Mahasiswa identik dengan gelar kaum intelektual. Tentu saja budaya yang harus digalakkan adalah budaya intelektual yang mampu mengasah kualitas intelektual mereka. Membaca, menulis dan diskusi adalah budaya yang harusnya lekat dengan dunia mahasiswa karena mahasiswa diciptakan untuk menjadi pemimpin yang mampu memberikan gagasan-gagasan atas permasalahan yang dihadapi kehidupan sosialnya sebagai warga negara. Sayangnya, bagi mahasiswa saat ini kegiatan membaca, menulis dan diskusi adalah kegiatan yang membosankan. Pojok-pojok kampus hanya diisi dengan obrolan-obrolan yang tak bermanfaat yang tak jauh-jauh dari gosip, fashion, dan pembicaraan-pembicaraan yang jauh dari nilai intelektual. Kebutuhan akan fashion & makanan jauh lebih menarik perhatian mereka ketimbang kebutuhan intelektual mereka. Menghabiskan uang berjuta-juta untuk liburan atau untuk membeli model HP terbaru bukan masalah bagi mereka meskipun tak ada sisa untuk membeli buku karena bagi mereka membeli sebuah buku bukan lagi prioritas utama mereka. Mencari ilmu dan pengalaman bukan lagi tujuan mereka kuliah karena kuliah hanya ajang bergengsi untuk mencari gelar sarjana meski tak ada ilmu yang didapat. Alhasil, mereka hanya menjadi pengikut bukan pemimpin. Bukan bermaksud men-generalisasikan semua mahasiswa sama seperti itu tapi fenomena-fenomena diatas tak bisa dipungkiri adalah yang terjadi pada mahasiswa Indonesia saat ini tidak terkecuali mahasiswa Unswagati tak peduli meski mereka adalah calon guru.
Ada asap tentu ada api, selain budaya hedonisme yang mulai mengakar kuat ternyata ada banyak faktor lain yang menjadi salah satu penyebab hilangnya identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual. Lingkungan sekitar tentu sangat berpengaruh pada sikap dan tindakan mereka. Mengapa mahasiswa kini cenderung jauh dari budaya membaca, menulis dan diskusi?. Mari kita evaluasi dari sistem pendidikan. Dalam hal ini difokuskan pada metode pembelajaran dan sistem penilaian.
Metode pembelajaran konvensional masih mendominasi sekolah-sekolah bahkan perguruan tinggi sekalipun dan kampus tercinta kita ini masuk ke dalamnya. Yang termasuk ke dalam metode konvensional adalah hanya terjadinya komunikasi satu arah dimana dosen menerangkan dengan teknik berceramah dan membiarkan mahasiswanya menjadi pendengar yang baik selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, sedikitnya kegiatan diskusi di kelas tak memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk mengemukakan pendapat atau memperluas wawasan mereka dengan banyak membaca terlebih dahulu sebelum mengemukakan pendapat, seluruh kegiatan didominasi oleh ke-otoriteran dosen dalam kelas.
Sistem pendidikan kita hanya menggalakkan penghafalan dan bukannya pemikiran dan akhirnya menyebabkan para murid lebih cenderung untuk bergantung kepada jawaban contoh, hafalan dan soalan ramalan(spotted questions) daripada memahami konsep dan teori yang berkenaan. Sehingga tak heran jika banyak mahasiswa yang mengalami hilang ingatan begitu selesai ujian. Karena teknik belajarnya hanya menghafal materi yang selama ini dicatatnya dari catatan dosen di papan tulis, dihafalnya pun semalam sebelum ujian dilaksanakan karena mereka sudah mengetahui soal yang akan keluar tak jauh-jauh dari pengertian ini menurut professor itu, definisi itu menurut professor ini. Tak ada kesempatan untuk mereka mengemukakan pendapantya sendiri. Mahasiswa dengan teknik seperti ini sebenarnya jauh lebih baik ketimbang mahasiswa yang mencari jalan pintas lewat menyontek pada temannya atau bahkan langsung pada buku sumber. ’’ke-kreatifitasan“ mereka ini berbuah pada tak ada satupun ilmu yang menempel selain ilmu menyontek, setiap tahunnya yang dikembangkannya bukan ilmu yang diajarkan dosen padannya melainkan mengembangkan strategi-strategi baru yang lebih jitu untuk menyontek. Sistem penilaian yang diterapkan hanya bertumpu pada nilai dari ujian tertulis. Tiga aspek penilaian yakni psikomotorik, afektif, dan psikomotorik ternyata tak diaplikasikan dengan baik karena nilai dari ujian tertulis lebih mendominasi ketimbang aspek lain. Alhasil beruntunglah mereka yang mendapatkan nilai tinggi di ujian tertulisnya meskipun nilai yang didapatkan melalui cara yang salah.
Selain sistem, hal lain yang perlu dievaluasi adalah peran dan fungsi sarana dan prasarana. Perpustakaan harusnya bisa menjadi gudang ilmu, tempat yang nyaman untuk mahasiswa mencuri ilmu dari buku-buku yang dikoleksi. Sayangnya, peran dan fungsi perpustakaan telah beralih fungsi menjadi tempat ngobrol, dan tempat melepas lelah. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan berbasis keilmuan seperti pelatihan ataupun diskusi publik hanya dikonsumsi segelintir mahasiswa, kondisi ini jauh berbeda ketika yang digelar adalah festival musik, liburan yang bersifat hura-hura akan dibanjiri peminatnya, mereka berlomba-lomba untuk bisa bergabung meski harus mengorbankan waktu hingga larut malam atau mengorbankan uang mereka yang pas-pas an. Sayangnya lagi, fenomena tersebut nampaknya tak terlalu menjadi perhatian pihak kampus.
Tak cukup sampai evaluasi, tetapi perlu ada solusi yang ditawarkan. Salah satunya, menganalisa kebaikan dan keburukan yang terdapat pada sistem tersebut, mempertahankan yang baiknya dan mereformasi sistem yang salah. Sistem penilaian yang berorientasi pada proses bisa digunakan untuk mereformasi penilaian yang berorientasi pada hasil yang kini dipakai. Metode pembelajaran konvensional jelas perlu direformasi menjadi pembelajaran kreatif yang mampu meng-eksplore kemampuan mahasiswa seperti diskusi, workshop dan kegiatan lainnya yang memaksimalkan praktek daripada teori. Tak ada salahnya jika kita mengadopsi metode belajar mahasiswa belanda dimana yang dipelajari adalah yang ingin mahasiswa ketahui tentang ilmu tersebut bukan lagi menuruti keinginan dosen karena hal ini akan mempengaruhi motivasi belajar mereka jadi peran dosen disini adalah sebagai fasilitator. Selain itu, perlu adanya pemenuhan standar sarana prasarana yg mampu meningkatkan kualitas intelektual mahasiswa seperti memaksimalkan peran dan fungsi perpusatakaan. Perpustakaan yang ideal bukanlah perpustakaan yang berdiri megah dan mewah melainkan perpustakaan yang mampu membuat pengunjungnya nyaman membaca serta mampu memuaskan keingintahuan mahasiswa akan ilmu yang dicarinya. Kondisi perpustakaan yang bersih, hening dari keributan, adanya sangsi yang tegas untuk pengunjung yang membuat kegaduhan, serta pengadaan buku-buku yang berkualitas dan baru adalah faktor pendukung pemenuhan peran dan fungsi perpustakaan yang sebenarnya. Yang tak kalah pentingnya adalah jangan hanya kualitas sarana prasarana saja yang ditingkatkan tetapi juga kualitas intelektual mahasiswanya pun perlu disikapi Adanya penyeleksian yang ketat pada acara-acara kemahasiswaan oleh pihak kampus akan tujuan, konten acara, follow up dan manfaat dari kegiatan mahasiswa. Satu catatan penting yang perlu menjadi perhatian adalah pemenuhan kebutuhan mahasiswa tak hanya berhenti atau terfokus pada pemenuhan fasilitas saja tetapi juga perlu dipikirkan tentang pemenuhan kualitas intelektual mahasiswa. Salah seorang tokoh cendekiawan Allahyarham Mohamad Natsir seringkali mengingatkan supaya ‘jangan sambil membangun kita robohkan” – membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar