Selasa, 25 Mei 2010

Iman dan Ilmu harus bersahabat

Mungkin belum lepas dari ingatan kita, berita tertangkapnya sejumlah mahasiswa dalam pesta shabu-shabu beberapa bulan yang lalu. Dan dilanjutkan dengan berita duka atas tewasnya seorang mahasiswa yang OD setelah semalaman pesta miras. Berikut juga berita terperangkapnya seorang mahasiswa dan mahasiswi dalam razia PEKAT di sebuah hotel. Kasus diatas hanya potret kecil pergaulan dunia mahasiswa di sekitar kita ini. Dan bukan tidak mungkin masih banyak kasus-kasus serupa yang tidak teridentifikasi oleh publik.
Ada apa dengan kaum yang katanya terpelajar ini?tidakkah mereka pelajari bahwa bergelut dengan miras, narkoba dan berbagai bentuk kemaksiatan adalah suatu kesia-siaan yang tidak hanya akan membelenggu mereka, bukan saja penjara dunia tapi juga penjara akhirat yang tentunya lebih ganas.
Ada hal penting yang harus kita perhatikan disini. Mahasiswa ada untuk disiapkan terjun ke masyarakat. Tentu saja sebagai pemegang tonggak kepemimpinan yang mampu memperbaiki moralitas bangsa, untuk itu tak salah jika dibutuhkan pendidikan tinggi sebagai bekal. Tapi apa jadinya jika mereka setelah terjun ke masyarakat nanti bukannya menjadi agent of change tapi menjadi bagian dari penyakit masyarakat. Maka tak perlu pendidikan tinggi jika hanya sekedar ingin menjadi bagian dari penyakit masyarakat kan?
Sebenarnya ketika kita telah membawa gelar mahasiswa dalam status kita. Ada banyak titipan harapan yang bukan saja harus kita jaga tapi juga harus kita penuhi. Harapan akan kehidupan yang lebih baik dari orangtua dan masyarakat sekitar. Dan yang terpenting adalah harapan yang Allah titipkan agar kita bisa menjadi pembaharu moral umat yang memiliki daya guna yang tinggi kepada masyarakat karena pancaran keimanan.
Karena ilmu saja tak cukup kuat untuk memenuhi harapan-harapan itu, karena ilmu perlu iman sebagai teman untuk menguatkan perjuangan ini. Di luar sana berserakan contoh-contoh bagaimana ilmu menjadi sia-sia karena iman tak menyertai.
Kawan, dunia ini sudah sesak menampung kemaksiatan. Dengan ilmu dan iman yang kita punya, niatkan diri untuk mampu menghimpun kekuatan untuk mengusir kemaksiatan itu agar dunia dapat bernafas lega. Jika mengusir kemaksiatan dari dunia adalah mimpi yang terlalu tinggi maka Setidaknya ilmu dan iman yang kita miliki ini mampu mengusir kemaksiatan jauh dari diri sendiri sehingga kita mampu bernafas lega di kehidupan yang kekal nanti.
Dari Imam Ghozali bahwa manusia berada dalam kebinasaan, kecuali: ilmu, amal, syi’ar dan ikhlas. Tak perlu mmenunggu menjadi professor untuk mengamalkan ilmu yang kita dapatkan. Dan tak perlu menjadi ustadz terkenal untuk menularkan ilmu yang telah kita amalkan itu kepada orang lain karena yang kita butuhkan adalah ikhlas. Ikhlas mencari ilmu, ikhlas mengamalkan ilmu, ikhlas menyampaikan ilmu yang telah diamalkan.
Dan engkau wahai mahasiswa!!dengan predikatmu sebagai kaum terpelajar yang tentu saja berilmu. Jadikan ilmu yang kau punya sebagai modal dasarmu untuk berbakti pada semuanya yang telah menitipkan harapan besar di pundakmu. (Assyifa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar