijinkan ibu untuk pergi seorang diri. terlebih naik kendaraan umum sendiri apalgi aku mudah sekali mengantuk dan tertidur ketika naik mobil. Ibu takut, aku tak sadar diculik orang karena terlelap seorang diri di mobil. Biar begini-begini aku kan anak perempuan ibu yang paling cantik (Karena memang ayah ibu hanya punya 1 anak laki-laki dan satu anak perempuan,hehe). Jika ingat masa kecil dan melihat aku yang sekarang seperti tak percaya. Aku yang pemalu, yang dalam sehari hanya mau mengeluarkan sedikit kalimat, aku yang cenderung menangis ketika berhadapan dengan orang banyak. Sekarang, aku sudah berani bicara di depan orang banyak, ibu. Apalagi aku akan menjadi guru, bagaimana jadinya jika gurunya menangis ketika masuk kelas karena berhadapan dengan banyak orang. Dan dakwah memiliki andil di dalamnya. Selain karena didikan ibu dan ayah yang berusaha mengajariku untuk mandiri setelah kami hidup nomaden (berpindah-pindah). Juga karena dakwah aku berubah, ketika SMA ku mulai tergerak ikut organisasi remaja masjid. Dan masjid kecil sekolahku itulah saksi bisu perubahanku begitu juga masjid kecil di bawah cahaya ilmu di kampusku. Ternyata benar kata orang, cinta bisa merubah segalanya. Dan cintaku pada jalan yang kupilih ini yang telah membuatku berubah menjadi lebih baik. Aku bersyukur bisa mengenal dan berada dalam jalan ini, terimakasih Allahku atas karuniaMu ini..
Ngomomg-ngomong soal jalan, aku sudah sampai di jalan mana ini. Ya Rabb, perempatan yang kutuju sudah terlewat. Aku harus berhenti disini. Aku bergegas berteriak untuk turun. Sepertinya air muka pak supir berubah ceria ketika mendengar suaraku. Terlebih ketika ku lebihkan ongkosnya, kali ini ia malah melempar senyum. Hehe.. terimakasih ya pak atas perjalanannya. Perjalanannya membuatku men-tafakuri kehidupan ini. semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa kuambil selama perjalanan tepat 45 menit ini. Semoga Allah menambahkan rizki bapak ya.
-Assyifa-
Tiiiinnnnn.....tiinnnnn.... lagi-lagi bunyi klakson mobil itu mengagetkanku. Tapi cukup membuatku tersadar bahwa saat ini aku sedang terjebak macet. Padahal menurutku, jalan protocol ini sudah cukup lebar. tapi mengapa masih saja terjadi macet. Jika boleh menebak, mungkin karena jumlah kendaraan pribadi yang semakin bertambah. Baik motor maupun mobil yang jumlahnya semakin bertambah saja tiap tahunnya. Sekali lagi, masyarakat kita ini sudah cukup sejahtera rupanya dengan mampu membeli kendaraan pribadi lebih dari satu unit. Apakah kota kecil ini harus punya beberapa unit busway juga untuk mengatasi kemacetan?. Dan ini yang tidak kusukai, polusi dimana-mana. Padahal bumi kita ini sudah banyak keluhan karena global warming. Aku jadi ingat tayangan di televisi yang menggambarkan keramain jalan-jalan di pusat kota Jepang yang diramaikan oleh orang-orang yang berjalan kaki dan beberapa asyik dengan mengayuh sepedanya. Bukan berarti tak ada kendaraan umum, tapi kendaraan umum menjadi pilihan utama berpergian daripada menggunakan kendaraan pribadi. Tentu saja menjadi pilihan utama, karena fasilitasnya yang berkualitas. Jadwal keberangkatan yang tepat waktu, kondisi dalam kendaraan yang bersih dan nyaman membuat mereka lebih memilih kendaraan ini daripada harus capek-capek mengendarai sendiri kendaraan mereka. Dengan begitu mereka akan dengan santainya tertidur pulas dalam kendaraan. Ups, tidak. Mereka tidak memilih tidur dalam kendaraan, mereka lebih memilih membaca. Luar biasa, hal yang sangat jarang kutemui di negeri tercintaku ini. Disini, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur atau yang jauh lebih baiknya mengobrol dan kebanyakan melamun, seperti aku ini sekarang. Ah, lagi-lagi negeri sakura itu yang melintas di ruang fikirku. Semakin membuatku ingin berdiri di bawah birunya langit negeri sakura itu. tapi bukan berarti aku seorang pengkhianat atau bahkan penjajah karena mendambakan negeri sakura itu. aku tetap mencintai negeriku, negeri yang sudah susah payah diperjuangkan bung hatta, dan kawan-kawannya. Aku ingin mencuri ilmu dari negeri sakura yang pernah mencuri kekayaan negeriku dulu. (Hehe...) .
Ya Allah, aku tak sadar sedang tersenyum-senyum sendiri. Tak sadar juga bahwa dari balik spion mobil ada sepasang mata yang memperhatikanku. Tak perlu ge-er karena itu sepasang mata milik pak supir yang sedari tadi memperhatikanku dengan tatapan kesal dan curiga. Tatapannya memberiku isyarat tentang pertanyaan yang mungkin dari tadi menganggu konsentrasi mengemudinya.
“sebenarnya mau kemana sich ni anak naik dari kampus, sampe sekarang mau balik lagi ke kampus kok belum turun-turun juga. Dia pikir ini bus pariwisata??bayar Cuma seribu lima ratus juga.” Kira-kira begitu bunyi tatapannya.
Tebakanku itu cukup membuatku malu juga. Ah, kuniatkan dua perempatan lagi aku akan turun. Andai saja bapak itu tau kalau sebenarnya jarak dari kampus ke rumahku bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Maaf ya pak, nanti akan aku lebihkan seribu lagi ongkosnya.
Aduh tak baik juga lama-lama memperhatikan tatapan mencurigakan pak supir, aku kan harus ghadwul bashar. Apalagi kalo istrinya tau, bisa disemprotnya aku. Tenang saja bu, jangan curiga dulu. sudah ada nama yang mengisi hatiku kok. (eits, namanya siapa?? Wah bisa-bisa di sidang kaderisasi nech. Jd kaderisasi nyidang kaderisasi dong. Tenang aja, baru nama Allah yg boleh menetap di hatiku selain nama RasulNya, kedua orangtuaku, dan adikku. Nama lainnya masih menanti. Aduh salah lagi).
Sudahlah daripada imajinasiku semakin tak jelas seperti sinetron-sinetron di televisi, lebih baik aku siapkan lima logam koin untuk ongkos (maklum mahasiswa, uang koin juga masih untung daripada tidak ada uang sama sekali). Ooopss.. tiba-tiba telingaku mendengar suara gemerincing koin yang jatuh ke lantai mobil. Kupikir itu punyaku, langsung saja bola mataku menuruti instruksi dari telingaku untuk segera mencari larinya suara koin tadi. Ternyata ia tepat di samping sepatuku. Ku pungut koin itu, tapi ada yang aneh. Perasaan koinku warnanya perak, kenapa jadi kuning?. Belum selesai menjawab pertanyaanku sendiri, aku dikejutkan suara bening dari samping kananku.
“teh, itu punya aku”. Pinta seorang anak kecil yang pipinya nyaris sama dengan bakpau.
“ooh, punya ade toh?maaf ya, ini koinnya”. Ujarku sembari menyodorkan koinnya. Yang kemudian di sambut senyum polosnya dan diakhiri ucapan terimakasih.
Tak lama kemudian ia berteriak lantang, “kiliiii pakkk….stopp”. begitu mobil berhenti ia langsung turun dengan tak lupa menggendong tas ranselnya yang besarnya hampir sepadan dengan tubuhnya. Aarghh dia lebih baik, tasnya sesuai dengan orangnya. Sedangkan aku, tasku jauh lebih besar. tidak seimbang dengan tubuhku yang kecil.
Sayang sekali, ia bergegas turun padahal baru saja aku mau memulai percakapan dengannya, syukur-syukur bisa sedikit saja mencubit pipinya. Uh, aku memang tak bisa melihat anak kecil yang pipinya chubby, rasanya ingin mencubit saja. Dari beberapa penumpang di mobil itu hanya dia saja yang wajahnya enak di lihat, bukan karena pipi chubby nya tapi karena hampir semua penumpang wajahnya dingin melihatku dengan penampilan seperti ini. Jilbab besar dengan tas ransel yang juga besar, huft mungkin pikir mereka aku ini teroris yang membawa bom. Tapi aku berharap anak kecil tadi turun memang karena tempat tujuannya sudah sampai, bukan kerena ketakutan melihatku kemudia ia bergegas turun. Sejenak terdiam, aku tersadar bocah tadi turun sendiri, aku hampir tak ingat dimana dia naik tadi dan dengan siapa, ini gara-gara aku terlalu asyik dengan bayangan negeri sakura-ku. Tapi seingatku, dia memang naik sendiri dan turun sendiri tanpa ditemani siapa-siapa. heum, bocah sekecil dan selucu itu berani berpergian seorang diri. Tidak takutkah dia diculik orang seperti aku ini, yang gemes melihat anak kecil selucu dia. Tidak. Maksudku, kemana orangtua nya hingga membiarkan anaknya pergi sendirian. Aku ingat, ini kali kedua aku berpapasan dengan seorang anak kecil yang pergi sendirian. Beberapa waktu yang lalu, seorang anak kecil masih dengan seragam merah-putihnya tepat duduk di hadapanku dalam sebuah angkutan umum. Tangannya menggenggam erat buku bersampul merah, yang kuduga adalah raportnya. Karena hari itu, hari pembagian raport. Wajahnya sesekali tak bisa menahan senyum. Pasti isi raport bersampul merah itu yang membuatnya sumringah. Yang pasti isinya tak berwarna merah seperti sampulnya, karena ia tak bisa menyembunyikan wajah ceria nya. Mungkin ia sudah tak sabar menunjukan raportnya ke kedua orangtuanya di rumah. Karena setauku, dia naik angkot seorang diri. Dengan semangat, ia berteriak hendak turun. Begitu kaki nya menginjak aspal jalan, ia segera berlari dengan penuh semangat menyusuri lorong sempit menuju rumahnya. Semua penumpang di dalam mobil dibuatnya terkesima. Seorang ibu berujar “ hebat, anak sekecil itu sudah berani naik angkot sendirian”.
Ah, jadi ingat ibuku. Dulu ketika aku kecil, aku tak pernah bisa lepas dari ibu. ketika masih di bangku TK, ibu tak pernah absent untuk berdiri di sampingku baik di luar maupun di dalam kelas sekalipun. Bahkan ketika jam istirahat semua anak-anak bermain dengan teman-temanya, aku asyik berlindung di balik punggung ibu. Ajakan teman-teman bermain tak sedikitpun membuatku tergoda. Biar saja aku disebutnya anak mama, aku memang bukan anak mama kok, tapi aku anak ibu (hehe sama aja). Sampai SD pun aku tetap seperti itu, tapi kali ini aku mulai terpaksa menerima ditinggal ibu ketika jam belajar dan istirahat. Ibu hanya mengantar sampai gerbang sekolah dan menjemputku sepulang sekolah. Ibu memang tak pernah berhenti menjagaku karena selain fisikku memang lemah, aku adalah wasiat yang ditinggalkan mbah putriku sebelum wafat. Kata ibu, mbah putri minta ibu buat menjagaku. Aku tak tau apa alasan mbah putri, kenapa dari sekian banyak cucu-cucunya hanya namaku yang disebut diakhir nafasnya. Karena itu, aku tak pernah diijinkan ibu untuk pergi seorang diri. terlebih naik kendaraan umum sendiri apalgi aku mudah sekali mengantuk dan tertidur ketika naik mobil. Ibu takut, aku tak sadar diculik orang karena terlelap seorang diri di mobil. Biar begini-begini aku kan anak perempuan ibu yang paling cantik (Karena memang ayah ibu hanya punya 1 anak laki-laki dan satu anak perempuan,hehe). Jika ingat masa kecil dan melihat aku yang sekarang seperti tak percaya. Aku yang pemalu, yang dalam sehari hanya mau mengeluarkan sedikit kalimat, aku yang cenderung menangis ketika berhadapan dengan orang banyak. Sekarang, aku sudah berani bicara di depan orang banyak, ibu. Apalagi aku akan menjadi guru, bagaimana jadinya jika gurunya menangis ketika masuk kelas karena berhadapan dengan banyak orang. Dan dakwah memiliki andil di dalamnya. Selain karena didikan ibu dan ayah yang berusaha mengajariku untuk mandiri setelah kami hidup nomaden (berpindah-pindah). Juga karena dakwah aku berubah, ketika SMA ku mulai tergerak ikut organisasi remaja masjid. Dan masjid kecil sekolahku itulah saksi bisu perubahanku begitu juga masjid kecil di bawah cahaya ilmu di kampusku. Ternyata benar kata orang, cinta bisa merubah segalanya. Dan cintaku pada jalan yang kupilih ini yang telah membuatku berubah menjadi lebih baik. Aku bersyukur bisa mengenal dan berada dalam jalan ini, terimakasih Allahku atas karuniaMu ini..
Ngomomg-ngomong soal jalan, aku sudah sampai di jalan mana ini. Ya Rabb, perempatan yang kutuju sudah terlewat. Aku harus berhenti disini. Aku bergegas berteriak untuk turun. Sepertinya air muka pak supir berubah ceria ketika mendengar suaraku. Terlebih ketika ku lebihkan ongkosnya, kali ini ia malah melempar senyum. Hehe.. terimakasih ya pak atas perjalanannya. Perjalanannya membuatku men-tafakuri kehidupan ini. semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa kuambil selama perjalanan tepat 45 menit ini. Semoga Allah menambahkan rizki bapak ya.
-Assyifa-
Selasa, 18 Januari 2011
Sebiru ukhuwah ini
Sebiru ukhuwah ini ukhti,
Menghiasi manisnya perjalanan di taman perjuangan ini
Di bawah naungan cahaya ilmu ku menemukanmu
Melangkah bersama menyusuri taman perjuangan
Di tengah perjalanan, ku temui indahnya jalan ini
Meski terkadang tak sedikit juga petir bahkan halilintar membayang-bayangi birunya langit yang sejenak menghentikan langkah kita
Melemahkan langkahku bahkan langkahku pun sempat terhenti
Tapi kau terus berjalan tak seorang diri
Menuntunku untuk berjalan seiringan denganmu
Meyakinkanku bahwa langit akan kembali indah dengan pesona birunya setelah petir dan halilintar menggelegar
Kau benar, Allah punya rencana yang indah untuk kita
Dan kali ini rencana indahNya menghampirimu terlebih dulu
Menantikanmu di taman lain yang akan menjadi taman surga untukmu
Aku tau kau takkan menghentikan langkahmu meski jejak langkahmu kini tertinggal di taman perjuangan ini
Langkah itu kan semakin tegap bersama cahaya yang kau nantikan di taman surgamu sendiri
Dan aku, aku akan tetap tegap melanjutkan langkahku disini
Meski kuawali berat melangkah tanpamu
Tapi perjuangan tak memintaku untuk menanti apalagi terhenti
Ada ikatan yang tak pernah putus meski jarak dan waktu terbentang
Dan ikatan itu terbentang panjang sampai kita dipertemukan kembali di menara di atas birunya langit ke tujuh
>>Untuk seorang ukhti yang akan hijrah ke hiruk pikuk ibukota. Syukron atas ukhuwahnya selama ini. Syukron sudah mau mendengar keluh kesahku. Syukron untuk segalanya,teh…..
-Assyifa-
Rahasia di balik biru nya langit

Ada langit di atas birunya langit
Melukiskan bahwa hanya Dia yang Maha Tinggi di atas derajat tertinggi
Maka semestinya tak ada celah untukku mendongakkan kepala, membenarkan diri sendiri yang paling benar diantara yang benar
Ada harapan di atas harapan
Melukiskan bahwa di balik semua harapan yang kupunya ada rencana Allah yang menyimpan harapan-harapan indah yang telah tertulis atas namaku
Maka semestinya kusesuaiakan harapanku dengan rencana yang Allah siapkan untukku, membalut harapanku dalam balutan keikhlasan untuk Allah
Ada cinta di atas cinta
Melukiskan bahwa di balik cinta yang kupunya ada cinta Allah yang mendarah-daging dalam rangkaian kehidupanku
Maka semestinya cintaku untuk Allah menduduki singgahsana cinta tertinggi di kerajaan hatiku di atas cinta yang lain
Dan selalu ada rahasia di balik birunya langit
Biarkan hanya Sang Maha Mengetahui saja yang mengetahuinya
-Assyifa-
Senin, 17 Januari 2011
Karena kebaikan tak mengenal kematian
Aku tau suaraku tak cukup keras untuk sampai terdengar ke belahan bumi lainnya
Dan tubuhku pun terlalu gontai untuk melangkah menyambangi sudut-sudut lain bumi ini
Sementara kerumunan kata-kata telah menyesak dalam ruang pikirku
Menuntutku untuk mengeluarkan mereka dari alam pikirku ke alam bebas
Menuntunku menuangkannya dalam tumpukan kalimat yang menutupi lembaran-lembaran kertas putih
Disertai harapan kelak tumpukan-tumpukan kata itu mampu memberatkan timbangan amal kebaikanku
Dan berharap tumpukan kata-kata itu lah yang akan membuatku tetap hidup meski jiwa tak lagi membersamai raga
Karena bukankah ilmu yang bermanfaat adalah amal yang tak akan putus
Ia akan tetap mengalir jernih, seperti percikan air wudhu yang menghadirkan kebaikan di setiap tetesnya
Mengalir selama alam semesta ini masih bersedia untuk menginspirasiku
Untuk menawarkan kebaikan dalam setiap sajian kata-kataku
Kemudian ia mengalir ke dalam ruang pikir pasang-pasang mata yang membacanya hingga menginspirasi gerak langkah mereka menuju kebaikan
-Assyifa-
Dan tubuhku pun terlalu gontai untuk melangkah menyambangi sudut-sudut lain bumi ini
Sementara kerumunan kata-kata telah menyesak dalam ruang pikirku
Menuntutku untuk mengeluarkan mereka dari alam pikirku ke alam bebas
Menuntunku menuangkannya dalam tumpukan kalimat yang menutupi lembaran-lembaran kertas putih
Disertai harapan kelak tumpukan-tumpukan kata itu mampu memberatkan timbangan amal kebaikanku
Dan berharap tumpukan kata-kata itu lah yang akan membuatku tetap hidup meski jiwa tak lagi membersamai raga
Karena bukankah ilmu yang bermanfaat adalah amal yang tak akan putus
Ia akan tetap mengalir jernih, seperti percikan air wudhu yang menghadirkan kebaikan di setiap tetesnya
Mengalir selama alam semesta ini masih bersedia untuk menginspirasiku
Untuk menawarkan kebaikan dalam setiap sajian kata-kataku
Kemudian ia mengalir ke dalam ruang pikir pasang-pasang mata yang membacanya hingga menginspirasi gerak langkah mereka menuju kebaikan
-Assyifa-
Rabu, 22 Desember 2010
Sabtu, 18 Desember 2010
Langit surga untukmu ibunda
Aku disini termenung menatap lelapmu, sungguh aku takkan berani melakukan ini ketika kau terjaga. Karena aku tak mampu menatap sorot matamu ketika kau menatapku lembut.
Ada kekhawatiran yang tersirat di balik tatapan lembutmu. ”kapan kau akan berhenti dari rutinitasmu ini, anakku?”
Tanpa lisanmu terucap pun, binar matamu cukup mewakilinya..
Aku tak mampu menjawabnya, ibu...
Bukan karena aku tak miliki jawabannya.
Tapi biarkan Langit surga yang akan menceritakannya untukmu suatu saat nanti
Aku berjanji akan baik-baik saja disini, bertahan untuk mengumpulkan puing-puing kebahagiaan abadi untukmu, dan bukan kebahagiaan semu
Ya, aku memang tak seperti mereka yang telah mampu membahagiakan kedua orang tuanya dengan kebahagiaan materi. Bukan pula mereka yang mulai sibuk menyiapkan masa depannya.
Aku masih disini dengan segudang agenda dakwah kampusku.
Ibu, aku ingin kau tau betapa indahnya jalan ini. Jalan yang telah membuat kakiku tak mampu berhenti melangkah sebelum langit surga ku tatap, bersamamu....
Ibu, ketika aku berkejar-kejaran dengan waktu di jalan ini, jangan kira aku tak mengingatmu. Justru, wajahmu lah yang menguatkanku agar aku segera bangkit setiap kali terjatuh.
Terangi jalan ini dengan ridhomu,ibu...
Agar aku mampu menapakinya dengan tegar, setegar hatimu
Ijinkan aku tetap berada di jalan ini, ibu...
Karena aku yakin di ujung perjalanan panjang ini ada kebanggaan dan kebahagiaan yang akan ku persembahkan untukmu...
Aku memang tak mampu menghadiahkanmu perhiasan,dan kemewahan dunia lainnya
Tapi aku berjanji akan menghadiahimu langit surga bersama Allah dan Rasul Nya..
Dan jalan ini, jalan yang kupilih untuk menemui Sang Maha Cinta agar ku dapat me-minta-kan langit surga untukmu..
-Assyifa-
Ada kekhawatiran yang tersirat di balik tatapan lembutmu. ”kapan kau akan berhenti dari rutinitasmu ini, anakku?”
Tanpa lisanmu terucap pun, binar matamu cukup mewakilinya..
Aku tak mampu menjawabnya, ibu...
Bukan karena aku tak miliki jawabannya.
Tapi biarkan Langit surga yang akan menceritakannya untukmu suatu saat nanti
Aku berjanji akan baik-baik saja disini, bertahan untuk mengumpulkan puing-puing kebahagiaan abadi untukmu, dan bukan kebahagiaan semu
Ya, aku memang tak seperti mereka yang telah mampu membahagiakan kedua orang tuanya dengan kebahagiaan materi. Bukan pula mereka yang mulai sibuk menyiapkan masa depannya.
Aku masih disini dengan segudang agenda dakwah kampusku.
Ibu, aku ingin kau tau betapa indahnya jalan ini. Jalan yang telah membuat kakiku tak mampu berhenti melangkah sebelum langit surga ku tatap, bersamamu....
Ibu, ketika aku berkejar-kejaran dengan waktu di jalan ini, jangan kira aku tak mengingatmu. Justru, wajahmu lah yang menguatkanku agar aku segera bangkit setiap kali terjatuh.
Terangi jalan ini dengan ridhomu,ibu...
Agar aku mampu menapakinya dengan tegar, setegar hatimu
Ijinkan aku tetap berada di jalan ini, ibu...
Karena aku yakin di ujung perjalanan panjang ini ada kebanggaan dan kebahagiaan yang akan ku persembahkan untukmu...
Aku memang tak mampu menghadiahkanmu perhiasan,dan kemewahan dunia lainnya
Tapi aku berjanji akan menghadiahimu langit surga bersama Allah dan Rasul Nya..
Dan jalan ini, jalan yang kupilih untuk menemui Sang Maha Cinta agar ku dapat me-minta-kan langit surga untukmu..
-Assyifa-
Sabtu, 27 November 2010
Sakura diantara kelopak-klopak Mawar
Aku, sakura diantara kelopak-kelopak mawar di taman perjuangan ini.
Biarkan warnaku terselip diantara biru, putih, hitam, hijau, kuning dan warna-warni mawar ini. Meski warnaku tak se-elok warna mereka.
Aku ingin belajar menjadi luar biasa dari mereka tanpa harus mengubah diri menjadi mawar. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, sakura.
Aku percaya bahwa kebersamaan itu lebih indah, dan aku yakin episode kebersamaanku bersama mereka adalah bagian terindah dari episode hidupku.
Kebersamaan ini membuatku mengerti akan indahnya perbedaan jika kita mau saling memahami dan saling mengisi.
Untuk Mawar-Mawar yang bersemi di taman perjuangan. Mawar-Mawar yang bersemi bersama pancaran Nurul Ilmi. Jangan biarkan duri sebagai perisaimu patah oleh angin berhembus tak tentu arah. Karena Mawar tanpa duri sebagai perisainya kan mudah rapuh. Jagalah perisai itu ukhti, jaga pula hatimu agar tak mudah rapuh oleh rasa yang semu. Karena engkau adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Jaga keindahanmu hingga waktu yang tepat tiba.
*mumpung lagi musim bunga mawar nech, tulisan ini kupersembahkan untuk all akhwat IMMNI agar ukhuwah qt terjalin erat dengan saling mengingatkan dalam kebaiakan. Syukron atas ukhuwahnya selama ini ukhti...
-Assyifa-
Biarkan warnaku terselip diantara biru, putih, hitam, hijau, kuning dan warna-warni mawar ini. Meski warnaku tak se-elok warna mereka.
Aku ingin belajar menjadi luar biasa dari mereka tanpa harus mengubah diri menjadi mawar. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, sakura.
Aku percaya bahwa kebersamaan itu lebih indah, dan aku yakin episode kebersamaanku bersama mereka adalah bagian terindah dari episode hidupku.
Kebersamaan ini membuatku mengerti akan indahnya perbedaan jika kita mau saling memahami dan saling mengisi.
Untuk Mawar-Mawar yang bersemi di taman perjuangan. Mawar-Mawar yang bersemi bersama pancaran Nurul Ilmi. Jangan biarkan duri sebagai perisaimu patah oleh angin berhembus tak tentu arah. Karena Mawar tanpa duri sebagai perisainya kan mudah rapuh. Jagalah perisai itu ukhti, jaga pula hatimu agar tak mudah rapuh oleh rasa yang semu. Karena engkau adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Jaga keindahanmu hingga waktu yang tepat tiba.
*mumpung lagi musim bunga mawar nech, tulisan ini kupersembahkan untuk all akhwat IMMNI agar ukhuwah qt terjalin erat dengan saling mengingatkan dalam kebaiakan. Syukron atas ukhuwahnya selama ini ukhti...
-Assyifa-
Musim semi di bawah birunya langit negeri sakura
Sakura... Hanya dengan menatapnya meski lewat gambar, telah mampu membuat mataku berbinar-binar. Rasa yang sama ketika ku menatap sekerumunan manusia berbalut putih mengelilingi ka’bah. Seakan ada kerinduan yang menggenang di hatiku untuk melihat keduanya secara langsung dalam radius yang dekat dari bola mataku. Mungkin rasa rindu yang sama dimiliki jutaan umat ini untuk melihat saksi bisu perjalanan Nabi Ibrahim As dan Rasulullah Saw di masjid kebanggaan umat itu. Tapi tak banyak yang memiliki rasa rindu yang kumiliki untuk sakura.
Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Seperti halnya mawar yang cantik dengan duri sebagai perisainya. Seperti halnya teratai yang tumbuh cantik meski ia hidup di lumpur yang kotor. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya.
Sakura... bunga berparas cantik ini terlihat jauh lebih cantik ketika ia berada dalam Jama’ahnya. Bersama dengan kelopak-kelopak sakura yang lainnya. Berkerumun seperti bola salju, berkerumun seperti kerumunan Jama’ah yang berdzikir di sekeliling Ka’bah. Sakura pun berdzikir meng-agungkan asma Allah dengan caranya sendiri. Seperti halnya caranya ia mekar, kelopaknya akan lebih dulu mekar sebelum daunnya. Sebuah kehormatan untuknya, karena tahun ajaran baru sekolah dimulai bertepatan dengan primadona musim semi di Jepang ini bermekaran, seakan ia menjadi inspirasi dan semangat baru yang akan bersemi di hati orang-orang sekelilingnya. Meskipun usianya hanya bertahan kurang lebih dua minggu.
Seperti sakura yang selalu menepati janjinya. Janji untuk kembali mekar dengan indahnya setelah ia berguguran. Janji untuk memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang melihatnya dan menantikannya. Meski untuk tumbuh setelah ia berguguran, ia harus melewati masa-masa yang sulit.
Seperti sakura yang mampu menjadi inspirasi, mampu memberikan semangat untuk orang-orang di sekelilingnya meskipun usianya begitu singkat. Tapi, di usia singkat nya itu, ia mampu memberikan keteduhan, kebahagiaan, menebarkan semangat dan insipirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Meski setelah itu ia harus melewati masa sulitnya di musim gugur, sebuah takdir yang tak bisa ia pungkiri. Tapi ia selalu berjanji untuk kembali hadir memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang menantikan semangat baru darinya. Tanpa orang-orang itu harus tau masa-masa sulitnya untuk kembali tumbuh. Ia hanya ingin orang-orang di sekelilingnya bahagia atas kehadirannya.
Aku mungkin tak seberuntung sakura yang memiliki kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya untuk bisa memberikan yang terbaik dalam hidup. Karena ketika sakura belum bisa memberikan yang terbaik sebelum ia gugur, ia masih memiliki kesempatan di musim semi berikutnya. Sedangkan aku, ketika gugur nanti takkan ada lagi kesempatan berikutnya untukku.
Bagiku, ia tercipta begitu indah dengan filsofi hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Biarkan aku sejenak menembus anganku, bermain dengan imajinasiku dimana aku bisa menjumpainya dalam musim semi di bawah langit biru negeri sakura. Dan mengakhiri perjalanan imjinasiku di sebuah masjid yang juga cantik. Masjid yang cantik bukan karena bangunannya yang megah nan agung, tapi cantik karena ia dibangun dengan rasa cinta kepada Allah dan selalu dipenuhi jutaan umat yang juga mencintai Allah. Diringi dengan rasa cintaku untuk Allah dan atas ijinNya, aku berharap imajinasi itu kan benar-benar kudapati menjadi nyata bagiku. (Assyifa)
Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Seperti halnya mawar yang cantik dengan duri sebagai perisainya. Seperti halnya teratai yang tumbuh cantik meski ia hidup di lumpur yang kotor. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya.
Sakura... bunga berparas cantik ini terlihat jauh lebih cantik ketika ia berada dalam Jama’ahnya. Bersama dengan kelopak-kelopak sakura yang lainnya. Berkerumun seperti bola salju, berkerumun seperti kerumunan Jama’ah yang berdzikir di sekeliling Ka’bah. Sakura pun berdzikir meng-agungkan asma Allah dengan caranya sendiri. Seperti halnya caranya ia mekar, kelopaknya akan lebih dulu mekar sebelum daunnya. Sebuah kehormatan untuknya, karena tahun ajaran baru sekolah dimulai bertepatan dengan primadona musim semi di Jepang ini bermekaran, seakan ia menjadi inspirasi dan semangat baru yang akan bersemi di hati orang-orang sekelilingnya. Meskipun usianya hanya bertahan kurang lebih dua minggu.
Seperti sakura yang selalu menepati janjinya. Janji untuk kembali mekar dengan indahnya setelah ia berguguran. Janji untuk memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang melihatnya dan menantikannya. Meski untuk tumbuh setelah ia berguguran, ia harus melewati masa-masa yang sulit.
Seperti sakura yang mampu menjadi inspirasi, mampu memberikan semangat untuk orang-orang di sekelilingnya meskipun usianya begitu singkat. Tapi, di usia singkat nya itu, ia mampu memberikan keteduhan, kebahagiaan, menebarkan semangat dan insipirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Meski setelah itu ia harus melewati masa sulitnya di musim gugur, sebuah takdir yang tak bisa ia pungkiri. Tapi ia selalu berjanji untuk kembali hadir memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang menantikan semangat baru darinya. Tanpa orang-orang itu harus tau masa-masa sulitnya untuk kembali tumbuh. Ia hanya ingin orang-orang di sekelilingnya bahagia atas kehadirannya.
Aku mungkin tak seberuntung sakura yang memiliki kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya untuk bisa memberikan yang terbaik dalam hidup. Karena ketika sakura belum bisa memberikan yang terbaik sebelum ia gugur, ia masih memiliki kesempatan di musim semi berikutnya. Sedangkan aku, ketika gugur nanti takkan ada lagi kesempatan berikutnya untukku.
Bagiku, ia tercipta begitu indah dengan filsofi hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Biarkan aku sejenak menembus anganku, bermain dengan imajinasiku dimana aku bisa menjumpainya dalam musim semi di bawah langit biru negeri sakura. Dan mengakhiri perjalanan imjinasiku di sebuah masjid yang juga cantik. Masjid yang cantik bukan karena bangunannya yang megah nan agung, tapi cantik karena ia dibangun dengan rasa cinta kepada Allah dan selalu dipenuhi jutaan umat yang juga mencintai Allah. Diringi dengan rasa cintaku untuk Allah dan atas ijinNya, aku berharap imajinasi itu kan benar-benar kudapati menjadi nyata bagiku. (Assyifa)
Kamis, 11 November 2010
Alam kemerdekaan tanpa batas
Episode kisah perjuangan mereka yang bergelar pahlwan Indonesia itu hanya terekam lewat lembaran-lembaran sejarah tanpa memiliki arti lebih selain untuk sekedar dihafalkan. Seakan perjuangan telah berakhir dengan berakhirnya halaman terakhir buku sejarah bangsa ini selesai di baca. Semangat membangun negeri yang mereka miliki seakan dianggap telah selesai seiring dengan deklarasi kemerdekaan Negara ini dikumandangkan sehingga tak perlu lagi semangat perjuangan itu dikobarkan di Negara yang telah “merdeka” saat ini.
Semakin terlena oleh kemerdekaan semu ini membuat generasi muda kita memandang kemerdekaan negara kita ini sebagai kemerdekaan tanpa batas. Merdeka melakukan apapun yang mereka mau meski akibatnya adalah rusaknya moral mereka bahkan moral negeri ini. Nikmatnya hidup di negeri yang telah “merdeka” ini jika bisa mendapatkan apa yang diinginkan; mobil mewah, HP canggih, fashion berkelas, kehidupan glamour, pergaulan tanpa batas. Maka untuk apa semangat berjuang membangun negeri?hanya membuang-buang waktu. Sekiranya itulah yang ada dalam mindset mereka saat ini di alam kemerdekaan tanpa batas.
Entahlah, jika mereka begitu menikmati penjajahan pemikiran sebagai sebuah kemerdekaan, haruskah negeri ini merasakan kembali nikmatnya penjajahan fisik untuk bisa memancing semangat berjuang pemudanya??
(Assyifa)
Semakin terlena oleh kemerdekaan semu ini membuat generasi muda kita memandang kemerdekaan negara kita ini sebagai kemerdekaan tanpa batas. Merdeka melakukan apapun yang mereka mau meski akibatnya adalah rusaknya moral mereka bahkan moral negeri ini. Nikmatnya hidup di negeri yang telah “merdeka” ini jika bisa mendapatkan apa yang diinginkan; mobil mewah, HP canggih, fashion berkelas, kehidupan glamour, pergaulan tanpa batas. Maka untuk apa semangat berjuang membangun negeri?hanya membuang-buang waktu. Sekiranya itulah yang ada dalam mindset mereka saat ini di alam kemerdekaan tanpa batas.
Entahlah, jika mereka begitu menikmati penjajahan pemikiran sebagai sebuah kemerdekaan, haruskah negeri ini merasakan kembali nikmatnya penjajahan fisik untuk bisa memancing semangat berjuang pemudanya??
(Assyifa)
Selasa, 19 Oktober 2010
Surau redup di usia senjanya
penyakit itu datang lagi, setiap kali aku merindukan kebersamaan itu
aku lagi-lagi tak bisa meredamnya
dan lagi-lagi hanya bisa menuangkannya lewat kata
tapi ternyata barisan kata-kata itu telah membunuh rasa lain
membunuh rasa dalam tautan hati bernama ukhuwah
entahlah, masih adakah rasa cinta itu untukku??
aku lagi-lagi harus merasakan akibatnya sendiri
kembali sendiri, disini di surau kecil yang hanya diterangi temaram lampu yang redup
entahlah, andaikan aku bisa berlari dari suaru redup ini
karena surau ini telah kehilangan jiwa nya
tapi lagi-lagi pikiranku lebih memilih titah tuhannya ketimbang titahku
surau redup ini di usia senjanya..
fisiknya memang rapuh, bahkan hampir rubuh dan runtuh
tapi dulu di masa kejayaan nya ia begitu istimewa meski rapuh
karena masih ada jiwa-jiwa yang menguatkannya
tapi kini...
ia semakin redup karena satu demi satu jiwanya telah hilang
sebelum ia benar-benar dihilangkan
dan aku, aku hanya bisa menangis sendri disini di surau yang hanya tinggal menunggu waktunya
aku lagi-lagi tak bisa meredamnya
dan lagi-lagi hanya bisa menuangkannya lewat kata
tapi ternyata barisan kata-kata itu telah membunuh rasa lain
membunuh rasa dalam tautan hati bernama ukhuwah
entahlah, masih adakah rasa cinta itu untukku??
aku lagi-lagi harus merasakan akibatnya sendiri
kembali sendiri, disini di surau kecil yang hanya diterangi temaram lampu yang redup
entahlah, andaikan aku bisa berlari dari suaru redup ini
karena surau ini telah kehilangan jiwa nya
tapi lagi-lagi pikiranku lebih memilih titah tuhannya ketimbang titahku
surau redup ini di usia senjanya..
fisiknya memang rapuh, bahkan hampir rubuh dan runtuh
tapi dulu di masa kejayaan nya ia begitu istimewa meski rapuh
karena masih ada jiwa-jiwa yang menguatkannya
tapi kini...
ia semakin redup karena satu demi satu jiwanya telah hilang
sebelum ia benar-benar dihilangkan
dan aku, aku hanya bisa menangis sendri disini di surau yang hanya tinggal menunggu waktunya
aku lelah dan jenuh titik
Jika ditanya Lelah?? Ya aku Lelah!! Harus membagi-bagi pikiranku.
Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk focus pada satu hal, kuliah dan Memikirkan masa depanku titik.
Jika ditanya Jenuh?? Ya aku jenuh!!bergelut dengan aktifitas yang itu-itu saja.
Sekali lagi jika aku boleh memilih aku akan memilih untuk berkelana sesuka hatiku, menikmati masa mudaku titik.
Kupikir jika pertanyaan itu datang padamu, jawabanmu pun tak akan jauh berbeda denganku.
Benarkan??
Hayo ngaku…. .
Lalu bagaimana jika pertanyaan itu hadir di hadapan Rasulullah dan para sahabat dulu, kira-kira apakah jawaban beliau semua? Apakah jawaban beliau semua sama denganku?
Andaikan ketika dulu beliau semua ditanyakan hal yang sama dan menjawab hal yang sama denganku, apa jadinya kita hari ini??
Mungkin kau dan aku saat ini sedang menyembah berhala yang terbuat dari tepung roti.
Mungkin tak akan ada istilah emansipasi wanita. Karena jangankan emansipasi wanita, mungkin ibu kartinipun belum tentu bertahan hidup hingga dewasa untuk memikirkan emansipasi.
Dan begitu pula aku, mungkin usiaku tak sampai 3 bulan purnama pun sudah di kubur hidup- hidup karena bayi perempuan adalah sebuah aib.
Mungkin, mungkin dan masih banyak mungkin-mungkin yang lain..
Mari kita biarkan pikiran kita bekerja masing-masing untuk membayangkan berbagai kemungkinan itu.............................................................................................................
Dan… sekarang bangunlah….sudah cukup!!!
Bangun dari mimpi buruk itu!!
Bukalah matamu... tenanglah..
Karena kita tidak sedang ada di dunia sekelam dan sehitam yang kau bayangkan itu.
Lihatlah!! Tepung-tepung roti itu bisa kita makan sekarang, tak perlu lagi kita sembah.
Dan aku bisa merasakan betapa aku dihormati sebagai kaum wanita. semua itu karena tak ada kata LELAH dan JENUH dalam kamus perjuangan Rasulullah dan para sahabat.
Tapi taukah kau?
Rasulullah dan para sahabatpun pernah merasakan dilema.
Dilema ketika harus meninggalkan harta, keluarga, pekerjaan dan semua yang dicintainya di Mekah untuk hijrah ke Madinah.
Tetapi beliau semua membulatkan tekad untuk dakwah ini
Sebulat tekadnya seorang Abu Bakar Asshidiq ketika ditanya
”jika kau infak kan seluruh hartamu di jalan Allah, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?
Dengan mantap beliau menjawab ”cukup Allah dan RasulNya saja”.
Se- mantap pilihan Mush'ab bin 'Umair untuk meninggalkan kemewahan, ketampanan, dan semua kenikmatan duniawi yang tak semua orang beruntung memilikinya.
Jika saja Rasulullah dan para sahabat dulu mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib kita saat ini, tak dapat merasakan betapa indahnya islam
Jika saja aku dan kau mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib anak cucu kita nanti, tak mengenal apa itu indahnya islam??
Mengapa tidak mungkin??
Taukah kau, mengapa kita sudah sulit bahkan tak bisa lagi melihat lambang negara kia, sang garuda??
Karena ia tak ada yang melestarikan,
Dan begitupun dengan dakwah ini...
Lalu, apa maksudnya ku sampaikan hal ini padamu??
Kau akan menemukan jawabannya di dasar hatimu..
Dan kuharap mutiara perjuangan ini yang kan kau temukan di dasar hatimu
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH Rahmat Abdullah).”
Dan akhirnya.......
kejenuhan dan kelelahanpun berkata”aku lelah dan jenuh titik. ” (loch??)
*afwan, tidak ada maksud menyindir, menghardik, menghakimi, mengajari,dsb
Ini hanya sebuah renungan pribadi yang ingin ana bagi dengan ikhwah semua.
Bagi yang sedang merasakannya, semoga bisa bermanfaat
Bagi yang sedang tidak merasakannya, semoga bisa menjadi penguat diri sebelum terjadi.
Bagi yang tersinggung dan tidak menyukai notes ini, mohon dimaafkan lahir dan batin...
Bagi yang ingin memberi kritik, saran, protes, bahkan demo...
Silahkan, InsyaAllah kebagian pahala
Pahala untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran
Assyifa ^_^
Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk focus pada satu hal, kuliah dan Memikirkan masa depanku titik.
Jika ditanya Jenuh?? Ya aku jenuh!!bergelut dengan aktifitas yang itu-itu saja.
Sekali lagi jika aku boleh memilih aku akan memilih untuk berkelana sesuka hatiku, menikmati masa mudaku titik.
Kupikir jika pertanyaan itu datang padamu, jawabanmu pun tak akan jauh berbeda denganku.
Benarkan??
Hayo ngaku…. .
Lalu bagaimana jika pertanyaan itu hadir di hadapan Rasulullah dan para sahabat dulu, kira-kira apakah jawaban beliau semua? Apakah jawaban beliau semua sama denganku?
Andaikan ketika dulu beliau semua ditanyakan hal yang sama dan menjawab hal yang sama denganku, apa jadinya kita hari ini??
Mungkin kau dan aku saat ini sedang menyembah berhala yang terbuat dari tepung roti.
Mungkin tak akan ada istilah emansipasi wanita. Karena jangankan emansipasi wanita, mungkin ibu kartinipun belum tentu bertahan hidup hingga dewasa untuk memikirkan emansipasi.
Dan begitu pula aku, mungkin usiaku tak sampai 3 bulan purnama pun sudah di kubur hidup- hidup karena bayi perempuan adalah sebuah aib.
Mungkin, mungkin dan masih banyak mungkin-mungkin yang lain..
Mari kita biarkan pikiran kita bekerja masing-masing untuk membayangkan berbagai kemungkinan itu.............................................................................................................
Dan… sekarang bangunlah….sudah cukup!!!
Bangun dari mimpi buruk itu!!
Bukalah matamu... tenanglah..
Karena kita tidak sedang ada di dunia sekelam dan sehitam yang kau bayangkan itu.
Lihatlah!! Tepung-tepung roti itu bisa kita makan sekarang, tak perlu lagi kita sembah.
Dan aku bisa merasakan betapa aku dihormati sebagai kaum wanita. semua itu karena tak ada kata LELAH dan JENUH dalam kamus perjuangan Rasulullah dan para sahabat.
Tapi taukah kau?
Rasulullah dan para sahabatpun pernah merasakan dilema.
Dilema ketika harus meninggalkan harta, keluarga, pekerjaan dan semua yang dicintainya di Mekah untuk hijrah ke Madinah.
Tetapi beliau semua membulatkan tekad untuk dakwah ini
Sebulat tekadnya seorang Abu Bakar Asshidiq ketika ditanya
”jika kau infak kan seluruh hartamu di jalan Allah, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?
Dengan mantap beliau menjawab ”cukup Allah dan RasulNya saja”.
Se- mantap pilihan Mush'ab bin 'Umair untuk meninggalkan kemewahan, ketampanan, dan semua kenikmatan duniawi yang tak semua orang beruntung memilikinya.
Jika saja Rasulullah dan para sahabat dulu mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib kita saat ini, tak dapat merasakan betapa indahnya islam
Jika saja aku dan kau mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib anak cucu kita nanti, tak mengenal apa itu indahnya islam??
Mengapa tidak mungkin??
Taukah kau, mengapa kita sudah sulit bahkan tak bisa lagi melihat lambang negara kia, sang garuda??
Karena ia tak ada yang melestarikan,
Dan begitupun dengan dakwah ini...
Lalu, apa maksudnya ku sampaikan hal ini padamu??
Kau akan menemukan jawabannya di dasar hatimu..
Dan kuharap mutiara perjuangan ini yang kan kau temukan di dasar hatimu
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH Rahmat Abdullah).”
Dan akhirnya.......
kejenuhan dan kelelahanpun berkata”aku lelah dan jenuh titik. ” (loch??)
*afwan, tidak ada maksud menyindir, menghardik, menghakimi, mengajari,dsb
Ini hanya sebuah renungan pribadi yang ingin ana bagi dengan ikhwah semua.
Bagi yang sedang merasakannya, semoga bisa bermanfaat
Bagi yang sedang tidak merasakannya, semoga bisa menjadi penguat diri sebelum terjadi.
Bagi yang tersinggung dan tidak menyukai notes ini, mohon dimaafkan lahir dan batin...
Bagi yang ingin memberi kritik, saran, protes, bahkan demo...
Silahkan, InsyaAllah kebagian pahala
Pahala untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran
Assyifa ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)

