Selasa, 25 Mei 2010

saat diam menjadi pilihan

Maksud hati ingin menyelami ketenangan malam di teras rumah, tak kuduga malah aku terjebak dalam perbicangan dua orang wanita di hadapanku. Dengan perlahan mereka menarik kursi di hadapanku dan mengawali pembicaraan dengan suara pelan. Aku pun tahu diri, tak seharusnya aku ada disni tapi keduanya mencegahku dan mengijinkanku ada diantara mereka. Syukurlah, akupun takkan tertarik dengan pembicaraan mereka. Tapi pandanganku tertuju tajam pada dua sosok wanita di hadapanku. Seorang diantaranya sangat kukenal karena namanya selalu melekat di hatiku, tentu saja karena beliau ibuku. Sosok di hadapan ibuku pun kukenal hanya saja tak penting kusebutkan siapa dia disini. Tapi bagiku kisah hidupnya begitu menarik.
Sebut saja namanya bu Aini. Beliau adalah ibu dari 3 orang anak. Ia dan suaminya begitu beruntung karena Allah memberikan amanah seorang anak di beberapa bulan setelah pernikahannya. Hal tersebut disambut antusias oleh suaminya, pak Hendra. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Seorang bayi menangis dengan lantang, tapi hal itu disambut kecewa oleh pak hendra, terang saja karena suara tangisan yang lantang itu datang dari seorang bayi laki-laki yang tampan. Dan betapa kecewanya pak hendra, karena yang ia dambakan adalah seorang bayi perempuan.
Ternyata kekecawaan pak hendra tak berhenti di saat itu saja, tapi kekecewaannya itu ia lampiaskan sampai di 3 tahun berikutnya ketika sang bayi tumbuh menjadi balita yang lincah dan lucu. Sayangnya sebagai wujud kecewanya pak hendra kerap kali memperlakukan anak laki-lakinya dengan tidak wajar. Rambut anak laki-lakinya dibiarkannya panjang bahkan di beri poni bahkan tak jarang beberapa hiasan menghiasi rambutnya. Nurani seorang ibu tentu saja berontak, tak menerima anak laki-lakinya diperlakukan tak wajar oleh suaminya sendiri tapi apa yang bisa dilakukan bu aini hanya menangis di kesendirian, ia tak berani melawan suaminya bahkan ia selalu menutup-nutupi kesalahan suaminya di hadapan orang banyak.
Tahun berikutnya, seorang anak kembali lahir dari rahimnnya. Tapi hidup menakdirkan pak hendra untuk kecewa untuk kedua kalinya. Seorang bayi laki-laki yang kembali hadir d kehidupannya. Namun kali ini pelampiasan kekecewaannya lebih kejam karena ia memaksa istrinya menitipkan bayi keduanya kepada ibunda bu aini di kampung dengan alasan klasik yang bagiku tak bisa dengan mudah diterima begitu saja. Hanya karena alasan ekonomi, ia tega memisahkan seorang ibu dari anak kandungnya. Padahal di luar sana masih banyak keluarga yang jauh lebih memprihatinkan keadaan ekonominya tapi mereka tak mudah ”membuang” anakanya begitu saja. Bukankah rizki sudah ada yang mengatur dan bukankah anak juga merupakan rezeki dari Allah??
Kejadian itu ternyata tak mampu membuka mata hati bu aini untuk bersikap tegas pada suaminya. Entahlah apa mungkin ia diciptakan begitu lemah, atau karena rasa cintanya pada suaminya begitu besar hingga ia tak mampu melawan suaminya yang tak pernah henti menyakitinya. Seorang istri memang harus menuruti suaminya bahkan dalam hadist pun tertuang seperti itu. Tapi bagiku tidak untuk seorang suami macam pak hendra yang berperangai kasar, yang seringkali pulang dalan keadaan mabuk bahkan tak jarang ia dijumpai sedang bersama wanita lain.
Tiga tahun berikutnya, bu aini kembali mengandung dan melahirkan. Dan akhirnya Allah mengabulkan pintanya dengan memberikannya seorang bayi perempuan yang cantik. Tentu saja pak hendra sumringah menyambutnya. Seluruh perhatian dan kasih sayangnya ia curahkan semua pada putri kesayangannya hingga ia lupa bahwa ia memiliki dua anak laki-lakinya. Putrinya ini diperlakukan bak putri raja, ia tak pernah kekurangan kasih sayang dan harta dari kedua orangtuanya, semua keinginannya dipenuhi. Tapi ternyata hal ini berimbas pada anak laki-laki pertamanya yang dulu menjadi satu-satunya tempat mencurahkan kasih sayang, kini ia seperti mendapat saingan yang tak lain adik kandungnya sendiri. Ia mersa iri dan kecewa dengan sikap bapaknya yang tak lagi memperdulikannya. Sayangnya, kekecewaannya dilampiaskan pada adik laki-laki yang baru ia jumpai setelah 3 tahun dipisahkan. Ketika kedua kakak beradik itu bertemu, mereka layaknya musuh karena tak ada komunikasi diantara mereka. Bahkan mereka tak pernah bicara satu sama lain. Mereka hanya bisa mengekspresikan kekecewaan mereka pada bapaknya dengan diam dan cuek pada saudaranya sendiri. Sedangkan sang putri sudah asyik dengan dunianya yang penuh dengan segala keinginannya yang terpenuhi dan tak mau ambil pusing dengan masalah kakak-kakaknya.
Ketika sang putri menginjak usia sekolah. Keadaan ekonomi keluarga ini kembali berantakan. Sehingga memaksa bu aini berjualan makanan di dekat sekolah ketiga anaknya. Menyadari ibunya hanya seorang penjual makanan membuat putrinya malu mengakui bu aini sebagai ibunya. Ia tak pernah sekalipun terlihat membantu ibunya bahkan lewat di hadapannya ketika bu aini berjualan pun ia tidak mau karena takut diketahui oleh teman-temanya bahwa ia hanya seorang anak penjual makanan. Rupanya kasih sayang berlebih dari bapaknya telah membentuk kepribadian yang hampir sama mewarisi sifat bapaknya.
Betapa hancurnya perasaan bu aini melihat perkembangan anak-anaknya. Kedua anak laki-laki nya yang tak tampak seperti saudara bahkan lebih tampak seperti seorang yang tak pernah mengenal dan tak pernah mau saling mengenal, enatahlah mungkin itu adalah efek dari keduanya sudah dipisahkan sejak kecil dan ketika dipertemukan kondisi jiwa anak pertamanya sedang tak labil oleh sikap bapaknya yang tak lagi memperhatikannya seperti dulu hingga ia torehkan kekewaan itu dengan tak mau mengenal adiknya yang telah lama berpisah. Tak hanya itu, ia semakin miris melihat anak perempuanya tumbuh menjadi anak yang egois dan bahkan tak mau mengakuinya sebagai ibu. Sedangkan suaminya tak pernah berhenti menyakitinya.
Malam itu akhirnya ia beranikan diri untuk mencurahkan semua isi hatinya yang telah lama ia pendam pada ibuku. Airmatanya yang selama ini tertahan di hadapan semua orang, malam itu ia tumpahkan di hadapan ibu dan aku. Dan aku hanya bisa termenung mendengarkan kisahnya. Ingin hati ini marah pada pak hendra dan juga bu aini tapi aku tahu diri aku ini hanya anak kecil yang tak tau apa-apa tapi aku cukup tau bahwa bu aini harus bangkit dari kelemahnnya selama ini. Ia tak bisa membiarkan keluarganya hancur dengan sikap diamnya selama ini. Dan ternyata ibuku pun sapaham denganku hanya saja kata-katanya jauh lebih bijak dari sekedar kemarahanku.
Belum selesai ibu menenangkan bu aini, aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perbincangan mereka karena malam sudah begitu larut. Sebelum kupejamkan mata, aku termenung sejenak bersyukur pada Allah karena Dia telah mengaruniakan aku kedua orangtua yang menyayangi aku dan adikku serta selalu membimbing kami di jalanNya. Terlintas tiga sosok melintas di pikiranku, mereka adalah kedua orangtuaku dan juga adikku yang amat kucintai. Kupejamkan mataku dan kutengadahkan tanganku memujiNya dan memohon padaNya agar aku, kedua orangtuaku, dan adikku dapat berkumpul di tempat maha indah bernama surga.
Keesokan paginya kutemui kedua orangtuaku dan memeluk mereka erat sembari berdoa” Ya Illahi sesungguhnya aku tak ingin melepas pelukan ini sampai nanti kami benar-benar menjadi penghuni surgaMu, ma tunjukilah kami jalan yang lurus menuju surgaMu bersama cinta yang kami miliki, Ya Illahi aku mencintai mereka dan memiliki serta mencintai mereka adalah anugerah terindah dalam hidupku” (Assyifa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar