Selasa, 25 Mei 2010

Kampanye damai yang tak berdamai dengan iman

Lebih dari seminggu sudah masyarakat kenyang menyaksikan aksi tebar pesona segelintir orang yang menyebut dirinya “pahlawan” yang akan membela masyarakat kecil. Tentu saja, aksi tebar pesona yang lebih tenar dengan nama kampanye damai ini melibatkan masyarakat kecil, bahkan anak-anak kecil yang seharusnya tidak ikut andil dalam aksi ini. Mungkin akan lebih mudah dimaafkan apabila kampanye yang katanya damai ini benar-benar berjalan damai. Damai disini bukan saja tak ada kerusuhan yang dapat menelan korban jiwa tapi damai disini juga termasuk tidak adanya “iman” yang akan menjadi korban. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penyanyi dangdut dengan penampilan yang siap menggoyahkan iman mewarnai setiap kampanye. Lalu dimana damai itu berada? Jika mata sudah tak aman melihat hal-hal yang dapat menggoyahkan iman. Dan ironisnya, masyarakat kecil itu terlebih masyarakat yang umurnya masih kecil menikmatinya sebagai suguhan yang menarik. Bagaimana tidak, kenikmatan duniawi apalagi yang hendak di dapat?dapat tontonan gratis yang menyegarkan mata meski membutakan mata hati dan setelah itu dapat uang transpotrasi.
Maka jadilah kegiatan ikut kampanye menjadi pekerjaan baru bagi sebagian masyarakat. Sejenak meraup untung dari upah berpartisipasi dalam kampanye dan melalaikan pekerjaannya. Apabila diminta memilih, ikut kampanye atau kembali ke pekerjaan sehari-hari?mungkin jawabannya dapat dilihat dari alas an berikut. Ikut kampanye dapat uang, apalagi jika membawa semua keluarga, maka minimal satu orang dapat dua puluh ribu rupiah lalu dikalikkan jumlah keluarga yang ikut. Menggiurkan bukan?dan pekerjaannyapun mudah. Hanya mengelu-elukan nama partai, berkeliling kota, bergoyang saat musik dangdut dimainkan lalu dapat upah plus kaos partai gratis. Maka tak heran jika sebagian orang menganggap kampanye sebagai ajang refreshing keluarga. Dan dapat ditebak hasilnya adalah sebagian masyarakat kita jadi malas bekerja saat musim kampanye tiba.
Apakah yang para “pahlawan-pahlawan” itu harapkan dari masyarakat kita apabila setiap kampanye menyuguhkan hiburan yang amoral seperti itu?bukankah masih ada alternative lain dalam memprogram kampanye?setidaknya dapat memberikan pesan moral kepada masyarakat. Lalu bagaimana para “pahlawan” itu akan mensejahterakan masyarakat apabila kampanyenya malah membuat masyarakatnya tak bermoral dengan suguhan yang amoral?Bukankah masyarakat akan hidup sejahtera apabila masyarakatnya memiliki moral yang baik?maka apakah kita dapat menyebutnya sebagai pembodohan masyarakat?
Kampanye damai seharusnya tak menelan korban jiwa, tak menggoyahkan iman, dan tak menggangu pekerjaan para peserta kampanyenya. (Assyifa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar