Jumat, 30 April 2010

haruskah ibu kartini tersnyum?

“Andai saja Ibu Kartini masih ada, mungkin ia akan tersenyum bahagia melihat wanita Indonesia saat ini bisa bersekolah tinggi, berkarier layaknya pria, dan tak lagi dipandang sebelah mata oleh kaum laki-laki.”
Setidaknya banyak orang beranggapan seperti itu di sepanjang April ini. Mungkin benar adanya, karena perjuangannyalah perempuan Indonesia saat ini bisa mengenyam pendidikan sama tingginya dengan kaum laki-laki. Karena perjuangannya, perempuan Indonesia saat ini bisa berkarier sama tingginya dengan kaum laki-laki. Dan patutlah kaum hawa bersyukur atas kesempatan ini. Kesempatan yang tidak hanya harus disyukuri tapi juga dijaga agar semua perjuangannya tidak ternodai oleh hal-hal yang jauh dari norma dan adab.
Tapi haruskah ibu kartini tersenyum?jika ia melihat fenomena yang terjadi saat ini?dimana perempuan Indonesia saat ini telah kehilangan jati dirinya sebagai perempuan Indonesia yang identik dengan kelembutan, keramahan dan penuh sopan santun.
Haruskah ibu kartini tersenyum?jika ia tahu bahwa perempuan Indonesia yang nasibnya ia perjuangkan, kini telah berkiblat pada dunia barat dalam berpakaian, bertingkahlaku, dan bergaul?
Lihatlah bagaimana cara berpakaian mereka saat ini, yang gemar berpakaian serba mini. Entahlah mungin cuaca di Indonesia sudah semakin panas atau mungkin masyarakat kita sudah terlalu miskin untuk hanya membeli selembar kain yang bisa menutupi aurat wanita.
Belum lagi jika ia melihat fenomena kekerasan antar siswi yang menjadi trend baru dalam pergaulan remaja putri saat ini. Jika ditelusuri pemicunya adalah soal popularitas, dan yang mengiris hati hanya karena merebutkan sang pujaan hati mereka rela mempermalukan dirinya sendiri.
Memilukan mungkin kebebasan yang dulu diperjuangkan ibu Kartini kini disalahgunakan. Kebebasan yang dulu ia perjuangkan bukanlah kebebasan bertindak semaunya, bukan kebebasan berpakaian semininya, bukan kebebasan bergaul sebebasnya tanpa batas.
Ibu kartini pun tidak pernah mengajarkan kita kalau kita boleh mengatasnamakan emansipasi wanita di setiap pengkhianatan atas perjuangannya. Karena saat ini nyatanya banyak orang yang mendewa-dewakan emansipasi wanita tapi sebenarnya telah melanggar apa yang diharapkan ibu Kartini dalam perjuangannya. (Assyifa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar