Selasa, 25 Mei 2010

Biar semua Indah pada waktunya

Cukuplah ALLAH yg mengisi ruang hati ini
Hingga saatnya tiba akan ada yg halal utk mengisi hati ini
Aku hanya harus menunggu hingga Allah membuka tabir rahasia itu untukku tanpa ada pengkhianatan atas cintaNya
Menunggu dan menjaga sampai tabir itu terbuka,
Maka masa itu hanya ada Allah di hatiku
Seberapapun yakinku bahwa Allah telah memilihkannya untukku
Bukankah tak ada guna nya memikirkan orang yg belum halal untuk dipikirkan
Karena bukankah ketika halal tlah kuperoleh memikirkannya adalah pahala untukku
Allahku, bimbing hatiku menuju jalanMu,
Biar semua indah pada waktunya..
Meski keyakinan ini telah sepenuhnya miliknya

konsekuensi ukhuwah yg kujalani

16 mei 2010

Astagfirullah, sdh smkn sesak rasanya. Semoga pintu hati ini smkn terbuka lebar utk memahami bhwa ini adlh konsekuensi ukuhwah yg kujalani.

Biarlah orang bebs bfkirn ap ttg aku, mgkn ini bhn evaluasi buatku.
Biarlah ia melakukan hal sesuka hatinya, aku lelah menghadapinya.
Biar ia buat sejuta fitnah lg untuk menjatuhkanku
Biar ia menghaikimiku lg ,
biar ia menusuk hati ini lg dgn kata-katanya yg bgtu manis,
Mungkin memang ini salahku, yg tak menunjukan bahwa aku tulus menjalin ukhuwah ini bersamanya.
Mungkin memang ia tak merasakan indahnya ukhuwah dari ku.

Kemana perginya Identitas intelektual mahasiswa kita?

Mahasiswa identik dengan gelar kaum intelektual. Tentu saja budaya yang harus digalakkan adalah budaya intelektual yang mampu mengasah kualitas intelektual mereka. Membaca, menulis dan diskusi adalah budaya yang harusnya lekat dengan dunia mahasiswa karena mahasiswa diciptakan untuk menjadi pemimpin yang mampu memberikan gagasan-gagasan atas permasalahan yang dihadapi kehidupan sosialnya sebagai warga negara. Sayangnya, bagi mahasiswa saat ini kegiatan membaca, menulis dan diskusi adalah kegiatan yang membosankan. Pojok-pojok kampus hanya diisi dengan obrolan-obrolan yang tak bermanfaat yang tak jauh-jauh dari gosip, fashion, dan pembicaraan-pembicaraan yang jauh dari nilai intelektual. Kebutuhan akan fashion & makanan jauh lebih menarik perhatian mereka ketimbang kebutuhan intelektual mereka. Menghabiskan uang berjuta-juta untuk liburan atau untuk membeli model HP terbaru bukan masalah bagi mereka meskipun tak ada sisa untuk membeli buku karena bagi mereka membeli sebuah buku bukan lagi prioritas utama mereka. Mencari ilmu dan pengalaman bukan lagi tujuan mereka kuliah karena kuliah hanya ajang bergengsi untuk mencari gelar sarjana meski tak ada ilmu yang didapat. Alhasil, mereka hanya menjadi pengikut bukan pemimpin. Bukan bermaksud men-generalisasikan semua mahasiswa sama seperti itu tapi fenomena-fenomena diatas tak bisa dipungkiri adalah yang terjadi pada mahasiswa Indonesia saat ini tidak terkecuali mahasiswa Unswagati tak peduli meski mereka adalah calon guru.
Ada asap tentu ada api, selain budaya hedonisme yang mulai mengakar kuat ternyata ada banyak faktor lain yang menjadi salah satu penyebab hilangnya identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual. Lingkungan sekitar tentu sangat berpengaruh pada sikap dan tindakan mereka. Mengapa mahasiswa kini cenderung jauh dari budaya membaca, menulis dan diskusi?. Mari kita evaluasi dari sistem pendidikan. Dalam hal ini difokuskan pada metode pembelajaran dan sistem penilaian.
Metode pembelajaran konvensional masih mendominasi sekolah-sekolah bahkan perguruan tinggi sekalipun dan kampus tercinta kita ini masuk ke dalamnya. Yang termasuk ke dalam metode konvensional adalah hanya terjadinya komunikasi satu arah dimana dosen menerangkan dengan teknik berceramah dan membiarkan mahasiswanya menjadi pendengar yang baik selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, sedikitnya kegiatan diskusi di kelas tak memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk mengemukakan pendapat atau memperluas wawasan mereka dengan banyak membaca terlebih dahulu sebelum mengemukakan pendapat, seluruh kegiatan didominasi oleh ke-otoriteran dosen dalam kelas.
Sistem pendidikan kita hanya menggalakkan penghafalan dan bukannya pemikiran dan akhirnya menyebabkan para murid lebih cenderung untuk bergantung kepada jawaban contoh, hafalan dan soalan ramalan(spotted questions) daripada memahami konsep dan teori yang berkenaan. Sehingga tak heran jika banyak mahasiswa yang mengalami hilang ingatan begitu selesai ujian. Karena teknik belajarnya hanya menghafal materi yang selama ini dicatatnya dari catatan dosen di papan tulis, dihafalnya pun semalam sebelum ujian dilaksanakan karena mereka sudah mengetahui soal yang akan keluar tak jauh-jauh dari pengertian ini menurut professor itu, definisi itu menurut professor ini. Tak ada kesempatan untuk mereka mengemukakan pendapantya sendiri. Mahasiswa dengan teknik seperti ini sebenarnya jauh lebih baik ketimbang mahasiswa yang mencari jalan pintas lewat menyontek pada temannya atau bahkan langsung pada buku sumber. ’’ke-kreatifitasan“ mereka ini berbuah pada tak ada satupun ilmu yang menempel selain ilmu menyontek, setiap tahunnya yang dikembangkannya bukan ilmu yang diajarkan dosen padannya melainkan mengembangkan strategi-strategi baru yang lebih jitu untuk menyontek. Sistem penilaian yang diterapkan hanya bertumpu pada nilai dari ujian tertulis. Tiga aspek penilaian yakni psikomotorik, afektif, dan psikomotorik ternyata tak diaplikasikan dengan baik karena nilai dari ujian tertulis lebih mendominasi ketimbang aspek lain. Alhasil beruntunglah mereka yang mendapatkan nilai tinggi di ujian tertulisnya meskipun nilai yang didapatkan melalui cara yang salah.
Selain sistem, hal lain yang perlu dievaluasi adalah peran dan fungsi sarana dan prasarana. Perpustakaan harusnya bisa menjadi gudang ilmu, tempat yang nyaman untuk mahasiswa mencuri ilmu dari buku-buku yang dikoleksi. Sayangnya, peran dan fungsi perpustakaan telah beralih fungsi menjadi tempat ngobrol, dan tempat melepas lelah. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan berbasis keilmuan seperti pelatihan ataupun diskusi publik hanya dikonsumsi segelintir mahasiswa, kondisi ini jauh berbeda ketika yang digelar adalah festival musik, liburan yang bersifat hura-hura akan dibanjiri peminatnya, mereka berlomba-lomba untuk bisa bergabung meski harus mengorbankan waktu hingga larut malam atau mengorbankan uang mereka yang pas-pas an. Sayangnya lagi, fenomena tersebut nampaknya tak terlalu menjadi perhatian pihak kampus.
Tak cukup sampai evaluasi, tetapi perlu ada solusi yang ditawarkan. Salah satunya, menganalisa kebaikan dan keburukan yang terdapat pada sistem tersebut, mempertahankan yang baiknya dan mereformasi sistem yang salah. Sistem penilaian yang berorientasi pada proses bisa digunakan untuk mereformasi penilaian yang berorientasi pada hasil yang kini dipakai. Metode pembelajaran konvensional jelas perlu direformasi menjadi pembelajaran kreatif yang mampu meng-eksplore kemampuan mahasiswa seperti diskusi, workshop dan kegiatan lainnya yang memaksimalkan praktek daripada teori. Tak ada salahnya jika kita mengadopsi metode belajar mahasiswa belanda dimana yang dipelajari adalah yang ingin mahasiswa ketahui tentang ilmu tersebut bukan lagi menuruti keinginan dosen karena hal ini akan mempengaruhi motivasi belajar mereka jadi peran dosen disini adalah sebagai fasilitator. Selain itu, perlu adanya pemenuhan standar sarana prasarana yg mampu meningkatkan kualitas intelektual mahasiswa seperti memaksimalkan peran dan fungsi perpusatakaan. Perpustakaan yang ideal bukanlah perpustakaan yang berdiri megah dan mewah melainkan perpustakaan yang mampu membuat pengunjungnya nyaman membaca serta mampu memuaskan keingintahuan mahasiswa akan ilmu yang dicarinya. Kondisi perpustakaan yang bersih, hening dari keributan, adanya sangsi yang tegas untuk pengunjung yang membuat kegaduhan, serta pengadaan buku-buku yang berkualitas dan baru adalah faktor pendukung pemenuhan peran dan fungsi perpustakaan yang sebenarnya. Yang tak kalah pentingnya adalah jangan hanya kualitas sarana prasarana saja yang ditingkatkan tetapi juga kualitas intelektual mahasiswanya pun perlu disikapi Adanya penyeleksian yang ketat pada acara-acara kemahasiswaan oleh pihak kampus akan tujuan, konten acara, follow up dan manfaat dari kegiatan mahasiswa. Satu catatan penting yang perlu menjadi perhatian adalah pemenuhan kebutuhan mahasiswa tak hanya berhenti atau terfokus pada pemenuhan fasilitas saja tetapi juga perlu dipikirkan tentang pemenuhan kualitas intelektual mahasiswa. Salah seorang tokoh cendekiawan Allahyarham Mohamad Natsir seringkali mengingatkan supaya ‘jangan sambil membangun kita robohkan” – membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan

Bukan Aksi Biasa

“apa yang dipahami orang lain tentang kita sebenarnya dibentuk oleh akumulasi sikap, perilaku, dan cara kita mengekspresikan diri. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar tentang kita, itulah yang menjadi factor pembentuk citra kita di benak mereka”. (Anis Matta)

Ironis sebenarnya, ketika menyaksikan kenyataan bahwa mahasiswa hari ini mulai kehilangan idealismenya bahkan jati dirinya sebagai mahasiswa. Mungkin mereka lupa, tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu bahwa mahasiswa jelas berbeda dengan anak SMA. Mahasiswa memiliki beban moral yang besar pada masyarakat, mereka dituntut berkontribusi untuk masyarakat sekitarnya juga negaranya. Tapi zaman membuatnya berbeda menjadikan mereka penganut hedonisme yang cenderung acuh tak acuh akan keadaan negaranya.
Indonesia 12 tahun yang lalu, belumlah lepas dari ingatan kita ketika gedung Negara dibanjiri lautan mahasiswa. Mereka tidak mencari nilai disana, tidak juga dengan menjadi bagian dari pendobrak reformasi itu mereka mendapatkan gelar sarjananya lebih awal. Tidak juga ada materi yang mereka dapatkan disana. Tapi, mengapa mereka membiarkan diri mereka menjadi sasaran bentrokan, mengorbankan waktunya berjam-jam berdiri tegap di gedung kebesaran itu, bahakn mengorbankan nyawa mereka hanya untuk REFORMASI. Lalu dimana mahasiswa seperti mereka saat ini?dimana idealisme mahasiswa itu pergi?
Kebanyakan mahasiswa kini menganggap demo atau aksi adalah perilaku tak terpuji, melanggar norma. Padahal mereka tahu bahwa negara ini negara demokrasi tapi tak mengerti esensi demokrasi. Tak bisa dipungkiri bahwa terjadi beberapa kasus anarkisme pada demo mahasiswa hingga mahasiswa bahkan masyarakat mengecamnya. Tapi seperti apa kata pepatah, nila setitik rusak susu sebelanga. Itulah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, semua demo dianggapnya anarkis tak bermoral tanpa mau melihat esensinya dan menyama-ratakan semuanya.
Kasus anarkisme demo yang dilakukan mahasiswa akhir-akhir ini sedikit banyak mempengaruhi citra KAMMI. KAMMI dalam pandangan mereka adalah sama halnya dengan mahasiswa yang hobi membuat ribut lewat berdemo tanpa peduli bahwa yang diperjuangkan adalah hak mereka, hak rakyat. Berdemo adalah salah satu cara kita mewacanakan isu yang akan kita angkat kepada publik. Sayangnya, masyarakat tak peduli konten isu tersebut, yang mereka tau cara yang digunakan untuk mewacanakannya adalah salah meskipun demo yang dilakukan berjalan damai karena nampaknya masyarakat sudah alergi dengan demonsrtasi.
Seharusnya ini menjadi tugas KAMMI untuk membuktikan bahwa tak semua aksi demonstarasi berakhir ricuh dan anarkis. Mewacanakan isu yang akan diangkat tak semudah mengangkat spanduk atau poster kemudian berorasi dan berteriak-teriak tanpa memahami isi dari isu yang diangkat tersebut. Dan sayangnya, itulah kelemahan gerakan mahasiswa hari ini tanpa dipungkiri begitupun dengan KAMMI. Tak jarang demo yang dilakukan kurang persiapan; tak ada kajian bersama mengenai isu tersebut, tak jarang hanya beberapa orang yang mendalami isu tersebut sehingga ketika ditanyakan oleh pihak lain(wartawan, pihak kepolisian atau bahkan masyarakat.red)tak sedikit dari peserta demo yang gugup menjawabnya lantaran tak memahami isi dari isu yang mereka angkat. Maka persiapan pengetahuan kita menjadi sangat penting, mengkaji isu tersebut dengan melibatkan seluruh peserta demo kemudian menyampaikan isu tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami seluruh kalangan jangan sampai rakyat yang kita bela dalam demo tersebut ternyata tak dipahami oleh masyarakat sendiri dan yang lebih miris adalah masyarakat merasa dirugikan dan mengecam aksi demo.
Aksi mahasiswa terbesar 12 tahun yang lalu masih bisa kita rasakan sampai saat ini, meskipun pesan reformasi yang saat itu di sampaikan masih belum diaplikasikan dengan baik tapi setidaknya masyarakat bisa keluar dari ke-otoriter-an penguasa orde baru. Maka dibutuhkan keberanian, pengorbanan, kepandaian, dan keikhlasan pada diri pemuda Indonesia untuk melakukan yang terbaik untuk bangsanya, dan mengaspirasikan hak rakyat adalah salah satu kewajiban mahasiswa sebagai jembatan masyaarakat dan pemerintah. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)

Karena kita bukan bebek

Jangan jadi bebek !! sedikit tak enak di dengar memang. Tapi itulah penyakit yang mengidap kebanyakan masyarakat kita terutama para remaja tak terkecuali mereka yang bergelar mahasiswa. Tentu saja bebek dan manusia sangat berbeda karena manusia diberi kelebihan yang tak dimilki bebek, yaitu akal. Jadi wajar saja jika bebek ikut kemana saja mereka dibawa tanpa tau arah yang jelas. Tapi manusia memiliki akal yang sepatutnya digunakan untuk memilih mana yang baik untuk diikuti dan mana yang tidak pantas diikuti.
Mereka bilang bulan ini bulan penuh cinta, lalu tak adakah cinta di bulan lainnya?Sekarang bukalah pikiran kita seluas-luasnya. Terlalu sempit rasanya jika hanya ada satu hari untuk mengapreiasikan rasa cinta, terlalu sempit jika apresiasi cinta hanya ditujukan untuk kekasih, dan teramat sempit jika mengapresisasikannya dengan pesta hura-hura berujung maksiat. Lalu kemanakah cinta di hari-hari berikutnya?semudah itukah posisi cinta Allah dan RasulNya tergantikan dan semudah itukah mengabaiakan cinta ibu?serendah itukah arti cinta hingga mengapresiasikannya dengan pesta maksiat?
Dan tertawalah mereka yang memusihi islam melihat kebanyakan korbannya jauh dari al-qur’an dan as-sunnah, malu untuk menjalani identitas diri sebagai muslim, berpecah belah dan mengikuti apa yang tidak diketahui.
Jauh, meremehkan bahkan menentang apa yang tertulis dalam al-qur’an dan as-sunnah.
Malu dengan identitas sebagai muslim. Menomor satukan gengsi ketimbang mengikuti syariat. Seakan semua serba terbalik, malu mengenakan pakaian dengan rapih dan menutup aurat tapi bangga dengan pakaian serba mini seakan tak punya harga diri. Malu menghafalkan ayat-ayat Al Qur’an tapi bangga bila mampu menghafal syair-syair lagu yang mendewakan cinta palsu. Sepertinya malu saat ini telah kehilangan makna yang sebenarnya.
Yang lebih ironis banyak dari kita yang bangga akan suatu hal yang tidak kita ketahui. Larut dalam euforia valentine padahal tidak tahu sejarah valentine yang sesungguhnya.
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjwabannya.” (QS Al Isra;36)
Mari simak sejarah dari hari yang dibangga-banggakan tersebut. Valentine adalah nama seseorang yang menentang keputusan Raja Claudius II yang melarang prajuritnya menikah. Kemudiaan ia dibunuh pada tanggal 14 februari. 270 M. Untuk menagungkan santo valentine, para pengikutnya memperingati kematianya dengan mengadakan upacara keagamaan yang kemudian dikaitkan dengan pesta supercalis, sebuah pesta jamuan kasih sayang bangsa romawi. Orang –orang Eropa percaya bahwa 14 Februari adalah hari dimana burung mencari pasangan untuk kawin. Apakah kita mau disamakan dengan burung?
”...dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dzalim”.
Terlepas dari sejarah valentine yang memiliki beberapa versi tersebut, sebagai seorang muslim seharusnya kita sudah bisa menilai bahwa banyak keburukan yang didapat dalam perayaan valentine. Lalu apa yang diharapkan dari hal-hal yang lebih banyak mengandung keburukan ketimbang kebaikan?tak ada pilihan lain selain menjauhinya.
Rasulullah saw sudah menjelaskan dalam sebuah hadist :
”Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Dan dikuatkan dalam firman Allah swt:
”Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS Ali Imron;85)
Fenomena yang terjadi saat ini adalah diagung-agungkannya cinta palsu selayaknya ”tuhan” khusus di bulan Februari. Bahkan mengatasnamakan cinta untuk berbuat maksiat. Ke-fanatik-an para pemuja cinta palsu semakin menjadi ketika bulan Februari tiba dengan mengapresiasikannya melalui cara yang salah.
Mengungkapkan rasa cinta bukanlah hal yang salah. Bahkan Rasulullah menganjurkan agar kita mengungkapkan rasa cinta yang kita miliki kepada sahabat, saudaranya dengan kata-kata indah yang terungkap dari lisan seindah yang terpendam dalam kalbu dan tidak membatasi bahwa yang berhak mendapatkan ungkapan tersebut hanya kekasih seperti yang dilestarikan dalam budaya valentine. Bukankah cinta sejati kita adalah Sang Pemberi Cinta, Allah swt?Dzat yang Rahman dan Rahim yang kasih sayangnya melebihi marahnya. Bukankah kita memiliki Rasulullah yang memberikan bukti yang jelas akan kecintaannya kepada kita umatnya dimana beliau masih memikirkan umatnya di detik-detik terakhir usianya. Dan kita juga memiliki ibu yang cinta dan pengorbanannya begitu mudah kita rasakan.
Terlalu murah rasanya harga cinta yang kita miliki jika hanya diwakilkan dengan sebatang cokelat atau sekuntum bunga. Dan terlalu kerdil sepertinya makna cinta jika diungkapkan dengan pesta maksiat.
Saatnya kita bangun dan menyadari bahwa kita adalah korban empuk bagi setan dan musuh-musuh islam yang hendak membunuh kita melalui hal-hal yang bersifat kesenangan dunia tapi berakibat kesengsaraan di akhirat. Hebatnya, media-media yang mereka gunakan untuk menghancurkan kita itu berhasil menipu daya bahkan kita bangga-banggakan.
Manusia menjadi makhluk mulia karena memiliki akal dan manusia yang paling mulia adalah yang memiliki iman dan azzam yang kuat hingga menghasilkan ketaqwaan. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)

saat diam menjadi pilihan

Maksud hati ingin menyelami ketenangan malam di teras rumah, tak kuduga malah aku terjebak dalam perbicangan dua orang wanita di hadapanku. Dengan perlahan mereka menarik kursi di hadapanku dan mengawali pembicaraan dengan suara pelan. Aku pun tahu diri, tak seharusnya aku ada disni tapi keduanya mencegahku dan mengijinkanku ada diantara mereka. Syukurlah, akupun takkan tertarik dengan pembicaraan mereka. Tapi pandanganku tertuju tajam pada dua sosok wanita di hadapanku. Seorang diantaranya sangat kukenal karena namanya selalu melekat di hatiku, tentu saja karena beliau ibuku. Sosok di hadapan ibuku pun kukenal hanya saja tak penting kusebutkan siapa dia disini. Tapi bagiku kisah hidupnya begitu menarik.
Sebut saja namanya bu Aini. Beliau adalah ibu dari 3 orang anak. Ia dan suaminya begitu beruntung karena Allah memberikan amanah seorang anak di beberapa bulan setelah pernikahannya. Hal tersebut disambut antusias oleh suaminya, pak Hendra. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Seorang bayi menangis dengan lantang, tapi hal itu disambut kecewa oleh pak hendra, terang saja karena suara tangisan yang lantang itu datang dari seorang bayi laki-laki yang tampan. Dan betapa kecewanya pak hendra, karena yang ia dambakan adalah seorang bayi perempuan.
Ternyata kekecawaan pak hendra tak berhenti di saat itu saja, tapi kekecewaannya itu ia lampiaskan sampai di 3 tahun berikutnya ketika sang bayi tumbuh menjadi balita yang lincah dan lucu. Sayangnya sebagai wujud kecewanya pak hendra kerap kali memperlakukan anak laki-lakinya dengan tidak wajar. Rambut anak laki-lakinya dibiarkannya panjang bahkan di beri poni bahkan tak jarang beberapa hiasan menghiasi rambutnya. Nurani seorang ibu tentu saja berontak, tak menerima anak laki-lakinya diperlakukan tak wajar oleh suaminya sendiri tapi apa yang bisa dilakukan bu aini hanya menangis di kesendirian, ia tak berani melawan suaminya bahkan ia selalu menutup-nutupi kesalahan suaminya di hadapan orang banyak.
Tahun berikutnya, seorang anak kembali lahir dari rahimnnya. Tapi hidup menakdirkan pak hendra untuk kecewa untuk kedua kalinya. Seorang bayi laki-laki yang kembali hadir d kehidupannya. Namun kali ini pelampiasan kekecewaannya lebih kejam karena ia memaksa istrinya menitipkan bayi keduanya kepada ibunda bu aini di kampung dengan alasan klasik yang bagiku tak bisa dengan mudah diterima begitu saja. Hanya karena alasan ekonomi, ia tega memisahkan seorang ibu dari anak kandungnya. Padahal di luar sana masih banyak keluarga yang jauh lebih memprihatinkan keadaan ekonominya tapi mereka tak mudah ”membuang” anakanya begitu saja. Bukankah rizki sudah ada yang mengatur dan bukankah anak juga merupakan rezeki dari Allah??
Kejadian itu ternyata tak mampu membuka mata hati bu aini untuk bersikap tegas pada suaminya. Entahlah apa mungkin ia diciptakan begitu lemah, atau karena rasa cintanya pada suaminya begitu besar hingga ia tak mampu melawan suaminya yang tak pernah henti menyakitinya. Seorang istri memang harus menuruti suaminya bahkan dalam hadist pun tertuang seperti itu. Tapi bagiku tidak untuk seorang suami macam pak hendra yang berperangai kasar, yang seringkali pulang dalan keadaan mabuk bahkan tak jarang ia dijumpai sedang bersama wanita lain.
Tiga tahun berikutnya, bu aini kembali mengandung dan melahirkan. Dan akhirnya Allah mengabulkan pintanya dengan memberikannya seorang bayi perempuan yang cantik. Tentu saja pak hendra sumringah menyambutnya. Seluruh perhatian dan kasih sayangnya ia curahkan semua pada putri kesayangannya hingga ia lupa bahwa ia memiliki dua anak laki-lakinya. Putrinya ini diperlakukan bak putri raja, ia tak pernah kekurangan kasih sayang dan harta dari kedua orangtuanya, semua keinginannya dipenuhi. Tapi ternyata hal ini berimbas pada anak laki-laki pertamanya yang dulu menjadi satu-satunya tempat mencurahkan kasih sayang, kini ia seperti mendapat saingan yang tak lain adik kandungnya sendiri. Ia mersa iri dan kecewa dengan sikap bapaknya yang tak lagi memperdulikannya. Sayangnya, kekecewaannya dilampiaskan pada adik laki-laki yang baru ia jumpai setelah 3 tahun dipisahkan. Ketika kedua kakak beradik itu bertemu, mereka layaknya musuh karena tak ada komunikasi diantara mereka. Bahkan mereka tak pernah bicara satu sama lain. Mereka hanya bisa mengekspresikan kekecewaan mereka pada bapaknya dengan diam dan cuek pada saudaranya sendiri. Sedangkan sang putri sudah asyik dengan dunianya yang penuh dengan segala keinginannya yang terpenuhi dan tak mau ambil pusing dengan masalah kakak-kakaknya.
Ketika sang putri menginjak usia sekolah. Keadaan ekonomi keluarga ini kembali berantakan. Sehingga memaksa bu aini berjualan makanan di dekat sekolah ketiga anaknya. Menyadari ibunya hanya seorang penjual makanan membuat putrinya malu mengakui bu aini sebagai ibunya. Ia tak pernah sekalipun terlihat membantu ibunya bahkan lewat di hadapannya ketika bu aini berjualan pun ia tidak mau karena takut diketahui oleh teman-temanya bahwa ia hanya seorang anak penjual makanan. Rupanya kasih sayang berlebih dari bapaknya telah membentuk kepribadian yang hampir sama mewarisi sifat bapaknya.
Betapa hancurnya perasaan bu aini melihat perkembangan anak-anaknya. Kedua anak laki-laki nya yang tak tampak seperti saudara bahkan lebih tampak seperti seorang yang tak pernah mengenal dan tak pernah mau saling mengenal, enatahlah mungkin itu adalah efek dari keduanya sudah dipisahkan sejak kecil dan ketika dipertemukan kondisi jiwa anak pertamanya sedang tak labil oleh sikap bapaknya yang tak lagi memperhatikannya seperti dulu hingga ia torehkan kekewaan itu dengan tak mau mengenal adiknya yang telah lama berpisah. Tak hanya itu, ia semakin miris melihat anak perempuanya tumbuh menjadi anak yang egois dan bahkan tak mau mengakuinya sebagai ibu. Sedangkan suaminya tak pernah berhenti menyakitinya.
Malam itu akhirnya ia beranikan diri untuk mencurahkan semua isi hatinya yang telah lama ia pendam pada ibuku. Airmatanya yang selama ini tertahan di hadapan semua orang, malam itu ia tumpahkan di hadapan ibu dan aku. Dan aku hanya bisa termenung mendengarkan kisahnya. Ingin hati ini marah pada pak hendra dan juga bu aini tapi aku tahu diri aku ini hanya anak kecil yang tak tau apa-apa tapi aku cukup tau bahwa bu aini harus bangkit dari kelemahnnya selama ini. Ia tak bisa membiarkan keluarganya hancur dengan sikap diamnya selama ini. Dan ternyata ibuku pun sapaham denganku hanya saja kata-katanya jauh lebih bijak dari sekedar kemarahanku.
Belum selesai ibu menenangkan bu aini, aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perbincangan mereka karena malam sudah begitu larut. Sebelum kupejamkan mata, aku termenung sejenak bersyukur pada Allah karena Dia telah mengaruniakan aku kedua orangtua yang menyayangi aku dan adikku serta selalu membimbing kami di jalanNya. Terlintas tiga sosok melintas di pikiranku, mereka adalah kedua orangtuaku dan juga adikku yang amat kucintai. Kupejamkan mataku dan kutengadahkan tanganku memujiNya dan memohon padaNya agar aku, kedua orangtuaku, dan adikku dapat berkumpul di tempat maha indah bernama surga.
Keesokan paginya kutemui kedua orangtuaku dan memeluk mereka erat sembari berdoa” Ya Illahi sesungguhnya aku tak ingin melepas pelukan ini sampai nanti kami benar-benar menjadi penghuni surgaMu, ma tunjukilah kami jalan yang lurus menuju surgaMu bersama cinta yang kami miliki, Ya Illahi aku mencintai mereka dan memiliki serta mencintai mereka adalah anugerah terindah dalam hidupku” (Assyifa)

Kampanye damai yang tak berdamai dengan iman

Lebih dari seminggu sudah masyarakat kenyang menyaksikan aksi tebar pesona segelintir orang yang menyebut dirinya “pahlawan” yang akan membela masyarakat kecil. Tentu saja, aksi tebar pesona yang lebih tenar dengan nama kampanye damai ini melibatkan masyarakat kecil, bahkan anak-anak kecil yang seharusnya tidak ikut andil dalam aksi ini. Mungkin akan lebih mudah dimaafkan apabila kampanye yang katanya damai ini benar-benar berjalan damai. Damai disini bukan saja tak ada kerusuhan yang dapat menelan korban jiwa tapi damai disini juga termasuk tidak adanya “iman” yang akan menjadi korban. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penyanyi dangdut dengan penampilan yang siap menggoyahkan iman mewarnai setiap kampanye. Lalu dimana damai itu berada? Jika mata sudah tak aman melihat hal-hal yang dapat menggoyahkan iman. Dan ironisnya, masyarakat kecil itu terlebih masyarakat yang umurnya masih kecil menikmatinya sebagai suguhan yang menarik. Bagaimana tidak, kenikmatan duniawi apalagi yang hendak di dapat?dapat tontonan gratis yang menyegarkan mata meski membutakan mata hati dan setelah itu dapat uang transpotrasi.
Maka jadilah kegiatan ikut kampanye menjadi pekerjaan baru bagi sebagian masyarakat. Sejenak meraup untung dari upah berpartisipasi dalam kampanye dan melalaikan pekerjaannya. Apabila diminta memilih, ikut kampanye atau kembali ke pekerjaan sehari-hari?mungkin jawabannya dapat dilihat dari alas an berikut. Ikut kampanye dapat uang, apalagi jika membawa semua keluarga, maka minimal satu orang dapat dua puluh ribu rupiah lalu dikalikkan jumlah keluarga yang ikut. Menggiurkan bukan?dan pekerjaannyapun mudah. Hanya mengelu-elukan nama partai, berkeliling kota, bergoyang saat musik dangdut dimainkan lalu dapat upah plus kaos partai gratis. Maka tak heran jika sebagian orang menganggap kampanye sebagai ajang refreshing keluarga. Dan dapat ditebak hasilnya adalah sebagian masyarakat kita jadi malas bekerja saat musim kampanye tiba.
Apakah yang para “pahlawan-pahlawan” itu harapkan dari masyarakat kita apabila setiap kampanye menyuguhkan hiburan yang amoral seperti itu?bukankah masih ada alternative lain dalam memprogram kampanye?setidaknya dapat memberikan pesan moral kepada masyarakat. Lalu bagaimana para “pahlawan” itu akan mensejahterakan masyarakat apabila kampanyenya malah membuat masyarakatnya tak bermoral dengan suguhan yang amoral?Bukankah masyarakat akan hidup sejahtera apabila masyarakatnya memiliki moral yang baik?maka apakah kita dapat menyebutnya sebagai pembodohan masyarakat?
Kampanye damai seharusnya tak menelan korban jiwa, tak menggoyahkan iman, dan tak menggangu pekerjaan para peserta kampanyenya. (Assyifa)

Agar cintamu tak bertepuk sebelah tangan

Pernah ngerasain patah hati, sahabat ?
Cuma orang yang hidupnya ribet yang bakal ngerasain patah hati. Kenapa?karena dia gak nyari sesuatu yang sudah pasti dalam hidupnya. Hidup itu cari yang pasti-pasti aja, bener ga sich?
Ibaratnya gini dech, kalo kita mau cari buah-buahan, pastinya kita langsung ke toko buah kan?gak perlu muter-muter nyari di toko buku atau toko besi. Atau kalo kita belum pernah liat lumba-lumba, ya kita harus ke laut kalo mau liat bukannya ke pegunungan. Intinya adalah kalo kita mau cari sesuatu, ya kita cari ke sumbernya atau tempat yang udah pasti ada sesuatu yang kita cari itu, jadi gak perlu muter-muter gak jelas.
Begitupun dengan cinta, sahabat!!mungkin diantara kamu pernah patah hati gara-gara cintamu bertepuk sebelah tangan. Kalo kamu nyari cinta, ya cari dimana Sumber Cinta itu berasal. Yupz, jawabannya kita cari pada Sang Pemberi Cinta alias Allah swt. Kalo kamu cinta ma cowo atau cewe puajaanmu belum pasti cinta kamu berbalas kan? Tapi beda kalo kamu cinta ma Allah, Dia gak bakal mungkin nolak cinta kamu!!Dia adalah Dzat yang tak kan pernah sanggup menolak cinta hambaNya. Dan Dia adalah Dzat yang pemalu untuk mengembalikan tangan hambaNya dengan kehampaan. Bahkan ketika kamu punya cinta seluas lautan maka Ia akan membalas cintamu sebesar dunia beserta isinya.
Kalo cewe atau cowo pujaanmu itu minta banyak syarat supaya cintamu diterima; harus beli banyak hadiah, harus punya motor, harus traktir makan plus nonton setiap weekend, harus ngerjain tugas-tugas kuliahnya, dan seabrek permintaan yang ujung-ujungnya bakal ngerugiin diri kamu sendiri. Tapi Allah gak minta banyak supaya cintamu diterima, kamu gak mesti banyak uang and gak mesti ganteng atau cantik. Karena Allah liat smua hambaNya punya derajat yang sama Cuma keimanan yang membuatnya lebih istimewa.
Nah, sekarang gimana caranya supaya menghadirkan cinta kepada Allah dalam hati kita. Kata orang tak kenal maka tak sayang. So, kenali dulu Cinta Sejati kita. Gimana caranya??salah satu caranya lewat akal. Coba berfikir dan merenungi ayat-ayat Allah yang ada di alam misalnya: lewat fenomena terjadinya alam, fenomena pengabulan do’a, fenomena hikmah, fenomena petunjuk dan ilham. Begitu juga lewat ayat-ayat Qur’aniyah- Nya dalam surat cintaNya alias Al-Qur’an, seperti keindahan penyampaian, ketinggian bahasa, adanya penemuan-penemuan ilmiah, adanya kisah-kisah kaum terdahulu, bahkan pemberitahuan kejadian-kejadian di masa yang akan datang. Dengan merenungi hal-hal tersebut kita akan tau betapa Maha Besarnya Allah, betapa Hebatnya Dia. Dan selanjutnya akan timbul kekaguman dalam diri kita yang merupakan bibit-bibit hadirnya Cinta.
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Mungkin sebagian orang berfikir “duh, berat banget ya caranya”. Tapi cara yang menurut kamu berat itu sebenarnya akan berbuah kebaikan bagi dirimu sendiri. Dengan semua itu InsyaAllah kamu akan bertemu denganNya di tempat Maha indah bernama surga, sedangkan syarat-syarat yang harus kamu lakukan demi cinta cewe atau cowo pujaan kamu itu gak bakal ngejamin kamu masuk Surga kan?dan belum tentu juga kamu akan bertemu dengan si dia di kehidupan akhirat nanti. Kalopun kamu beruntung bersama-sama dengan si dia lagi di kehidupan nanti, belum tentu dia akan berada di surga kalo dia masuk neraka??Naudzubillahimindzalik.
Maka dari itu sahabat MINI, kita harus berhati-hati pada rasa cinta yang kita punya jangan sampai cinta yang kita punya termasuk cinta yang hina yaitu cinta berdasar hawa nafsu atau cinta yang lebih mengutamakan dunia dan melupakan Allah.
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54).
Semoga kita termasuk ke dalam kaum tersebut. Amin..
Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)

Iman dan Ilmu harus bersahabat

Mungkin belum lepas dari ingatan kita, berita tertangkapnya sejumlah mahasiswa dalam pesta shabu-shabu beberapa bulan yang lalu. Dan dilanjutkan dengan berita duka atas tewasnya seorang mahasiswa yang OD setelah semalaman pesta miras. Berikut juga berita terperangkapnya seorang mahasiswa dan mahasiswi dalam razia PEKAT di sebuah hotel. Kasus diatas hanya potret kecil pergaulan dunia mahasiswa di sekitar kita ini. Dan bukan tidak mungkin masih banyak kasus-kasus serupa yang tidak teridentifikasi oleh publik.
Ada apa dengan kaum yang katanya terpelajar ini?tidakkah mereka pelajari bahwa bergelut dengan miras, narkoba dan berbagai bentuk kemaksiatan adalah suatu kesia-siaan yang tidak hanya akan membelenggu mereka, bukan saja penjara dunia tapi juga penjara akhirat yang tentunya lebih ganas.
Ada hal penting yang harus kita perhatikan disini. Mahasiswa ada untuk disiapkan terjun ke masyarakat. Tentu saja sebagai pemegang tonggak kepemimpinan yang mampu memperbaiki moralitas bangsa, untuk itu tak salah jika dibutuhkan pendidikan tinggi sebagai bekal. Tapi apa jadinya jika mereka setelah terjun ke masyarakat nanti bukannya menjadi agent of change tapi menjadi bagian dari penyakit masyarakat. Maka tak perlu pendidikan tinggi jika hanya sekedar ingin menjadi bagian dari penyakit masyarakat kan?
Sebenarnya ketika kita telah membawa gelar mahasiswa dalam status kita. Ada banyak titipan harapan yang bukan saja harus kita jaga tapi juga harus kita penuhi. Harapan akan kehidupan yang lebih baik dari orangtua dan masyarakat sekitar. Dan yang terpenting adalah harapan yang Allah titipkan agar kita bisa menjadi pembaharu moral umat yang memiliki daya guna yang tinggi kepada masyarakat karena pancaran keimanan.
Karena ilmu saja tak cukup kuat untuk memenuhi harapan-harapan itu, karena ilmu perlu iman sebagai teman untuk menguatkan perjuangan ini. Di luar sana berserakan contoh-contoh bagaimana ilmu menjadi sia-sia karena iman tak menyertai.
Kawan, dunia ini sudah sesak menampung kemaksiatan. Dengan ilmu dan iman yang kita punya, niatkan diri untuk mampu menghimpun kekuatan untuk mengusir kemaksiatan itu agar dunia dapat bernafas lega. Jika mengusir kemaksiatan dari dunia adalah mimpi yang terlalu tinggi maka Setidaknya ilmu dan iman yang kita miliki ini mampu mengusir kemaksiatan jauh dari diri sendiri sehingga kita mampu bernafas lega di kehidupan yang kekal nanti.
Dari Imam Ghozali bahwa manusia berada dalam kebinasaan, kecuali: ilmu, amal, syi’ar dan ikhlas. Tak perlu mmenunggu menjadi professor untuk mengamalkan ilmu yang kita dapatkan. Dan tak perlu menjadi ustadz terkenal untuk menularkan ilmu yang telah kita amalkan itu kepada orang lain karena yang kita butuhkan adalah ikhlas. Ikhlas mencari ilmu, ikhlas mengamalkan ilmu, ikhlas menyampaikan ilmu yang telah diamalkan.
Dan engkau wahai mahasiswa!!dengan predikatmu sebagai kaum terpelajar yang tentu saja berilmu. Jadikan ilmu yang kau punya sebagai modal dasarmu untuk berbakti pada semuanya yang telah menitipkan harapan besar di pundakmu. (Assyifa)

Maaf aku belum mampu berlari mengejarmu

Seperti Matahari yang tetap bersinar tanpa lelah
Meski hujatan terlontar dari manusia-manusia kolong langit yang
mengeluh kepanasan
Seperti matahari dan hujan yang sedia menghadirkan pelangi
Sebagai penghibur atas kekesalan manusia-manusia kolong langit yang jemurannya basah apabila datang hujan
Maka biarkan aku menjaga semangat ini atas nama dakwah
Setidaknya untuk mengobati kekecawaan saudara-saudaraku atas ketidamampuanku memenuhi harapan mereka
Karena aku belum mampu menjadi seperti mereka
Maka ijinkanlah aku menghadirkan semangat di setiap langkahku yang
baru mampu berjalan
Sementara mereka menginginkan aku berlari
Beri aku waktu agar semangat itu mampu mengantarkanku berlari cepat
Meski mungkin muak rasanya mendengar permintaan “beri aku waktu”

Assyifa

tempat pembuangan kata

Aku hanya ingin mengikat ilmuku dengan kata per kata, hingga terangkai kalimat
Biarlah semua mencemooh rangkaian ini
Bahkan mungkin semua penyair menertawakannya
Ketika lidah ini lebih buas dari tangan
Maka tak ada salahnya kugerakkan tangan ini untuk menyambung lidahku
Hati, akal dan pikiran ini sudah tak mampu menyimapan kata
Maka kubuang kata-kata itu ke dalam pembuangan imajinasiku berwujud tulisan ini
Apakah salah ketika tak kubiarkan kata-kata ini terbuang sia-sia?
Nikmatilah jika memang layak
Sisihkanlah jika membuatmu muak
Tapi jangan pinta aku membuangnya sebagai kotoran
Karena tempat pembuangan kata-kata ini ádalah jalanku
Untukku pergi menyusul “Dua Cintaku” ke Tempat penuh cinta
Karena kuasaku adalah jihad lewat tulisan ini.

Assyifa

semua salah cinta

Rasa itu tak ubahnya Virus mematikan
Ia Siap membunuh semangatmu
Hingga mengubah Ikrar yang hadir di setiap mimpi
Dan akhirnya hilanglah sudah
Hilanglah ruh iman yang kita tanam bersama
Dan mungkin ia kan merenggutmu dari langkah ini
Sampaikan hal ini pada hatimu, saudaraku..
Hingga ia mampu meramu obat
Sebelum hati dan pikiranmu terlapisi racun
Racun bernama cinta!!
Mengapa menyalahkan cinta?
Cinta takkan pernah salah!!!
Tapi cinta yang kau punya Sekarang belum saatnya untuk hadir
Ketika nanti cinta itu datang pada waktunya dan ia tak mengusir cinta Illahi dari singgahsana cinta tertinggi di hatimu..
Maka cinta takkan pernah salah!!!
Dan sekarang nikmatilah cinta ILlahi untuk kau jaga sampai nanti kau kembali padaNya.
(Assyifa)

Diantara terompet dan bom

Semalam pelosok negeriku riuh oleh suara terompet,
kau tau di negeri malang bernama Palestina riuh oleh suara tembakan dan bom di pelosok negerinya.
Semalam lazuardi negeriku benderang oleh cahaya kembang api,
kau tau di lazuardi tempat Al Aqsho bernaung benderang oleh kilatan bom mengotori indahnya lazuardi nauangan Al Aqsho.
Semalam sauadara-saudaraku di negeriku tertawa bahagia menyambut datangnya tahun baru,
kau tau saudara-saudaraku di negeri para nabi itu menangis, menjerit, merintih, menahan sakit, menahan lapar, menyambut serangan bengis yahudi laknatullah.
Semalam saudara-saudaraku menghabiskan waktu di gemerlap cafe, seraya berteriak ”Happy New Year!!”.
Kau tau saudara-saudaraku yg lain menghabiskan waktu di barak-barak penampungan, di rumah sakit, bahkan mungkin sembunyi di bawah puing-puing rumah mereka yg telah hancur, sembari berteriak ”Rabb...dimana saudara-saudara seimanku di saat aku membutuhkannya...”.
Saudaraku, karena iman kita dipersaudarakan
Karena iman, kita ini bagai satu tubuh
Karena kita ini satu tubuh maka ketika ada satu anggota tubuh yg sakit,anggota tubuh yg lainpun akan merasakan sakit.
Harusnya....
Tapi, apa yg kusaksikan hari ini..??
Pahit rasanya menyaksikan dua hal jauh yg berbeda
Getir kurasa, hanya dapat berdiam diri menyaksikan hal yg menyesakkan itu.
Ya illahi ..aku percaya janjiMu benar adanya,
Engkau akan mengabullkan doa seorang saudara yg mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu.
Jadikan setiap tetes darah mereka bahan bakar untuk menuju surga-Mu
Jadikan setiap jerit tangis mereka kekuatan untuk meraih surga-Mu
Maka jadikan setiap peluru yahudi lakanatullah itu gumpalan api yg siap menerkam mereka
Ya illahi..aku percaya adzab-Mu pedih adanya.
(Assyifa)

Mengapa harus puas mendapat nilai B jika mampu mendapat nilai A

Hidup adalah pilihan, rasanya kalimat itu cocok untuk hidupku. “mau beli boneka baru apa baju baru?” atau “mau liburan di rumah nenek apa ke kebun binatang?”. Ya, sejak kecil aku sudah disuguhi pilihan yg sulit. Ternyata berlangsung hingga saat ini, “jadi aktfis mahasiswa atau mahasiswa pasifis?”. “setumpuk agenda dakwah atau setumpuk pekerjaan rumah”.
Di depanku terhidang stumpuk pekerjaan rumah tapi pikiranku terlempar dikejar-kejar deadline tugas dakwahku. Ketika ku jalani aktifitas dakwahku, sosok lemah ibuku yg mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri menghantuiku dan membuyarkan konsentrasiku. Ujung-ujungnya apakah ku harus memilih di antara keduanya?dan meninggalkan salah satunya?.
Sampai-sampai terhempas suara-suara tak bertanggung jawab dalam keraguanku, “andai kau pilih menjadi mahasiswa biasa alias mahasiswa pasifis pasti tentu tak kan bingung seperti ini memilih 2 hal yg dicintai. Toh, menjadi mahasiswa biasa bukan perbuatan dosa selama nilai-nilai agama masih kau pegang. Dan hidupmu akan lebih santai tanpa harus di kejar-kejar “deadline” tugas dakwah, tugas kuliah, dan tugas di rumah”.
Tiba-tiba suara tak bertanggung jawab itu pecah oleh gelombang suara lain, “ya kau benar menjadi mahasiswa biasa bukan perbuatan dosa selama nilai-nilai agama masih kau pegang, tapi mengapa harus puas mendapat nilai B jika sebenarnya kita mampu mendapat nilai A. Dengan menjadi mahasiswa biasa yang tetap memegang teguh nilai-nilai agama, kau telah mendapat nilai B, tapi dengan menjadi mahasiswa sekaligus aktifis dakwah kampus insya Allah, Sang Maha Adil akan memberimu nilai A”. subhanallah
Jadi teringat slogan hidup sahabatku, “syukuri nikmat agar hati tak banyak menuntut” subhanallah…tepat sekali!!kalau saja aku bersyukur atas nikmat Sang Maha Pemurah, nikmat memiliki saudara-saudara yg mencintaiku karena Allah, nikmat berupa kesempatan lebih besar untukku bisa menyadari hakikat hidupku dan mengenal “Cinta sejatiku”, menikmati liku-liku perjuangan dakwah yg Rasulullah rasakan meski tak seberat yg beliau rasakan. Dan nikmat lainnya…
Andai kusadari semua nikmat yg tak semua penghuni bumi dapatkan itu ku syukuri sebagai nikmat yg besar pasti tak akan lahir banyak kalimat berawalan “kenapa” dan “andai”. “kenapa tak ada waktu untukku beristirahat?” dan “andai saja ada satu hari lagi setelah hari ahad dan sebelum hari senin untukku beristirahat”.
Hati, sadarilah bahwa sesungguhnya kesalahan bukan pada waktu, tapi ada pada dirimu, kau adala kunci kebimbangan ini. Bukankah otak dan hati masih bisa di ajak berkompromi bagaimana me-manaje waktumu agar semua amanah di pundak dapat dijalani dengan baik dan seimbang?belajar menjadi manager untuk dirimu sendiri, tetapkan skala prioritas dalam peta hidupmu. Menemukannya bukan dengan mencari di buku atau bertanya pada orang lain tapi cari dan tanyakan pada hati. Tentu saja bukannya tanpa petunjuk, kaupun harus meminta petunjuk Sang Maha Mengetahui.
Lagi-lagi teori, gampang rasanya menghafal teori. Tapi praktiknya?siapa bilang sulit??tidak ada yang sulit ketika semua amalan di latar belakangi oleh niat ikhlas untuk mencari ridho-Nya dan konsisten dari awal hingga akhir.
Hati, ketahuilah bahwa dunia ini hanya sementara. Begitupun istirahatmu di dunia tak akan senikmat tempat istirahatmu di tempat terindah bernama surga yg telah Allah persiapkan untuk mujahid dan mujahidah yg menghabiskan waktunya untuk menegakan kalimat tauhid di setiap sisi-sisi dunia dalam rangka menggapai ridho-Nya. Karena istirahanya pejuang dakwah adalah kematian untuknya. Azzamkan bahwa pengorbanan seorang umat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti dan kau tau kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu biasanya seiring dengan perintah yg diberikan kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia.Wallahu’alam bishawab .(Assyifa)

Titah cinta

Kubawa kakikku melangkah sejauh mungkin
Kupaksakan kakikku berlari secepat mungkin
Kudengarkan hatiku berbisik
“pergi dan lupakan semuanya tentang mereka!!”
Tapi kurasakan berat langkahku
Kulihat mereka menyatu dengan bayanganku di setiap jengkal langkahku
Kucoba untuk menutup mata, telinga, hati, dan anganku dari mereka
Tapi mata, telinga, hati, dan anganku lebih menuruti titah Tuhannya ketimbang titahku
Mataku menyadarkanku bahwa ia adalah saksi bisu berapa banyak air mata bahagia, sedih, haru ketika kususuri titah cinta bersama mereka
Telingaku berontak karena ia adalah saksi bisu gema takbir penyemangat ketika kuperjuangkan titah cinta bersama mereka
Anganku mengingatkanku bahwa ia adalah saksi bisu berapa banyak kenangan manis dan pahit ketika kuarungi titah cinta bersama mereka
Hatiku berteriak bahwa ia adalah saksi bisu betapa besar rasa cinta itu tertanam untuk mereka
Semakin cepat aku berlari, semakin kurasakan bisikan angin
“kembalilah dan ingatlah semuanya tentang mereka!!”
Kutengokkan kepalaku dan aku melihat mereka melambaikan tangan dengan air mata
“kami mencintaimu karena Allah, kau dititahkan untuk berjuang bersama kami untuk syahid”
“Allahu akbar !!”
Kuraih tangan mereka dan menyambut takbir dengan airmata yang jatuh sebagai bukti cintaku pada sang Maha Cinta yang telah memberiku titah untuk menjumpaiNya di surga. (Assyifa)