“apa yang dipahami orang lain tentang kita sebenarnya dibentuk oleh akumulasi sikap, perilaku, dan cara kita mengekspresikan diri. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar tentang kita, itulah yang menjadi factor pembentuk citra kita di benak mereka”. (Anis Matta)
Ironis sebenarnya, ketika menyaksikan kenyataan bahwa mahasiswa hari ini mulai kehilangan idealismenya bahkan jati dirinya sebagai mahasiswa. Mungkin mereka lupa, tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu bahwa mahasiswa jelas berbeda dengan anak SMA. Mahasiswa memiliki beban moral yang besar pada masyarakat, mereka dituntut berkontribusi untuk masyarakat sekitarnya juga negaranya. Tapi zaman membuatnya berbeda menjadikan mereka penganut hedonisme yang cenderung acuh tak acuh akan keadaan negaranya.
Indonesia 12 tahun yang lalu, belumlah lepas dari ingatan kita ketika gedung Negara dibanjiri lautan mahasiswa. Mereka tidak mencari nilai disana, tidak juga dengan menjadi bagian dari pendobrak reformasi itu mereka mendapatkan gelar sarjananya lebih awal. Tidak juga ada materi yang mereka dapatkan disana. Tapi, mengapa mereka membiarkan diri mereka menjadi sasaran bentrokan, mengorbankan waktunya berjam-jam berdiri tegap di gedung kebesaran itu, bahakn mengorbankan nyawa mereka hanya untuk REFORMASI. Lalu dimana mahasiswa seperti mereka saat ini?dimana idealisme mahasiswa itu pergi?
Kebanyakan mahasiswa kini menganggap demo atau aksi adalah perilaku tak terpuji, melanggar norma. Padahal mereka tahu bahwa negara ini negara demokrasi tapi tak mengerti esensi demokrasi. Tak bisa dipungkiri bahwa terjadi beberapa kasus anarkisme pada demo mahasiswa hingga mahasiswa bahkan masyarakat mengecamnya. Tapi seperti apa kata pepatah, nila setitik rusak susu sebelanga. Itulah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, semua demo dianggapnya anarkis tak bermoral tanpa mau melihat esensinya dan menyama-ratakan semuanya.
Kasus anarkisme demo yang dilakukan mahasiswa akhir-akhir ini sedikit banyak mempengaruhi citra KAMMI. KAMMI dalam pandangan mereka adalah sama halnya dengan mahasiswa yang hobi membuat ribut lewat berdemo tanpa peduli bahwa yang diperjuangkan adalah hak mereka, hak rakyat. Berdemo adalah salah satu cara kita mewacanakan isu yang akan kita angkat kepada publik. Sayangnya, masyarakat tak peduli konten isu tersebut, yang mereka tau cara yang digunakan untuk mewacanakannya adalah salah meskipun demo yang dilakukan berjalan damai karena nampaknya masyarakat sudah alergi dengan demonsrtasi.
Seharusnya ini menjadi tugas KAMMI untuk membuktikan bahwa tak semua aksi demonstarasi berakhir ricuh dan anarkis. Mewacanakan isu yang akan diangkat tak semudah mengangkat spanduk atau poster kemudian berorasi dan berteriak-teriak tanpa memahami isi dari isu yang diangkat tersebut. Dan sayangnya, itulah kelemahan gerakan mahasiswa hari ini tanpa dipungkiri begitupun dengan KAMMI. Tak jarang demo yang dilakukan kurang persiapan; tak ada kajian bersama mengenai isu tersebut, tak jarang hanya beberapa orang yang mendalami isu tersebut sehingga ketika ditanyakan oleh pihak lain(wartawan, pihak kepolisian atau bahkan masyarakat.red)tak sedikit dari peserta demo yang gugup menjawabnya lantaran tak memahami isi dari isu yang mereka angkat. Maka persiapan pengetahuan kita menjadi sangat penting, mengkaji isu tersebut dengan melibatkan seluruh peserta demo kemudian menyampaikan isu tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami seluruh kalangan jangan sampai rakyat yang kita bela dalam demo tersebut ternyata tak dipahami oleh masyarakat sendiri dan yang lebih miris adalah masyarakat merasa dirugikan dan mengecam aksi demo.
Aksi mahasiswa terbesar 12 tahun yang lalu masih bisa kita rasakan sampai saat ini, meskipun pesan reformasi yang saat itu di sampaikan masih belum diaplikasikan dengan baik tapi setidaknya masyarakat bisa keluar dari ke-otoriter-an penguasa orde baru. Maka dibutuhkan keberanian, pengorbanan, kepandaian, dan keikhlasan pada diri pemuda Indonesia untuk melakukan yang terbaik untuk bangsanya, dan mengaspirasikan hak rakyat adalah salah satu kewajiban mahasiswa sebagai jembatan masyaarakat dan pemerintah. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar