Jangan jadi bebek !! sedikit tak enak di dengar memang. Tapi itulah penyakit yang mengidap kebanyakan masyarakat kita terutama para remaja tak terkecuali mereka yang bergelar mahasiswa. Tentu saja bebek dan manusia sangat berbeda karena manusia diberi kelebihan yang tak dimilki bebek, yaitu akal. Jadi wajar saja jika bebek ikut kemana saja mereka dibawa tanpa tau arah yang jelas. Tapi manusia memiliki akal yang sepatutnya digunakan untuk memilih mana yang baik untuk diikuti dan mana yang tidak pantas diikuti.
Mereka bilang bulan ini bulan penuh cinta, lalu tak adakah cinta di bulan lainnya?Sekarang bukalah pikiran kita seluas-luasnya. Terlalu sempit rasanya jika hanya ada satu hari untuk mengapreiasikan rasa cinta, terlalu sempit jika apresiasi cinta hanya ditujukan untuk kekasih, dan teramat sempit jika mengapresisasikannya dengan pesta hura-hura berujung maksiat. Lalu kemanakah cinta di hari-hari berikutnya?semudah itukah posisi cinta Allah dan RasulNya tergantikan dan semudah itukah mengabaiakan cinta ibu?serendah itukah arti cinta hingga mengapresiasikannya dengan pesta maksiat?
Dan tertawalah mereka yang memusihi islam melihat kebanyakan korbannya jauh dari al-qur’an dan as-sunnah, malu untuk menjalani identitas diri sebagai muslim, berpecah belah dan mengikuti apa yang tidak diketahui.
Jauh, meremehkan bahkan menentang apa yang tertulis dalam al-qur’an dan as-sunnah.
Malu dengan identitas sebagai muslim. Menomor satukan gengsi ketimbang mengikuti syariat. Seakan semua serba terbalik, malu mengenakan pakaian dengan rapih dan menutup aurat tapi bangga dengan pakaian serba mini seakan tak punya harga diri. Malu menghafalkan ayat-ayat Al Qur’an tapi bangga bila mampu menghafal syair-syair lagu yang mendewakan cinta palsu. Sepertinya malu saat ini telah kehilangan makna yang sebenarnya.
Yang lebih ironis banyak dari kita yang bangga akan suatu hal yang tidak kita ketahui. Larut dalam euforia valentine padahal tidak tahu sejarah valentine yang sesungguhnya.
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjwabannya.” (QS Al Isra;36)
Mari simak sejarah dari hari yang dibangga-banggakan tersebut. Valentine adalah nama seseorang yang menentang keputusan Raja Claudius II yang melarang prajuritnya menikah. Kemudiaan ia dibunuh pada tanggal 14 februari. 270 M. Untuk menagungkan santo valentine, para pengikutnya memperingati kematianya dengan mengadakan upacara keagamaan yang kemudian dikaitkan dengan pesta supercalis, sebuah pesta jamuan kasih sayang bangsa romawi. Orang –orang Eropa percaya bahwa 14 Februari adalah hari dimana burung mencari pasangan untuk kawin. Apakah kita mau disamakan dengan burung?
”...dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dzalim”.
Terlepas dari sejarah valentine yang memiliki beberapa versi tersebut, sebagai seorang muslim seharusnya kita sudah bisa menilai bahwa banyak keburukan yang didapat dalam perayaan valentine. Lalu apa yang diharapkan dari hal-hal yang lebih banyak mengandung keburukan ketimbang kebaikan?tak ada pilihan lain selain menjauhinya.
Rasulullah saw sudah menjelaskan dalam sebuah hadist :
”Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Dan dikuatkan dalam firman Allah swt:
”Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS Ali Imron;85)
Fenomena yang terjadi saat ini adalah diagung-agungkannya cinta palsu selayaknya ”tuhan” khusus di bulan Februari. Bahkan mengatasnamakan cinta untuk berbuat maksiat. Ke-fanatik-an para pemuja cinta palsu semakin menjadi ketika bulan Februari tiba dengan mengapresiasikannya melalui cara yang salah.
Mengungkapkan rasa cinta bukanlah hal yang salah. Bahkan Rasulullah menganjurkan agar kita mengungkapkan rasa cinta yang kita miliki kepada sahabat, saudaranya dengan kata-kata indah yang terungkap dari lisan seindah yang terpendam dalam kalbu dan tidak membatasi bahwa yang berhak mendapatkan ungkapan tersebut hanya kekasih seperti yang dilestarikan dalam budaya valentine. Bukankah cinta sejati kita adalah Sang Pemberi Cinta, Allah swt?Dzat yang Rahman dan Rahim yang kasih sayangnya melebihi marahnya. Bukankah kita memiliki Rasulullah yang memberikan bukti yang jelas akan kecintaannya kepada kita umatnya dimana beliau masih memikirkan umatnya di detik-detik terakhir usianya. Dan kita juga memiliki ibu yang cinta dan pengorbanannya begitu mudah kita rasakan.
Terlalu murah rasanya harga cinta yang kita miliki jika hanya diwakilkan dengan sebatang cokelat atau sekuntum bunga. Dan terlalu kerdil sepertinya makna cinta jika diungkapkan dengan pesta maksiat.
Saatnya kita bangun dan menyadari bahwa kita adalah korban empuk bagi setan dan musuh-musuh islam yang hendak membunuh kita melalui hal-hal yang bersifat kesenangan dunia tapi berakibat kesengsaraan di akhirat. Hebatnya, media-media yang mereka gunakan untuk menghancurkan kita itu berhasil menipu daya bahkan kita bangga-banggakan.
Manusia menjadi makhluk mulia karena memiliki akal dan manusia yang paling mulia adalah yang memiliki iman dan azzam yang kuat hingga menghasilkan ketaqwaan. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar