Selasa, 18 Januari 2011

Bidadari Negeri Sakura

Sebiru ukhuwah ini


Sebiru ukhuwah ini ukhti,
Menghiasi manisnya perjalanan di taman perjuangan ini
Di bawah naungan cahaya ilmu ku menemukanmu
Melangkah bersama menyusuri taman perjuangan
Di tengah perjalanan, ku temui indahnya jalan ini
Meski terkadang tak sedikit juga petir bahkan halilintar membayang-bayangi birunya langit yang sejenak menghentikan langkah kita
Melemahkan langkahku bahkan langkahku pun sempat terhenti
Tapi kau terus berjalan tak seorang diri
Menuntunku untuk berjalan seiringan denganmu
Meyakinkanku bahwa langit akan kembali indah dengan pesona birunya setelah petir dan halilintar menggelegar
Kau benar, Allah punya rencana yang indah untuk kita
Dan kali ini rencana indahNya menghampirimu terlebih dulu
Menantikanmu di taman lain yang akan menjadi taman surga untukmu
Aku tau kau takkan menghentikan langkahmu meski jejak langkahmu kini tertinggal di taman perjuangan ini
Langkah itu kan semakin tegap bersama cahaya yang kau nantikan di taman surgamu sendiri
Dan aku, aku akan tetap tegap melanjutkan langkahku disini
Meski kuawali berat melangkah tanpamu
Tapi perjuangan tak memintaku untuk menanti apalagi terhenti
Ada ikatan yang tak pernah putus meski jarak dan waktu terbentang
Dan ikatan itu terbentang panjang sampai kita dipertemukan kembali di menara di atas birunya langit ke tujuh

>>Untuk seorang ukhti yang akan hijrah ke hiruk pikuk ibukota. Syukron atas ukhuwahnya selama ini. Syukron sudah mau mendengar keluh kesahku. Syukron untuk segalanya,teh…..
-Assyifa-

Rahasia di balik biru nya langit


Ada langit di atas birunya langit
Melukiskan bahwa hanya Dia yang Maha Tinggi di atas derajat tertinggi
Maka semestinya tak ada celah untukku mendongakkan kepala, membenarkan diri sendiri yang paling benar diantara yang benar

Ada harapan di atas harapan
Melukiskan bahwa di balik semua harapan yang kupunya ada rencana Allah yang menyimpan harapan-harapan indah yang telah tertulis atas namaku
Maka semestinya kusesuaiakan harapanku dengan rencana yang Allah siapkan untukku, membalut harapanku dalam balutan keikhlasan untuk Allah

Ada cinta di atas cinta
Melukiskan bahwa di balik cinta yang kupunya ada cinta Allah yang mendarah-daging dalam rangkaian kehidupanku
Maka semestinya cintaku untuk Allah menduduki singgahsana cinta tertinggi di kerajaan hatiku di atas cinta yang lain

Dan selalu ada rahasia di balik birunya langit
Biarkan hanya Sang Maha Mengetahui saja yang mengetahuinya


-Assyifa-

Senin, 17 Januari 2011

Karena kebaikan tak mengenal kematian

Aku tau suaraku tak cukup keras untuk sampai terdengar ke belahan bumi lainnya
Dan tubuhku pun terlalu gontai untuk melangkah menyambangi sudut-sudut lain bumi ini
Sementara kerumunan kata-kata telah menyesak dalam ruang pikirku
Menuntutku untuk mengeluarkan mereka dari alam pikirku ke alam bebas
Menuntunku menuangkannya dalam tumpukan kalimat yang menutupi lembaran-lembaran kertas putih
Disertai harapan kelak tumpukan-tumpukan kata itu mampu memberatkan timbangan amal kebaikanku
Dan berharap tumpukan kata-kata itu lah yang akan membuatku tetap hidup meski jiwa tak lagi membersamai raga
Karena bukankah ilmu yang bermanfaat adalah amal yang tak akan putus
Ia akan tetap mengalir jernih, seperti percikan air wudhu yang menghadirkan kebaikan di setiap tetesnya
Mengalir selama alam semesta ini masih bersedia untuk menginspirasiku
Untuk menawarkan kebaikan dalam setiap sajian kata-kataku
Kemudian ia mengalir ke dalam ruang pikir pasang-pasang mata yang membacanya hingga menginspirasi gerak langkah mereka menuju kebaikan
-Assyifa-

Sabtu, 18 Desember 2010

Langit surga untukmu ibunda

Aku disini termenung menatap lelapmu, sungguh aku takkan berani melakukan ini ketika kau terjaga. Karena aku tak mampu menatap sorot matamu ketika kau menatapku lembut.
Ada kekhawatiran yang tersirat di balik tatapan lembutmu. ”kapan kau akan berhenti dari rutinitasmu ini, anakku?”
Tanpa lisanmu terucap pun, binar matamu cukup mewakilinya..
Aku tak mampu menjawabnya, ibu...
Bukan karena aku tak miliki jawabannya.
Tapi biarkan Langit surga yang akan menceritakannya untukmu suatu saat nanti
Aku berjanji akan baik-baik saja disini, bertahan untuk mengumpulkan puing-puing kebahagiaan abadi untukmu, dan bukan kebahagiaan semu
Ya, aku memang tak seperti mereka yang telah mampu membahagiakan kedua orang tuanya dengan kebahagiaan materi. Bukan pula mereka yang mulai sibuk menyiapkan masa depannya.
Aku masih disini dengan segudang agenda dakwah kampusku.
Ibu, aku ingin kau tau betapa indahnya jalan ini. Jalan yang telah membuat kakiku tak mampu berhenti melangkah sebelum langit surga ku tatap, bersamamu....
Ibu, ketika aku berkejar-kejaran dengan waktu di jalan ini, jangan kira aku tak mengingatmu. Justru, wajahmu lah yang menguatkanku agar aku segera bangkit setiap kali terjatuh.
Terangi jalan ini dengan ridhomu,ibu...
Agar aku mampu menapakinya dengan tegar, setegar hatimu
Ijinkan aku tetap berada di jalan ini, ibu...
Karena aku yakin di ujung perjalanan panjang ini ada kebanggaan dan kebahagiaan yang akan ku persembahkan untukmu...
Aku memang tak mampu menghadiahkanmu perhiasan,dan kemewahan dunia lainnya
Tapi aku berjanji akan menghadiahimu langit surga bersama Allah dan Rasul Nya..
Dan jalan ini, jalan yang kupilih untuk menemui Sang Maha Cinta agar ku dapat me-minta-kan langit surga untukmu..
-Assyifa-

Sabtu, 27 November 2010

Sakura diantara kelopak-klopak Mawar

Aku, sakura diantara kelopak-kelopak mawar di taman perjuangan ini.
Biarkan warnaku terselip diantara biru, putih, hitam, hijau, kuning dan warna-warni mawar ini. Meski warnaku tak se-elok warna mereka.
Aku ingin belajar menjadi luar biasa dari mereka tanpa harus mengubah diri menjadi mawar. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, sakura.
Aku percaya bahwa kebersamaan itu lebih indah, dan aku yakin episode kebersamaanku bersama mereka adalah bagian terindah dari episode hidupku.
Kebersamaan ini membuatku mengerti akan indahnya perbedaan jika kita mau saling memahami dan saling mengisi.
Untuk Mawar-Mawar yang bersemi di taman perjuangan. Mawar-Mawar yang bersemi bersama pancaran Nurul Ilmi. Jangan biarkan duri sebagai perisaimu patah oleh angin berhembus tak tentu arah. Karena Mawar tanpa duri sebagai perisainya kan mudah rapuh. Jagalah perisai itu ukhti, jaga pula hatimu agar tak mudah rapuh oleh rasa yang semu. Karena engkau adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Jaga keindahanmu hingga waktu yang tepat tiba.

*mumpung lagi musim bunga mawar nech, tulisan ini kupersembahkan untuk all akhwat IMMNI agar ukhuwah qt terjalin erat dengan saling mengingatkan dalam kebaiakan. Syukron atas ukhuwahnya selama ini ukhti...
-Assyifa-

Musim semi di bawah birunya langit negeri sakura

Sakura... Hanya dengan menatapnya meski lewat gambar, telah mampu membuat mataku berbinar-binar. Rasa yang sama ketika ku menatap sekerumunan manusia berbalut putih mengelilingi ka’bah. Seakan ada kerinduan yang menggenang di hatiku untuk melihat keduanya secara langsung dalam radius yang dekat dari bola mataku. Mungkin rasa rindu yang sama dimiliki jutaan umat ini untuk melihat saksi bisu perjalanan Nabi Ibrahim As dan Rasulullah Saw di masjid kebanggaan umat itu. Tapi tak banyak yang memiliki rasa rindu yang kumiliki untuk sakura.
Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Seperti halnya mawar yang cantik dengan duri sebagai perisainya. Seperti halnya teratai yang tumbuh cantik meski ia hidup di lumpur yang kotor. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya.
Sakura... bunga berparas cantik ini terlihat jauh lebih cantik ketika ia berada dalam Jama’ahnya. Bersama dengan kelopak-kelopak sakura yang lainnya. Berkerumun seperti bola salju, berkerumun seperti kerumunan Jama’ah yang berdzikir di sekeliling Ka’bah. Sakura pun berdzikir meng-agungkan asma Allah dengan caranya sendiri. Seperti halnya caranya ia mekar, kelopaknya akan lebih dulu mekar sebelum daunnya. Sebuah kehormatan untuknya, karena tahun ajaran baru sekolah dimulai bertepatan dengan primadona musim semi di Jepang ini bermekaran, seakan ia menjadi inspirasi dan semangat baru yang akan bersemi di hati orang-orang sekelilingnya. Meskipun usianya hanya bertahan kurang lebih dua minggu.
Seperti sakura yang selalu menepati janjinya. Janji untuk kembali mekar dengan indahnya setelah ia berguguran. Janji untuk memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang melihatnya dan menantikannya. Meski untuk tumbuh setelah ia berguguran, ia harus melewati masa-masa yang sulit.
Seperti sakura yang mampu menjadi inspirasi, mampu memberikan semangat untuk orang-orang di sekelilingnya meskipun usianya begitu singkat. Tapi, di usia singkat nya itu, ia mampu memberikan keteduhan, kebahagiaan, menebarkan semangat dan insipirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Meski setelah itu ia harus melewati masa sulitnya di musim gugur, sebuah takdir yang tak bisa ia pungkiri. Tapi ia selalu berjanji untuk kembali hadir memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang menantikan semangat baru darinya. Tanpa orang-orang itu harus tau masa-masa sulitnya untuk kembali tumbuh. Ia hanya ingin orang-orang di sekelilingnya bahagia atas kehadirannya.
Aku mungkin tak seberuntung sakura yang memiliki kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya untuk bisa memberikan yang terbaik dalam hidup. Karena ketika sakura belum bisa memberikan yang terbaik sebelum ia gugur, ia masih memiliki kesempatan di musim semi berikutnya. Sedangkan aku, ketika gugur nanti takkan ada lagi kesempatan berikutnya untukku.
Bagiku, ia tercipta begitu indah dengan filsofi hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Biarkan aku sejenak menembus anganku, bermain dengan imajinasiku dimana aku bisa menjumpainya dalam musim semi di bawah langit biru negeri sakura. Dan mengakhiri perjalanan imjinasiku di sebuah masjid yang juga cantik. Masjid yang cantik bukan karena bangunannya yang megah nan agung, tapi cantik karena ia dibangun dengan rasa cinta kepada Allah dan selalu dipenuhi jutaan umat yang juga mencintai Allah. Diringi dengan rasa cintaku untuk Allah dan atas ijinNya, aku berharap imajinasi itu kan benar-benar kudapati menjadi nyata bagiku. (Assyifa)

Kamis, 11 November 2010

Alam kemerdekaan tanpa batas

Episode kisah perjuangan mereka yang bergelar pahlwan Indonesia itu hanya terekam lewat lembaran-lembaran sejarah tanpa memiliki arti lebih selain untuk sekedar dihafalkan. Seakan perjuangan telah berakhir dengan berakhirnya halaman terakhir buku sejarah bangsa ini selesai di baca. Semangat membangun negeri yang mereka miliki seakan dianggap telah selesai seiring dengan deklarasi kemerdekaan Negara ini dikumandangkan sehingga tak perlu lagi semangat perjuangan itu dikobarkan di Negara yang telah “merdeka” saat ini.
Semakin terlena oleh kemerdekaan semu ini membuat generasi muda kita memandang kemerdekaan negara kita ini sebagai kemerdekaan tanpa batas. Merdeka melakukan apapun yang mereka mau meski akibatnya adalah rusaknya moral mereka bahkan moral negeri ini. Nikmatnya hidup di negeri yang telah “merdeka” ini jika bisa mendapatkan apa yang diinginkan; mobil mewah, HP canggih, fashion berkelas, kehidupan glamour, pergaulan tanpa batas. Maka untuk apa semangat berjuang membangun negeri?hanya membuang-buang waktu. Sekiranya itulah yang ada dalam mindset mereka saat ini di alam kemerdekaan tanpa batas.
Entahlah, jika mereka begitu menikmati penjajahan pemikiran sebagai sebuah kemerdekaan, haruskah negeri ini merasakan kembali nikmatnya penjajahan fisik untuk bisa memancing semangat berjuang pemudanya??
(Assyifa)

Selasa, 19 Oktober 2010

sebiru hari ini-edcoustic

aku ingin mencintaimu by edcoustic

Maher Zain - Insha Allah | ماهر زين - إن شاء الله

Surau redup di usia senjanya

penyakit itu datang lagi, setiap kali aku merindukan kebersamaan itu
aku lagi-lagi tak bisa meredamnya
dan lagi-lagi hanya bisa menuangkannya lewat kata
tapi ternyata barisan kata-kata itu telah membunuh rasa lain
membunuh rasa dalam tautan hati bernama ukhuwah
entahlah, masih adakah rasa cinta itu untukku??
aku lagi-lagi harus merasakan akibatnya sendiri
kembali sendiri, disini di surau kecil yang hanya diterangi temaram lampu yang redup
entahlah, andaikan aku bisa berlari dari suaru redup ini
karena surau ini telah kehilangan jiwa nya
tapi lagi-lagi pikiranku lebih memilih titah tuhannya ketimbang titahku
surau redup ini di usia senjanya..
fisiknya memang rapuh, bahkan hampir rubuh dan runtuh
tapi dulu di masa kejayaan nya ia begitu istimewa meski rapuh
karena masih ada jiwa-jiwa yang menguatkannya
tapi kini...
ia semakin redup karena satu demi satu jiwanya telah hilang
sebelum ia benar-benar dihilangkan
dan aku, aku hanya bisa menangis sendri disini di surau yang hanya tinggal menunggu waktunya

aku lelah dan jenuh titik

Jika ditanya Lelah?? Ya aku Lelah!! Harus membagi-bagi pikiranku.

Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk focus pada satu hal, kuliah dan Memikirkan masa depanku titik.

Jika ditanya Jenuh?? Ya aku jenuh!!bergelut dengan aktifitas yang itu-itu saja.

Sekali lagi jika aku boleh memilih aku akan memilih untuk berkelana sesuka hatiku, menikmati masa mudaku titik.

Kupikir jika pertanyaan itu datang padamu, jawabanmu pun tak akan jauh berbeda denganku.

Benarkan??

Hayo ngaku…. .

Lalu bagaimana jika pertanyaan itu hadir di hadapan Rasulullah dan para sahabat dulu, kira-kira apakah jawaban beliau semua? Apakah jawaban beliau semua sama denganku?

Andaikan ketika dulu beliau semua ditanyakan hal yang sama dan menjawab hal yang sama denganku, apa jadinya kita hari ini??

Mungkin kau dan aku saat ini sedang menyembah berhala yang terbuat dari tepung roti.

Mungkin tak akan ada istilah emansipasi wanita. Karena jangankan emansipasi wanita, mungkin ibu kartinipun belum tentu bertahan hidup hingga dewasa untuk memikirkan emansipasi.

Dan begitu pula aku, mungkin usiaku tak sampai 3 bulan purnama pun sudah di kubur hidup- hidup karena bayi perempuan adalah sebuah aib.

Mungkin, mungkin dan masih banyak mungkin-mungkin yang lain..

Mari kita biarkan pikiran kita bekerja masing-masing untuk membayangkan berbagai kemungkinan itu.............................................................................................................

Dan… sekarang bangunlah….sudah cukup!!!

Bangun dari mimpi buruk itu!!

Bukalah matamu... tenanglah..

Karena kita tidak sedang ada di dunia sekelam dan sehitam yang kau bayangkan itu.

Lihatlah!! Tepung-tepung roti itu bisa kita makan sekarang, tak perlu lagi kita sembah.

Dan aku bisa merasakan betapa aku dihormati sebagai kaum wanita. semua itu karena tak ada kata LELAH dan JENUH dalam kamus perjuangan Rasulullah dan para sahabat.

Tapi taukah kau?

Rasulullah dan para sahabatpun pernah merasakan dilema.

Dilema ketika harus meninggalkan harta, keluarga, pekerjaan dan semua yang dicintainya di Mekah untuk hijrah ke Madinah.

Tetapi beliau semua membulatkan tekad untuk dakwah ini

Sebulat tekadnya seorang Abu Bakar Asshidiq ketika ditanya

”jika kau infak kan seluruh hartamu di jalan Allah, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?

Dengan mantap beliau menjawab ”cukup Allah dan RasulNya saja”.

Se- mantap pilihan Mush'ab bin 'Umair untuk meninggalkan kemewahan, ketampanan, dan semua kenikmatan duniawi yang tak semua orang beruntung memilikinya.

Jika saja Rasulullah dan para sahabat dulu mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib kita saat ini, tak dapat merasakan betapa indahnya islam

Jika saja aku dan kau mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib anak cucu kita nanti, tak mengenal apa itu indahnya islam??

Mengapa tidak mungkin??

Taukah kau, mengapa kita sudah sulit bahkan tak bisa lagi melihat lambang negara kia, sang garuda??

Karena ia tak ada yang melestarikan,

Dan begitupun dengan dakwah ini...

Lalu, apa maksudnya ku sampaikan hal ini padamu??

Kau akan menemukan jawabannya di dasar hatimu..

Dan kuharap mutiara perjuangan ini yang kan kau temukan di dasar hatimu

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH Rahmat Abdullah).”

Dan akhirnya.......

kejenuhan dan kelelahanpun berkata”aku lelah dan jenuh titik. ” (loch??)

*afwan, tidak ada maksud menyindir, menghardik, menghakimi, mengajari,dsb

Ini hanya sebuah renungan pribadi yang ingin ana bagi dengan ikhwah semua.

Bagi yang sedang merasakannya, semoga bisa bermanfaat

Bagi yang sedang tidak merasakannya, semoga bisa menjadi penguat diri sebelum terjadi.

Bagi yang tersinggung dan tidak menyukai notes ini, mohon dimaafkan lahir dan batin...

Bagi yang ingin memberi kritik, saran, protes, bahkan demo...

Silahkan, InsyaAllah kebagian pahala

Pahala untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran

Assyifa ^_^

Jumat, 24 September 2010

Memaknai landasan sejarah

Dunia Mahasiswa tak luput dari dunia pendidikan. Karena di dunia pendidikanlah mahasiswa dibesarkan dan di balik gelar intelektual yang disandang mahasiswa terdapat tanggung jawab besar untuk membangun negeri lewat tangannya. Sebuah gelar yang tak main-main karena membangun negeri bukanlah hal yang main-main, maka sudah sepantasnya perjalanan ini dicermati dengan baik-baik tak hanya sekedar mencari nilai dan gelar belaka. Maka kemanakah akhirnya arus akan membawa kita nantinya?akankah kita menjadi bagian dari mereka yang hanya mencari nilai dan gelar saja?
Pembesar-pembesar yang kini duduk di kursi mewah di gedung DPR itu, dulunya adalah mahasiswa. Kinerja mereka saat ini bisa jadi adalah dampak dari perjalanan mereka selama di bangku kuliah. Mereka yang tertidur saat rapat, bisa jadi karena terbiasa tertidur saat kuliah. Mereka yang gemar bermain suap, bisa jadi karena mereka terbiasa menyuap seonggok uang untuk nilai A saat kuliah. Karena waktu minimal 4 tahun di bangku kuliah itu, berperan besar untuk membentuk karakter seseorang. Bangku kuliah adalah mesin pencetak pemimpin, dimana seharusnya stock calon pemimpin tersedia dengan kualitas yang membanggakan.
Hal inilah yang perlu digaris bawahi, sistem pembelajaran di bangku kuliah seharusnya bisa menjadi sebuah proses pendewasaan dalam diri mahasiswa di usia transformasi dari siswa menuju mahasiswa, dari remaja menuju dewasa. Maka bukan lagi saatnya memanjakan mereka dengan nilai-nilai besar tanpa memahamkan moral yang baik sebagai bekal mereka sebagai calon pemimpin.
Akan ada banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter, termasuk lingkungan sekitar. Sedangkan, citra mahasiswa yang kini melekat adalah citra buruk. Mereka yang tenggelam dengan dunia narkoba, free sex, dan dunia glamour dalam kasus-kasus yang terpampang di televisi, tak lain adalah mereka yang bergelar mahasiswa, para calon pemimpin bangsa.
Iri rasanya melihat sejarah ke belakang, dimana semangat mencari ilmu di bangku kuliah didasari oleh semangat membangun bangsa, seperti yang dilakukan Ki Hajar Dewantoro, Bung Hatta, Bung karno dan kawan-kawan seperjuangan beliau di masa memperjuangkan kemerdekaan. Belum terlambat kiranya, membangkitkan semangat itu di diri mahasiswa saat ini meski tantangan yang dihadapi tak mudah karena harus bersaing dengan dunia yang semakin menjanjikan kebahagiaan semu melalui gaya hidup yang tak lagi bisa di sebut sebagai gaya hidup orang-orang berpendidikan.
Di luar sana banyak fenomena-fenomena yang tak bisa dipungkiri menjadi trend orang-orang yang mengaku dirinya kaum intelektual. Dengan mudahnya mereka mendapat gelar sarjana tanpa kerja keras merasakan bangku kuliah. Rasanya murah sekali sebuah gelar yang mahal pertanggungjawabannya itu jika hanya dijadikan prasyarat untuk mendapat jabatan terlebih dengan niat menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Maraknya kasus tersebut yang kini bukanlah hal yang tabu itu, telah mencoreng dunia pendidikan terutama dunia kampus. Serta mencoreng semangat yang susah payah dibangun pahlawan-pahlawan pendidikan yang kini hanya tercatat dalam kumpulan lembaran-lembaran sejarah, yang hanya tercetak untuk sekedar dihafalkan tanpa di maknai sebagai semangat perjuangan membangun bangsa.
Jadi, saatnya menjadikan semangat membangun negeri sebagai landasan semangat menempuh bangku kuliah, semangat mencari ilmu.
_Assyifa_

Sabtu, 04 September 2010

Menyambut wajah baru Nurul Ilmi

Ijinkan aku bertutur tentang Nurul Ilmiku. Dalam beberapa waktu ke depan ia akan berganti wajah. Mungkin akan setinggi dan sekekar gedung-gedung pencakar langit atau seindah istana sulaiman. Terlintas, ia akan nampak gagah berdiri dengan bangganya mendampingi macan ali. Seketika itu pula wajah lamanya yang kusam, kecil, lusuh tersisih di sudut kandang macan ali itu akan lenyap seketika. tapi aku tak mampu begitu saja melupakan wajah lusuh itu. Wajah lusuh yang menampilkan guratan-guratan kebahagiaan, kesedihan, kebanggaan, kekecewaan, kebersamaan dan menyimpan banyak garis-garis kenangan.
Ramadhan ini mungkin akan menjadi ramadhan terakhir buat kami menatap Nurul ilmi dalam rupa lamanya. Ramadhan demi Ramadhan telah kami lewati di setiap sudutnya, menghadirkan beribu kenangan dan kerinduan. Di setiap sudutnya ada rasa yang tertinggal, sedih dan tangis di sekretariat yang penuh sesak itu, tawa dan canda di dapur yang sempit itu, ingatkah kau dapur sempit itu tempat favorit kita bereksperimen dengan macam-macam bahan makanan, di tempat yang sama itu juga kita menikmati hasil ekperimen kita tanpa peduli bahwa di hadapan kita adalah toilet (Astagfirullah, kalo di pikir2 parah juga ya indra perasa kita?hehe...). Banyak rasa yang tertinggal disana bahkan mungkin akan terkubur seiring dengan lenyapnya puing-puing hijaunya. Rasa pahit dan manisnya jalan ini, jalan yang mempertemukan berbagai hati dan menyatukannya dalam bingkai ukhuwah.
Detik-detik menyambut wajah baru Nurul Ilmi, menyisihkan keresahan. Apa yang bisa dibanggakan dari kemegahan wajah barunya jika ternyata hanya memperjelas kekosongan yang ada selama ini? Kemegahan itu dirasa percuma ketika pusat kampus pindah ke sudut lain kota ini. Lalu siapa yang akan menikmati kemegahan yang harusnya dinikmati seluruh elemen kampus untuk merasakan kenyamanan ruhani?
Ketika semuanya berpindah ke lain hati, ke sudut lain dimana terdapat banyak keterbatasan dibalik kemewahan dan kemegahannya. Kupikir mereka yang telah nyaman berada di pusat kampus yang baru itu akan berpikir berulang kali untuk sekedar meluncurkan mobil-mobil mewahnya, apalagi melangkahkan kaki ke tanah berpijaknya Nurul Ilmi dan macan ali berdiri kokoh. Kokoh namun hampa. Shaf-shaf shalat yang biasanya hanya terisikan satu-dua baris, mungkin akan semakin habis dimakan jarak dan waktu. Sedangakan di seberang sana, tak ada kenyamanan ruhani yang akan didapatkan ribuan orang yang menghuninya kecuali keterbatasan dan ketidaknyamanan. Terbelenggu oleh ruangan kecil sesak, pengap. Di ruangan sempit itu kami harus rela berdesak-desakan bercampur baur laki-laki dan perempuan ditambah dengan enggannya air mengalir untuk sekedar membasahi wajah kami. Di seberang sana, Nurul Ilmi berdiri kokoh, terhampar luas, memanjakan jiwa-jiwa yang ingin merasakan kenikmatan ruhani melalui shalat tapi kemewahannya tiada guna karena ia hanya mampu termangu melihat barisan shaf yang semakin terkikis.
Untuk jiwa-jiwa yang telah disatukan dalam dakwah yang bersemi di Nurul Ilmi ini, perjuangan ini belum usai. Jangan pernah biarkan Nurul Ilmi berjuang seorang diri untuk menebar warna islam yang indah. Bukan Nurul Ilmi yang kita perjuangkan, tapi dakwah islam!! Bukan Nurul Ilmi yang membutuhkan kita, bukan juga dakwah yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah.

_Assyifa_

Selasa, 25 Mei 2010

Biar semua Indah pada waktunya

Cukuplah ALLAH yg mengisi ruang hati ini
Hingga saatnya tiba akan ada yg halal utk mengisi hati ini
Aku hanya harus menunggu hingga Allah membuka tabir rahasia itu untukku tanpa ada pengkhianatan atas cintaNya
Menunggu dan menjaga sampai tabir itu terbuka,
Maka masa itu hanya ada Allah di hatiku
Seberapapun yakinku bahwa Allah telah memilihkannya untukku
Bukankah tak ada guna nya memikirkan orang yg belum halal untuk dipikirkan
Karena bukankah ketika halal tlah kuperoleh memikirkannya adalah pahala untukku
Allahku, bimbing hatiku menuju jalanMu,
Biar semua indah pada waktunya..
Meski keyakinan ini telah sepenuhnya miliknya

konsekuensi ukhuwah yg kujalani

16 mei 2010

Astagfirullah, sdh smkn sesak rasanya. Semoga pintu hati ini smkn terbuka lebar utk memahami bhwa ini adlh konsekuensi ukuhwah yg kujalani.

Biarlah orang bebs bfkirn ap ttg aku, mgkn ini bhn evaluasi buatku.
Biarlah ia melakukan hal sesuka hatinya, aku lelah menghadapinya.
Biar ia buat sejuta fitnah lg untuk menjatuhkanku
Biar ia menghaikimiku lg ,
biar ia menusuk hati ini lg dgn kata-katanya yg bgtu manis,
Mungkin memang ini salahku, yg tak menunjukan bahwa aku tulus menjalin ukhuwah ini bersamanya.
Mungkin memang ia tak merasakan indahnya ukhuwah dari ku.

Kemana perginya Identitas intelektual mahasiswa kita?

Mahasiswa identik dengan gelar kaum intelektual. Tentu saja budaya yang harus digalakkan adalah budaya intelektual yang mampu mengasah kualitas intelektual mereka. Membaca, menulis dan diskusi adalah budaya yang harusnya lekat dengan dunia mahasiswa karena mahasiswa diciptakan untuk menjadi pemimpin yang mampu memberikan gagasan-gagasan atas permasalahan yang dihadapi kehidupan sosialnya sebagai warga negara. Sayangnya, bagi mahasiswa saat ini kegiatan membaca, menulis dan diskusi adalah kegiatan yang membosankan. Pojok-pojok kampus hanya diisi dengan obrolan-obrolan yang tak bermanfaat yang tak jauh-jauh dari gosip, fashion, dan pembicaraan-pembicaraan yang jauh dari nilai intelektual. Kebutuhan akan fashion & makanan jauh lebih menarik perhatian mereka ketimbang kebutuhan intelektual mereka. Menghabiskan uang berjuta-juta untuk liburan atau untuk membeli model HP terbaru bukan masalah bagi mereka meskipun tak ada sisa untuk membeli buku karena bagi mereka membeli sebuah buku bukan lagi prioritas utama mereka. Mencari ilmu dan pengalaman bukan lagi tujuan mereka kuliah karena kuliah hanya ajang bergengsi untuk mencari gelar sarjana meski tak ada ilmu yang didapat. Alhasil, mereka hanya menjadi pengikut bukan pemimpin. Bukan bermaksud men-generalisasikan semua mahasiswa sama seperti itu tapi fenomena-fenomena diatas tak bisa dipungkiri adalah yang terjadi pada mahasiswa Indonesia saat ini tidak terkecuali mahasiswa Unswagati tak peduli meski mereka adalah calon guru.
Ada asap tentu ada api, selain budaya hedonisme yang mulai mengakar kuat ternyata ada banyak faktor lain yang menjadi salah satu penyebab hilangnya identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual. Lingkungan sekitar tentu sangat berpengaruh pada sikap dan tindakan mereka. Mengapa mahasiswa kini cenderung jauh dari budaya membaca, menulis dan diskusi?. Mari kita evaluasi dari sistem pendidikan. Dalam hal ini difokuskan pada metode pembelajaran dan sistem penilaian.
Metode pembelajaran konvensional masih mendominasi sekolah-sekolah bahkan perguruan tinggi sekalipun dan kampus tercinta kita ini masuk ke dalamnya. Yang termasuk ke dalam metode konvensional adalah hanya terjadinya komunikasi satu arah dimana dosen menerangkan dengan teknik berceramah dan membiarkan mahasiswanya menjadi pendengar yang baik selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, sedikitnya kegiatan diskusi di kelas tak memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk mengemukakan pendapat atau memperluas wawasan mereka dengan banyak membaca terlebih dahulu sebelum mengemukakan pendapat, seluruh kegiatan didominasi oleh ke-otoriteran dosen dalam kelas.
Sistem pendidikan kita hanya menggalakkan penghafalan dan bukannya pemikiran dan akhirnya menyebabkan para murid lebih cenderung untuk bergantung kepada jawaban contoh, hafalan dan soalan ramalan(spotted questions) daripada memahami konsep dan teori yang berkenaan. Sehingga tak heran jika banyak mahasiswa yang mengalami hilang ingatan begitu selesai ujian. Karena teknik belajarnya hanya menghafal materi yang selama ini dicatatnya dari catatan dosen di papan tulis, dihafalnya pun semalam sebelum ujian dilaksanakan karena mereka sudah mengetahui soal yang akan keluar tak jauh-jauh dari pengertian ini menurut professor itu, definisi itu menurut professor ini. Tak ada kesempatan untuk mereka mengemukakan pendapantya sendiri. Mahasiswa dengan teknik seperti ini sebenarnya jauh lebih baik ketimbang mahasiswa yang mencari jalan pintas lewat menyontek pada temannya atau bahkan langsung pada buku sumber. ’’ke-kreatifitasan“ mereka ini berbuah pada tak ada satupun ilmu yang menempel selain ilmu menyontek, setiap tahunnya yang dikembangkannya bukan ilmu yang diajarkan dosen padannya melainkan mengembangkan strategi-strategi baru yang lebih jitu untuk menyontek. Sistem penilaian yang diterapkan hanya bertumpu pada nilai dari ujian tertulis. Tiga aspek penilaian yakni psikomotorik, afektif, dan psikomotorik ternyata tak diaplikasikan dengan baik karena nilai dari ujian tertulis lebih mendominasi ketimbang aspek lain. Alhasil beruntunglah mereka yang mendapatkan nilai tinggi di ujian tertulisnya meskipun nilai yang didapatkan melalui cara yang salah.
Selain sistem, hal lain yang perlu dievaluasi adalah peran dan fungsi sarana dan prasarana. Perpustakaan harusnya bisa menjadi gudang ilmu, tempat yang nyaman untuk mahasiswa mencuri ilmu dari buku-buku yang dikoleksi. Sayangnya, peran dan fungsi perpustakaan telah beralih fungsi menjadi tempat ngobrol, dan tempat melepas lelah. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan berbasis keilmuan seperti pelatihan ataupun diskusi publik hanya dikonsumsi segelintir mahasiswa, kondisi ini jauh berbeda ketika yang digelar adalah festival musik, liburan yang bersifat hura-hura akan dibanjiri peminatnya, mereka berlomba-lomba untuk bisa bergabung meski harus mengorbankan waktu hingga larut malam atau mengorbankan uang mereka yang pas-pas an. Sayangnya lagi, fenomena tersebut nampaknya tak terlalu menjadi perhatian pihak kampus.
Tak cukup sampai evaluasi, tetapi perlu ada solusi yang ditawarkan. Salah satunya, menganalisa kebaikan dan keburukan yang terdapat pada sistem tersebut, mempertahankan yang baiknya dan mereformasi sistem yang salah. Sistem penilaian yang berorientasi pada proses bisa digunakan untuk mereformasi penilaian yang berorientasi pada hasil yang kini dipakai. Metode pembelajaran konvensional jelas perlu direformasi menjadi pembelajaran kreatif yang mampu meng-eksplore kemampuan mahasiswa seperti diskusi, workshop dan kegiatan lainnya yang memaksimalkan praktek daripada teori. Tak ada salahnya jika kita mengadopsi metode belajar mahasiswa belanda dimana yang dipelajari adalah yang ingin mahasiswa ketahui tentang ilmu tersebut bukan lagi menuruti keinginan dosen karena hal ini akan mempengaruhi motivasi belajar mereka jadi peran dosen disini adalah sebagai fasilitator. Selain itu, perlu adanya pemenuhan standar sarana prasarana yg mampu meningkatkan kualitas intelektual mahasiswa seperti memaksimalkan peran dan fungsi perpusatakaan. Perpustakaan yang ideal bukanlah perpustakaan yang berdiri megah dan mewah melainkan perpustakaan yang mampu membuat pengunjungnya nyaman membaca serta mampu memuaskan keingintahuan mahasiswa akan ilmu yang dicarinya. Kondisi perpustakaan yang bersih, hening dari keributan, adanya sangsi yang tegas untuk pengunjung yang membuat kegaduhan, serta pengadaan buku-buku yang berkualitas dan baru adalah faktor pendukung pemenuhan peran dan fungsi perpustakaan yang sebenarnya. Yang tak kalah pentingnya adalah jangan hanya kualitas sarana prasarana saja yang ditingkatkan tetapi juga kualitas intelektual mahasiswanya pun perlu disikapi Adanya penyeleksian yang ketat pada acara-acara kemahasiswaan oleh pihak kampus akan tujuan, konten acara, follow up dan manfaat dari kegiatan mahasiswa. Satu catatan penting yang perlu menjadi perhatian adalah pemenuhan kebutuhan mahasiswa tak hanya berhenti atau terfokus pada pemenuhan fasilitas saja tetapi juga perlu dipikirkan tentang pemenuhan kualitas intelektual mahasiswa. Salah seorang tokoh cendekiawan Allahyarham Mohamad Natsir seringkali mengingatkan supaya ‘jangan sambil membangun kita robohkan” – membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan

Bukan Aksi Biasa

“apa yang dipahami orang lain tentang kita sebenarnya dibentuk oleh akumulasi sikap, perilaku, dan cara kita mengekspresikan diri. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar tentang kita, itulah yang menjadi factor pembentuk citra kita di benak mereka”. (Anis Matta)

Ironis sebenarnya, ketika menyaksikan kenyataan bahwa mahasiswa hari ini mulai kehilangan idealismenya bahkan jati dirinya sebagai mahasiswa. Mungkin mereka lupa, tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu bahwa mahasiswa jelas berbeda dengan anak SMA. Mahasiswa memiliki beban moral yang besar pada masyarakat, mereka dituntut berkontribusi untuk masyarakat sekitarnya juga negaranya. Tapi zaman membuatnya berbeda menjadikan mereka penganut hedonisme yang cenderung acuh tak acuh akan keadaan negaranya.
Indonesia 12 tahun yang lalu, belumlah lepas dari ingatan kita ketika gedung Negara dibanjiri lautan mahasiswa. Mereka tidak mencari nilai disana, tidak juga dengan menjadi bagian dari pendobrak reformasi itu mereka mendapatkan gelar sarjananya lebih awal. Tidak juga ada materi yang mereka dapatkan disana. Tapi, mengapa mereka membiarkan diri mereka menjadi sasaran bentrokan, mengorbankan waktunya berjam-jam berdiri tegap di gedung kebesaran itu, bahakn mengorbankan nyawa mereka hanya untuk REFORMASI. Lalu dimana mahasiswa seperti mereka saat ini?dimana idealisme mahasiswa itu pergi?
Kebanyakan mahasiswa kini menganggap demo atau aksi adalah perilaku tak terpuji, melanggar norma. Padahal mereka tahu bahwa negara ini negara demokrasi tapi tak mengerti esensi demokrasi. Tak bisa dipungkiri bahwa terjadi beberapa kasus anarkisme pada demo mahasiswa hingga mahasiswa bahkan masyarakat mengecamnya. Tapi seperti apa kata pepatah, nila setitik rusak susu sebelanga. Itulah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, semua demo dianggapnya anarkis tak bermoral tanpa mau melihat esensinya dan menyama-ratakan semuanya.
Kasus anarkisme demo yang dilakukan mahasiswa akhir-akhir ini sedikit banyak mempengaruhi citra KAMMI. KAMMI dalam pandangan mereka adalah sama halnya dengan mahasiswa yang hobi membuat ribut lewat berdemo tanpa peduli bahwa yang diperjuangkan adalah hak mereka, hak rakyat. Berdemo adalah salah satu cara kita mewacanakan isu yang akan kita angkat kepada publik. Sayangnya, masyarakat tak peduli konten isu tersebut, yang mereka tau cara yang digunakan untuk mewacanakannya adalah salah meskipun demo yang dilakukan berjalan damai karena nampaknya masyarakat sudah alergi dengan demonsrtasi.
Seharusnya ini menjadi tugas KAMMI untuk membuktikan bahwa tak semua aksi demonstarasi berakhir ricuh dan anarkis. Mewacanakan isu yang akan diangkat tak semudah mengangkat spanduk atau poster kemudian berorasi dan berteriak-teriak tanpa memahami isi dari isu yang diangkat tersebut. Dan sayangnya, itulah kelemahan gerakan mahasiswa hari ini tanpa dipungkiri begitupun dengan KAMMI. Tak jarang demo yang dilakukan kurang persiapan; tak ada kajian bersama mengenai isu tersebut, tak jarang hanya beberapa orang yang mendalami isu tersebut sehingga ketika ditanyakan oleh pihak lain(wartawan, pihak kepolisian atau bahkan masyarakat.red)tak sedikit dari peserta demo yang gugup menjawabnya lantaran tak memahami isi dari isu yang mereka angkat. Maka persiapan pengetahuan kita menjadi sangat penting, mengkaji isu tersebut dengan melibatkan seluruh peserta demo kemudian menyampaikan isu tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami seluruh kalangan jangan sampai rakyat yang kita bela dalam demo tersebut ternyata tak dipahami oleh masyarakat sendiri dan yang lebih miris adalah masyarakat merasa dirugikan dan mengecam aksi demo.
Aksi mahasiswa terbesar 12 tahun yang lalu masih bisa kita rasakan sampai saat ini, meskipun pesan reformasi yang saat itu di sampaikan masih belum diaplikasikan dengan baik tapi setidaknya masyarakat bisa keluar dari ke-otoriter-an penguasa orde baru. Maka dibutuhkan keberanian, pengorbanan, kepandaian, dan keikhlasan pada diri pemuda Indonesia untuk melakukan yang terbaik untuk bangsanya, dan mengaspirasikan hak rakyat adalah salah satu kewajiban mahasiswa sebagai jembatan masyaarakat dan pemerintah. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)