Selasa, 12 Juli 2011

Uraian rindu untuk musim mawar

Entah mengapa d ujung malam ini,aku tiba2 merindukan kehangatan taman perjuangan dua atau tiga tahun silam. Saat mereka masih menghiasi taman ini di bawah cahaya ilmu.
Rindu kobaran semangat yg mereka sengatkan pada kami.
Rindu marah mereka,ketika dalam syuro kami tak mau bicara.
Rindu taujih2 mereka yg penuh semangat perjuangan.
Rindu langkah2 mereka yg tak pernah lelah.
Rindu mata-mata tajam yg menatap lembut wajah-wajah polos kami saat itu.
Bohong jika kami,khususnya aku tak sedih saat mereka melangkah pergi utk menetap di taman lain. Ada semangat yg sempat menghilang dan rasa takut yg meneror.
Ada gelisah, bisakah kami meneruskan perjuangan ini bersama adik2 dan tanpa mereka lg.
Tapi, aku tau ini adalah jalan yg memang harus d lalui.
Sampai disini, mungkin di detik2 terakhr aku menikmati cahaya ilmu di taman perjuangan ini. Aku belum bisa meyengatkan kobaran semangat utk adik2ku. Adik2ku kini tak seberuntung kami ketika kami berada pada masanya,merasakan sengatan semangat dr kakak2nya.
Maaf ya dik, jika sampai di saat ini aku belum bisa membuat kalian merasakan apa yg kurasakan dulu. Tentang indahnya semangat dalam kebersamaan.
Aku tak berniat mengeluh disini, hanya ingin mengurai rasa rinduku. Juga rasa yg kurasakan di bulan yg sama satu tahun lalu.
Beberapa bulan ke depan, perjalanan di taman perjuangan ini akan berakhir. Tp tak akan mengakhiri langkah kami di taman perjuangan lainnya yg sudah menanti kami.
Cahaya ilmu itu kan tetap menerangi langkah kami.

Rinduku utk laskar mawar di bulan juli, dimana 3 tahun berturut2 ke belakang bulan ini kusebut musim mawar..
Utkmu, mawar2 dakwah..
By:Assyifa
Di bawah langitNya, 10 juli 2011 pukul 00.00 Wib

Selasa, 05 Juli 2011

Mencintai sejantan ali by salim A fillah


Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Kamis, 23 Juni 2011

Disaat ku lelah,

Sakura... aku tau. Masa yang kau jalani ketika musim gugur, bukanlah masa yang mudah untuk kau lalui. Mungkin kau pun merasakan pedihnya dan sakitnya ketika harus melihat mata-mata yang memandangmu sebagai sesuatu yang sempurna yang tak pernah marah, tak pernah sedih, tak pernah menangis. Mereka hanya tau hadirmu mampu menebar senyum dan semangat untuk mereka.
Sakura... ajari aku untuk belajar tersenyum meski hati perih menanggung pedih. Ajari aku bagaimana cara menyembunyikan kesedihan dari mereka yang mengharapkan senyumku.
Sakura... ada masanya kau bersemi dengan indah dan ada pula masa dimana kau harus gugur. Bukan untuk selamanya, tapi kau gugur untuk kembali. Hanya untuk sejenak beristirahat untuk mempersembahkan senyum yang lebih indah dari sebelumnya, untuk mereka...
Kau tau sakura...Rasulullah pun demikian. Allah memberikannya perjalanan yang luar biasa ke tujuh lapis langit sebagai hadiah penghibur hati setelah perjalanan dakwahnya dihujani kerikil tajam dan membuatnya terpuruk dalam ketidakberdayaan. Lalu beliau kembali setelah perjalanan panjangnya dengan wajah berseri. Wajah siapa yang tak berseri jika bertemu langsung dengan Allah tanpa hijab. Mendengar kisahnya pun, jantungku berdebar kencang apalagi jika aku benar-benar melihat wajah Sang Maha Indah tanpa hijab.
Sakura.. perjalanan Rasulullah itu adalah rehatnya untuk kembali, sepertimu yang akan kembali setelah musim gugur ...
Dan bagaimana dengan ku??
Sungguh aku tak ingin mengeluh, sakura.. tidak!!
Apakah mereka mau menerimaku apa adanya?menerimaku yang tak sesempurna yang mereka harapkan?aku juga bisa sedih, aku bisa marah, aku bisa kecewa, aku bisa lelah, aku bisa terpuruk, aku tak sesempurna yang mereka pikirkan. Apakah setelah ini mereka mau menerimaku?setelah aku tak bisa sesempurna yang mereka harapkan...
Aku lelah harus berpura-pura sempurna untuk menjaga senyum mereka. Aku tak ingin seperti lilin yang menerangi tetapi habis terkikis sendiri.
Wahai kekasih Allah... aku melebur bersama jiwa yang dikuasai rindu padamu, disini disaat ku mulai rapuh..
Di Bawah LangitNya, 24 Juni 2011
Assyifa

Andai setiap tempat adalah masjid



“Kalau mau ceramah di masjid aja!!”
“Ngapain pake kerudung, emang mau pengajian di masjid?!”

Kebanyakan orang beranggapan bahwa dakwah hanya berlaku di masjid, islam hanya berlaku di masjid. Sehingga apakah untuk menyampaikan kebenaran harus merubah semua tempat menjadi masjid. Agar dakwah dapat disampaikan di semua tempat, agar islam bisa tegak di semua tempat.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua wanita menutup auratnya. Maka sejuk sekali mata ini memandang, takkan ada wanita-wanita yang memakai pakaian “seadanya”.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua orang berkata lembut dan santun. Maka sejuk sekali telinga ini mendengarnya, takkan ada orang-orang yang berkata kasar.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua perempuan dan laki-laki menjaga jarak dan adab pergaulan. Maka sejuk sekali hati ini merasakannya, takkan ada perempuan dan laki-laki yang bergaul bebas tak berbatas.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua orang menggunakan waktunya untuk beribadah. Maka sejuk sekali hidup ini dilalui, takkan ada orang-orang yang menggunakan waktunya untuk bermaksiat dan menyekutukan Allah dengan “rabb-rabb” yang lain.
Andai setiap tempat adalah masjid, yang selalu terasa sejuknya meski tak ber-AC
Sejuk sekali dunia ini dihuni...
Andai mereka tau bahwa islam itu begitu indah. Karena Islam tak sekedar ritual di masjid.
Semua ritual ketika berada di masjid seperti menjaga wudhu, berinfaq, beribadah, menutup aurat, menjaga pandangan antara non muhrim sebenarnya bukan sekedar ritual ketika berada dalam masjid saja. Tapi semua itu adalah nilai-nilai islam yang harus kita jaga dimanapun dan kapanpun kaki melangkah.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, Ya Rabb... dan istiqomahkanlah kami di jalanmu yang lurus. Wallahu’alam bishowab


Di bawah langit-Nya, 23 Juni 2011

Assyifa

Talking Twin Babies - PART 2 - OFFICIAL VIDEO

Jumat, 27 Mei 2011

Rahasia Terindah di Balik Birunya Langit

Ketertarikanku pada langit biru bukanlah kebetulan semata. Karena aku tau ada banyak rahasia di balik birunya langit itu. Rasanya aku ingin sekali berada diantara birunya langit. Melebur bersama birunya, hingga aku tersapu angin dan menembus setiap lapisan-lapisannya. Mencari tau setiap rahasia yang tersimpan di setiap kerak langit.
Aku akan jadikan awan sebagai pena untuk melukiskan kata di bias birunya langit. Melukiskan wajah Sang Maha Indah. Meskipun kurasa sekumpulan awan yang dikumpulkan dari ujung langit ke ujung langit pun takkan cukup melukiskan keindahan-Nya.
Tapi dengan apa aku bisa menyentuhkan jemariku ke birunya langit. Meminjam sayap sekawanan burung?Meluncur bersama percikan bunga api yang dilemparkan ke angkasa?atau berdiri di puncak gunung tertinggi dan meringankan tubuhku hingga membiarkan angin membawaku bersamanya?
Aku tau aku takkan mampu menjangkau langit biru, aku hanya mampu memandanginya dalam kekaguman. Mengagumi birunya yang dihiasi bias putih awan. Melihat dengan iri serombongan burung yang melenggang indah mengepak-ngepakkan sayapnya semaunya hingga mampu membawa mereka menembus lapis demi lapis langit.
Aku hanya tau satu rahasia dari banyak rahasia yang tersimpan di balik birunya langit itu, bahwa Dia yang berada di balik keindahan langit biru adalah rahasia terindah. Lebih dari sekedar terindah.
“KAU terindah dan selalu terindah. Harus bagaimana ku mengungkapkannya. KAU Pemilik hatiku..”
Di bawah Langit- Nya, 27 Mei 2011
Assyifa

Rabu, 18 Mei 2011




muslim baby



seneng liat bayi nangis, ekspresinya dapet. hehe

Meracik kebahagiaan dalam lukisan kata


Assyifa, bukanlah sebuah nama yang diabadikan dalam akte lahirku. Bukan pula nama yang dihadiahkan ayah dan ibuku untuk putri pertama mereka. Bukan.
Aku, seorang gadis kecil yang lemah dan pemalu. Dan semua itu terekam di balik dinding Taman kanak-kanak (TK), bernama TK Assyifa.
Ya, Assyifa adalah nama almamater TK tempatku melawan rasa takut. Takut akan keramaian, takut pada orang banyak, takut pada rasa lemahku, takut pada diriku sendiri, takut pada rasa yang kuciptakan sendiri. Aku suka berimajinasi, dan aku takut keramaian, orang banyak, rasa lemahku dan rasa takutku mengambilku dari dunia imajinasiku. Tanyakan pada Assyifa, ia tau banyak tentangku. Sayangnya, ia tak lagi mampu kujumpai. Terakhir kali aku mencarinya, ia sudah tak lagi berdiri tegak di tempatnya. Ia sudah tergantikan. Tapi ia masih berdiri tegap di hatiku, ku abadikan ia di sebuah ruang di hatiku. Dan kini ia menjelma menjadi seorang pelukis kata. Meskipun lukisan kata nya tak bisa disebut lukisan yang indah.
Setiap nama adalah doa dan harapan. Asysyifa bisa diartikan penyembuh, obat. Aku ingin setiap kata yang kulukis bisa menjadi obat untuk kegelisahan, obat untuk kesedihan, obat untuk kekecewaan, obat untuk ketakutan,obat untuk kerinduan. Aku memang bukan seorang dokter yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, tapi aku ingin membuat senyum di wajah yang menyimpan sedih dan sakit. Dan obat yang kumiliki bukan butiran-butiran pil yang menyeramkan. Aku hanya punya lukisan kata, yang ingin kubagi dalam warna bahagia, tawa, semangat, keceriaan untuk wajah yang membutuhkannya.
Tenanglah, aku takkan menyaingi dokter dan tukang obat. Karena aku dan mereka tentu berbeda. Jika dokter bisa membuat orang yang sakit menjadi ketakutan melalui diagnosisnya yang ia tulis di atas kertas resep. Aku ingin membuat senyum untuk mereka melalui lukisan kataku di atas kertas. Jika tukang obat bisa membuat harapan dan kebahagiaan melalui obat yang ia racik. Aku ingin meracik kebahagiaan untuk mereka dalam butiran-butiran huruf yang berkumpul dalam lukisan kata.
Karena setiap kalimat yang kita baca mampu menyihir ruang fikir kita. Jika kita membaca sesuatu yang menakutkan maka akan menciptakan ketakutan dalam ruang fikir kita, dan membuat mata akan terpejam, tangan dan kaki melemah, jantung berdetak kencang dikuasai ketakutan. Begitupun dengan hati, jika kalimat yang dibaca mampu menyentuh hati dan mewarnai hati dengan celupan warna Illahi, maka akan mempengaruhi organ tubuh yang lainnya dan setiap aktivitas dikuasai oleh cinta pada Nya. Seperti kata Rasulullah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging bernama hati, jika daging itu baik maka baiklah seluruh anggota tubuh lainnya. Maka kalimat positif yang ingin ku goreskan dalam lukisanku. Tapi untuk meluluhkan hati orang lain tidaklah muda, aku harus mampu meluluhkan hatiku terlebih dulu. Dan untuk meluluhkan hatiku, opick telah menjawabnya dalam lagunya, obat hati. Wallahu’alam bishowab
Di bawah Langit-Nya, 13 mei 2011
Assyifa

Selasa, 05 April 2011

Nantikan kami di ujung jalan

“Wahai Dzat yang lebih benderang dari bulan, sampaikan pada bulan agar mau menerangi jalan adikku menuju ridho Mu. Sehingga ia takkan lagi berminat untuk menoleh ke belakang, ke jalan gelap yang telah membuatku kehilangan dia. Sungguh, aku tak ingin lagi melihatnya kembali menoleh ke masa lalunya”.

Selamat datang di taman perjuangan, adikku... di bawah nauangan cahaya ilmu...

Aku tau kau bukan lagi adik kecilku. Kau sudah dewasa, dan semoga kau pun cukup dewasa untuk memilih mana yang benar dan salah. Mungkin itu juga yang membuat ayah enggan lagi memanggilmu “dede”.

“Kemana jagoan ayah?”. Hampir setiap pulang kerja apabila ayah tak menemukanmu, pertanyaan itu di lontarkan ayah sembari mengusap kepalaku. Belakangan aku tau kebiasaan ayah itu ternyata tak sekedar kebiasaan seorang ayah pada anak perempuanya. Itu adalah bentuk rasa sayang dan cinta beliau pada kita. Ayah memang tak pernah mengusap kepalamu seperti ia mengusap kepalaku setiap kali pulang kerja. Karena Ayah hendak mengajarkan pada kita, bahwa wanita itu harus dijaga dan disayangi dengan kelembutan. Ayah juga mengajarimu bagaimana menjadi dewasa. setiap kali ia mengajakmu bicara, ia selalu menganggapmu seorang laki-laki dewasa bukan lagi anak laki-laki bungsunya, “kalau tidak mau terjatuh, kita harus lihat ke bawah jangan terus melihat ke atas”. Taukah kau adikku. Ada pelajaran dibalik kalimat itu. Ayah ingin mengajari kita, bahwa hidup itu tidak boleh sombong. Harus rendah hati. Kita juga tidak akan pernah bersyukur dan cenderung mudah dipermainkan hawa nafsu jika kita terus melihat orang-orang yang lebih tinggi dari kita. tapi kita harus sering melihat ke bawah dimana masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dari kita agar kita bisa bersyukur dan peduli pada kesulitan orang. kau tau kenapa ayah suka sekali melantunkan surat Al Insyirah di setiap ia meng-imami kita dalam shalat. Karena ada ayat yang ia ingin kita selalu mengingatnya, “ setelah kesulitan pasti ada kemudahan”. Aku selalu mengingatnya, ayah. Dan dengan itu, aku akan siap kembali bangkit setiap kali terjatuh.

Aku hampir sulit menemukan ayah menangis. Aku hanya mendapatkanya pada tiga waktu. Ketika aki meninggal, ketika adik kesayangannya terkulai sakit di Jakarta, dan ketika kau harus merasakan dinginnya rumah sakit di jogja seorang diri. Aku tau dimana kelemahannya. Ia akan menangis ketika orang yang ia sayangi sakit dan membutuhkannya, sedang ia tak berada disampingnya.

Aku selalu ingat diskusi-diskusi panjang kita dengan ayah. Kita asyik membicarakan apa saja yang kita suka; politik, agama, dan kehidupan. Begitu juga dengan khayalan kita bertiga. Dimana kau menjadi presiden negeri ini, aku menjadi menteri pendidikannya dan ayah lebih memilih menjadi penasehat spiritual kita. Kalau sudah begitu, ibu hanya menjadi pendengar setia dan kemudian tertidur pulas. Seakan-akan diskusi kita adalah dongeng pengantar tidurnya. Kita tak hanya kompak dalam diskusi, kita bertiga juga kompak dalam hal menggoda ibu. Saat-saat seperti itulah yang selalu aku nantikan, karena Ayah dan ibu bekerja setiap hari maka saat dimana kita berkumpul adalh saat dimana aku memutar diri menjadi anak manja.

Dan suatu hari nanti, cepat atau lambat aku pasti akan merindukan saat-saat itu..

Sejak kecil, kita sudah diajarkan mandiri oleh ayah dan ibu. Kita terbiasa ditinggal kerja keduanya dari pagi hingga petang. Ayah dan ibu ingin agar aku bisa belajar menjadi seorang kakak yang baik untukmu, karena ketika ayah dan ibu tidak di rumah kau adalah tanggungjawabku, tugasku untuk menjagamu. Dan sampai saat ini pun aku masih merasa kau adalah tanggungjwabku. Aku ingin menjaga langkahmu, agar kau tak lagi salah langkah.

Adikku, aku tau ada gurat kegelisahan pada wajah ayah dan terutama ibu melihat kita hari ini. Melihat bekas-bekas lelah di wajah kita dalam mengarungi jalan yang panjang ini, jalan yang berat untuk dilalui. Terlebih jalanmu masih sangat panjang, adikku. Kau akan menemukan petir dan halilintar di jalan ini. Tapi yakinlah, di ujung jalan ini kau dan aku bisa menghadiahkan langit surga untuk ayah dan ibu..

Di bawah langitNya, 4 April 2011

With love,

Assyifa

Rabu, 16 Maret 2011

Dibawah LangitMu - Opick

Galeri Lukisan wajah Sang Maha Indah


Gumpalan kepenatan menggumpal dan bergumpal bersarang di seisi kepala. Ingin rasanya membuangnya ke lautan lepas. Membiarkannya menari bersama tarian ombak hingga terdampar ke pulau tak bertuan atau melemparkannya sebagai makanan ikan.
Dan sore yang dinanti pun datang. Disambut birunya langit yang membias biru dengan air laut. Pesonanya menentramkan hati. Meski ia tak sebanding dengan pesona pantai pulau dewata. Tapi cukup mengobati rinduku pada ketenangan.
Menyusuri jalan setapak di tepi laut. Diiringi empat pasang kaki pejalan tangguh (begitu mereka menyebutnya), aku berkawan akrab dengan bebatuan. Menikmati kelincahan tarian ombak dan nyanyian angin. Tentram rasanya. Tak banyak wajah yang kami temui disini. Membuat kami bebas berekspresi. Untuk kedua kalinya Bersenandung lagu yang baru saja kami nyanyikan untuk mengiringi suapan sekotak tiramisu di hari lahir seseorang. Sebuah lagu yang sama dengan senandung penyemangat aksi di jalan. Bingkai kehidupan. Entahlah mungkin hanya ikan-ikan yang mendengar senandung merdu kami. Atau bahkan mungkin diam-diam mereka ikut bersenandung merdu bersama kami.
Aku benar-benar telah dibuat jatuh cinta pada wajah alam. Pada langit biru, pada keanggunan bias warna lautan, dan syahdunya kehijauan di kaki gunung. Benar-benar wajah alam yang indah. Menginspirasiku untuk melukiskan wajah Sang Penciptanya yang pasti jauh lebih dari sekedar indah. Tentu saja bukan lukisan dalam semburat warna kuas di atas kanvas. Tapi lukisan dalam kata oleh goresan pena. Dan menyimpan lukisan itu dalam galeri hatiku. Agar suatu saat ketika aku dipertemukan dengan wajah Sang Maha Indah, aku bisa membuka kembali lukisan itu dan meyakini kekeliruanku. Keliru bahwa sebenarnya wajah-Nya jauh lebih indah dari lukisan-lukisan dalam galeri hatiku. Bahkan keindahan-Nya tak mampu terlukiskan lewat kata maupun semburat cat lukis.
Di bawah langit-Nya, 14 maret 2011
-Assyifa-

Sabtu, 12 Februari 2011

Jihad Mawar (di taman yang terlupakan)


Dari sudut lain kota wali kisah ini dimulai. Bermula dari sebuah taman yang tak kunjung menjadi sorotan penduduk kota ini. Taman yang terlupakan. Meski ia tak seindah dulu, tapi setiap sudutnya menyimpan pesona masa lalu. Ia masih berdiri diantara hiruk pikuk kota semi metropolis ini. Tapi berdiri diantara kekokohan batu-batu ini membuatku sedikit tenang. Ketenangannya mampu melayangkan beban-beban pikiranku sejenak.



Siang itu, aku melingkar bersama delapan mawar di pendopo tua taman ini. Merenungi dua masa perjalanan kami di taman perjuangan yang telah menyatukan kami. Taman perjuangan, taman lain yang jauh lebih indah dari taman ini. Tapi keduanya bernasib sama. Keindahan keduanya seringkali terlupakan karena di luar sana banyak keindahan-keindahan semu yang lebih menarik hati.



Aku dan delapan mawarku yang tengah bersemi ini masih menikmati belaian lembut angin dan kesunyian yang meneduhkan hati. Membuat kami larut dalam dunia kami. Tapi kami cukup sadar ketika seorang wanita cantik berkulit putih dengan balutan pakaian yang “seadanya” dan pria berperawakan asing disampingnya memberanikan diri menyapa. Sedikit berbasa-basi. Selayaknya orang Indonesia yang “katanya” terkenal akan keramahannya, kami balas sapa dan senyum mereka dengan penuh keramahan. Masih dengan keramahan dan kepolosan ketika pinta mereka berfoto bersama kami penuhi. Dan masih dengan wajah ramah dan polos membalas sapa mereka sebelum ketiganya berlalu dari kami. Dan kami kembali larut memasuki dunia kami. Kembali pada taman perjuangan. Hari itu selesai menciptakan semangat yang tercipta bersama untaian ukhuwah.



Dan sehari di taman yang terlupakan itu kini meninggalkan jejak yang tak kami buat dengan sadar. Jejak yang bisa menghapus jejak-jejak kebaikan yang kami dan saudara-saudara kami buat dengan susah dan payah. Nila setitik rusak susu sebelanga. Pepatah itu begitu nyaring di telinga dan menari lincah di alam bawah sadar. Seekor harimau ganas siap berdiri menghadang di tengah perjalanan ini. Cukup membuat kami geram untuk melawannya. Karena ia tak kami duga kehadirannya. Terlebih karena ia hadir dari jejak yang dulu tercipta dari keramahan sebuah taman yang terlupakan. Belum cukup seekor harimau yang masih belum nampak. Jauh di belahan bumi lainnya, seekor singa yang berlipat kali ganasnya menanti perjalanan kami. Tapaknya telah lama menjejak bahkan mungkin tapaknya setia berada di balik bayang-bayang langkah yang tak disadari. Entah apa yang membuat kedua hewan symbol keganasan ini bernafsu menyantap kami. Setidaknya kami tau keduanya berada dalam satu komando.



Aku diingatkan pada lembaran kisah perjalanan Rasulullah ketika beliau dihina bahkan di tuduh orang gila. Bukan sebuah perjalanan yang nyaman tapi indah dinikmati dalam keimanan. Begitupun jalan yang kami tempuh, ia tak senyaman perjalanan ke bali ataupun kualalumpur. Tapi setelah jalan ini akan ada jalan yang berujung pada keindahan yang tak berujung. Berujung pada Sang Maha Indah. Kiranya ini yang membuat kami kuat dan siap atas berbagai keganasan di luar sana yang memiliki banyak langkah untuk menghapus dan menghancurkan langkah-langkah yang ditapaki Rasulullah untuk sebuah kejayaan Islam. Dan kami yang berusaha meneruskan perjuangannya adalah mangsa empuk bagi makhluk-makhluk ganas di luar sana.



Untukmu wahai kekasih Allah, kami melebur bersama jiwa yang dikuasai rindu padamu..



* Suratan Tuhan kita disini, menapaki cerita bersama. Kisah ini kan menjadi oleh-oleh untuk anak cucu kita nanti, ukhti. biarkan mereka tau bahwa pernah ada kisah diantara kita di taman yang terlupakan untuk Sang Maha Indah di penghujung indahnya taman perjuangan. (Assyifa)

Kamis, 27 Januari 2011

Ikatlah Budaya Mengikat ilmu

“Maaf, saya tidak bisa menulis”
Mungkin kita pernah atau bahkan sering sekali menemukan jawaban seperti ini ketika kita meminta seseorang untuk menulis. Bukankah menulis telah menjadi makanan sehari-hari semenjak kita resmi mengenakan seragam merah putih. Kali ini konteksnya berbeda, menulis bukanlah menyalin atau tepatnya memindahkan tulisan guru di papan tulis ke buku catatan, apalagi memindahkan jawaban teman ke lembar jawaban milik sendiri saat ujian. Tentu bukanlah menulis seperti itu yang di maksud. Meskipun pada kenyataannya, menulis telah mengalami penyempitan makna.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, menulis berarti (1) membuat huruf, angka, dsb; (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang dan membuat surat) dengan tulisan; mengarang cerita;
Berdasarkan makna diatas, menulis bisa dimaknai sebagai kemampuan atau ketrampilan seseorang dalam mengemukakan gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan dengan media tulisan. Sepertinya, kata ketrampilan di atas perlu di garis bawahi sehingga menulis akan menjadi sama seperti ketrampilan lainnya; berenang, menyanyi,dll dimana dibutuhkan latihan untuk dapat melakukannya dengan baik. Begitu juga, menulis. Sebuah pemahaman yang salah jika orang enggan menulis dikarenakan menulis bukanlah bakatnya. Menurut Marion Zimmer bradley – seorang penulis terkenal- menerangkan bahwa sembilan puluh persen kesuksesan menulis adalah berasal dari kerja kerasnya, sedangkan bakat dan inspirasi hanya memiliki andil sepuluh persen. Maka dapat disimpulkan bahwa kita hanya perlu membiasakan diri dengan budaya menulis.
Budaya menulis adalah salah satu budaya intelektual yang seharusnya akrab dengan kehidupan mahasiswa yang seringkali disebut sebagai kaum intelektual. Kiranya miris sekali jika untuk menyelesaikan tugas makalah bahkan skripsi sekalipun, banyak dari mahasiswa kita hari ini yang menyelesaikannya dengan sangat instan (red: copy paste karya orang lain). Seakan-akan tugas menulis adalah beban berat yang membebani pundak. Mahasiswa kita hari ini telah jauh terbuai pada gemerlap budaya nir-intelektualnya. Ternyata penyakit ini juga dialami oleh para guru dan dosen. Padahal di Amerika, menulis dan membuat sebuah karya tulis adalah kegiatan sehari-hari para guru dan dosen. Bagaimana dengan para guru dan dosen kita?. Entahlah mungkin beliau tak punya banyak waktu untuk membagikan ilmu yang dikuasainya melalui tulisan.
Sepertinya stigma berat tentang kegiatan menulis ini tak hanya menjangkiti kalangan mahasiswa dan dosen yang menyebutkan dirinya sebagai kaum intelektual tetapi memang sebagian masyarakat kita menganggapnya demikian. Hal tersebut dapat dibuktikan oleh data milik UNESCO bahwa Jepang, mampu menerbitkan 60.000 judul buku per tahunnya. Sedangkan Indonesia dengan jumlah yang penduduknya yang jauh lebih banyak hanya menerbitkan 2000 buku per tahunnya. Berdasarkan data tersebut dapat kita ketahui bahwa minat menulis juga membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah.
Menulis dan membaca memang sepasang kegiatan yang tak bisa dipisahkan. Untuk dapat menulis, kita dituntut untuk banyak membaca. Karena membaca adalah proses mengolah informasi menjadi pengetahuan dan intelektual sehingga pengetahuan kita semakin bertambah, dan semakin bertambah pula ilmu yang dapat dibagikan melalui tulisan. Ilmu itu seperti buruan maka ikatlah dengan menuliskannya. sekiranya itulah pesan yang disampaikan Imam Syafi’i, bahwa ilmu haruslah ditulis untuk menjaganya. Bukankah ketika lidah lebih buas melemparkan kata-kata, ada tangan yang siap menggerakan kata-kata melaui goresan pena. Tak perlu menantikan gelar besar di ujung nama untuk menghasilkan sebuah karya besar. Karena kita takkan pernah tahu apakah usia kita akan sampai pada saat dimana gelar tersebut bersanding dengan nama kita. Sedangkan amal yang takkan pernah putus ketika jiwa tak lagi membersamai raga salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Tulisan yang kita buat takkan pula mati ketika kita tak lagi hidup di dunia ini. Ia akan jadi amal yang mengalir untuk setiap kebaikannya.
Maka menulis dan membaca sudah sepantasnya menjadi sebuah kebutuhan bukan lagi kewajiban apalagi beban yang berat. Jadi, selamat berkarya!!. Berikanlah harapan pada negeri ini bahwa calon pemimpinnya mampu mempersembahkan karya untuk masa depan bangsanya. ( Assyifa )

Tepat 45 menit di sudut angkot (judul yang aneh?!)

Aku menyudutkan diri di sudut belakang mobil angkutan umum ini. Sengaja posisi ini aku ambil agar tak ada yang menggangguku menikmati pemandangan di luar kaca jendela. Lagipula orang seisi mobil sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Tanpa ada suara. Hening. Hanya deruman mobil tua ini yang terdengar. Ada yang sibuk memperhatikan jalan, ada yang sibuk dengan layar hape nya, tak sedikit yang melemparkan pandangan tak berarah seperti halnya aku. Sebenarnya kata yang lebih tepatnya adalah melamun. Bemain-main dalam ruang fikirku yang dilintasi banyak pikiran yang membuatku sedikit penat. Untuk menghilangkan penat, sengaja aku naik mobil angkutan yang rutenya lumayan jauh untuk sampai di rumahku. Aku ingin sesekali menikmati sore melintasi keramaian kota wali-ku ini. Ah, kota wali. Entahlah nama itu sedikit aneh didengar dengan apa yang kulihat di balik jendela mobil ini. Kota ini sedikit lebih mirip dengan ibukota yang hiruk pikuk itu. Lihat saja, sudah berapa banyak pusat perbelanjaan yang kulewati. Sudah ada delapan buah pusat perbelanjaan dan kesemuanya ramai pengunjung. Dan itu belum cukup, masih ada beberapa pusat perbelanjaan lainnya yang tak terlewati oleh rute angkot ini. Luar biasa, masyarakat kita ini ternyata punya banyak uang untuk meramaikan pusat-pusat perbelanjaan yang tak pernah terlihat sepi di satiap harinya. Dari sudut jendela, aku sempat beberapa kali melihat beberapa pakaian yang tergantung di etalase toko. Dan hal ini menarik perhatianku. Bukan tertarik untuk memilikinya tapi menarik perhatianku untuk kembali bertanya-tanya. Hampir semua model pakaiannya lebih cocok untuk dipakai adik-adik kecilku. Tapi manequinne yang memakainya terlihat bukan manequinne anak-anak. Yang lebih mengejutkan beberapa jarak dari toko itu, kulihat lagi manequinne dengan pakaian mini tadi. Kali ini mannequinne nya berjalan rapat dengan seorang pria. Rapat sekali, seakan-akan jalan begitu sempitnya untuk dilewati. Padahal jika ku boleh memperkirakan, jalan trotoar itu bisa dilewati oleh empat orang. Entahlah mungkin dunia begitu sempit untuk mereka yang sedang jatuh cintanya.
Tiiiinnnnn.....tiinnnnn.... lagi-lagi bunyi klakson mobil itu mengagetkanku. Tapi cukup membuatku tersadar bahwa saat ini aku sedang terjebak macet. Padahal menurutku, jalan protocol ini sudah cukup lebar. tapi mengapa masih saja terjadi macet. Jika boleh menebak, mungkin karena jumlah kendaraan pribadi yang semakin bertambah. Baik motor maupun mobil yang jumlahnya semakin bertambah saja tiap tahunnya. Sekali lagi, masyarakat kita ini sudah cukup sejahtera rupanya dengan mampu membeli kendaraan pribadi lebih dari satu unit. Apakah kota kecil ini harus punya beberapa unit busway juga untuk mengatasi kemacetan?. Dan ini yang tidak kusukai, polusi dimana-mana. Padahal bumi kita ini sudah banyak keluhan karena global warming. Aku jadi ingat tayangan di televisi yang menggambarkan keramain jalan-jalan di pusat kota Jepang yang diramaikan oleh orang-orang yang berjalan kaki dan beberapa asyik dengan mengayuh sepedanya. Bukan berarti tak ada kendaraan umum, tapi kendaraan umum menjadi pilihan utama berpergian daripada menggunakan kendaraan pribadi. Tentu saja menjadi pilihan utama, karena fasilitasnya yang berkualitas. Jadwal keberangkatan yang tepat waktu, kondisi dalam kendaraan yang bersih dan nyaman membuat mereka lebih memilih kendaraan ini daripada harus capek-capek mengendarai sendiri kendaraan mereka. Dengan begitu mereka akan dengan santainya tertidur pulas dalam kendaraan. Ups, tidak. Mereka tidak memilih tidur dalam kendaraan, mereka lebih memilih membaca. Luar biasa, hal yang sangat jarang kutemui di negeri tercintaku ini. Disini, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur atau yang jauh lebih baiknya mengobrol dan kebanyakan melamun, seperti aku ini sekarang. Ah, lagi-lagi negeri sakura itu yang melintas di ruang fikirku. Semakin membuatku ingin berdiri di bawah birunya langit negeri sakura itu. tapi bukan berarti aku seorang pengkhianat atau bahkan penjajah karena mendambakan negeri sakura itu. aku tetap mencintai negeriku, negeri yang sudah susah payah diperjuangkan bung hatta, dan kawan-kawannya. Aku ingin mencuri ilmu dari negeri sakura yang pernah mencuri kekayaan negeriku dulu. (Hehe...) .
Ya Allah, aku tak sadar sedang tersenyum-senyum sendiri. Tak sadar juga bahwa dari balik spion mobil ada sepasang mata yang memperhatikanku. Tak perlu ge-er karena itu sepasang mata milik pak supir yang sedari tadi memperhatikanku dengan tatapan kesal dan curiga. Tatapannya memberiku isyarat tentang pertanyaan yang mungkin dari tadi menganggu konsentrasi mengemudinya.
“sebenarnya mau kemana sich ni anak naik dari kampus, sampe sekarang mau balik lagi ke kampus kok belum turun-turun juga. Dia pikir ini bus pariwisata??bayar Cuma seribu lima ratus juga.” Kira-kira begitu bunyi tatapannya.
Tebakanku itu cukup membuatku malu juga. Ah, kuniatkan dua perempatan lagi aku akan turun. Andai saja bapak itu tau kalau sebenarnya jarak dari kampus ke rumahku bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Maaf ya pak, nanti akan aku lebihkan seribu lagi ongkosnya.
Aduh tak baik juga lama-lama memperhatikan tatapan mencurigakan pak supir, aku kan harus ghadwul bashar. Apalagi kalo istrinya tau, bisa disemprotnya aku. Tenang saja bu, jangan curiga dulu. sudah ada nama yang mengisi hatiku kok. (eits, namanya siapa?? Wah bisa-bisa di sidang kaderisasi nech. Jd kaderisasi nyidang kaderisasi dong. Tenang aja, baru nama Allah yg boleh menetap di hatiku selain nama RasulNya, kedua orangtuaku, dan adikku. Nama lainnya masih menanti. Aduh salah lagi).
Sudahlah daripada imajinasiku semakin tak jelas seperti sinetron-sinetron di televisi, lebih baik aku siapkan lima logam koin untuk ongkos (maklum mahasiswa, uang koin juga masih untung daripada tidak ada uang sama sekali). Ooopss.. tiba-tiba telingaku mendengar suara gemerincing koin yang jatuh ke lantai mobil. Kupikir itu punyaku, langsung saja bola mataku menuruti instruksi dari telingaku untuk segera mencari larinya suara koin tadi. Ternyata ia tepat di samping sepatuku. Ku pungut koin itu, tapi ada yang aneh. Perasaan koinku warnanya perak, kenapa jadi kuning?. Belum selesai menjawab pertanyaanku sendiri, aku dikejutkan suara bening dari samping kananku.
“teh, itu punya aku”. Pinta seorang anak kecil yang pipinya nyaris sama dengan bakpau.
“ooh, punya ade toh?maaf ya, ini koinnya”. Ujarku sembari menyodorkan koinnya. Yang kemudian di sambut senyum polosnya dan diakhiri ucapan terimakasih.
Tak lama kemudian ia berteriak lantang, “kiliiii pakkk….stopp”. begitu mobil berhenti ia langsung turun dengan tak lupa menggendong tas ranselnya yang besarnya hampir sepadan dengan tubuhnya. Aarghh dia lebih baik, tasnya sesuai dengan orangnya. Sedangkan aku, tasku jauh lebih besar. tidak seimbang dengan tubuhku yang kecil.
Sayang sekali, ia bergegas turun padahal baru saja aku mau memulai percakapan dengannya, syukur-syukur bisa sedikit saja mencubit pipinya. Uh, aku memang tak bisa melihat anak kecil yang pipinya chubby, rasanya ingin mencubit saja. Dari beberapa penumpang di mobil itu hanya dia saja yang wajahnya enak di lihat, bukan karena pipi chubby nya tapi karena hampir semua penumpang wajahnya dingin melihatku dengan penampilan seperti ini. Jilbab besar dengan tas ransel yang juga besar, huft mungkin pikir mereka aku ini teroris yang membawa bom. Tapi aku berharap anak kecil tadi turun memang karena tempat tujuannya sudah sampai, bukan kerena ketakutan melihatku kemudia ia bergegas turun. Sejenak terdiam, aku tersadar bocah tadi turun sendiri, aku hampir tak ingat dimana dia naik tadi dan dengan siapa, ini gara-gara aku terlalu asyik dengan bayangan negeri sakura-ku. Tapi seingatku, dia memang naik sendiri dan turun sendiri tanpa ditemani siapa-siapa. heum, bocah sekecil dan selucu itu berani berpergian seorang diri. Tidak takutkah dia diculik orang seperti aku ini, yang gemes melihat anak kecil selucu dia. Tidak. Maksudku, kemana orangtua nya hingga membiarkan anaknya pergi sendirian. Aku ingat, ini kali kedua aku berpapasan dengan seorang anak kecil yang pergi sendirian. Beberapa waktu yang lalu, seorang anak kecil masih dengan seragam merah-putihnya tepat duduk di hadapanku dalam sebuah angkutan umum. Tangannya menggenggam erat buku bersampul merah, yang kuduga adalah raportnya. Karena hari itu, hari pembagian raport. Wajahnya sesekali tak bisa menahan senyum. Pasti isi raport bersampul merah itu yang membuatnya sumringah. Yang pasti isinya tak berwarna merah seperti sampulnya, karena ia tak bisa menyembunyikan wajah ceria nya. Mungkin ia sudah tak sabar menunjukan raportnya ke kedua orangtuanya di rumah. Karena setauku, dia naik angkot seorang diri. Dengan semangat, ia berteriak hendak turun. Begitu kaki nya menginjak aspal jalan, ia segera berlari dengan penuh semangat menyusuri lorong sempit menuju rumahnya. Semua penumpang di dalam mobil dibuatnya terkesima. Seorang ibu berujar “ hebat, anak sekecil itu sudah berani naik angkot sendirian”.
Ah, jadi ingat ibuku. Dulu ketika aku kecil, aku tak pernah bisa lepas dari ibu. ketika masih di bangku TK, ibu tak pernah absent untuk berdiri di sampingku baik di luar maupun di dalam kelas sekalipun. Bahkan ketika jam istirahat semua anak-anak bermain dengan teman-temanya, aku asyik berlindung di balik punggung ibu. Ajakan teman-teman bermain tak sedikitpun membuatku tergoda. Biar saja aku disebutnya anak mama, aku memang bukan anak mama kok, tapi aku anak ibu (hehe sama aja). Sampai SD pun aku tetap seperti itu, tapi kali ini aku mulai terpaksa menerima ditinggal ibu ketika jam belajar dan istirahat. Ibu hanya mengantar sampai gerbang sekolah dan menjemputku sepulang sekolah. Ibu memang tak pernah berhenti menjagaku karena selain fisikku memang lemah, aku adalah wasiat yang ditinggalkan mbah putriku sebelum wafat. Kata ibu, mbah putri minta ibu buat menjagaku. Aku tak tau apa alasan mbah putri, kenapa dari sekian banyak cucu-cucunya hanya namaku yang disebut diakhir nafasnya. Karena itu, aku tak pernah diijinkan ibu untuk pergi seorang diri. terlebih naik kendaraan umum sendiri apalgi aku mudah sekali mengantuk dan tertidur ketika naik mobil. Ibu takut, aku tak sadar diculik orang karena terlelap seorang diri di mobil. Biar begini-begini aku kan anak perempuan ibu yang paling cantik (Karena memang ayah ibu hanya punya 1 anak laki-laki dan satu anak perempuan,hehe). Jika ingat masa kecil dan melihat aku yang sekarang seperti tak percaya. Aku yang pemalu, yang dalam sehari hanya mau mengeluarkan sedikit kalimat, aku yang cenderung menangis ketika berhadapan dengan orang banyak. Sekarang, aku sudah berani bicara di depan orang banyak, ibu. Apalagi aku akan menjadi guru, bagaimana jadinya jika gurunya menangis ketika masuk kelas karena berhadapan dengan banyak orang. Dan dakwah memiliki andil di dalamnya. Selain karena didikan ibu dan ayah yang berusaha mengajariku untuk mandiri setelah kami hidup nomaden (berpindah-pindah). Juga karena dakwah aku berubah, ketika SMA ku mulai tergerak ikut organisasi remaja masjid. Dan masjid kecil sekolahku itulah saksi bisu perubahanku begitu juga masjid kecil di bawah cahaya ilmu di kampusku. Ternyata benar kata orang, cinta bisa merubah segalanya. Dan cintaku pada jalan yang kupilih ini yang telah membuatku berubah menjadi lebih baik. Aku bersyukur bisa mengenal dan berada dalam jalan ini, terimakasih Allahku atas karuniaMu ini..
Ngomomg-ngomong soal jalan, aku sudah sampai di jalan mana ini. Ya Rabb, perempatan yang kutuju sudah terlewat. Aku harus berhenti disini. Aku bergegas berteriak untuk turun. Sepertinya air muka pak supir berubah ceria ketika mendengar suaraku. Terlebih ketika ku lebihkan ongkosnya, kali ini ia malah melempar senyum. Hehe.. terimakasih ya pak atas perjalanannya. Perjalanannya membuatku men-tafakuri kehidupan ini. semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa kuambil selama perjalanan tepat 45 menit ini. Semoga Allah menambahkan rizki bapak ya.
-Assyifa-

Selasa, 18 Januari 2011

Bidadari Negeri Sakura

Sebiru ukhuwah ini


Sebiru ukhuwah ini ukhti,
Menghiasi manisnya perjalanan di taman perjuangan ini
Di bawah naungan cahaya ilmu ku menemukanmu
Melangkah bersama menyusuri taman perjuangan
Di tengah perjalanan, ku temui indahnya jalan ini
Meski terkadang tak sedikit juga petir bahkan halilintar membayang-bayangi birunya langit yang sejenak menghentikan langkah kita
Melemahkan langkahku bahkan langkahku pun sempat terhenti
Tapi kau terus berjalan tak seorang diri
Menuntunku untuk berjalan seiringan denganmu
Meyakinkanku bahwa langit akan kembali indah dengan pesona birunya setelah petir dan halilintar menggelegar
Kau benar, Allah punya rencana yang indah untuk kita
Dan kali ini rencana indahNya menghampirimu terlebih dulu
Menantikanmu di taman lain yang akan menjadi taman surga untukmu
Aku tau kau takkan menghentikan langkahmu meski jejak langkahmu kini tertinggal di taman perjuangan ini
Langkah itu kan semakin tegap bersama cahaya yang kau nantikan di taman surgamu sendiri
Dan aku, aku akan tetap tegap melanjutkan langkahku disini
Meski kuawali berat melangkah tanpamu
Tapi perjuangan tak memintaku untuk menanti apalagi terhenti
Ada ikatan yang tak pernah putus meski jarak dan waktu terbentang
Dan ikatan itu terbentang panjang sampai kita dipertemukan kembali di menara di atas birunya langit ke tujuh

>>Untuk seorang ukhti yang akan hijrah ke hiruk pikuk ibukota. Syukron atas ukhuwahnya selama ini. Syukron sudah mau mendengar keluh kesahku. Syukron untuk segalanya,teh…..
-Assyifa-