Selasa, 08 November 2011

Aku ingin langit tetap biru bersama hujan


Aku ingin menari bersama hujan. Tapi aku tak ingin langit menjadi kelam karena hujan datang. Aku ingin langit tetap biru bersama hujan. Aku ingin bernyanyi diiringi gemericik air. Tapi aku tak ingin langit menggelegar bersama gemuruh petir. Aku ingin langit tetap biru bersama hujan. Aku ingin melayang bersama riak-riak air. Tapi aku tak ingin langit menjadi panggung pertunjukan kilatan halilintar. Aku ingin langit tetap biru bersama hujan.
Aku ingin terbang bersama sapuan lembut angin hingga terjatuh di pelangi. Menikmati hujan di atas pijakan pelangi. Dan bersandar pada pelangi untuk menyapa birunya langit dari dekat. Melompat dari satu awan ke awan lain hingga sampai tepat diatas guguran sakura. Mengantarkan hujan menyemai sakura. Dan membawa sakura di sandaran pelangi. Menikmati hujan bersama sakura di atas pijakan pelangi dan menaburkan sakura di birunya langit.
Berharap Engkau yang berada di balik rahasia birunya langit tersenyum melihat tingkahku yang konyol. Tak apa, asal Engkau tak memalingkan wajahMu dariku. Karena aku terlalu takut bahkan untuk sekedar membayangkannya.



Di bawah langitNya, 30 oktober 2011

Assyifa,

Benderang lilin di birunya langit


Satu per satu lilin harapanku mulai benderang. Meski bukan aku yang memantik cahayanya. Namun dua diantara lilin-lilin harapanku mungkin takkan pernah menyala. Bukan karena aku tak punya api untuk memantik cahayanya. Aku punya. Dan bukan karena aku tak tau caranya. Aku tau. Tapi aku sendiri yang telah merusak sumbunya. Dan api untuk dua lilin itu akan aku simpan dan ku berikan pada lilin harapan milik ia yang telah memantikkan cahaya untuk satu per satu lilin-lilin harapanku. Dan akan aku tempatkan disamping dua lilinku yang telah kehilangan sumbunya. Agar tetap benderang sekalipun ia telah kehilangan harapan untuk benderang. Untuk bersama-sama benderang menerangi gelap di sekitarnya. Meski mereka takkan sebenderang mentari yang menerangi biru langit.


Di bawah langitNya, 30 oktober 2011

Assyifa

Kau lebih dari sekedar sahabat

Aku ingin kau lebih dari sekedar sahabatku. Dan aku tak ingin menyebut hubungan kita ini adalah hubungan persahabatan. Aku lebih suka menyebutnya, persaudaraan. Berawal dari satu pertanyaan sederhana di teras masjid. “apa hikmah yang didapat dari kebersamaan kita selama 4 tahun lebih ini?”. Dan itu jadi PR untukku menemukan hikmah dari kisah kita. Karena aku percaya bahwa setiap kisah pasti ada hikmahnya. Begitu juga dengan kisah kita.

Dari seorang Hawa, aku belajar tentang arti keteguhan, optimisme totalitas dan semangat dalam berjuang. kau wanita yang tangguh, ukhti. Ada kebersamaan-kebersamaan yang kita lewati berdua. Ada beberapa kisah dan hal yang kita simpan sendiri. terimakasih telah mempercayaiku dan terimakasih telah mau mendengarkan kisahku. Dan kita masih punya satu proyek penelitian yang kita bicarakan minggu malam, kita sudah punya gambaran rumusan masalah dan hipotesisnya tinggal mengumpulkan data dan menganalisisnya. Tapi penelitianmu yang sesungguhnya tetap harus jadi prioritas utama, taklukkanlah professormu itu. Idul adha kemarin kupikir bisa membalaskan dendam kita pada mereka yang sudah membantai kita mencuci dapur di idul adha tahun lalu, ternyata mereka tidak datang. Hemm. Aku masih ingat ketika kita berdua menangis berjamaah di LDK 2, kita memiliki latar belakang yang berbeda dengan tangisan akhwat yang lainnya dan itulah sebabnya kenapa kita masih tersedu saat yang lain sudah selesai dengan tangisannya. Kita memiliki motif yang sama saat menangis waktu itu. Yang tau hanya aku, kau, Dia dan dia yang telah membuat kita menangis. Terimakasih telah menemaniku menangis..

Dari seorang Wiwit, aku belajar tentang kedewasaan, kemandirian dan belajar menjadi seorang yang bijak dan tenang. And you still my best patner, ukhti. Satu tahun di DIKWAH bersamamu adalah hal luar biasa yang kudapatkan di tahun kedua menginjakkan kaki di Nurul Ilmi. Bersama 2 patner kita yang hmm.. luar biasa itu, pak kadep yang sering kita bertiga omelin kalo sms ga di bales dan pak kabid yang selalu membuat kita kenyang tertawa. Aku merasakan itulah tim tersolid yang pernah kutemukan. Si MINI, Tadzakur, IMAGE, dan flashdisk yang kita beli dari hasil patungan adalah awal dari mimpi yang kita bangun bersama meskipun mimpi itu harus kau lanjutkan sendiri setelah kita terpisah di tahun berikutnya. Terimakasih ya sudah menemaniku menangis saat bu keput 2008 mengumumkan aku harus melanjutkan amanahnya yang artinya adalah aku harus terpisah darimu. Aku semakin terisak ketika kau memelukku, saat itu yang terlintas dalam bayanganku adalah episode-episode kebersamaan kita di DIKWAH. Terimakasih juga sudah menemaniku menangis saat peresmian Masjid baru Nurul Ilmi. Kau tau sebab aku menangis saat itu..

Dari seorang Ery, aku belajar menjadi pribadi yang ceria, yang selalu memperlihatkan wajah cerianya setiap kali bertemu saudara-saudaranya sekalipun sedang ada masalah. Suasana menjadi ceria ketika kau hadir. Dan taukah kau ukhti?saat kau tak ada, kami selalu rindu dan terbayang gayamu yang khas, yang polos dan apa adanya. Kau menjadi dirimu sendiri. ada saat-saat kita berdua menjadi sangat kompak yang selalu membuat mereka (hawa, risna, nia, Uji, wit. Red)terpesona pada kita. Hhe. Entahlah apa sebutannya. Terimakasih untuk keceriaan dan semangat yang selalu kau tularkan….

Dari seorang Risna, aku belajar tentang sifat tawadhu, totalitas perjuangan, dan pengorbanan dalam berjuang. Kaupun wanita yang tangguh. Aku juga belajar mensyukuri nikmat darimu. satu kalimatmu yang masih kuingat sampai sekarang, “syukuri nikmat agar hati tak banyak menuntut”. Kalimat itu sangat menginspirasiku, ukhti. Masih ingatkah kau?saat kita menerobos hujan bersama princess, kau memboncengku naik sepeda dari kampus 2 ke kampus 1. It’s so romantic, ukhti. Hhe. Kita punya mimpi yang sama bahkan kita bertarung untuk mendapatkannya, mimpi menjadi menteri pendidikan negeri ini. Kali ini aku takkan lagi memaksamu menjadi wakil menteri pendidikan. Karena satu hal, mungkin aku tak bisa mendapatkan mimpi itu, ukhti. Dan aku berharap kau akan terus berjuang mendapatkannya. Aku ingin melihatmu menjadi menteri pendidikan negeri ini. Mungkin suatu saat nanti anakku atau mungkin muridku akan meneruskan estafet perjuanganmu sebagai menteri pendidikan. Terimakasih telah banyak menginspirasiku..

Dari seorang Fujiarti, aku belajar menjadi pribadi yang amanah, sederhana, dan mandiri. Bandung, 20 desember 2010 kita mengawali mimpi yang sama; sebuah sekolah alam. Terimakasih sudah menemaniku dalam perjalanan sehari semalam itu, ukhti. Ada hal yang hanya diketahui oleh kau, aku, Dia dan mereka. Aku tak tau apa jadinya jika saat itu aku tak pergi bersamamu. Hhe. Rasanya rindu ingin kembali ke tempat itu. Aku akan berjuang untuk menghadirkan tempat seperti itu disini. Dan aku akan mengajakmu merealisasikan mimpi kita. Terimakasih juga karena kau sudah menularkan seleramu padaku. Mulai dari tas, gamis, sampai sepatu. Sekarang ibu sudah tak pernah protes lagi atas pilihan barang-barang yang aku beli. Semua karena ilmu yang kau bagi denganku..

Dari seorang Nia, aku belajar tentang kesabaran, keteguhan dan pengorbanan seorang anak terhadap orangtuanya juga pengorbanan seorang adik untuk kakaknya. Ukhti, orang-orang seringkali sulit membedakan kita, seringkali tertukar yang mana Indri dan yang mana Nia bahkan ada yang menyebut kita kembar. Entah darimana asalnya. Mungkin karena kita terlampau sering bersama ditambah kesukaan kita yang sama; mie dan cappucino. Yang aku tau, kita sama-sama bandel titik. Terimakasih sudah mengajariku arti penting seorang adik untuk kakak. Darimu, aku belajar menjadi seorang kakak yang baik untuk adikku. Kurasa, kau paling tau betapa aku menyayangi adikku. Sudah sering rasanya aku menangis karena hal itu di hadapanmu. Terimakasih sudah menenangkanku saat aku merasa gagal menjadi seorang kakak. Terimakasih juga sudah 2 kali membuatku khawatir dan bingung. Kau tentu tak lupa kejadian kau menghilang saat malam LDK 1 tahap 2 di bobos.

Dari seorang Ayu, aku belajar menjadi seorang akhwat yang lembut, dari tutur kata, cara memadukan warna dalam berpakaian, cara bicara, pokoknya akhwat banget. Sampai-sampai kalau melihatmu, aku seperti melihat es krim berjalan. Manis banget, hhe. Terimakasih sudah mengajariku menjadi akhwat yang feminim. Di balik sikap polosmu, kau begitu cerdas. Tapi kau selalu rendah hati dengan kelebihanmu itu. Kita sama-sama memiliki kekurangan yang sama, sama-sama kekurangan berat badan. Hhe. Kurasa belum ada yang memenangkan kompetisi yang kita berdua buat sendiri, yang pesertanya kita sendiri, dan juri nya pun kita sendiri. Kita pun belum menentukan deadline kompetisi itu, ukhti. Kurasa, perlu ada pembicaraan khusus untuk membahs kompetisi kita itu. Hhe. Terimakasih sudah memotivasiku..

Dari seorang Tika, aku belajar menjadi pribadi yang selalu ceria, semangat dan bijak. Kau tau, kau adalah orang yang luar biasa ukhti. aku berharap bisa bertemu denganmu di negeri sakura. Nanti jika kantong ajaib doraemon sudah ditemukan, aku akan mengajakmu terbang kesana. Hhe. Kejarlah mimpimu ukhti, sebanyak apapun dan apapun itu.

Dari seorang Yuli, aku belajar menjadi pribadi yang tangguh. Aku begitu bangga dan salut padamu, ukhti. Mengerjakan skripsi dan menyelesaikannya tepat waktu saat usia kendunganmu sudah besar bahkan kau melahirkan ditemani tugas skripsi. Kau seorang mahasiswi sekaligus ibu yang luar biasa. Tak semua orang bisa menjalankan dua peran dengan tugas yang berbeda itu dalam waktu yang bersamaan. Aku yakin jagoan kecilmu bangga memiliki ibu sepertimu. Terimakasih sudah memberiku satu keponakan yang sampai saat ini belum kujenguk. Maafkan aku ya, titip salam sayang dan titip satu cubitan sayang dariku untuknya

Dari seorang Dewi, aku belajar tentang pengorbanan untuk adik-adik. Untuk mereka, kau siap berkorban. Kau begitu tangguh, ukhti. Terimakasih sudah membantuku meyakinkan ibuku tentang satu hal. Sungguh itu sangat membantuku. Hhe.

Satu lagu untukmu, ukhtifillah. “

bergegaslah, ukhti... tuk sambut masa depan



tetap berpegang tangan, saling berpelukan



berikan senyuman tuk sebuah perpisahan



kenanglah ukhti... kita untuk slamanya!





satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori



satu cerita teringat didalam hati



karena kau berharga dalam hidupku, ya ukhti



untuk satu pijakan menuju masa depan







saat duka bersama, tawa bersama



berpacu dalam prestasi... hal yang biasa



satu persatu memori terekam



didalam api semangat yang tak mudah padam



kuyakin kau pasti sama dengan diriku



pernah berharap agar waktu ini tak berlalu



ukhti... kau tahu, kau tahu kan?



beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan





Thanks for being part of my life…

Rabu, 19 Oktober 2011

Jingga di Indahnya Senja

Siang itu Adzan Dzuhur berkumandang indah menyapa jiwa-jiwa yang selalu merindukan Rabbnya. Seorang gadis berlari terburu-buru menuju masjid kampus, jilbab birunya yang terjuntai panjang dibiarkannya diterpa angin. Wajahnya kini tampak lebih bercahaya dengan setetes air wudhu yang belum mau pergi dari wajahnya yang teduh. Namanya Senja, seorang mahasiswi berprestasi dengan segudang aktifitasnya sebagai aktifis dakwah kampus. Seantero kampus pun tau sosoknya yang lembut, santun, cerdas, gesit, mencerminkan seorang muslimah yang taat. Setidaknya citranya begitu mempesona seakan tak ada celah sedikitpun. Sebagai seorang akhwat, ia begitu menjaga izzahnya.
Suatu hari, kampus hijau itu geger oleh sebuah akun jejaring social yang menampilkan foto seorang gadis berparas cantik dengan pakaian mengumbar aurat. Memang hal seperti bukan lagi hal yang tabu saat ini. Tetapi menjadi sangat tabu ketika masyarakat kampus begitu mengenali sosok gadis tersebut. Dan gadis itu adalah gadis yang dikenali masyarakat kampus sebagai Senja, sosok aktifis berprestasi yang begitu kuat menjaga izzahnya sebagai seorang wanita muslimah selama ini.
“ternyata jilbab panjangnya itu hanya topeng!!”
“dakwah… dakwah….?! Percuma!!!kalo ga bisa mendakwahi diri sendiri, munafik!!!”
Pedas, tajam lidah dimana suara itu berasal. Tak sampai tiga hari, foto itu bersebaran di pojok-pojok kampus hijau, tentunya di bumbui dengan kalimat-kalimat yang pedas dan tajamnya nya mengalahkan cabai rawit dan keris milik Ken Arok. Efeknya pun tak hanya beimbas pada Senja, sang pemeran utama. Pandangan sinis yang dialamatkan pada Senja kini mampir juga pada Citra LDK yang selama ini mendapat tempat istimewa di hati masyarakat kampus. Krisis kepercayaan mulai bertebaran di hati masyarakat kampus pada LDK, hal ini terbukti dengan semakin menipisnya jumlah mahasiswa/i yg hadir di agenda-agenda LDK yang biasanya selalu kebanjiran peserta.
Akhirnya sidang pun terpaksa di adakan terkait dengan fenomena ini,tentu saja dengan menghadirkan senja sebagai aktris utama. Hanya air mata yang berbicara, cukup menjelaskan betapa perihnya hatinya menghadapi hal ini. Bukan karena nama baiknya yang hancur, tapi karena imbasnya dirasakan pada dakwah di kampus ini. Kata yang sempat ia lontarkan hanya kata maaf dan penyesalan sebelum akhirnya ia tak kuasa menahan tangisnya, kemudian pergi meninggalkan wajah heran bercampur iba milik saudara-saudara seperjuangannya. Senja beruntung karena ia memiliki saudara-saudara yang melingkarinya dengan ikatan ukhuwah. Bahkan mereka menduga ada pihak-pihak yang memanipulasi fotonya.
“Mungkin saja ada yang tidak suka pada Senja atau mungkin pada LDK sehingga membuat makar seperti ini, kita harus menyelidikinya dan mengusut tuntas kasus ini. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena ini bukan saja menyangkut harga diri ukh Senja tapi juga harga diri LDK dan yang terpenting harga diri Islam!!” Orasi singkat dari Akh Hilmi, beberapa menit ketika Senja meninggalkan ruangan. Ikhwan yang satu ini memang terkenal orator ulung, hobinya aksi di jalan. Tak heran, orasi dadakannya itu mampu membakar semangat saudara-saudaranya.
Mereka masih melanjutkan orasi berikutnya dari akh Hilmi, mencoba menyusun strategi pembongkaran makar. Sedangkan aku, aku memilih untuk mencari senja, tak perlu bingung-bingung mencarinya. Aku tau kemana ia pergi, di pojok teras masjid yang berhimpitan dengan kolam yang meneduhkan. Senja masih tersedu ketika aku menghampirinya. Tanpa kata, dengan lembut aku mengelus kepala saudara yang sangat aku kasihi. Demi Rabbku yang jiwaku berada di tangan Nya, aku tersayat melihat tangisnya. Aku bisa merasakan perihnya luka yang ia rasakan. Dan Demi Rabbku, aku mutlak tak percaya bahwa foto tersebut adalah fotonya. Aku mengenalnya sejak masa awal bimbingan mahasiswa baru, ia ku jumpai sebagai seorang muslimah yang taat dan pandai menjaga dirinya sebagai wanita muslimah. Senja juga yang membuatku berubah menjadi lebih baik seperti ini, mengenal dan mencintai dakwah.
Untuk beberapa menit kubiarkan Senja menghabiskan sisa airmatanya di pelukanku. Pelukan dan diamku cukup untuk menenangkan Senja. Tanpa diminta, Senja pun mulai angkat bicara tentang masalah pelik yang sedang dihadapinya.
“Ukhti, afwan ya ana sudah menghancurkan mimpi-mimpi dakwah kita di kampus ini. Ana sudah membuat nama islam jelek padahal kita semua sudah susah dan payah berjuang mewarnai kampus kita dengan warna islam. Tapi ana sudah merusak warna itu, menodai perjuangan antum semua. Ana....” sengaja ku tarik lagi ia dalam pelukku erat-erat sebagi tanda bahwa ia tak boleh meneruskan kata-katanya.
“anti ingat, anti yang selalu bilang kalo setiap muslim itu bagaikan satu tubuh, ketika ada yang sakit maka yang lainpun merasakan sakit yang sama. Kalo anti masih sayang ana, teman-teman dan dakwah ini. Anti ga boleh lagi mengeluarkan kata-kata itu. Ana ga mau denger lagi, ukh. Sakit ana dengernya. Kita disini yakin, kalo anti ga bersalah meskipun anti ga menceritakan apa yang sebenernya terjadi”.
Isak tangis Senja jauh lebih redam, ia lemparkan pandangannya ke langit biru seperti mencari sesuatu di balik birunya langit itu. Dan ia pun mulai berkisah,
”Foto itu asli, ukh. Bukan manipulasi...” pernyataan yang cukup membuatku tersentak.
“Gadis di foto itu Jingga namanya. Dia..... adik kembarku. Orangtuaku membawa kami pindah ke jepang ketika usia kami masih 3 tahun. Kami dibesarkan dalam budaya disiplin Jepang beserta kebebasannya, gaya yang hidup bebas, sebebas-bebasnya. Hal ini yang akhirnya memaksa kakek dan nenekku terbang ke Jepang untuk menyelamatkan salah satu dari kami, dan akulah yang beruntung saat itu. Aku dibawa pulang ke Indonesia oleh kakek dan nenekku ketika usiaku 10 tahun. Sejak saat itu hingga saat ini aku hidup di bawah bimbingan kakek dan nenekku. Dan disini, aku mendapatkan pendidikan agama yang tak kudapatkan di Jepang. Sedangkan Jingga, ia tumbuh menjadi gadis modern dengan prinsip hedonisme yang telah melekat dalam hidupnya sejak kecil. Setelah 20 tahun membiarkan Jingga di bawah pendidikan yang tak bermoral, Jingga dipaksa pulang ke Indonesia oleh kakekku. Beliau semakin gelisah dengan kondisi Jingga saat ini. Dan...Jingga akan menjadi bagian dari kampus kita mulai pekan depan”
“Ya Allah...” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku
“Aku tau bahwa foto itu adalah foto Jingga, ia coba beradaptasi dengan kampus barunya melalui dunia maya. Berteman dengan beberapa mahasiswa kampus ini lewat jejaring sosial itu. Hanya saja...”
Aku merangkul erat sahabat sekaligus saudara terbaikku itu. Kali ini aku yang menangis di pundaknya. Menanti kalimat lanjutan darinya.
“Sungguh ukhti, aku tak peduli dengan penilaian orang terhadapku saat ini. Biar saja mereka bilang aku munafik dan sebagainya. Tapi aku merasa berdosa pada LDK dan dakwah ini. Aku merasa telah mengkhianatinya. Satu hal lagi, ukh. Aku merasa telah gagal sebagai aktifis dakwah kampus. Aku mungkin bisa berhasil melebarkan sayapku untuk dakwah ini, menjadi bagian dari keberhasilan dakwah kampus kita meskipun kini aku telah menghancurkannya. Aku gagal sebagai aktifis dakwah keluarga. Aku gagal mengajak adikku kepada kebenaran. Aku dan Jingga adalah kembar identik. Sungguh tak ada perbedaan yang nampak diantara kami berdua. Tapi itu menyakitkanku ukh. Ketika melihat Jingga berpakaian mini, aku seperti melihat diriku yang terbalut dalam busana “seadanya” itu. Jika melihat Jingga bergaul bebas dengan teman laki-lakinya, aku seperti melihat tubuh yang dijamahi dengan bebas oleh para pria itu adalah tubuhku. Aku merasa...”
“Sudah ukhti, jangan dilanjutkan. Aku tak sanggup mendengarnya..” Tangis Senja kembali pecah di pelukku.
Aku menunggu ia benar-benar tenang sebelum membuka kata.
“Anti tau, kisah nabi Nuh As yang tak mampu membawa anak dan istrinya ikut serta dalam perahunya. Anti tau, kisah nabi Ayyub As yang menahan sakit sendiri ditinggalkan keluarganya. Anti tau, bahkan Rasulullah Saw pun tak mampu mengajak paman tercintanya, Abu Thalib masuk islam sampai akhir hayatnya. Tapi apakah Rasulullah Saw mundur dari dakwah ini. Tidak ukh. Beliau melanjutkan dakwahnya sekalipun beliau tak mampu mengajak pamannya. Anti tau, kisah nabi Yunus As yang putus asa setelah tak ada satupun kaumnya yang mau mengikuti ajarannya. Allah sengaja mengirim Nabi Yunus masuk ke dalam perut Hiu untuk bermuhasabah atas keputusasaannya. Ukhti, kita hanya diwajibkan untuk berikhtiar sedangkan hasilnya biarkan menjadi hak prenogatif Allah swt”. Alhamdulillah kalimatku itu mampu menenangkan hatinya. ‘
Dan burung pipit melintas di atas kolam di hadapan kami. Menari indah di langit Senja yang hangat hari itu.
******
Seminggu kemudian, seisi kampus dilanda gempar oleh kehadiran Senja dengan penampilan yang “seadanya”. Rambutnya yang berwarna kemerah-merahan di biarkan terurai panjang disapu angin. Kaosnya yang ketat terlihat sepadan dengan rok mini nya yang memamerkan kakinya yang jenjang. Lebih mirip dengan boneka barbie. Belum hilang keterkejutan mereka melihat sosok Senja dengan Chasing baru. Mereka dikejutkan dengan kejutan berikutnya. Di belakang si barbie, seorang gadis mengikuti langkahnya di belakang. Gadis itu juga Senja dengan jilbab panjangnya seperti biasa. Mereka dibuat terkesima oleh dua gadis cantik ini.
Senja tak banyak bicara sejak awal kasus ini sampai akhirnya kehadiran Jingga di kampus. Ia membiarkan orang menilainya sesuka hati mereka. Setelah hari dimana ia mencurahkan hatinya padaku di bawah langit senja. Senja bangkit dari keterpurukannya. Ia yang kemarin-kemarin mulai lenyap dari kegiatan LDK karena kasus itu, akhirnya mau kembali aktif dengan berbagai kesibukan dakwah kampusnya. Ia tak lagi peduli dengan sindiran pedas dan lirikan tajam orang-orang. hanya ia balas dengan senyuman. Kisah Rasulullah Saw yang menguatkannya, kisah dimana Rasulullah Saw diuji Allah dengan kutukan, fitnah, caci maki, tuduhan, lemparan batu, kotoran hewan bahkan cucuran darah menghiasi tubuhnya di setiap hari. Aku sungguh bangga pada saudaraku ini. Aku mencintaimu karena Allah, ukhti. Setelah halilintar dan petir yang kau temui di jalan ini, pasti akan ada pelangi yang akan menambah indah langit biru.
Setelah kehadiran Jingga beberapa hari di kampus, masyarakat kampus sudah mengerti dengan sendirinya apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada sepatah katapun yang harus dikeluarkan Senja. Banyak kata maaf yang ia terima setiap harinya dari banyak orang di kampus. Dengan lapang hati, ia telah memaafkan mereka jauh sebelum mereka meminta maaf.
Tetapi hal itu tak membuat Senja tenang begitu saja. Ia masih gelisah dengan sikap adikknya, ia masih belum mampu mengubah adiknya menjadi lebih baik. Hingga akhirnya, seorang pria mampu mengubah si cantik Jingga. Pria itu bernama Ibad, yang dikenal sebagai mantan ketua LDK yang alim, cerdas, santun dan lincah. Entahlah pesona akh Ibad mampu membuat Jingga bermetamorfosis menjadi gadis muslimah. Ya, kini ia mulai mencoba berjilbab bahkan mau mengikuti mentoring di kampus. Akh Ibad tak berbuat apa-apa untuk merubah Jingga. Semua karena wajah akh Ibad mirip dengan wajah mantan kekasih Jingga di Jepang yang telah meninggal karena kecelakaan. Karena itulah Jingga ingin menjadi wanita yang mampu menarik hati akh Ibad. Mungkin awalnya niatnya tidak baik, tidak ikhlas karena Allah. Tapi mentoring telah benar-benar mengubahnya. Tentunya tak lepas dari bimbingan kakak kembarnya, senja. Senja tau, akh Ibad memiliki andil atas perubahan Jingga.
Aku tau persis, sempat ada kekaguman yang ia simpan untuk akh Ibad yang sangat menghormati akhwat. Hanya sebatas kagum untuk Senja, tapi aku berharap ada harapan lebih untuk keduanya berpatner dalam kehidupan selanjutnya di negara kecil bernama keluarga. Entahlah mengapa aku sangat mengharapkan hal itu, mungkin karena hal itu pula yang aku lihat dari pancaran wajah akh Ibad setiap kali bertemu Senja.
**********
Hari-hari semakin indah dilewati Senja. Jingga yang semakin muslimah, tugas akhirnya yang telah rampung, dan... khitbah seorang ikhwan untuknya. Dan benar saja harapanku terwujud. Ikhwan itu adalah akh Ibadurrahman. tapi ia gundah mengambil keputusan. Ia tau persis perasaan Jingga pada akh Ibad. Senja tak ingin melihat Jingga kembali ke masa lalunya jika ia tau cintanya tak berbalas. Di setiap malam, ia untaikan doa dalam sholat istikharah. Tapi hasilnya semakin membuatnya gundah. Seakan-akan Allah menunjukkan bahwa akh Ibad adalah imam yang Allah pilihkan untuknya.
Aku tau persis hati Senja, hatinya lembut selembut salju. Ia tak sampai hati bahagia di atas penderitaan orang lain apalagi Jingga, saudara kembarnya sendiri. Terlebih dampak buruk yang mungkin akan mempengaruhi Jingga.
Di bawah langit senja, ia sampaikan keputusannya padaku. Bahwa ia menolak pinangan akh Ibad. Ia meminta akh Ibad untuk menikahi Jingga. Aku, orang pertama yang menolak keputusannya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Senja sudah bulat.
“Jika niat akhi menikah adalah karena Allah, tentu antum takkan terlalu ambil pusing sekalipun bukan ana yang akan mendampingi akhi. Yang penting, akhwat itu adalah akhwat yang sholihah”
Dan dengan hati yang sebenarnya berat, akh Ibad pun menikah dengan Jingga. Ia ingin menjaga niat ikhlasnya dalam menikah.
Setahun sudah mereka menikah dan Jingga dianugerahi calon bayi yang ada dalam rahimnya. Hari itu ketika layar senja terkembang, Jingga bertarung nyawa untuk melahirkan anaknya. Tapi kondisinya begitu lemah. Beberapa jam setelah bayi nya lahir, Allah menjemput Jingga kembali ke tanganNya. Sebelumnya, ada pesan yang Jingga sampaikan pada suami tercintanya dan kakak kembarnya. Jingga ingin akh Ibad menikahi Senja setelah ia tiada nanti.
Semburat warna jingga di langir senja tertutup oleh awan hitam yang kemudian disusul dengan pertunjukan hujan di langit senja saat itu menemani hujan airmata kami yang menemaninya. Selamat tinggal Jingga... semoga Allah menempatkanmu bersama orang-orang yang sholeh. Amiiiin....
Seminggu berikutnya, aku menjadi saksi bahagia atas pernikahan saudara terbaikku, Senja dan akh Ibad. Aku menatap bahagia mereka yang bersanding di pelaminan bersama Jingga di pelukanku. Ya, bayi mungil yang baru berusia seminggu itu diberi nama sama dengan nama ibunya, Jingga.
Kutatap langit, ada Jingga di indahnya Senja.........

Kamis, 13 Oktober 2011

Wahai Pemilik hatiku, aku titip hatiku padaMu...

Entahlah rasa apa yang sedang mengamuk dalam hati ini.
Apakah ada setan yang terselip hingga membuatnya sesak??
Sampai kapan rasa ini terus menyesak ya Rabb..
Rasanya aku ingin sekali merobek tubuhku untuk mengambil hatiku. Aku ingin tau ada apa di dalam sana hingga rasanya ia begitu menyesak. Jika ia terlihat begitu kotor, aku ingin membasuhnya dengan air mata penyesalan dan mengusir semua setan yang mengganggunya.
Mungkinkah karena ada rasa yang lahir belum pada waktunya. Mungkinkah aku tak bisa menjaganya, hingga mengundang setan hadir menyelinap di celah-celah rasa itu.
Untukmu yang telah terlanjur hadir dalam ruang pikirku, bantu aku menjaga hati kita.
Ijinkan aku mengusir rasa yang tertulis atas namamu dari hatiku.
Aku takkan membuangnya, hanya menitipkannya pada Pemilik Hatiku sampai waktunya tiba. Aku yakin ia akan aman bersama Pemilik hatiku. Sehingga setan tak tertarik untuk menyelinap.
Biar sesak dan sulit untuk melewatinya asalkan ridhoNya di tangan kita pada akhirnya.
Suatu saat rasa itu akan aku ambil kembali disaat yang tepat, saat rasa itu telah halal untuk bersemayam dihatiku dan setan tak punya hak mengganggunya lagi.
Istiqomahkan aku ya Rabb, sampai waktu itu tiba...
Di bawah langitNya, 08 oktober 2011

Assyifa

Kamis, 06 Oktober 2011

Cintaku tak bisa dinilai lewat angka

Dan inilah aku. Aku memang tak seperti yang lain. Bahkan hasil akhirku di perjalanan studi ini bisa jadi penghalang mimpiku. Sudah pasti hasilnya tak sebagus yang lain bahkan mungkin tak bisa disebut bagus. Setidaknya itu yang tergambar dari kumpulan angka yang kudapat selama 4 tahun ini. Tentu telah lahir banyak alasan yang melatarbelakanginya. Bahkan mungkin alasan itu yang membuat orang memicingkan mata dengan hasil yang kuperoleh ini. Ya, inilah hasil dari berjibaku dengan organisasi. Selamat menikmati. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Penyesalan yang mana?menyesal karena telah menghabiskan sebagian waktuku untuk jalan dakwah ini?kujawab dengan pasti, TIDAK!!. Aku tidak pernah menyesal ada di jalan ini. Karena aku benar-benar percaya bahwa Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama Allah. Aku percaya. Jikapun harus ada yang aku sesali, maka itu adalah kekhilafanku sendiri yang tak bisa membagi waktu dengan baik antara kuliah dan amanah dakwah ini. Ya, aku menyesali diriku sendiri bukan pilihanku.
Aku puas dengan hasil ini. Setidaknya dengan hasil ini, aku tidak menipu diriku sendiri, menipu orangtuaku, menipu orang-orang sekitarku dan yang paling penting aku tidak menipu Sang Maha Mengetahui, Allah. Hanya Allah, kertas-kertas ujian dan semua tugas-tugasku yang tau pasti bagaimana caraku untuk mendapatkan angka ini. Sekalipun angka-angka itu tak mampu mewakili apa yang telah aku dapatkan. Biarlah kata munafik terlempar di wajahku, ketika aku tak ingin menipu diri dengan menyontek sekalipun hanya tugas. Ya, silahkan semua orang bebas berpendapat tentangku.
Biarkan aku jelek di mata mereka, asal tidak di mata-Mu. Biarkan mereka palingkan wajah mereka dariku, asal jangan Kau palingkan wajah-Mu dariku. Bukankah Allah menilai proses bukan hasil dan adakah penilaian yang lebih adil dari Sang Maha adil?
Ayah…ibu… biarkan aku membuatmu bangga dengan caraku sendiri. biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Maaf jika caraku ini membuatmu sedikit kecewa, tapi ijinkan aku membuktikan bahwa suatu saat nanti, aku akan mempersembahkan langit surga untukmu… langit surga yang nilainya tak terwakilkan lewat angka… karena cintaku tak dinilai dengan angka.

Di Bawah LangitNya, 06 oktober 2011

Assyifa..

Jumat, 30 September 2011

Kontak Kick Andy

Kontak Kick Andy

Mungkin suatu saat akan kutemukan sakura di negeri kangguru,atau kangguru di negeri sakura...

Jumat, 16 September 2011

Suratan tuhan kita disini, menapaki cerita bersama. cinta berkawan karena sehati dalam kasih illahi..

Sabtu, 03 September 2011

Jejak–Jejak Perindu Surga


“Di malam penuh bintang, diatas sajadah yang kubentang. Sedu sedan sendiri mengadu pada Yang Maha Kuasa. Sesak dadaku menangis pilu saat kuurai dosa-dosaku. Urat nadi pun tau aku hampa. Di hadapanMu, ku tiada artinya. Hanya Engkau yang tau siapa aku tetapkanlah seperti malam ini, sucikan diriku selama-lamanya..”
Nasyid diatas mengingatkanku pada malam ke 28 ramadhan yang mengantarkanku pada jejak-jejak cinta di ujung sajadah, di bawah lindungan kubah masjid terbesar di kota ini.
Saat itu langit belum bisa dikatakan malam untuk terlelap atau merebah melepas lelah. Saat aku tertampar tepat di ayat-ayat terakhir penutup juz 29 di akhir raka’at tarawih.
“celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). Sungguh, orang-orang yang bertaqwa berada dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (di sekitar) mata air. Dan buah-buah yang mereka sukai. (Katakan kepada mereka), “makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang kamu kerjakan.” Sungguh, demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). (Katakan kepada orang-orang kafir), “makan dan bersenang-senanglah kamu (di dunia) sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhaka!”. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). Dan apabila dikatakan kepada mereka, “rukuklah”, mereka tidak mau rukuk. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). Maka kepada ajaran manakah (selain Al Qur’an) ini mereka beriman.” (QS Al mursalat;40-50)
Ya Rabb… ternyata surga masih jauh untukku. Tapi tidak untuk mereka para perindu surga di hadapanku. Tubuh-tubuh renta dan kaki-kaki yang tak lagi kokoh berdiri lama bukanlah penghalang mereka untuk tetap istiqomah sampai di raka’at 23 sholat tarawih malam itu. Ahh… surga begitu dekat rasanya bagi mereka. Sedangkan aku dan beberapa jama’ah lain yang notabenenya anak muda dan masih kuat, sudah menyerah terlebih dulu di raka’at ke 8.
Penghujung malampun datang dan kantung mata kurasakan semakin berat. Hingga akhirnya aku kembali menyerah terlelap bersama Al Qur’an di pelukan. Sampai lantuan suara merdu seorang wanita tua menuntunku kembali ke alam sadarku. Aku tersadar dan menyadari bahwa ini waktu yang tepat untukku mengejar surga, mendekatinya.
Malam ke 28 ramadhan itu aku merasa surga begitu dekat denganku dalam sujud-sujud panjangku bersama sujud-sujud para perindu surga. Ya Rabb… aku ingin malam itu tak segera berakhir, titahkan pada matahari agar sejenak berputar hingga langit malam menaungiku lebih lama.
Saat fajar terbit, aku kembali melihat para perindu surga. Mereka yang kulihat istiqomah hingga raka’at terkhir tarawih, mereka yang menggelar sajadah untuk sujud panjang tadi malam, mereka yang antusias mendengarkan siraman penyejuk hati khas surga di tengah malam, mereka yang melantunkan merdu ayat-ayat cintaNya, mereka yang kembali lagi dan masih bertahan menahan kantuk untuk ilmu yang tersaji setelah sholat subuh. Dan mereka adalah kaum ibu. Aku bergetar menyimpan kagum. Bukankah mereka telah begitu lelah bergelut dengan tugas mereka di rumah?semenjak menyiapkan sahur, mengurus rumah, mengurus anak-anak dan suami mereka, menyiapkan hidangan buka puasa, dan sederet jadwal padat mereka. Dan mereka mengkhususkan waktu untuk Rabbnya di tengah kelelahan panjangnya, ini adalah istirahat mereka . Karena bagi mereka surga terasa begitu dekat dalam kedekatannya dengan Sang Tuan Rumah Surga. Bagiku, Surga bukan saja di bawah telapak kaki ibu tapi surga ada di setiap jejak-jejak mereka.
Duhai Rabb yang membolak-balikan hati, tempatkan hatiku bersama dengan para perindu surga. Biarkan jejak-jejaknya melebur bersama setiap jejak langkahku hingga aku menemukanMu di surgaMu…
Di bawah langitNya, 29 Ramadhan 1432H
Assyifa

Selasa, 23 Agustus 2011

Lilin harapanku (3)


Terlalu banyak kata untuk negeri sakura. Selanjutnya, mimpiku yang kelima. Menjadi seorang menteri pendidikan negeri ini. Aku ingin merubah sistem pendidikan di negeri ini, dengan menggabungkan sistem pendidikan jepang dan sistem pendidikan islam. Lagi-lagi aku sudah terlalu jatuh cinta pada keduanya, Islam dan negeri sakura itu. Silahkan menertawakanku karena aku sendiri pun terkadang menertawakan mimpiku yang satu ini, terlebih dengan IPK yang pas-pasan. Setidaknya jikapun tak sampai kugapai mimpi ini, aku akan tetap berkontribusi untuk dunia pendidikan. Aku ingin memulainya dengan konsep “belajar yang bermanfaat adalah belajar tentang proses belajar”, kalimat ini merupakan kutipan Carl Roger yang sebenarnya sudah jauh-jauh hari Allah ingatkan pada kita. bahwa Allah tidak menilai hasil yg kita capai melainkan Allah akan menilai proses yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil tersebut. Lalu adakah yg penilaiannya lebih adil dari Sang Maha Adil?. jadi pendidikan berorientasi pada proses bukan hasil. Agar tak ada lagi sarjana abal-abal yang hanya menjadikan gelarnya sebagai bekal menipu.
Dan mimpi untuk berjalan mengelilingi hamparan bumi Allah yang luas ini. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada masjid.berawal dari masjid penuh cinta, Nurul Ilmi aku berharap bisa mengunjungi masjid-masjid dan saudara-saudara sesama muslim di negeri-negeri non muslim. Agar aku mampu belajar untuk lebih banyak bersyukur dilahirkan di negeri ini, dimana kami bisa bebas menjalankan amalan islam. Tidak seperti mereka (muslim-muslim di Negara non muslim.red)yang mungkin harus mengalami intimidasi dan tekanan dalam menjalankan ibadahnya. Serta menyusuri puing-puing sejarah kejayaan islam, agar menjadi semangatku dalam berjuang di jalan ini. Bahwa islam pernah mendapatkan kejayaannya dan akan mendapatkan kemabli kejayaannya sutu saat nanti. Dan aku ingin menjadi bagian dari mereka yang berjuang mengembalikan kejayaan islam, bukan hanya sebagai penonton. Akhirnya mengakhiri perjalananku di negeri tempat Rasulullah dilahirkan dan negeri islam pertama. Mekkah dan madinah yang dirindukan. Menikmati sujud-sujud panjangku di Masjidil Haram.
Akhir dari semua mimpi itu adalah menemui wajah Sang Maha Indah dan kekasihNya di bawah langit surga, berdekatan dengan ibunda Khadijah dan putrinya yang kukagumi, Fatimah Azzahra yang didampingi Ali bin Abi thalib. Menjadi bagian dari bidadari surga bersama bidadari lainnya terutama bidadari bernama ibu yang mendampingi seorang lelaki bijak bernama ayah. Mendampingi mujahid yang telah menjaga hatiku dalam diam dan berharap kelak menjadi imamku sampai ke surga. bercanda tawa bersama permata-permata kecil yang nanti akan kuantarkan ke dunia hingga ke surga. Dan berkumpul kembali bersama saudara-saudara seperjuanganku di jalan dakwah yang penuh cahaya ilmu…
Seindah apapun rencana kita, jauh lebih indah rencana Sang Maha Indah… maka kuserahkan semua harapku padaNya karena aku yakin ada rahasia dibalik birunya langit..

Di bawah langitNya, 22 Agustus 2011

Assyifa



LIlin harapanku (2)



Mimpi berikutnya mungkin akan panjang kuceritakan, melangkahkan kaki di bawah birunya langit negeri sakura. Banyak hal yang membuatku terpikat pada negeri itu, berikut ini adalah beberapa karakter orang jepang yang diambil dari blog seorang teman.
Kerja Keras. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.
Malu. Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum
Hidup Hemat. Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Bukankah Islam telah lebih dulu mengajarkan kepada kita untuk tidak bersikap berlebihan dalam berbelanja.
Loyalitas. Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
Inovasi. Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.
Pantang Menyerah. Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
Budaya Baca. kalau datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.
Kerjasama Kelompok. Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu
bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
Mandiri. Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Seorang anak TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua. Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari kita naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang .
Diluar daripada banyaknya keburukan yang mungkin kita temui dalam tubuh negeri sakura itu, setidaknya aku seperti diingatkan pada beberapa ajaran-ajaran islam yang secara tidak langsung mereka lakukan. Seperti kerja keras mereka, aku ingat pada pesan Allah bahwa Ia takkan merubah nasib suatu kaum, jika kita tidak berusaha untuk mengubahnya sendiri. Aku juga diingatkan pada rasa Malu, sekalipun penempatan rasa malu pada diri mereka (orang jepang.red) tidaklah tepat. Tapi sekali lagi, aku ingin mengambil hikmah di balik keburukannya. Kalau ada nikmat Allah yang dikaruniakan sebagai mahkota kehormatan manusia, pastilah malu salah satunya. Kalau ada perisai yang dianugerahkan untuk melawan syetan dan nafsu, mungkin malu adalah bahan dari bagian terluarnya. Kalau ada pakaian yang menutup aurat lahir dan batin, jadilah malu sbg benang-benangnya. Malu juga yang menjadi mahkota yusuf yang membuatnya agung dihadapan tipu daya Zulaikha. Malu yang menjadi perisai Abu Bakar Al Miski yang memakai baju besi lumuran kotoran manusia ketika seorang wanita cantik dan kaya mangajak berzina. Malu juga adalah pakaian rasulullah sampai beliau lebih terjaga oleh rasa itu dari pada gadis dalam pengantin.
“sesungguhnya diantara kalimat kenabian yang mula-mula adalah : jika kamu sudah tak lagi mamiliki rasa malu, lakukan saja apa yang kau mau” (HR. Bukhari). Dan banyak hal lain yang bisa dikupas dan direnungi, bahwa sekalipun mereka bukan seorang muslim, tapi mereka hampir sebagian besar telah melakukan amalan-amalan islam yang tidak mereka sadari. Sedangkan negeriku, Indonesia?negeri dengan penduduk yang mayoritasnya islam tidak atau mungkin belum bisa mengamalkannya. Belum bukan tidak. Karena aku yakin harapan itu masih ada…. )I(
Dan dibalik semua itu, ada sakura disana yang menginspirasiku. Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Senin, 22 Agustus 2011

Lilin harapanku (1)



“Lilin harapan itu kan selalu ada. Tuliskan mimpi-mimpimu dengan sebuah pensil. Dan berikan penghapusnya pada Allah, Sang Maha Mengetahui. Yang akan menghapus bagian yang salah. Dan menggantinya dengan rencana-Nya yang lebih indah”
Kalau kata Nidji, “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia”. Lalu bagaimana mimpi menurutmu?Aku mendefinisikan mimpi dari mimpi-mimpiku.
Impian pertamaku, menjadi seorang penulis. Sebuah impian yang sederhana. Bukan tak beralasan. Aku ingin tetap hidup meski sudah tiada nanti. Karena ilmu yang bermanfaat adalah amal yang takkan pernah putus meski jiwa tak lagi membersamai raga. Ia akan tetap mengalir jernih, seperti percikan air wudhu yang menghadirkan kebaikan di setiap tetesnya. Kemudian ia mengalir ke dalam ruang pikir pasang-pasang mata yang membacanya hingga menginspirasi gerak langkah mereka menuju kebaikan. Meskipun hasil karyaku tak seindah milik maestro sastra. Impian besar tanpa perjuangan merealisasikannya sama saja nihil. Memulainya adalah dengan menulis dan menulis. Minimalnya satu tulisan satu minggu. Bergabung bersama dengan mereka yang memiliki impian yang sama untuk bersama-sama belajar, untuk saling berbagi inspirasi dan semangat.
Impian keduaku, aku ingin mengelola atau mempunyai sekolah alam. Karena bagiku, kelas itu seperti penjara yang memenjarakan pikiranku. Tembok-temboknya seakan-akan menghimpitku, menghimpit ruang fikirku. Membelengguku. mungkin apa yang kurasakan dirasakan pula oleh mereka, anak-anak usia sekolah lainnya. Perhatikan reaksi mereka ketika bel istirahat dan bel pulang berbunyi. Bersorak gemibira, keceriaan nampak menguasai wajah mereka. Artinya mereka menganggapnya sebagai sebuah kebebasan. Bebas dari kelas yang membelenggu mereka. Sifat dasar anak-anak adalah bermain dan berimajinasi. Maka biarkan mereka berbaur dengan alam terbuka agar pikiran mereka terbuka seluas-luasnya. Jangan memaksa mereka masuk ke dunia kita, dunia orang dewasa yang kaku. Tapi kita yang harus masuk ke dunia mereka. Membuat mereka nyaman belajar karena keinginan hati mereka sendiri, bukan membuat mereka belajar dengan terpaksa di bawah tekanan. Membiarkan mereka akrab dengan alam juga mengakrabkan mereka dengan Sang Maha Indah, Sang Pencipta alam.
Beralih ke mimpiku selanjutnya, aku ingin sekali mondok di kampung Inggris Pare, Madiun. Memfasihkan bahasa inggrisku yang masih berada di underlevel. Dan juga menjejakkan kaki di negeri di atas awan. kawah bromo. Yang selama ini hanya bisa kupandangi lewat gambar. Melihat gambarnya saja sudah membuatku berdecak kagum pada keindahannya. Keindahan Sang Maha Indah, Keindahan di balik semua keindahan. Dan dilanjutkan dengan berkuda di padang pasir berbisik. Mencoba merasakan rasanya berkuda di padang pasir seperti Asma binti abu bakar, aisyah dan srikandi-srikandi pada jaman Rasulullah.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Selasa, 12 Juli 2011

Uraian rindu untuk musim mawar

Entah mengapa d ujung malam ini,aku tiba2 merindukan kehangatan taman perjuangan dua atau tiga tahun silam. Saat mereka masih menghiasi taman ini di bawah cahaya ilmu.
Rindu kobaran semangat yg mereka sengatkan pada kami.
Rindu marah mereka,ketika dalam syuro kami tak mau bicara.
Rindu taujih2 mereka yg penuh semangat perjuangan.
Rindu langkah2 mereka yg tak pernah lelah.
Rindu mata-mata tajam yg menatap lembut wajah-wajah polos kami saat itu.
Bohong jika kami,khususnya aku tak sedih saat mereka melangkah pergi utk menetap di taman lain. Ada semangat yg sempat menghilang dan rasa takut yg meneror.
Ada gelisah, bisakah kami meneruskan perjuangan ini bersama adik2 dan tanpa mereka lg.
Tapi, aku tau ini adalah jalan yg memang harus d lalui.
Sampai disini, mungkin di detik2 terakhr aku menikmati cahaya ilmu di taman perjuangan ini. Aku belum bisa meyengatkan kobaran semangat utk adik2ku. Adik2ku kini tak seberuntung kami ketika kami berada pada masanya,merasakan sengatan semangat dr kakak2nya.
Maaf ya dik, jika sampai di saat ini aku belum bisa membuat kalian merasakan apa yg kurasakan dulu. Tentang indahnya semangat dalam kebersamaan.
Aku tak berniat mengeluh disini, hanya ingin mengurai rasa rinduku. Juga rasa yg kurasakan di bulan yg sama satu tahun lalu.
Beberapa bulan ke depan, perjalanan di taman perjuangan ini akan berakhir. Tp tak akan mengakhiri langkah kami di taman perjuangan lainnya yg sudah menanti kami.
Cahaya ilmu itu kan tetap menerangi langkah kami.

Rinduku utk laskar mawar di bulan juli, dimana 3 tahun berturut2 ke belakang bulan ini kusebut musim mawar..
Utkmu, mawar2 dakwah..
By:Assyifa
Di bawah langitNya, 10 juli 2011 pukul 00.00 Wib

Selasa, 05 Juli 2011

Mencintai sejantan ali by salim A fillah


Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Kamis, 23 Juni 2011

Disaat ku lelah,

Sakura... aku tau. Masa yang kau jalani ketika musim gugur, bukanlah masa yang mudah untuk kau lalui. Mungkin kau pun merasakan pedihnya dan sakitnya ketika harus melihat mata-mata yang memandangmu sebagai sesuatu yang sempurna yang tak pernah marah, tak pernah sedih, tak pernah menangis. Mereka hanya tau hadirmu mampu menebar senyum dan semangat untuk mereka.
Sakura... ajari aku untuk belajar tersenyum meski hati perih menanggung pedih. Ajari aku bagaimana cara menyembunyikan kesedihan dari mereka yang mengharapkan senyumku.
Sakura... ada masanya kau bersemi dengan indah dan ada pula masa dimana kau harus gugur. Bukan untuk selamanya, tapi kau gugur untuk kembali. Hanya untuk sejenak beristirahat untuk mempersembahkan senyum yang lebih indah dari sebelumnya, untuk mereka...
Kau tau sakura...Rasulullah pun demikian. Allah memberikannya perjalanan yang luar biasa ke tujuh lapis langit sebagai hadiah penghibur hati setelah perjalanan dakwahnya dihujani kerikil tajam dan membuatnya terpuruk dalam ketidakberdayaan. Lalu beliau kembali setelah perjalanan panjangnya dengan wajah berseri. Wajah siapa yang tak berseri jika bertemu langsung dengan Allah tanpa hijab. Mendengar kisahnya pun, jantungku berdebar kencang apalagi jika aku benar-benar melihat wajah Sang Maha Indah tanpa hijab.
Sakura.. perjalanan Rasulullah itu adalah rehatnya untuk kembali, sepertimu yang akan kembali setelah musim gugur ...
Dan bagaimana dengan ku??
Sungguh aku tak ingin mengeluh, sakura.. tidak!!
Apakah mereka mau menerimaku apa adanya?menerimaku yang tak sesempurna yang mereka harapkan?aku juga bisa sedih, aku bisa marah, aku bisa kecewa, aku bisa lelah, aku bisa terpuruk, aku tak sesempurna yang mereka pikirkan. Apakah setelah ini mereka mau menerimaku?setelah aku tak bisa sesempurna yang mereka harapkan...
Aku lelah harus berpura-pura sempurna untuk menjaga senyum mereka. Aku tak ingin seperti lilin yang menerangi tetapi habis terkikis sendiri.
Wahai kekasih Allah... aku melebur bersama jiwa yang dikuasai rindu padamu, disini disaat ku mulai rapuh..
Di Bawah LangitNya, 24 Juni 2011
Assyifa

Andai setiap tempat adalah masjid



“Kalau mau ceramah di masjid aja!!”
“Ngapain pake kerudung, emang mau pengajian di masjid?!”

Kebanyakan orang beranggapan bahwa dakwah hanya berlaku di masjid, islam hanya berlaku di masjid. Sehingga apakah untuk menyampaikan kebenaran harus merubah semua tempat menjadi masjid. Agar dakwah dapat disampaikan di semua tempat, agar islam bisa tegak di semua tempat.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua wanita menutup auratnya. Maka sejuk sekali mata ini memandang, takkan ada wanita-wanita yang memakai pakaian “seadanya”.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua orang berkata lembut dan santun. Maka sejuk sekali telinga ini mendengarnya, takkan ada orang-orang yang berkata kasar.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua perempuan dan laki-laki menjaga jarak dan adab pergaulan. Maka sejuk sekali hati ini merasakannya, takkan ada perempuan dan laki-laki yang bergaul bebas tak berbatas.
Andai setiap tempat adalah masjid, dimana semua orang menggunakan waktunya untuk beribadah. Maka sejuk sekali hidup ini dilalui, takkan ada orang-orang yang menggunakan waktunya untuk bermaksiat dan menyekutukan Allah dengan “rabb-rabb” yang lain.
Andai setiap tempat adalah masjid, yang selalu terasa sejuknya meski tak ber-AC
Sejuk sekali dunia ini dihuni...
Andai mereka tau bahwa islam itu begitu indah. Karena Islam tak sekedar ritual di masjid.
Semua ritual ketika berada di masjid seperti menjaga wudhu, berinfaq, beribadah, menutup aurat, menjaga pandangan antara non muhrim sebenarnya bukan sekedar ritual ketika berada dalam masjid saja. Tapi semua itu adalah nilai-nilai islam yang harus kita jaga dimanapun dan kapanpun kaki melangkah.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, Ya Rabb... dan istiqomahkanlah kami di jalanmu yang lurus. Wallahu’alam bishowab


Di bawah langit-Nya, 23 Juni 2011

Assyifa

Talking Twin Babies - PART 2 - OFFICIAL VIDEO

Jumat, 27 Mei 2011

Rahasia Terindah di Balik Birunya Langit

Ketertarikanku pada langit biru bukanlah kebetulan semata. Karena aku tau ada banyak rahasia di balik birunya langit itu. Rasanya aku ingin sekali berada diantara birunya langit. Melebur bersama birunya, hingga aku tersapu angin dan menembus setiap lapisan-lapisannya. Mencari tau setiap rahasia yang tersimpan di setiap kerak langit.
Aku akan jadikan awan sebagai pena untuk melukiskan kata di bias birunya langit. Melukiskan wajah Sang Maha Indah. Meskipun kurasa sekumpulan awan yang dikumpulkan dari ujung langit ke ujung langit pun takkan cukup melukiskan keindahan-Nya.
Tapi dengan apa aku bisa menyentuhkan jemariku ke birunya langit. Meminjam sayap sekawanan burung?Meluncur bersama percikan bunga api yang dilemparkan ke angkasa?atau berdiri di puncak gunung tertinggi dan meringankan tubuhku hingga membiarkan angin membawaku bersamanya?
Aku tau aku takkan mampu menjangkau langit biru, aku hanya mampu memandanginya dalam kekaguman. Mengagumi birunya yang dihiasi bias putih awan. Melihat dengan iri serombongan burung yang melenggang indah mengepak-ngepakkan sayapnya semaunya hingga mampu membawa mereka menembus lapis demi lapis langit.
Aku hanya tau satu rahasia dari banyak rahasia yang tersimpan di balik birunya langit itu, bahwa Dia yang berada di balik keindahan langit biru adalah rahasia terindah. Lebih dari sekedar terindah.
“KAU terindah dan selalu terindah. Harus bagaimana ku mengungkapkannya. KAU Pemilik hatiku..”
Di bawah Langit- Nya, 27 Mei 2011
Assyifa

Rabu, 18 Mei 2011




muslim baby



seneng liat bayi nangis, ekspresinya dapet. hehe

Meracik kebahagiaan dalam lukisan kata


Assyifa, bukanlah sebuah nama yang diabadikan dalam akte lahirku. Bukan pula nama yang dihadiahkan ayah dan ibuku untuk putri pertama mereka. Bukan.
Aku, seorang gadis kecil yang lemah dan pemalu. Dan semua itu terekam di balik dinding Taman kanak-kanak (TK), bernama TK Assyifa.
Ya, Assyifa adalah nama almamater TK tempatku melawan rasa takut. Takut akan keramaian, takut pada orang banyak, takut pada rasa lemahku, takut pada diriku sendiri, takut pada rasa yang kuciptakan sendiri. Aku suka berimajinasi, dan aku takut keramaian, orang banyak, rasa lemahku dan rasa takutku mengambilku dari dunia imajinasiku. Tanyakan pada Assyifa, ia tau banyak tentangku. Sayangnya, ia tak lagi mampu kujumpai. Terakhir kali aku mencarinya, ia sudah tak lagi berdiri tegak di tempatnya. Ia sudah tergantikan. Tapi ia masih berdiri tegap di hatiku, ku abadikan ia di sebuah ruang di hatiku. Dan kini ia menjelma menjadi seorang pelukis kata. Meskipun lukisan kata nya tak bisa disebut lukisan yang indah.
Setiap nama adalah doa dan harapan. Asysyifa bisa diartikan penyembuh, obat. Aku ingin setiap kata yang kulukis bisa menjadi obat untuk kegelisahan, obat untuk kesedihan, obat untuk kekecewaan, obat untuk ketakutan,obat untuk kerinduan. Aku memang bukan seorang dokter yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, tapi aku ingin membuat senyum di wajah yang menyimpan sedih dan sakit. Dan obat yang kumiliki bukan butiran-butiran pil yang menyeramkan. Aku hanya punya lukisan kata, yang ingin kubagi dalam warna bahagia, tawa, semangat, keceriaan untuk wajah yang membutuhkannya.
Tenanglah, aku takkan menyaingi dokter dan tukang obat. Karena aku dan mereka tentu berbeda. Jika dokter bisa membuat orang yang sakit menjadi ketakutan melalui diagnosisnya yang ia tulis di atas kertas resep. Aku ingin membuat senyum untuk mereka melalui lukisan kataku di atas kertas. Jika tukang obat bisa membuat harapan dan kebahagiaan melalui obat yang ia racik. Aku ingin meracik kebahagiaan untuk mereka dalam butiran-butiran huruf yang berkumpul dalam lukisan kata.
Karena setiap kalimat yang kita baca mampu menyihir ruang fikir kita. Jika kita membaca sesuatu yang menakutkan maka akan menciptakan ketakutan dalam ruang fikir kita, dan membuat mata akan terpejam, tangan dan kaki melemah, jantung berdetak kencang dikuasai ketakutan. Begitupun dengan hati, jika kalimat yang dibaca mampu menyentuh hati dan mewarnai hati dengan celupan warna Illahi, maka akan mempengaruhi organ tubuh yang lainnya dan setiap aktivitas dikuasai oleh cinta pada Nya. Seperti kata Rasulullah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging bernama hati, jika daging itu baik maka baiklah seluruh anggota tubuh lainnya. Maka kalimat positif yang ingin ku goreskan dalam lukisanku. Tapi untuk meluluhkan hati orang lain tidaklah muda, aku harus mampu meluluhkan hatiku terlebih dulu. Dan untuk meluluhkan hatiku, opick telah menjawabnya dalam lagunya, obat hati. Wallahu’alam bishowab
Di bawah Langit-Nya, 13 mei 2011
Assyifa

Selasa, 05 April 2011

Nantikan kami di ujung jalan

“Wahai Dzat yang lebih benderang dari bulan, sampaikan pada bulan agar mau menerangi jalan adikku menuju ridho Mu. Sehingga ia takkan lagi berminat untuk menoleh ke belakang, ke jalan gelap yang telah membuatku kehilangan dia. Sungguh, aku tak ingin lagi melihatnya kembali menoleh ke masa lalunya”.

Selamat datang di taman perjuangan, adikku... di bawah nauangan cahaya ilmu...

Aku tau kau bukan lagi adik kecilku. Kau sudah dewasa, dan semoga kau pun cukup dewasa untuk memilih mana yang benar dan salah. Mungkin itu juga yang membuat ayah enggan lagi memanggilmu “dede”.

“Kemana jagoan ayah?”. Hampir setiap pulang kerja apabila ayah tak menemukanmu, pertanyaan itu di lontarkan ayah sembari mengusap kepalaku. Belakangan aku tau kebiasaan ayah itu ternyata tak sekedar kebiasaan seorang ayah pada anak perempuanya. Itu adalah bentuk rasa sayang dan cinta beliau pada kita. Ayah memang tak pernah mengusap kepalamu seperti ia mengusap kepalaku setiap kali pulang kerja. Karena Ayah hendak mengajarkan pada kita, bahwa wanita itu harus dijaga dan disayangi dengan kelembutan. Ayah juga mengajarimu bagaimana menjadi dewasa. setiap kali ia mengajakmu bicara, ia selalu menganggapmu seorang laki-laki dewasa bukan lagi anak laki-laki bungsunya, “kalau tidak mau terjatuh, kita harus lihat ke bawah jangan terus melihat ke atas”. Taukah kau adikku. Ada pelajaran dibalik kalimat itu. Ayah ingin mengajari kita, bahwa hidup itu tidak boleh sombong. Harus rendah hati. Kita juga tidak akan pernah bersyukur dan cenderung mudah dipermainkan hawa nafsu jika kita terus melihat orang-orang yang lebih tinggi dari kita. tapi kita harus sering melihat ke bawah dimana masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dari kita agar kita bisa bersyukur dan peduli pada kesulitan orang. kau tau kenapa ayah suka sekali melantunkan surat Al Insyirah di setiap ia meng-imami kita dalam shalat. Karena ada ayat yang ia ingin kita selalu mengingatnya, “ setelah kesulitan pasti ada kemudahan”. Aku selalu mengingatnya, ayah. Dan dengan itu, aku akan siap kembali bangkit setiap kali terjatuh.

Aku hampir sulit menemukan ayah menangis. Aku hanya mendapatkanya pada tiga waktu. Ketika aki meninggal, ketika adik kesayangannya terkulai sakit di Jakarta, dan ketika kau harus merasakan dinginnya rumah sakit di jogja seorang diri. Aku tau dimana kelemahannya. Ia akan menangis ketika orang yang ia sayangi sakit dan membutuhkannya, sedang ia tak berada disampingnya.

Aku selalu ingat diskusi-diskusi panjang kita dengan ayah. Kita asyik membicarakan apa saja yang kita suka; politik, agama, dan kehidupan. Begitu juga dengan khayalan kita bertiga. Dimana kau menjadi presiden negeri ini, aku menjadi menteri pendidikannya dan ayah lebih memilih menjadi penasehat spiritual kita. Kalau sudah begitu, ibu hanya menjadi pendengar setia dan kemudian tertidur pulas. Seakan-akan diskusi kita adalah dongeng pengantar tidurnya. Kita tak hanya kompak dalam diskusi, kita bertiga juga kompak dalam hal menggoda ibu. Saat-saat seperti itulah yang selalu aku nantikan, karena Ayah dan ibu bekerja setiap hari maka saat dimana kita berkumpul adalh saat dimana aku memutar diri menjadi anak manja.

Dan suatu hari nanti, cepat atau lambat aku pasti akan merindukan saat-saat itu..

Sejak kecil, kita sudah diajarkan mandiri oleh ayah dan ibu. Kita terbiasa ditinggal kerja keduanya dari pagi hingga petang. Ayah dan ibu ingin agar aku bisa belajar menjadi seorang kakak yang baik untukmu, karena ketika ayah dan ibu tidak di rumah kau adalah tanggungjawabku, tugasku untuk menjagamu. Dan sampai saat ini pun aku masih merasa kau adalah tanggungjwabku. Aku ingin menjaga langkahmu, agar kau tak lagi salah langkah.

Adikku, aku tau ada gurat kegelisahan pada wajah ayah dan terutama ibu melihat kita hari ini. Melihat bekas-bekas lelah di wajah kita dalam mengarungi jalan yang panjang ini, jalan yang berat untuk dilalui. Terlebih jalanmu masih sangat panjang, adikku. Kau akan menemukan petir dan halilintar di jalan ini. Tapi yakinlah, di ujung jalan ini kau dan aku bisa menghadiahkan langit surga untuk ayah dan ibu..

Di bawah langitNya, 4 April 2011

With love,

Assyifa

Rabu, 16 Maret 2011

Dibawah LangitMu - Opick

Galeri Lukisan wajah Sang Maha Indah


Gumpalan kepenatan menggumpal dan bergumpal bersarang di seisi kepala. Ingin rasanya membuangnya ke lautan lepas. Membiarkannya menari bersama tarian ombak hingga terdampar ke pulau tak bertuan atau melemparkannya sebagai makanan ikan.
Dan sore yang dinanti pun datang. Disambut birunya langit yang membias biru dengan air laut. Pesonanya menentramkan hati. Meski ia tak sebanding dengan pesona pantai pulau dewata. Tapi cukup mengobati rinduku pada ketenangan.
Menyusuri jalan setapak di tepi laut. Diiringi empat pasang kaki pejalan tangguh (begitu mereka menyebutnya), aku berkawan akrab dengan bebatuan. Menikmati kelincahan tarian ombak dan nyanyian angin. Tentram rasanya. Tak banyak wajah yang kami temui disini. Membuat kami bebas berekspresi. Untuk kedua kalinya Bersenandung lagu yang baru saja kami nyanyikan untuk mengiringi suapan sekotak tiramisu di hari lahir seseorang. Sebuah lagu yang sama dengan senandung penyemangat aksi di jalan. Bingkai kehidupan. Entahlah mungkin hanya ikan-ikan yang mendengar senandung merdu kami. Atau bahkan mungkin diam-diam mereka ikut bersenandung merdu bersama kami.
Aku benar-benar telah dibuat jatuh cinta pada wajah alam. Pada langit biru, pada keanggunan bias warna lautan, dan syahdunya kehijauan di kaki gunung. Benar-benar wajah alam yang indah. Menginspirasiku untuk melukiskan wajah Sang Penciptanya yang pasti jauh lebih dari sekedar indah. Tentu saja bukan lukisan dalam semburat warna kuas di atas kanvas. Tapi lukisan dalam kata oleh goresan pena. Dan menyimpan lukisan itu dalam galeri hatiku. Agar suatu saat ketika aku dipertemukan dengan wajah Sang Maha Indah, aku bisa membuka kembali lukisan itu dan meyakini kekeliruanku. Keliru bahwa sebenarnya wajah-Nya jauh lebih indah dari lukisan-lukisan dalam galeri hatiku. Bahkan keindahan-Nya tak mampu terlukiskan lewat kata maupun semburat cat lukis.
Di bawah langit-Nya, 14 maret 2011
-Assyifa-

Sabtu, 12 Februari 2011

Jihad Mawar (di taman yang terlupakan)


Dari sudut lain kota wali kisah ini dimulai. Bermula dari sebuah taman yang tak kunjung menjadi sorotan penduduk kota ini. Taman yang terlupakan. Meski ia tak seindah dulu, tapi setiap sudutnya menyimpan pesona masa lalu. Ia masih berdiri diantara hiruk pikuk kota semi metropolis ini. Tapi berdiri diantara kekokohan batu-batu ini membuatku sedikit tenang. Ketenangannya mampu melayangkan beban-beban pikiranku sejenak.



Siang itu, aku melingkar bersama delapan mawar di pendopo tua taman ini. Merenungi dua masa perjalanan kami di taman perjuangan yang telah menyatukan kami. Taman perjuangan, taman lain yang jauh lebih indah dari taman ini. Tapi keduanya bernasib sama. Keindahan keduanya seringkali terlupakan karena di luar sana banyak keindahan-keindahan semu yang lebih menarik hati.



Aku dan delapan mawarku yang tengah bersemi ini masih menikmati belaian lembut angin dan kesunyian yang meneduhkan hati. Membuat kami larut dalam dunia kami. Tapi kami cukup sadar ketika seorang wanita cantik berkulit putih dengan balutan pakaian yang “seadanya” dan pria berperawakan asing disampingnya memberanikan diri menyapa. Sedikit berbasa-basi. Selayaknya orang Indonesia yang “katanya” terkenal akan keramahannya, kami balas sapa dan senyum mereka dengan penuh keramahan. Masih dengan keramahan dan kepolosan ketika pinta mereka berfoto bersama kami penuhi. Dan masih dengan wajah ramah dan polos membalas sapa mereka sebelum ketiganya berlalu dari kami. Dan kami kembali larut memasuki dunia kami. Kembali pada taman perjuangan. Hari itu selesai menciptakan semangat yang tercipta bersama untaian ukhuwah.



Dan sehari di taman yang terlupakan itu kini meninggalkan jejak yang tak kami buat dengan sadar. Jejak yang bisa menghapus jejak-jejak kebaikan yang kami dan saudara-saudara kami buat dengan susah dan payah. Nila setitik rusak susu sebelanga. Pepatah itu begitu nyaring di telinga dan menari lincah di alam bawah sadar. Seekor harimau ganas siap berdiri menghadang di tengah perjalanan ini. Cukup membuat kami geram untuk melawannya. Karena ia tak kami duga kehadirannya. Terlebih karena ia hadir dari jejak yang dulu tercipta dari keramahan sebuah taman yang terlupakan. Belum cukup seekor harimau yang masih belum nampak. Jauh di belahan bumi lainnya, seekor singa yang berlipat kali ganasnya menanti perjalanan kami. Tapaknya telah lama menjejak bahkan mungkin tapaknya setia berada di balik bayang-bayang langkah yang tak disadari. Entah apa yang membuat kedua hewan symbol keganasan ini bernafsu menyantap kami. Setidaknya kami tau keduanya berada dalam satu komando.



Aku diingatkan pada lembaran kisah perjalanan Rasulullah ketika beliau dihina bahkan di tuduh orang gila. Bukan sebuah perjalanan yang nyaman tapi indah dinikmati dalam keimanan. Begitupun jalan yang kami tempuh, ia tak senyaman perjalanan ke bali ataupun kualalumpur. Tapi setelah jalan ini akan ada jalan yang berujung pada keindahan yang tak berujung. Berujung pada Sang Maha Indah. Kiranya ini yang membuat kami kuat dan siap atas berbagai keganasan di luar sana yang memiliki banyak langkah untuk menghapus dan menghancurkan langkah-langkah yang ditapaki Rasulullah untuk sebuah kejayaan Islam. Dan kami yang berusaha meneruskan perjuangannya adalah mangsa empuk bagi makhluk-makhluk ganas di luar sana.



Untukmu wahai kekasih Allah, kami melebur bersama jiwa yang dikuasai rindu padamu..



* Suratan Tuhan kita disini, menapaki cerita bersama. Kisah ini kan menjadi oleh-oleh untuk anak cucu kita nanti, ukhti. biarkan mereka tau bahwa pernah ada kisah diantara kita di taman yang terlupakan untuk Sang Maha Indah di penghujung indahnya taman perjuangan. (Assyifa)

Kamis, 27 Januari 2011

Ikatlah Budaya Mengikat ilmu

“Maaf, saya tidak bisa menulis”
Mungkin kita pernah atau bahkan sering sekali menemukan jawaban seperti ini ketika kita meminta seseorang untuk menulis. Bukankah menulis telah menjadi makanan sehari-hari semenjak kita resmi mengenakan seragam merah putih. Kali ini konteksnya berbeda, menulis bukanlah menyalin atau tepatnya memindahkan tulisan guru di papan tulis ke buku catatan, apalagi memindahkan jawaban teman ke lembar jawaban milik sendiri saat ujian. Tentu bukanlah menulis seperti itu yang di maksud. Meskipun pada kenyataannya, menulis telah mengalami penyempitan makna.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, menulis berarti (1) membuat huruf, angka, dsb; (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang dan membuat surat) dengan tulisan; mengarang cerita;
Berdasarkan makna diatas, menulis bisa dimaknai sebagai kemampuan atau ketrampilan seseorang dalam mengemukakan gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan dengan media tulisan. Sepertinya, kata ketrampilan di atas perlu di garis bawahi sehingga menulis akan menjadi sama seperti ketrampilan lainnya; berenang, menyanyi,dll dimana dibutuhkan latihan untuk dapat melakukannya dengan baik. Begitu juga, menulis. Sebuah pemahaman yang salah jika orang enggan menulis dikarenakan menulis bukanlah bakatnya. Menurut Marion Zimmer bradley – seorang penulis terkenal- menerangkan bahwa sembilan puluh persen kesuksesan menulis adalah berasal dari kerja kerasnya, sedangkan bakat dan inspirasi hanya memiliki andil sepuluh persen. Maka dapat disimpulkan bahwa kita hanya perlu membiasakan diri dengan budaya menulis.
Budaya menulis adalah salah satu budaya intelektual yang seharusnya akrab dengan kehidupan mahasiswa yang seringkali disebut sebagai kaum intelektual. Kiranya miris sekali jika untuk menyelesaikan tugas makalah bahkan skripsi sekalipun, banyak dari mahasiswa kita hari ini yang menyelesaikannya dengan sangat instan (red: copy paste karya orang lain). Seakan-akan tugas menulis adalah beban berat yang membebani pundak. Mahasiswa kita hari ini telah jauh terbuai pada gemerlap budaya nir-intelektualnya. Ternyata penyakit ini juga dialami oleh para guru dan dosen. Padahal di Amerika, menulis dan membuat sebuah karya tulis adalah kegiatan sehari-hari para guru dan dosen. Bagaimana dengan para guru dan dosen kita?. Entahlah mungkin beliau tak punya banyak waktu untuk membagikan ilmu yang dikuasainya melalui tulisan.
Sepertinya stigma berat tentang kegiatan menulis ini tak hanya menjangkiti kalangan mahasiswa dan dosen yang menyebutkan dirinya sebagai kaum intelektual tetapi memang sebagian masyarakat kita menganggapnya demikian. Hal tersebut dapat dibuktikan oleh data milik UNESCO bahwa Jepang, mampu menerbitkan 60.000 judul buku per tahunnya. Sedangkan Indonesia dengan jumlah yang penduduknya yang jauh lebih banyak hanya menerbitkan 2000 buku per tahunnya. Berdasarkan data tersebut dapat kita ketahui bahwa minat menulis juga membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah.
Menulis dan membaca memang sepasang kegiatan yang tak bisa dipisahkan. Untuk dapat menulis, kita dituntut untuk banyak membaca. Karena membaca adalah proses mengolah informasi menjadi pengetahuan dan intelektual sehingga pengetahuan kita semakin bertambah, dan semakin bertambah pula ilmu yang dapat dibagikan melalui tulisan. Ilmu itu seperti buruan maka ikatlah dengan menuliskannya. sekiranya itulah pesan yang disampaikan Imam Syafi’i, bahwa ilmu haruslah ditulis untuk menjaganya. Bukankah ketika lidah lebih buas melemparkan kata-kata, ada tangan yang siap menggerakan kata-kata melaui goresan pena. Tak perlu menantikan gelar besar di ujung nama untuk menghasilkan sebuah karya besar. Karena kita takkan pernah tahu apakah usia kita akan sampai pada saat dimana gelar tersebut bersanding dengan nama kita. Sedangkan amal yang takkan pernah putus ketika jiwa tak lagi membersamai raga salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Tulisan yang kita buat takkan pula mati ketika kita tak lagi hidup di dunia ini. Ia akan jadi amal yang mengalir untuk setiap kebaikannya.
Maka menulis dan membaca sudah sepantasnya menjadi sebuah kebutuhan bukan lagi kewajiban apalagi beban yang berat. Jadi, selamat berkarya!!. Berikanlah harapan pada negeri ini bahwa calon pemimpinnya mampu mempersembahkan karya untuk masa depan bangsanya. ( Assyifa )

Tepat 45 menit di sudut angkot (judul yang aneh?!)

Aku menyudutkan diri di sudut belakang mobil angkutan umum ini. Sengaja posisi ini aku ambil agar tak ada yang menggangguku menikmati pemandangan di luar kaca jendela. Lagipula orang seisi mobil sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Tanpa ada suara. Hening. Hanya deruman mobil tua ini yang terdengar. Ada yang sibuk memperhatikan jalan, ada yang sibuk dengan layar hape nya, tak sedikit yang melemparkan pandangan tak berarah seperti halnya aku. Sebenarnya kata yang lebih tepatnya adalah melamun. Bemain-main dalam ruang fikirku yang dilintasi banyak pikiran yang membuatku sedikit penat. Untuk menghilangkan penat, sengaja aku naik mobil angkutan yang rutenya lumayan jauh untuk sampai di rumahku. Aku ingin sesekali menikmati sore melintasi keramaian kota wali-ku ini. Ah, kota wali. Entahlah nama itu sedikit aneh didengar dengan apa yang kulihat di balik jendela mobil ini. Kota ini sedikit lebih mirip dengan ibukota yang hiruk pikuk itu. Lihat saja, sudah berapa banyak pusat perbelanjaan yang kulewati. Sudah ada delapan buah pusat perbelanjaan dan kesemuanya ramai pengunjung. Dan itu belum cukup, masih ada beberapa pusat perbelanjaan lainnya yang tak terlewati oleh rute angkot ini. Luar biasa, masyarakat kita ini ternyata punya banyak uang untuk meramaikan pusat-pusat perbelanjaan yang tak pernah terlihat sepi di satiap harinya. Dari sudut jendela, aku sempat beberapa kali melihat beberapa pakaian yang tergantung di etalase toko. Dan hal ini menarik perhatianku. Bukan tertarik untuk memilikinya tapi menarik perhatianku untuk kembali bertanya-tanya. Hampir semua model pakaiannya lebih cocok untuk dipakai adik-adik kecilku. Tapi manequinne yang memakainya terlihat bukan manequinne anak-anak. Yang lebih mengejutkan beberapa jarak dari toko itu, kulihat lagi manequinne dengan pakaian mini tadi. Kali ini mannequinne nya berjalan rapat dengan seorang pria. Rapat sekali, seakan-akan jalan begitu sempitnya untuk dilewati. Padahal jika ku boleh memperkirakan, jalan trotoar itu bisa dilewati oleh empat orang. Entahlah mungkin dunia begitu sempit untuk mereka yang sedang jatuh cintanya.
Tiiiinnnnn.....tiinnnnn.... lagi-lagi bunyi klakson mobil itu mengagetkanku. Tapi cukup membuatku tersadar bahwa saat ini aku sedang terjebak macet. Padahal menurutku, jalan protocol ini sudah cukup lebar. tapi mengapa masih saja terjadi macet. Jika boleh menebak, mungkin karena jumlah kendaraan pribadi yang semakin bertambah. Baik motor maupun mobil yang jumlahnya semakin bertambah saja tiap tahunnya. Sekali lagi, masyarakat kita ini sudah cukup sejahtera rupanya dengan mampu membeli kendaraan pribadi lebih dari satu unit. Apakah kota kecil ini harus punya beberapa unit busway juga untuk mengatasi kemacetan?. Dan ini yang tidak kusukai, polusi dimana-mana. Padahal bumi kita ini sudah banyak keluhan karena global warming. Aku jadi ingat tayangan di televisi yang menggambarkan keramain jalan-jalan di pusat kota Jepang yang diramaikan oleh orang-orang yang berjalan kaki dan beberapa asyik dengan mengayuh sepedanya. Bukan berarti tak ada kendaraan umum, tapi kendaraan umum menjadi pilihan utama berpergian daripada menggunakan kendaraan pribadi. Tentu saja menjadi pilihan utama, karena fasilitasnya yang berkualitas. Jadwal keberangkatan yang tepat waktu, kondisi dalam kendaraan yang bersih dan nyaman membuat mereka lebih memilih kendaraan ini daripada harus capek-capek mengendarai sendiri kendaraan mereka. Dengan begitu mereka akan dengan santainya tertidur pulas dalam kendaraan. Ups, tidak. Mereka tidak memilih tidur dalam kendaraan, mereka lebih memilih membaca. Luar biasa, hal yang sangat jarang kutemui di negeri tercintaku ini. Disini, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur atau yang jauh lebih baiknya mengobrol dan kebanyakan melamun, seperti aku ini sekarang. Ah, lagi-lagi negeri sakura itu yang melintas di ruang fikirku. Semakin membuatku ingin berdiri di bawah birunya langit negeri sakura itu. tapi bukan berarti aku seorang pengkhianat atau bahkan penjajah karena mendambakan negeri sakura itu. aku tetap mencintai negeriku, negeri yang sudah susah payah diperjuangkan bung hatta, dan kawan-kawannya. Aku ingin mencuri ilmu dari negeri sakura yang pernah mencuri kekayaan negeriku dulu. (Hehe...) .
Ya Allah, aku tak sadar sedang tersenyum-senyum sendiri. Tak sadar juga bahwa dari balik spion mobil ada sepasang mata yang memperhatikanku. Tak perlu ge-er karena itu sepasang mata milik pak supir yang sedari tadi memperhatikanku dengan tatapan kesal dan curiga. Tatapannya memberiku isyarat tentang pertanyaan yang mungkin dari tadi menganggu konsentrasi mengemudinya.
“sebenarnya mau kemana sich ni anak naik dari kampus, sampe sekarang mau balik lagi ke kampus kok belum turun-turun juga. Dia pikir ini bus pariwisata??bayar Cuma seribu lima ratus juga.” Kira-kira begitu bunyi tatapannya.
Tebakanku itu cukup membuatku malu juga. Ah, kuniatkan dua perempatan lagi aku akan turun. Andai saja bapak itu tau kalau sebenarnya jarak dari kampus ke rumahku bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Maaf ya pak, nanti akan aku lebihkan seribu lagi ongkosnya.
Aduh tak baik juga lama-lama memperhatikan tatapan mencurigakan pak supir, aku kan harus ghadwul bashar. Apalagi kalo istrinya tau, bisa disemprotnya aku. Tenang saja bu, jangan curiga dulu. sudah ada nama yang mengisi hatiku kok. (eits, namanya siapa?? Wah bisa-bisa di sidang kaderisasi nech. Jd kaderisasi nyidang kaderisasi dong. Tenang aja, baru nama Allah yg boleh menetap di hatiku selain nama RasulNya, kedua orangtuaku, dan adikku. Nama lainnya masih menanti. Aduh salah lagi).
Sudahlah daripada imajinasiku semakin tak jelas seperti sinetron-sinetron di televisi, lebih baik aku siapkan lima logam koin untuk ongkos (maklum mahasiswa, uang koin juga masih untung daripada tidak ada uang sama sekali). Ooopss.. tiba-tiba telingaku mendengar suara gemerincing koin yang jatuh ke lantai mobil. Kupikir itu punyaku, langsung saja bola mataku menuruti instruksi dari telingaku untuk segera mencari larinya suara koin tadi. Ternyata ia tepat di samping sepatuku. Ku pungut koin itu, tapi ada yang aneh. Perasaan koinku warnanya perak, kenapa jadi kuning?. Belum selesai menjawab pertanyaanku sendiri, aku dikejutkan suara bening dari samping kananku.
“teh, itu punya aku”. Pinta seorang anak kecil yang pipinya nyaris sama dengan bakpau.
“ooh, punya ade toh?maaf ya, ini koinnya”. Ujarku sembari menyodorkan koinnya. Yang kemudian di sambut senyum polosnya dan diakhiri ucapan terimakasih.
Tak lama kemudian ia berteriak lantang, “kiliiii pakkk….stopp”. begitu mobil berhenti ia langsung turun dengan tak lupa menggendong tas ranselnya yang besarnya hampir sepadan dengan tubuhnya. Aarghh dia lebih baik, tasnya sesuai dengan orangnya. Sedangkan aku, tasku jauh lebih besar. tidak seimbang dengan tubuhku yang kecil.
Sayang sekali, ia bergegas turun padahal baru saja aku mau memulai percakapan dengannya, syukur-syukur bisa sedikit saja mencubit pipinya. Uh, aku memang tak bisa melihat anak kecil yang pipinya chubby, rasanya ingin mencubit saja. Dari beberapa penumpang di mobil itu hanya dia saja yang wajahnya enak di lihat, bukan karena pipi chubby nya tapi karena hampir semua penumpang wajahnya dingin melihatku dengan penampilan seperti ini. Jilbab besar dengan tas ransel yang juga besar, huft mungkin pikir mereka aku ini teroris yang membawa bom. Tapi aku berharap anak kecil tadi turun memang karena tempat tujuannya sudah sampai, bukan kerena ketakutan melihatku kemudia ia bergegas turun. Sejenak terdiam, aku tersadar bocah tadi turun sendiri, aku hampir tak ingat dimana dia naik tadi dan dengan siapa, ini gara-gara aku terlalu asyik dengan bayangan negeri sakura-ku. Tapi seingatku, dia memang naik sendiri dan turun sendiri tanpa ditemani siapa-siapa. heum, bocah sekecil dan selucu itu berani berpergian seorang diri. Tidak takutkah dia diculik orang seperti aku ini, yang gemes melihat anak kecil selucu dia. Tidak. Maksudku, kemana orangtua nya hingga membiarkan anaknya pergi sendirian. Aku ingat, ini kali kedua aku berpapasan dengan seorang anak kecil yang pergi sendirian. Beberapa waktu yang lalu, seorang anak kecil masih dengan seragam merah-putihnya tepat duduk di hadapanku dalam sebuah angkutan umum. Tangannya menggenggam erat buku bersampul merah, yang kuduga adalah raportnya. Karena hari itu, hari pembagian raport. Wajahnya sesekali tak bisa menahan senyum. Pasti isi raport bersampul merah itu yang membuatnya sumringah. Yang pasti isinya tak berwarna merah seperti sampulnya, karena ia tak bisa menyembunyikan wajah ceria nya. Mungkin ia sudah tak sabar menunjukan raportnya ke kedua orangtuanya di rumah. Karena setauku, dia naik angkot seorang diri. Dengan semangat, ia berteriak hendak turun. Begitu kaki nya menginjak aspal jalan, ia segera berlari dengan penuh semangat menyusuri lorong sempit menuju rumahnya. Semua penumpang di dalam mobil dibuatnya terkesima. Seorang ibu berujar “ hebat, anak sekecil itu sudah berani naik angkot sendirian”.
Ah, jadi ingat ibuku. Dulu ketika aku kecil, aku tak pernah bisa lepas dari ibu. ketika masih di bangku TK, ibu tak pernah absent untuk berdiri di sampingku baik di luar maupun di dalam kelas sekalipun. Bahkan ketika jam istirahat semua anak-anak bermain dengan teman-temanya, aku asyik berlindung di balik punggung ibu. Ajakan teman-teman bermain tak sedikitpun membuatku tergoda. Biar saja aku disebutnya anak mama, aku memang bukan anak mama kok, tapi aku anak ibu (hehe sama aja). Sampai SD pun aku tetap seperti itu, tapi kali ini aku mulai terpaksa menerima ditinggal ibu ketika jam belajar dan istirahat. Ibu hanya mengantar sampai gerbang sekolah dan menjemputku sepulang sekolah. Ibu memang tak pernah berhenti menjagaku karena selain fisikku memang lemah, aku adalah wasiat yang ditinggalkan mbah putriku sebelum wafat. Kata ibu, mbah putri minta ibu buat menjagaku. Aku tak tau apa alasan mbah putri, kenapa dari sekian banyak cucu-cucunya hanya namaku yang disebut diakhir nafasnya. Karena itu, aku tak pernah diijinkan ibu untuk pergi seorang diri. terlebih naik kendaraan umum sendiri apalgi aku mudah sekali mengantuk dan tertidur ketika naik mobil. Ibu takut, aku tak sadar diculik orang karena terlelap seorang diri di mobil. Biar begini-begini aku kan anak perempuan ibu yang paling cantik (Karena memang ayah ibu hanya punya 1 anak laki-laki dan satu anak perempuan,hehe). Jika ingat masa kecil dan melihat aku yang sekarang seperti tak percaya. Aku yang pemalu, yang dalam sehari hanya mau mengeluarkan sedikit kalimat, aku yang cenderung menangis ketika berhadapan dengan orang banyak. Sekarang, aku sudah berani bicara di depan orang banyak, ibu. Apalagi aku akan menjadi guru, bagaimana jadinya jika gurunya menangis ketika masuk kelas karena berhadapan dengan banyak orang. Dan dakwah memiliki andil di dalamnya. Selain karena didikan ibu dan ayah yang berusaha mengajariku untuk mandiri setelah kami hidup nomaden (berpindah-pindah). Juga karena dakwah aku berubah, ketika SMA ku mulai tergerak ikut organisasi remaja masjid. Dan masjid kecil sekolahku itulah saksi bisu perubahanku begitu juga masjid kecil di bawah cahaya ilmu di kampusku. Ternyata benar kata orang, cinta bisa merubah segalanya. Dan cintaku pada jalan yang kupilih ini yang telah membuatku berubah menjadi lebih baik. Aku bersyukur bisa mengenal dan berada dalam jalan ini, terimakasih Allahku atas karuniaMu ini..
Ngomomg-ngomong soal jalan, aku sudah sampai di jalan mana ini. Ya Rabb, perempatan yang kutuju sudah terlewat. Aku harus berhenti disini. Aku bergegas berteriak untuk turun. Sepertinya air muka pak supir berubah ceria ketika mendengar suaraku. Terlebih ketika ku lebihkan ongkosnya, kali ini ia malah melempar senyum. Hehe.. terimakasih ya pak atas perjalanannya. Perjalanannya membuatku men-tafakuri kehidupan ini. semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa kuambil selama perjalanan tepat 45 menit ini. Semoga Allah menambahkan rizki bapak ya.
-Assyifa-