Hidup adalah pilihan, rasanya kalimat itu cocok untuk hidupku. “mau beli boneka baru apa baju baru?” atau “mau liburan di rumah nenek apa ke kebun binatang?”. Ya, sejak kecil aku sudah disuguhi pilihan yg sulit. Ternyata berlangsung hingga saat ini, “jadi aktfis mahasiswa atau mahasiswa pasifis?”. “setumpuk agenda dakwah atau setumpuk pekerjaan rumah”.
Di depanku terhidang stumpuk pekerjaan rumah tapi pikiranku terlempar dikejar-kejar deadline tugas dakwahku. Ketika ku jalani aktifitas dakwahku, sosok lemah ibuku yg mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri menghantuiku dan membuyarkan konsentrasiku. Ujung-ujungnya apakah ku harus memilih di antara keduanya?dan meninggalkan salah satunya?.
Sampai-sampai terhempas suara-suara tak bertanggung jawab dalam keraguanku, “andai kau pilih menjadi mahasiswa biasa alias mahasiswa pasifis pasti tentu tak kan bingung seperti ini memilih 2 hal yg dicintai. Toh, menjadi mahasiswa biasa bukan perbuatan dosa selama nilai-nilai agama masih kau pegang. Dan hidupmu akan lebih santai tanpa harus di kejar-kejar “deadline” tugas dakwah, tugas kuliah, dan tugas di rumah”.
Tiba-tiba suara tak bertanggung jawab itu pecah oleh gelombang suara lain, “ya kau benar menjadi mahasiswa biasa bukan perbuatan dosa selama nilai-nilai agama masih kau pegang, tapi mengapa harus puas mendapat nilai B jika sebenarnya kita mampu mendapat nilai A. Dengan menjadi mahasiswa biasa yang tetap memegang teguh nilai-nilai agama, kau telah mendapat nilai B, tapi dengan menjadi mahasiswa sekaligus aktifis dakwah kampus insya Allah, Sang Maha Adil akan memberimu nilai A”. subhanallah
Jadi teringat slogan hidup sahabatku, “syukuri nikmat agar hati tak banyak menuntut” subhanallah…tepat sekali!!kalau saja aku bersyukur atas nikmat Sang Maha Pemurah, nikmat memiliki saudara-saudara yg mencintaiku karena Allah, nikmat berupa kesempatan lebih besar untukku bisa menyadari hakikat hidupku dan mengenal “Cinta sejatiku”, menikmati liku-liku perjuangan dakwah yg Rasulullah rasakan meski tak seberat yg beliau rasakan. Dan nikmat lainnya…
Andai kusadari semua nikmat yg tak semua penghuni bumi dapatkan itu ku syukuri sebagai nikmat yg besar pasti tak akan lahir banyak kalimat berawalan “kenapa” dan “andai”. “kenapa tak ada waktu untukku beristirahat?” dan “andai saja ada satu hari lagi setelah hari ahad dan sebelum hari senin untukku beristirahat”.
Hati, sadarilah bahwa sesungguhnya kesalahan bukan pada waktu, tapi ada pada dirimu, kau adala kunci kebimbangan ini. Bukankah otak dan hati masih bisa di ajak berkompromi bagaimana me-manaje waktumu agar semua amanah di pundak dapat dijalani dengan baik dan seimbang?belajar menjadi manager untuk dirimu sendiri, tetapkan skala prioritas dalam peta hidupmu. Menemukannya bukan dengan mencari di buku atau bertanya pada orang lain tapi cari dan tanyakan pada hati. Tentu saja bukannya tanpa petunjuk, kaupun harus meminta petunjuk Sang Maha Mengetahui.
Lagi-lagi teori, gampang rasanya menghafal teori. Tapi praktiknya?siapa bilang sulit??tidak ada yang sulit ketika semua amalan di latar belakangi oleh niat ikhlas untuk mencari ridho-Nya dan konsisten dari awal hingga akhir.
Hati, ketahuilah bahwa dunia ini hanya sementara. Begitupun istirahatmu di dunia tak akan senikmat tempat istirahatmu di tempat terindah bernama surga yg telah Allah persiapkan untuk mujahid dan mujahidah yg menghabiskan waktunya untuk menegakan kalimat tauhid di setiap sisi-sisi dunia dalam rangka menggapai ridho-Nya. Karena istirahanya pejuang dakwah adalah kematian untuknya. Azzamkan bahwa pengorbanan seorang umat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti dan kau tau kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu biasanya seiring dengan perintah yg diberikan kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia.Wallahu’alam bishawab .(Assyifa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar