Rabu, 22 Desember 2010
Sabtu, 18 Desember 2010
Langit surga untukmu ibunda
Aku disini termenung menatap lelapmu, sungguh aku takkan berani melakukan ini ketika kau terjaga. Karena aku tak mampu menatap sorot matamu ketika kau menatapku lembut.
Ada kekhawatiran yang tersirat di balik tatapan lembutmu. ”kapan kau akan berhenti dari rutinitasmu ini, anakku?”
Tanpa lisanmu terucap pun, binar matamu cukup mewakilinya..
Aku tak mampu menjawabnya, ibu...
Bukan karena aku tak miliki jawabannya.
Tapi biarkan Langit surga yang akan menceritakannya untukmu suatu saat nanti
Aku berjanji akan baik-baik saja disini, bertahan untuk mengumpulkan puing-puing kebahagiaan abadi untukmu, dan bukan kebahagiaan semu
Ya, aku memang tak seperti mereka yang telah mampu membahagiakan kedua orang tuanya dengan kebahagiaan materi. Bukan pula mereka yang mulai sibuk menyiapkan masa depannya.
Aku masih disini dengan segudang agenda dakwah kampusku.
Ibu, aku ingin kau tau betapa indahnya jalan ini. Jalan yang telah membuat kakiku tak mampu berhenti melangkah sebelum langit surga ku tatap, bersamamu....
Ibu, ketika aku berkejar-kejaran dengan waktu di jalan ini, jangan kira aku tak mengingatmu. Justru, wajahmu lah yang menguatkanku agar aku segera bangkit setiap kali terjatuh.
Terangi jalan ini dengan ridhomu,ibu...
Agar aku mampu menapakinya dengan tegar, setegar hatimu
Ijinkan aku tetap berada di jalan ini, ibu...
Karena aku yakin di ujung perjalanan panjang ini ada kebanggaan dan kebahagiaan yang akan ku persembahkan untukmu...
Aku memang tak mampu menghadiahkanmu perhiasan,dan kemewahan dunia lainnya
Tapi aku berjanji akan menghadiahimu langit surga bersama Allah dan Rasul Nya..
Dan jalan ini, jalan yang kupilih untuk menemui Sang Maha Cinta agar ku dapat me-minta-kan langit surga untukmu..
-Assyifa-
Ada kekhawatiran yang tersirat di balik tatapan lembutmu. ”kapan kau akan berhenti dari rutinitasmu ini, anakku?”
Tanpa lisanmu terucap pun, binar matamu cukup mewakilinya..
Aku tak mampu menjawabnya, ibu...
Bukan karena aku tak miliki jawabannya.
Tapi biarkan Langit surga yang akan menceritakannya untukmu suatu saat nanti
Aku berjanji akan baik-baik saja disini, bertahan untuk mengumpulkan puing-puing kebahagiaan abadi untukmu, dan bukan kebahagiaan semu
Ya, aku memang tak seperti mereka yang telah mampu membahagiakan kedua orang tuanya dengan kebahagiaan materi. Bukan pula mereka yang mulai sibuk menyiapkan masa depannya.
Aku masih disini dengan segudang agenda dakwah kampusku.
Ibu, aku ingin kau tau betapa indahnya jalan ini. Jalan yang telah membuat kakiku tak mampu berhenti melangkah sebelum langit surga ku tatap, bersamamu....
Ibu, ketika aku berkejar-kejaran dengan waktu di jalan ini, jangan kira aku tak mengingatmu. Justru, wajahmu lah yang menguatkanku agar aku segera bangkit setiap kali terjatuh.
Terangi jalan ini dengan ridhomu,ibu...
Agar aku mampu menapakinya dengan tegar, setegar hatimu
Ijinkan aku tetap berada di jalan ini, ibu...
Karena aku yakin di ujung perjalanan panjang ini ada kebanggaan dan kebahagiaan yang akan ku persembahkan untukmu...
Aku memang tak mampu menghadiahkanmu perhiasan,dan kemewahan dunia lainnya
Tapi aku berjanji akan menghadiahimu langit surga bersama Allah dan Rasul Nya..
Dan jalan ini, jalan yang kupilih untuk menemui Sang Maha Cinta agar ku dapat me-minta-kan langit surga untukmu..
-Assyifa-
Sabtu, 27 November 2010
Sakura diantara kelopak-klopak Mawar
Aku, sakura diantara kelopak-kelopak mawar di taman perjuangan ini.
Biarkan warnaku terselip diantara biru, putih, hitam, hijau, kuning dan warna-warni mawar ini. Meski warnaku tak se-elok warna mereka.
Aku ingin belajar menjadi luar biasa dari mereka tanpa harus mengubah diri menjadi mawar. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, sakura.
Aku percaya bahwa kebersamaan itu lebih indah, dan aku yakin episode kebersamaanku bersama mereka adalah bagian terindah dari episode hidupku.
Kebersamaan ini membuatku mengerti akan indahnya perbedaan jika kita mau saling memahami dan saling mengisi.
Untuk Mawar-Mawar yang bersemi di taman perjuangan. Mawar-Mawar yang bersemi bersama pancaran Nurul Ilmi. Jangan biarkan duri sebagai perisaimu patah oleh angin berhembus tak tentu arah. Karena Mawar tanpa duri sebagai perisainya kan mudah rapuh. Jagalah perisai itu ukhti, jaga pula hatimu agar tak mudah rapuh oleh rasa yang semu. Karena engkau adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Jaga keindahanmu hingga waktu yang tepat tiba.
*mumpung lagi musim bunga mawar nech, tulisan ini kupersembahkan untuk all akhwat IMMNI agar ukhuwah qt terjalin erat dengan saling mengingatkan dalam kebaiakan. Syukron atas ukhuwahnya selama ini ukhti...
-Assyifa-
Biarkan warnaku terselip diantara biru, putih, hitam, hijau, kuning dan warna-warni mawar ini. Meski warnaku tak se-elok warna mereka.
Aku ingin belajar menjadi luar biasa dari mereka tanpa harus mengubah diri menjadi mawar. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, sakura.
Aku percaya bahwa kebersamaan itu lebih indah, dan aku yakin episode kebersamaanku bersama mereka adalah bagian terindah dari episode hidupku.
Kebersamaan ini membuatku mengerti akan indahnya perbedaan jika kita mau saling memahami dan saling mengisi.
Untuk Mawar-Mawar yang bersemi di taman perjuangan. Mawar-Mawar yang bersemi bersama pancaran Nurul Ilmi. Jangan biarkan duri sebagai perisaimu patah oleh angin berhembus tak tentu arah. Karena Mawar tanpa duri sebagai perisainya kan mudah rapuh. Jagalah perisai itu ukhti, jaga pula hatimu agar tak mudah rapuh oleh rasa yang semu. Karena engkau adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Jaga keindahanmu hingga waktu yang tepat tiba.
*mumpung lagi musim bunga mawar nech, tulisan ini kupersembahkan untuk all akhwat IMMNI agar ukhuwah qt terjalin erat dengan saling mengingatkan dalam kebaiakan. Syukron atas ukhuwahnya selama ini ukhti...
-Assyifa-
Musim semi di bawah birunya langit negeri sakura
Sakura... Hanya dengan menatapnya meski lewat gambar, telah mampu membuat mataku berbinar-binar. Rasa yang sama ketika ku menatap sekerumunan manusia berbalut putih mengelilingi ka’bah. Seakan ada kerinduan yang menggenang di hatiku untuk melihat keduanya secara langsung dalam radius yang dekat dari bola mataku. Mungkin rasa rindu yang sama dimiliki jutaan umat ini untuk melihat saksi bisu perjalanan Nabi Ibrahim As dan Rasulullah Saw di masjid kebanggaan umat itu. Tapi tak banyak yang memiliki rasa rindu yang kumiliki untuk sakura.
Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Seperti halnya mawar yang cantik dengan duri sebagai perisainya. Seperti halnya teratai yang tumbuh cantik meski ia hidup di lumpur yang kotor. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya.
Sakura... bunga berparas cantik ini terlihat jauh lebih cantik ketika ia berada dalam Jama’ahnya. Bersama dengan kelopak-kelopak sakura yang lainnya. Berkerumun seperti bola salju, berkerumun seperti kerumunan Jama’ah yang berdzikir di sekeliling Ka’bah. Sakura pun berdzikir meng-agungkan asma Allah dengan caranya sendiri. Seperti halnya caranya ia mekar, kelopaknya akan lebih dulu mekar sebelum daunnya. Sebuah kehormatan untuknya, karena tahun ajaran baru sekolah dimulai bertepatan dengan primadona musim semi di Jepang ini bermekaran, seakan ia menjadi inspirasi dan semangat baru yang akan bersemi di hati orang-orang sekelilingnya. Meskipun usianya hanya bertahan kurang lebih dua minggu.
Seperti sakura yang selalu menepati janjinya. Janji untuk kembali mekar dengan indahnya setelah ia berguguran. Janji untuk memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang melihatnya dan menantikannya. Meski untuk tumbuh setelah ia berguguran, ia harus melewati masa-masa yang sulit.
Seperti sakura yang mampu menjadi inspirasi, mampu memberikan semangat untuk orang-orang di sekelilingnya meskipun usianya begitu singkat. Tapi, di usia singkat nya itu, ia mampu memberikan keteduhan, kebahagiaan, menebarkan semangat dan insipirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Meski setelah itu ia harus melewati masa sulitnya di musim gugur, sebuah takdir yang tak bisa ia pungkiri. Tapi ia selalu berjanji untuk kembali hadir memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang menantikan semangat baru darinya. Tanpa orang-orang itu harus tau masa-masa sulitnya untuk kembali tumbuh. Ia hanya ingin orang-orang di sekelilingnya bahagia atas kehadirannya.
Aku mungkin tak seberuntung sakura yang memiliki kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya untuk bisa memberikan yang terbaik dalam hidup. Karena ketika sakura belum bisa memberikan yang terbaik sebelum ia gugur, ia masih memiliki kesempatan di musim semi berikutnya. Sedangkan aku, ketika gugur nanti takkan ada lagi kesempatan berikutnya untukku.
Bagiku, ia tercipta begitu indah dengan filsofi hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Biarkan aku sejenak menembus anganku, bermain dengan imajinasiku dimana aku bisa menjumpainya dalam musim semi di bawah langit biru negeri sakura. Dan mengakhiri perjalanan imjinasiku di sebuah masjid yang juga cantik. Masjid yang cantik bukan karena bangunannya yang megah nan agung, tapi cantik karena ia dibangun dengan rasa cinta kepada Allah dan selalu dipenuhi jutaan umat yang juga mencintai Allah. Diringi dengan rasa cintaku untuk Allah dan atas ijinNya, aku berharap imajinasi itu kan benar-benar kudapati menjadi nyata bagiku. (Assyifa)
Aku yakin Sang Maha Indah memiliki makna tersirat di balik semua ciptaanNya. Seperti halnya mawar yang cantik dengan duri sebagai perisainya. Seperti halnya teratai yang tumbuh cantik meski ia hidup di lumpur yang kotor. Begitupun sakura. Bagiku, ia cantik dengan caranya memberikan inspirasi melalui perjalanan hidupnya.
Sakura... bunga berparas cantik ini terlihat jauh lebih cantik ketika ia berada dalam Jama’ahnya. Bersama dengan kelopak-kelopak sakura yang lainnya. Berkerumun seperti bola salju, berkerumun seperti kerumunan Jama’ah yang berdzikir di sekeliling Ka’bah. Sakura pun berdzikir meng-agungkan asma Allah dengan caranya sendiri. Seperti halnya caranya ia mekar, kelopaknya akan lebih dulu mekar sebelum daunnya. Sebuah kehormatan untuknya, karena tahun ajaran baru sekolah dimulai bertepatan dengan primadona musim semi di Jepang ini bermekaran, seakan ia menjadi inspirasi dan semangat baru yang akan bersemi di hati orang-orang sekelilingnya. Meskipun usianya hanya bertahan kurang lebih dua minggu.
Seperti sakura yang selalu menepati janjinya. Janji untuk kembali mekar dengan indahnya setelah ia berguguran. Janji untuk memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang melihatnya dan menantikannya. Meski untuk tumbuh setelah ia berguguran, ia harus melewati masa-masa yang sulit.
Seperti sakura yang mampu menjadi inspirasi, mampu memberikan semangat untuk orang-orang di sekelilingnya meskipun usianya begitu singkat. Tapi, di usia singkat nya itu, ia mampu memberikan keteduhan, kebahagiaan, menebarkan semangat dan insipirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Meski setelah itu ia harus melewati masa sulitnya di musim gugur, sebuah takdir yang tak bisa ia pungkiri. Tapi ia selalu berjanji untuk kembali hadir memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang menantikan semangat baru darinya. Tanpa orang-orang itu harus tau masa-masa sulitnya untuk kembali tumbuh. Ia hanya ingin orang-orang di sekelilingnya bahagia atas kehadirannya.
Aku mungkin tak seberuntung sakura yang memiliki kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya untuk bisa memberikan yang terbaik dalam hidup. Karena ketika sakura belum bisa memberikan yang terbaik sebelum ia gugur, ia masih memiliki kesempatan di musim semi berikutnya. Sedangkan aku, ketika gugur nanti takkan ada lagi kesempatan berikutnya untukku.
Bagiku, ia tercipta begitu indah dengan filsofi hidupnya. Aku belajar tentang arti indahnya sebuah kebersamaan, tentang arti hidup yang sebenarnya bahwa hidup yang singkat ini haruslah diisi dengan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Aku belajar menepati janji, aku belajar membahagiakan orang lain tanpa mereka harus tau kesedihanku. Aku belajar agar hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya yang Allah firmankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Biarkan aku sejenak menembus anganku, bermain dengan imajinasiku dimana aku bisa menjumpainya dalam musim semi di bawah langit biru negeri sakura. Dan mengakhiri perjalanan imjinasiku di sebuah masjid yang juga cantik. Masjid yang cantik bukan karena bangunannya yang megah nan agung, tapi cantik karena ia dibangun dengan rasa cinta kepada Allah dan selalu dipenuhi jutaan umat yang juga mencintai Allah. Diringi dengan rasa cintaku untuk Allah dan atas ijinNya, aku berharap imajinasi itu kan benar-benar kudapati menjadi nyata bagiku. (Assyifa)
Kamis, 11 November 2010
Alam kemerdekaan tanpa batas
Episode kisah perjuangan mereka yang bergelar pahlwan Indonesia itu hanya terekam lewat lembaran-lembaran sejarah tanpa memiliki arti lebih selain untuk sekedar dihafalkan. Seakan perjuangan telah berakhir dengan berakhirnya halaman terakhir buku sejarah bangsa ini selesai di baca. Semangat membangun negeri yang mereka miliki seakan dianggap telah selesai seiring dengan deklarasi kemerdekaan Negara ini dikumandangkan sehingga tak perlu lagi semangat perjuangan itu dikobarkan di Negara yang telah “merdeka” saat ini.
Semakin terlena oleh kemerdekaan semu ini membuat generasi muda kita memandang kemerdekaan negara kita ini sebagai kemerdekaan tanpa batas. Merdeka melakukan apapun yang mereka mau meski akibatnya adalah rusaknya moral mereka bahkan moral negeri ini. Nikmatnya hidup di negeri yang telah “merdeka” ini jika bisa mendapatkan apa yang diinginkan; mobil mewah, HP canggih, fashion berkelas, kehidupan glamour, pergaulan tanpa batas. Maka untuk apa semangat berjuang membangun negeri?hanya membuang-buang waktu. Sekiranya itulah yang ada dalam mindset mereka saat ini di alam kemerdekaan tanpa batas.
Entahlah, jika mereka begitu menikmati penjajahan pemikiran sebagai sebuah kemerdekaan, haruskah negeri ini merasakan kembali nikmatnya penjajahan fisik untuk bisa memancing semangat berjuang pemudanya??
(Assyifa)
Semakin terlena oleh kemerdekaan semu ini membuat generasi muda kita memandang kemerdekaan negara kita ini sebagai kemerdekaan tanpa batas. Merdeka melakukan apapun yang mereka mau meski akibatnya adalah rusaknya moral mereka bahkan moral negeri ini. Nikmatnya hidup di negeri yang telah “merdeka” ini jika bisa mendapatkan apa yang diinginkan; mobil mewah, HP canggih, fashion berkelas, kehidupan glamour, pergaulan tanpa batas. Maka untuk apa semangat berjuang membangun negeri?hanya membuang-buang waktu. Sekiranya itulah yang ada dalam mindset mereka saat ini di alam kemerdekaan tanpa batas.
Entahlah, jika mereka begitu menikmati penjajahan pemikiran sebagai sebuah kemerdekaan, haruskah negeri ini merasakan kembali nikmatnya penjajahan fisik untuk bisa memancing semangat berjuang pemudanya??
(Assyifa)
Selasa, 19 Oktober 2010
Surau redup di usia senjanya
penyakit itu datang lagi, setiap kali aku merindukan kebersamaan itu
aku lagi-lagi tak bisa meredamnya
dan lagi-lagi hanya bisa menuangkannya lewat kata
tapi ternyata barisan kata-kata itu telah membunuh rasa lain
membunuh rasa dalam tautan hati bernama ukhuwah
entahlah, masih adakah rasa cinta itu untukku??
aku lagi-lagi harus merasakan akibatnya sendiri
kembali sendiri, disini di surau kecil yang hanya diterangi temaram lampu yang redup
entahlah, andaikan aku bisa berlari dari suaru redup ini
karena surau ini telah kehilangan jiwa nya
tapi lagi-lagi pikiranku lebih memilih titah tuhannya ketimbang titahku
surau redup ini di usia senjanya..
fisiknya memang rapuh, bahkan hampir rubuh dan runtuh
tapi dulu di masa kejayaan nya ia begitu istimewa meski rapuh
karena masih ada jiwa-jiwa yang menguatkannya
tapi kini...
ia semakin redup karena satu demi satu jiwanya telah hilang
sebelum ia benar-benar dihilangkan
dan aku, aku hanya bisa menangis sendri disini di surau yang hanya tinggal menunggu waktunya
aku lagi-lagi tak bisa meredamnya
dan lagi-lagi hanya bisa menuangkannya lewat kata
tapi ternyata barisan kata-kata itu telah membunuh rasa lain
membunuh rasa dalam tautan hati bernama ukhuwah
entahlah, masih adakah rasa cinta itu untukku??
aku lagi-lagi harus merasakan akibatnya sendiri
kembali sendiri, disini di surau kecil yang hanya diterangi temaram lampu yang redup
entahlah, andaikan aku bisa berlari dari suaru redup ini
karena surau ini telah kehilangan jiwa nya
tapi lagi-lagi pikiranku lebih memilih titah tuhannya ketimbang titahku
surau redup ini di usia senjanya..
fisiknya memang rapuh, bahkan hampir rubuh dan runtuh
tapi dulu di masa kejayaan nya ia begitu istimewa meski rapuh
karena masih ada jiwa-jiwa yang menguatkannya
tapi kini...
ia semakin redup karena satu demi satu jiwanya telah hilang
sebelum ia benar-benar dihilangkan
dan aku, aku hanya bisa menangis sendri disini di surau yang hanya tinggal menunggu waktunya
aku lelah dan jenuh titik
Jika ditanya Lelah?? Ya aku Lelah!! Harus membagi-bagi pikiranku.
Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk focus pada satu hal, kuliah dan Memikirkan masa depanku titik.
Jika ditanya Jenuh?? Ya aku jenuh!!bergelut dengan aktifitas yang itu-itu saja.
Sekali lagi jika aku boleh memilih aku akan memilih untuk berkelana sesuka hatiku, menikmati masa mudaku titik.
Kupikir jika pertanyaan itu datang padamu, jawabanmu pun tak akan jauh berbeda denganku.
Benarkan??
Hayo ngaku…. .
Lalu bagaimana jika pertanyaan itu hadir di hadapan Rasulullah dan para sahabat dulu, kira-kira apakah jawaban beliau semua? Apakah jawaban beliau semua sama denganku?
Andaikan ketika dulu beliau semua ditanyakan hal yang sama dan menjawab hal yang sama denganku, apa jadinya kita hari ini??
Mungkin kau dan aku saat ini sedang menyembah berhala yang terbuat dari tepung roti.
Mungkin tak akan ada istilah emansipasi wanita. Karena jangankan emansipasi wanita, mungkin ibu kartinipun belum tentu bertahan hidup hingga dewasa untuk memikirkan emansipasi.
Dan begitu pula aku, mungkin usiaku tak sampai 3 bulan purnama pun sudah di kubur hidup- hidup karena bayi perempuan adalah sebuah aib.
Mungkin, mungkin dan masih banyak mungkin-mungkin yang lain..
Mari kita biarkan pikiran kita bekerja masing-masing untuk membayangkan berbagai kemungkinan itu.............................................................................................................
Dan… sekarang bangunlah….sudah cukup!!!
Bangun dari mimpi buruk itu!!
Bukalah matamu... tenanglah..
Karena kita tidak sedang ada di dunia sekelam dan sehitam yang kau bayangkan itu.
Lihatlah!! Tepung-tepung roti itu bisa kita makan sekarang, tak perlu lagi kita sembah.
Dan aku bisa merasakan betapa aku dihormati sebagai kaum wanita. semua itu karena tak ada kata LELAH dan JENUH dalam kamus perjuangan Rasulullah dan para sahabat.
Tapi taukah kau?
Rasulullah dan para sahabatpun pernah merasakan dilema.
Dilema ketika harus meninggalkan harta, keluarga, pekerjaan dan semua yang dicintainya di Mekah untuk hijrah ke Madinah.
Tetapi beliau semua membulatkan tekad untuk dakwah ini
Sebulat tekadnya seorang Abu Bakar Asshidiq ketika ditanya
”jika kau infak kan seluruh hartamu di jalan Allah, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?
Dengan mantap beliau menjawab ”cukup Allah dan RasulNya saja”.
Se- mantap pilihan Mush'ab bin 'Umair untuk meninggalkan kemewahan, ketampanan, dan semua kenikmatan duniawi yang tak semua orang beruntung memilikinya.
Jika saja Rasulullah dan para sahabat dulu mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib kita saat ini, tak dapat merasakan betapa indahnya islam
Jika saja aku dan kau mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib anak cucu kita nanti, tak mengenal apa itu indahnya islam??
Mengapa tidak mungkin??
Taukah kau, mengapa kita sudah sulit bahkan tak bisa lagi melihat lambang negara kia, sang garuda??
Karena ia tak ada yang melestarikan,
Dan begitupun dengan dakwah ini...
Lalu, apa maksudnya ku sampaikan hal ini padamu??
Kau akan menemukan jawabannya di dasar hatimu..
Dan kuharap mutiara perjuangan ini yang kan kau temukan di dasar hatimu
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH Rahmat Abdullah).”
Dan akhirnya.......
kejenuhan dan kelelahanpun berkata”aku lelah dan jenuh titik. ” (loch??)
*afwan, tidak ada maksud menyindir, menghardik, menghakimi, mengajari,dsb
Ini hanya sebuah renungan pribadi yang ingin ana bagi dengan ikhwah semua.
Bagi yang sedang merasakannya, semoga bisa bermanfaat
Bagi yang sedang tidak merasakannya, semoga bisa menjadi penguat diri sebelum terjadi.
Bagi yang tersinggung dan tidak menyukai notes ini, mohon dimaafkan lahir dan batin...
Bagi yang ingin memberi kritik, saran, protes, bahkan demo...
Silahkan, InsyaAllah kebagian pahala
Pahala untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran
Assyifa ^_^
Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk focus pada satu hal, kuliah dan Memikirkan masa depanku titik.
Jika ditanya Jenuh?? Ya aku jenuh!!bergelut dengan aktifitas yang itu-itu saja.
Sekali lagi jika aku boleh memilih aku akan memilih untuk berkelana sesuka hatiku, menikmati masa mudaku titik.
Kupikir jika pertanyaan itu datang padamu, jawabanmu pun tak akan jauh berbeda denganku.
Benarkan??
Hayo ngaku…. .
Lalu bagaimana jika pertanyaan itu hadir di hadapan Rasulullah dan para sahabat dulu, kira-kira apakah jawaban beliau semua? Apakah jawaban beliau semua sama denganku?
Andaikan ketika dulu beliau semua ditanyakan hal yang sama dan menjawab hal yang sama denganku, apa jadinya kita hari ini??
Mungkin kau dan aku saat ini sedang menyembah berhala yang terbuat dari tepung roti.
Mungkin tak akan ada istilah emansipasi wanita. Karena jangankan emansipasi wanita, mungkin ibu kartinipun belum tentu bertahan hidup hingga dewasa untuk memikirkan emansipasi.
Dan begitu pula aku, mungkin usiaku tak sampai 3 bulan purnama pun sudah di kubur hidup- hidup karena bayi perempuan adalah sebuah aib.
Mungkin, mungkin dan masih banyak mungkin-mungkin yang lain..
Mari kita biarkan pikiran kita bekerja masing-masing untuk membayangkan berbagai kemungkinan itu.............................................................................................................
Dan… sekarang bangunlah….sudah cukup!!!
Bangun dari mimpi buruk itu!!
Bukalah matamu... tenanglah..
Karena kita tidak sedang ada di dunia sekelam dan sehitam yang kau bayangkan itu.
Lihatlah!! Tepung-tepung roti itu bisa kita makan sekarang, tak perlu lagi kita sembah.
Dan aku bisa merasakan betapa aku dihormati sebagai kaum wanita. semua itu karena tak ada kata LELAH dan JENUH dalam kamus perjuangan Rasulullah dan para sahabat.
Tapi taukah kau?
Rasulullah dan para sahabatpun pernah merasakan dilema.
Dilema ketika harus meninggalkan harta, keluarga, pekerjaan dan semua yang dicintainya di Mekah untuk hijrah ke Madinah.
Tetapi beliau semua membulatkan tekad untuk dakwah ini
Sebulat tekadnya seorang Abu Bakar Asshidiq ketika ditanya
”jika kau infak kan seluruh hartamu di jalan Allah, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?
Dengan mantap beliau menjawab ”cukup Allah dan RasulNya saja”.
Se- mantap pilihan Mush'ab bin 'Umair untuk meninggalkan kemewahan, ketampanan, dan semua kenikmatan duniawi yang tak semua orang beruntung memilikinya.
Jika saja Rasulullah dan para sahabat dulu mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib kita saat ini, tak dapat merasakan betapa indahnya islam
Jika saja aku dan kau mundur dari perjuangan ini, betapa malangnya nasib anak cucu kita nanti, tak mengenal apa itu indahnya islam??
Mengapa tidak mungkin??
Taukah kau, mengapa kita sudah sulit bahkan tak bisa lagi melihat lambang negara kia, sang garuda??
Karena ia tak ada yang melestarikan,
Dan begitupun dengan dakwah ini...
Lalu, apa maksudnya ku sampaikan hal ini padamu??
Kau akan menemukan jawabannya di dasar hatimu..
Dan kuharap mutiara perjuangan ini yang kan kau temukan di dasar hatimu
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH Rahmat Abdullah).”
Dan akhirnya.......
kejenuhan dan kelelahanpun berkata”aku lelah dan jenuh titik. ” (loch??)
*afwan, tidak ada maksud menyindir, menghardik, menghakimi, mengajari,dsb
Ini hanya sebuah renungan pribadi yang ingin ana bagi dengan ikhwah semua.
Bagi yang sedang merasakannya, semoga bisa bermanfaat
Bagi yang sedang tidak merasakannya, semoga bisa menjadi penguat diri sebelum terjadi.
Bagi yang tersinggung dan tidak menyukai notes ini, mohon dimaafkan lahir dan batin...
Bagi yang ingin memberi kritik, saran, protes, bahkan demo...
Silahkan, InsyaAllah kebagian pahala
Pahala untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran
Assyifa ^_^
Jumat, 24 September 2010
Memaknai landasan sejarah
Dunia Mahasiswa tak luput dari dunia pendidikan. Karena di dunia pendidikanlah mahasiswa dibesarkan dan di balik gelar intelektual yang disandang mahasiswa terdapat tanggung jawab besar untuk membangun negeri lewat tangannya. Sebuah gelar yang tak main-main karena membangun negeri bukanlah hal yang main-main, maka sudah sepantasnya perjalanan ini dicermati dengan baik-baik tak hanya sekedar mencari nilai dan gelar belaka. Maka kemanakah akhirnya arus akan membawa kita nantinya?akankah kita menjadi bagian dari mereka yang hanya mencari nilai dan gelar saja?
Pembesar-pembesar yang kini duduk di kursi mewah di gedung DPR itu, dulunya adalah mahasiswa. Kinerja mereka saat ini bisa jadi adalah dampak dari perjalanan mereka selama di bangku kuliah. Mereka yang tertidur saat rapat, bisa jadi karena terbiasa tertidur saat kuliah. Mereka yang gemar bermain suap, bisa jadi karena mereka terbiasa menyuap seonggok uang untuk nilai A saat kuliah. Karena waktu minimal 4 tahun di bangku kuliah itu, berperan besar untuk membentuk karakter seseorang. Bangku kuliah adalah mesin pencetak pemimpin, dimana seharusnya stock calon pemimpin tersedia dengan kualitas yang membanggakan.
Hal inilah yang perlu digaris bawahi, sistem pembelajaran di bangku kuliah seharusnya bisa menjadi sebuah proses pendewasaan dalam diri mahasiswa di usia transformasi dari siswa menuju mahasiswa, dari remaja menuju dewasa. Maka bukan lagi saatnya memanjakan mereka dengan nilai-nilai besar tanpa memahamkan moral yang baik sebagai bekal mereka sebagai calon pemimpin.
Akan ada banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter, termasuk lingkungan sekitar. Sedangkan, citra mahasiswa yang kini melekat adalah citra buruk. Mereka yang tenggelam dengan dunia narkoba, free sex, dan dunia glamour dalam kasus-kasus yang terpampang di televisi, tak lain adalah mereka yang bergelar mahasiswa, para calon pemimpin bangsa.
Iri rasanya melihat sejarah ke belakang, dimana semangat mencari ilmu di bangku kuliah didasari oleh semangat membangun bangsa, seperti yang dilakukan Ki Hajar Dewantoro, Bung Hatta, Bung karno dan kawan-kawan seperjuangan beliau di masa memperjuangkan kemerdekaan. Belum terlambat kiranya, membangkitkan semangat itu di diri mahasiswa saat ini meski tantangan yang dihadapi tak mudah karena harus bersaing dengan dunia yang semakin menjanjikan kebahagiaan semu melalui gaya hidup yang tak lagi bisa di sebut sebagai gaya hidup orang-orang berpendidikan.
Di luar sana banyak fenomena-fenomena yang tak bisa dipungkiri menjadi trend orang-orang yang mengaku dirinya kaum intelektual. Dengan mudahnya mereka mendapat gelar sarjana tanpa kerja keras merasakan bangku kuliah. Rasanya murah sekali sebuah gelar yang mahal pertanggungjawabannya itu jika hanya dijadikan prasyarat untuk mendapat jabatan terlebih dengan niat menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Maraknya kasus tersebut yang kini bukanlah hal yang tabu itu, telah mencoreng dunia pendidikan terutama dunia kampus. Serta mencoreng semangat yang susah payah dibangun pahlawan-pahlawan pendidikan yang kini hanya tercatat dalam kumpulan lembaran-lembaran sejarah, yang hanya tercetak untuk sekedar dihafalkan tanpa di maknai sebagai semangat perjuangan membangun bangsa.
Jadi, saatnya menjadikan semangat membangun negeri sebagai landasan semangat menempuh bangku kuliah, semangat mencari ilmu.
_Assyifa_
Pembesar-pembesar yang kini duduk di kursi mewah di gedung DPR itu, dulunya adalah mahasiswa. Kinerja mereka saat ini bisa jadi adalah dampak dari perjalanan mereka selama di bangku kuliah. Mereka yang tertidur saat rapat, bisa jadi karena terbiasa tertidur saat kuliah. Mereka yang gemar bermain suap, bisa jadi karena mereka terbiasa menyuap seonggok uang untuk nilai A saat kuliah. Karena waktu minimal 4 tahun di bangku kuliah itu, berperan besar untuk membentuk karakter seseorang. Bangku kuliah adalah mesin pencetak pemimpin, dimana seharusnya stock calon pemimpin tersedia dengan kualitas yang membanggakan.
Hal inilah yang perlu digaris bawahi, sistem pembelajaran di bangku kuliah seharusnya bisa menjadi sebuah proses pendewasaan dalam diri mahasiswa di usia transformasi dari siswa menuju mahasiswa, dari remaja menuju dewasa. Maka bukan lagi saatnya memanjakan mereka dengan nilai-nilai besar tanpa memahamkan moral yang baik sebagai bekal mereka sebagai calon pemimpin.
Akan ada banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter, termasuk lingkungan sekitar. Sedangkan, citra mahasiswa yang kini melekat adalah citra buruk. Mereka yang tenggelam dengan dunia narkoba, free sex, dan dunia glamour dalam kasus-kasus yang terpampang di televisi, tak lain adalah mereka yang bergelar mahasiswa, para calon pemimpin bangsa.
Iri rasanya melihat sejarah ke belakang, dimana semangat mencari ilmu di bangku kuliah didasari oleh semangat membangun bangsa, seperti yang dilakukan Ki Hajar Dewantoro, Bung Hatta, Bung karno dan kawan-kawan seperjuangan beliau di masa memperjuangkan kemerdekaan. Belum terlambat kiranya, membangkitkan semangat itu di diri mahasiswa saat ini meski tantangan yang dihadapi tak mudah karena harus bersaing dengan dunia yang semakin menjanjikan kebahagiaan semu melalui gaya hidup yang tak lagi bisa di sebut sebagai gaya hidup orang-orang berpendidikan.
Di luar sana banyak fenomena-fenomena yang tak bisa dipungkiri menjadi trend orang-orang yang mengaku dirinya kaum intelektual. Dengan mudahnya mereka mendapat gelar sarjana tanpa kerja keras merasakan bangku kuliah. Rasanya murah sekali sebuah gelar yang mahal pertanggungjawabannya itu jika hanya dijadikan prasyarat untuk mendapat jabatan terlebih dengan niat menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Maraknya kasus tersebut yang kini bukanlah hal yang tabu itu, telah mencoreng dunia pendidikan terutama dunia kampus. Serta mencoreng semangat yang susah payah dibangun pahlawan-pahlawan pendidikan yang kini hanya tercatat dalam kumpulan lembaran-lembaran sejarah, yang hanya tercetak untuk sekedar dihafalkan tanpa di maknai sebagai semangat perjuangan membangun bangsa.
Jadi, saatnya menjadikan semangat membangun negeri sebagai landasan semangat menempuh bangku kuliah, semangat mencari ilmu.
_Assyifa_
Sabtu, 04 September 2010
Menyambut wajah baru Nurul Ilmi
Ijinkan aku bertutur tentang Nurul Ilmiku. Dalam beberapa waktu ke depan ia akan berganti wajah. Mungkin akan setinggi dan sekekar gedung-gedung pencakar langit atau seindah istana sulaiman. Terlintas, ia akan nampak gagah berdiri dengan bangganya mendampingi macan ali. Seketika itu pula wajah lamanya yang kusam, kecil, lusuh tersisih di sudut kandang macan ali itu akan lenyap seketika. tapi aku tak mampu begitu saja melupakan wajah lusuh itu. Wajah lusuh yang menampilkan guratan-guratan kebahagiaan, kesedihan, kebanggaan, kekecewaan, kebersamaan dan menyimpan banyak garis-garis kenangan.
Ramadhan ini mungkin akan menjadi ramadhan terakhir buat kami menatap Nurul ilmi dalam rupa lamanya. Ramadhan demi Ramadhan telah kami lewati di setiap sudutnya, menghadirkan beribu kenangan dan kerinduan. Di setiap sudutnya ada rasa yang tertinggal, sedih dan tangis di sekretariat yang penuh sesak itu, tawa dan canda di dapur yang sempit itu, ingatkah kau dapur sempit itu tempat favorit kita bereksperimen dengan macam-macam bahan makanan, di tempat yang sama itu juga kita menikmati hasil ekperimen kita tanpa peduli bahwa di hadapan kita adalah toilet (Astagfirullah, kalo di pikir2 parah juga ya indra perasa kita?hehe...). Banyak rasa yang tertinggal disana bahkan mungkin akan terkubur seiring dengan lenyapnya puing-puing hijaunya. Rasa pahit dan manisnya jalan ini, jalan yang mempertemukan berbagai hati dan menyatukannya dalam bingkai ukhuwah.
Detik-detik menyambut wajah baru Nurul Ilmi, menyisihkan keresahan. Apa yang bisa dibanggakan dari kemegahan wajah barunya jika ternyata hanya memperjelas kekosongan yang ada selama ini? Kemegahan itu dirasa percuma ketika pusat kampus pindah ke sudut lain kota ini. Lalu siapa yang akan menikmati kemegahan yang harusnya dinikmati seluruh elemen kampus untuk merasakan kenyamanan ruhani?
Ketika semuanya berpindah ke lain hati, ke sudut lain dimana terdapat banyak keterbatasan dibalik kemewahan dan kemegahannya. Kupikir mereka yang telah nyaman berada di pusat kampus yang baru itu akan berpikir berulang kali untuk sekedar meluncurkan mobil-mobil mewahnya, apalagi melangkahkan kaki ke tanah berpijaknya Nurul Ilmi dan macan ali berdiri kokoh. Kokoh namun hampa. Shaf-shaf shalat yang biasanya hanya terisikan satu-dua baris, mungkin akan semakin habis dimakan jarak dan waktu. Sedangakan di seberang sana, tak ada kenyamanan ruhani yang akan didapatkan ribuan orang yang menghuninya kecuali keterbatasan dan ketidaknyamanan. Terbelenggu oleh ruangan kecil sesak, pengap. Di ruangan sempit itu kami harus rela berdesak-desakan bercampur baur laki-laki dan perempuan ditambah dengan enggannya air mengalir untuk sekedar membasahi wajah kami. Di seberang sana, Nurul Ilmi berdiri kokoh, terhampar luas, memanjakan jiwa-jiwa yang ingin merasakan kenikmatan ruhani melalui shalat tapi kemewahannya tiada guna karena ia hanya mampu termangu melihat barisan shaf yang semakin terkikis.
Untuk jiwa-jiwa yang telah disatukan dalam dakwah yang bersemi di Nurul Ilmi ini, perjuangan ini belum usai. Jangan pernah biarkan Nurul Ilmi berjuang seorang diri untuk menebar warna islam yang indah. Bukan Nurul Ilmi yang kita perjuangkan, tapi dakwah islam!! Bukan Nurul Ilmi yang membutuhkan kita, bukan juga dakwah yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah.
_Assyifa_
Ramadhan ini mungkin akan menjadi ramadhan terakhir buat kami menatap Nurul ilmi dalam rupa lamanya. Ramadhan demi Ramadhan telah kami lewati di setiap sudutnya, menghadirkan beribu kenangan dan kerinduan. Di setiap sudutnya ada rasa yang tertinggal, sedih dan tangis di sekretariat yang penuh sesak itu, tawa dan canda di dapur yang sempit itu, ingatkah kau dapur sempit itu tempat favorit kita bereksperimen dengan macam-macam bahan makanan, di tempat yang sama itu juga kita menikmati hasil ekperimen kita tanpa peduli bahwa di hadapan kita adalah toilet (Astagfirullah, kalo di pikir2 parah juga ya indra perasa kita?hehe...). Banyak rasa yang tertinggal disana bahkan mungkin akan terkubur seiring dengan lenyapnya puing-puing hijaunya. Rasa pahit dan manisnya jalan ini, jalan yang mempertemukan berbagai hati dan menyatukannya dalam bingkai ukhuwah.
Detik-detik menyambut wajah baru Nurul Ilmi, menyisihkan keresahan. Apa yang bisa dibanggakan dari kemegahan wajah barunya jika ternyata hanya memperjelas kekosongan yang ada selama ini? Kemegahan itu dirasa percuma ketika pusat kampus pindah ke sudut lain kota ini. Lalu siapa yang akan menikmati kemegahan yang harusnya dinikmati seluruh elemen kampus untuk merasakan kenyamanan ruhani?
Ketika semuanya berpindah ke lain hati, ke sudut lain dimana terdapat banyak keterbatasan dibalik kemewahan dan kemegahannya. Kupikir mereka yang telah nyaman berada di pusat kampus yang baru itu akan berpikir berulang kali untuk sekedar meluncurkan mobil-mobil mewahnya, apalagi melangkahkan kaki ke tanah berpijaknya Nurul Ilmi dan macan ali berdiri kokoh. Kokoh namun hampa. Shaf-shaf shalat yang biasanya hanya terisikan satu-dua baris, mungkin akan semakin habis dimakan jarak dan waktu. Sedangakan di seberang sana, tak ada kenyamanan ruhani yang akan didapatkan ribuan orang yang menghuninya kecuali keterbatasan dan ketidaknyamanan. Terbelenggu oleh ruangan kecil sesak, pengap. Di ruangan sempit itu kami harus rela berdesak-desakan bercampur baur laki-laki dan perempuan ditambah dengan enggannya air mengalir untuk sekedar membasahi wajah kami. Di seberang sana, Nurul Ilmi berdiri kokoh, terhampar luas, memanjakan jiwa-jiwa yang ingin merasakan kenikmatan ruhani melalui shalat tapi kemewahannya tiada guna karena ia hanya mampu termangu melihat barisan shaf yang semakin terkikis.
Untuk jiwa-jiwa yang telah disatukan dalam dakwah yang bersemi di Nurul Ilmi ini, perjuangan ini belum usai. Jangan pernah biarkan Nurul Ilmi berjuang seorang diri untuk menebar warna islam yang indah. Bukan Nurul Ilmi yang kita perjuangkan, tapi dakwah islam!! Bukan Nurul Ilmi yang membutuhkan kita, bukan juga dakwah yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah.
_Assyifa_
Selasa, 25 Mei 2010
Biar semua Indah pada waktunya
Cukuplah ALLAH yg mengisi ruang hati ini
Hingga saatnya tiba akan ada yg halal utk mengisi hati ini
Aku hanya harus menunggu hingga Allah membuka tabir rahasia itu untukku tanpa ada pengkhianatan atas cintaNya
Menunggu dan menjaga sampai tabir itu terbuka,
Maka masa itu hanya ada Allah di hatiku
Seberapapun yakinku bahwa Allah telah memilihkannya untukku
Bukankah tak ada guna nya memikirkan orang yg belum halal untuk dipikirkan
Karena bukankah ketika halal tlah kuperoleh memikirkannya adalah pahala untukku
Allahku, bimbing hatiku menuju jalanMu,
Biar semua indah pada waktunya..
Meski keyakinan ini telah sepenuhnya miliknya
Hingga saatnya tiba akan ada yg halal utk mengisi hati ini
Aku hanya harus menunggu hingga Allah membuka tabir rahasia itu untukku tanpa ada pengkhianatan atas cintaNya
Menunggu dan menjaga sampai tabir itu terbuka,
Maka masa itu hanya ada Allah di hatiku
Seberapapun yakinku bahwa Allah telah memilihkannya untukku
Bukankah tak ada guna nya memikirkan orang yg belum halal untuk dipikirkan
Karena bukankah ketika halal tlah kuperoleh memikirkannya adalah pahala untukku
Allahku, bimbing hatiku menuju jalanMu,
Biar semua indah pada waktunya..
Meski keyakinan ini telah sepenuhnya miliknya
konsekuensi ukhuwah yg kujalani
16 mei 2010
Astagfirullah, sdh smkn sesak rasanya. Semoga pintu hati ini smkn terbuka lebar utk memahami bhwa ini adlh konsekuensi ukuhwah yg kujalani.
Biarlah orang bebs bfkirn ap ttg aku, mgkn ini bhn evaluasi buatku.
Biarlah ia melakukan hal sesuka hatinya, aku lelah menghadapinya.
Biar ia buat sejuta fitnah lg untuk menjatuhkanku
Biar ia menghaikimiku lg ,
biar ia menusuk hati ini lg dgn kata-katanya yg bgtu manis,
Mungkin memang ini salahku, yg tak menunjukan bahwa aku tulus menjalin ukhuwah ini bersamanya.
Mungkin memang ia tak merasakan indahnya ukhuwah dari ku.
Astagfirullah, sdh smkn sesak rasanya. Semoga pintu hati ini smkn terbuka lebar utk memahami bhwa ini adlh konsekuensi ukuhwah yg kujalani.
Biarlah orang bebs bfkirn ap ttg aku, mgkn ini bhn evaluasi buatku.
Biarlah ia melakukan hal sesuka hatinya, aku lelah menghadapinya.
Biar ia buat sejuta fitnah lg untuk menjatuhkanku
Biar ia menghaikimiku lg ,
biar ia menusuk hati ini lg dgn kata-katanya yg bgtu manis,
Mungkin memang ini salahku, yg tak menunjukan bahwa aku tulus menjalin ukhuwah ini bersamanya.
Mungkin memang ia tak merasakan indahnya ukhuwah dari ku.
Kemana perginya Identitas intelektual mahasiswa kita?
Mahasiswa identik dengan gelar kaum intelektual. Tentu saja budaya yang harus digalakkan adalah budaya intelektual yang mampu mengasah kualitas intelektual mereka. Membaca, menulis dan diskusi adalah budaya yang harusnya lekat dengan dunia mahasiswa karena mahasiswa diciptakan untuk menjadi pemimpin yang mampu memberikan gagasan-gagasan atas permasalahan yang dihadapi kehidupan sosialnya sebagai warga negara. Sayangnya, bagi mahasiswa saat ini kegiatan membaca, menulis dan diskusi adalah kegiatan yang membosankan. Pojok-pojok kampus hanya diisi dengan obrolan-obrolan yang tak bermanfaat yang tak jauh-jauh dari gosip, fashion, dan pembicaraan-pembicaraan yang jauh dari nilai intelektual. Kebutuhan akan fashion & makanan jauh lebih menarik perhatian mereka ketimbang kebutuhan intelektual mereka. Menghabiskan uang berjuta-juta untuk liburan atau untuk membeli model HP terbaru bukan masalah bagi mereka meskipun tak ada sisa untuk membeli buku karena bagi mereka membeli sebuah buku bukan lagi prioritas utama mereka. Mencari ilmu dan pengalaman bukan lagi tujuan mereka kuliah karena kuliah hanya ajang bergengsi untuk mencari gelar sarjana meski tak ada ilmu yang didapat. Alhasil, mereka hanya menjadi pengikut bukan pemimpin. Bukan bermaksud men-generalisasikan semua mahasiswa sama seperti itu tapi fenomena-fenomena diatas tak bisa dipungkiri adalah yang terjadi pada mahasiswa Indonesia saat ini tidak terkecuali mahasiswa Unswagati tak peduli meski mereka adalah calon guru.
Ada asap tentu ada api, selain budaya hedonisme yang mulai mengakar kuat ternyata ada banyak faktor lain yang menjadi salah satu penyebab hilangnya identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual. Lingkungan sekitar tentu sangat berpengaruh pada sikap dan tindakan mereka. Mengapa mahasiswa kini cenderung jauh dari budaya membaca, menulis dan diskusi?. Mari kita evaluasi dari sistem pendidikan. Dalam hal ini difokuskan pada metode pembelajaran dan sistem penilaian.
Metode pembelajaran konvensional masih mendominasi sekolah-sekolah bahkan perguruan tinggi sekalipun dan kampus tercinta kita ini masuk ke dalamnya. Yang termasuk ke dalam metode konvensional adalah hanya terjadinya komunikasi satu arah dimana dosen menerangkan dengan teknik berceramah dan membiarkan mahasiswanya menjadi pendengar yang baik selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, sedikitnya kegiatan diskusi di kelas tak memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk mengemukakan pendapat atau memperluas wawasan mereka dengan banyak membaca terlebih dahulu sebelum mengemukakan pendapat, seluruh kegiatan didominasi oleh ke-otoriteran dosen dalam kelas.
Sistem pendidikan kita hanya menggalakkan penghafalan dan bukannya pemikiran dan akhirnya menyebabkan para murid lebih cenderung untuk bergantung kepada jawaban contoh, hafalan dan soalan ramalan(spotted questions) daripada memahami konsep dan teori yang berkenaan. Sehingga tak heran jika banyak mahasiswa yang mengalami hilang ingatan begitu selesai ujian. Karena teknik belajarnya hanya menghafal materi yang selama ini dicatatnya dari catatan dosen di papan tulis, dihafalnya pun semalam sebelum ujian dilaksanakan karena mereka sudah mengetahui soal yang akan keluar tak jauh-jauh dari pengertian ini menurut professor itu, definisi itu menurut professor ini. Tak ada kesempatan untuk mereka mengemukakan pendapantya sendiri. Mahasiswa dengan teknik seperti ini sebenarnya jauh lebih baik ketimbang mahasiswa yang mencari jalan pintas lewat menyontek pada temannya atau bahkan langsung pada buku sumber. ’’ke-kreatifitasan“ mereka ini berbuah pada tak ada satupun ilmu yang menempel selain ilmu menyontek, setiap tahunnya yang dikembangkannya bukan ilmu yang diajarkan dosen padannya melainkan mengembangkan strategi-strategi baru yang lebih jitu untuk menyontek. Sistem penilaian yang diterapkan hanya bertumpu pada nilai dari ujian tertulis. Tiga aspek penilaian yakni psikomotorik, afektif, dan psikomotorik ternyata tak diaplikasikan dengan baik karena nilai dari ujian tertulis lebih mendominasi ketimbang aspek lain. Alhasil beruntunglah mereka yang mendapatkan nilai tinggi di ujian tertulisnya meskipun nilai yang didapatkan melalui cara yang salah.
Selain sistem, hal lain yang perlu dievaluasi adalah peran dan fungsi sarana dan prasarana. Perpustakaan harusnya bisa menjadi gudang ilmu, tempat yang nyaman untuk mahasiswa mencuri ilmu dari buku-buku yang dikoleksi. Sayangnya, peran dan fungsi perpustakaan telah beralih fungsi menjadi tempat ngobrol, dan tempat melepas lelah. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan berbasis keilmuan seperti pelatihan ataupun diskusi publik hanya dikonsumsi segelintir mahasiswa, kondisi ini jauh berbeda ketika yang digelar adalah festival musik, liburan yang bersifat hura-hura akan dibanjiri peminatnya, mereka berlomba-lomba untuk bisa bergabung meski harus mengorbankan waktu hingga larut malam atau mengorbankan uang mereka yang pas-pas an. Sayangnya lagi, fenomena tersebut nampaknya tak terlalu menjadi perhatian pihak kampus.
Tak cukup sampai evaluasi, tetapi perlu ada solusi yang ditawarkan. Salah satunya, menganalisa kebaikan dan keburukan yang terdapat pada sistem tersebut, mempertahankan yang baiknya dan mereformasi sistem yang salah. Sistem penilaian yang berorientasi pada proses bisa digunakan untuk mereformasi penilaian yang berorientasi pada hasil yang kini dipakai. Metode pembelajaran konvensional jelas perlu direformasi menjadi pembelajaran kreatif yang mampu meng-eksplore kemampuan mahasiswa seperti diskusi, workshop dan kegiatan lainnya yang memaksimalkan praktek daripada teori. Tak ada salahnya jika kita mengadopsi metode belajar mahasiswa belanda dimana yang dipelajari adalah yang ingin mahasiswa ketahui tentang ilmu tersebut bukan lagi menuruti keinginan dosen karena hal ini akan mempengaruhi motivasi belajar mereka jadi peran dosen disini adalah sebagai fasilitator. Selain itu, perlu adanya pemenuhan standar sarana prasarana yg mampu meningkatkan kualitas intelektual mahasiswa seperti memaksimalkan peran dan fungsi perpusatakaan. Perpustakaan yang ideal bukanlah perpustakaan yang berdiri megah dan mewah melainkan perpustakaan yang mampu membuat pengunjungnya nyaman membaca serta mampu memuaskan keingintahuan mahasiswa akan ilmu yang dicarinya. Kondisi perpustakaan yang bersih, hening dari keributan, adanya sangsi yang tegas untuk pengunjung yang membuat kegaduhan, serta pengadaan buku-buku yang berkualitas dan baru adalah faktor pendukung pemenuhan peran dan fungsi perpustakaan yang sebenarnya. Yang tak kalah pentingnya adalah jangan hanya kualitas sarana prasarana saja yang ditingkatkan tetapi juga kualitas intelektual mahasiswanya pun perlu disikapi Adanya penyeleksian yang ketat pada acara-acara kemahasiswaan oleh pihak kampus akan tujuan, konten acara, follow up dan manfaat dari kegiatan mahasiswa. Satu catatan penting yang perlu menjadi perhatian adalah pemenuhan kebutuhan mahasiswa tak hanya berhenti atau terfokus pada pemenuhan fasilitas saja tetapi juga perlu dipikirkan tentang pemenuhan kualitas intelektual mahasiswa. Salah seorang tokoh cendekiawan Allahyarham Mohamad Natsir seringkali mengingatkan supaya ‘jangan sambil membangun kita robohkan” – membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan
Ada asap tentu ada api, selain budaya hedonisme yang mulai mengakar kuat ternyata ada banyak faktor lain yang menjadi salah satu penyebab hilangnya identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual. Lingkungan sekitar tentu sangat berpengaruh pada sikap dan tindakan mereka. Mengapa mahasiswa kini cenderung jauh dari budaya membaca, menulis dan diskusi?. Mari kita evaluasi dari sistem pendidikan. Dalam hal ini difokuskan pada metode pembelajaran dan sistem penilaian.
Metode pembelajaran konvensional masih mendominasi sekolah-sekolah bahkan perguruan tinggi sekalipun dan kampus tercinta kita ini masuk ke dalamnya. Yang termasuk ke dalam metode konvensional adalah hanya terjadinya komunikasi satu arah dimana dosen menerangkan dengan teknik berceramah dan membiarkan mahasiswanya menjadi pendengar yang baik selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, sedikitnya kegiatan diskusi di kelas tak memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk mengemukakan pendapat atau memperluas wawasan mereka dengan banyak membaca terlebih dahulu sebelum mengemukakan pendapat, seluruh kegiatan didominasi oleh ke-otoriteran dosen dalam kelas.
Sistem pendidikan kita hanya menggalakkan penghafalan dan bukannya pemikiran dan akhirnya menyebabkan para murid lebih cenderung untuk bergantung kepada jawaban contoh, hafalan dan soalan ramalan(spotted questions) daripada memahami konsep dan teori yang berkenaan. Sehingga tak heran jika banyak mahasiswa yang mengalami hilang ingatan begitu selesai ujian. Karena teknik belajarnya hanya menghafal materi yang selama ini dicatatnya dari catatan dosen di papan tulis, dihafalnya pun semalam sebelum ujian dilaksanakan karena mereka sudah mengetahui soal yang akan keluar tak jauh-jauh dari pengertian ini menurut professor itu, definisi itu menurut professor ini. Tak ada kesempatan untuk mereka mengemukakan pendapantya sendiri. Mahasiswa dengan teknik seperti ini sebenarnya jauh lebih baik ketimbang mahasiswa yang mencari jalan pintas lewat menyontek pada temannya atau bahkan langsung pada buku sumber. ’’ke-kreatifitasan“ mereka ini berbuah pada tak ada satupun ilmu yang menempel selain ilmu menyontek, setiap tahunnya yang dikembangkannya bukan ilmu yang diajarkan dosen padannya melainkan mengembangkan strategi-strategi baru yang lebih jitu untuk menyontek. Sistem penilaian yang diterapkan hanya bertumpu pada nilai dari ujian tertulis. Tiga aspek penilaian yakni psikomotorik, afektif, dan psikomotorik ternyata tak diaplikasikan dengan baik karena nilai dari ujian tertulis lebih mendominasi ketimbang aspek lain. Alhasil beruntunglah mereka yang mendapatkan nilai tinggi di ujian tertulisnya meskipun nilai yang didapatkan melalui cara yang salah.
Selain sistem, hal lain yang perlu dievaluasi adalah peran dan fungsi sarana dan prasarana. Perpustakaan harusnya bisa menjadi gudang ilmu, tempat yang nyaman untuk mahasiswa mencuri ilmu dari buku-buku yang dikoleksi. Sayangnya, peran dan fungsi perpustakaan telah beralih fungsi menjadi tempat ngobrol, dan tempat melepas lelah. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan berbasis keilmuan seperti pelatihan ataupun diskusi publik hanya dikonsumsi segelintir mahasiswa, kondisi ini jauh berbeda ketika yang digelar adalah festival musik, liburan yang bersifat hura-hura akan dibanjiri peminatnya, mereka berlomba-lomba untuk bisa bergabung meski harus mengorbankan waktu hingga larut malam atau mengorbankan uang mereka yang pas-pas an. Sayangnya lagi, fenomena tersebut nampaknya tak terlalu menjadi perhatian pihak kampus.
Tak cukup sampai evaluasi, tetapi perlu ada solusi yang ditawarkan. Salah satunya, menganalisa kebaikan dan keburukan yang terdapat pada sistem tersebut, mempertahankan yang baiknya dan mereformasi sistem yang salah. Sistem penilaian yang berorientasi pada proses bisa digunakan untuk mereformasi penilaian yang berorientasi pada hasil yang kini dipakai. Metode pembelajaran konvensional jelas perlu direformasi menjadi pembelajaran kreatif yang mampu meng-eksplore kemampuan mahasiswa seperti diskusi, workshop dan kegiatan lainnya yang memaksimalkan praktek daripada teori. Tak ada salahnya jika kita mengadopsi metode belajar mahasiswa belanda dimana yang dipelajari adalah yang ingin mahasiswa ketahui tentang ilmu tersebut bukan lagi menuruti keinginan dosen karena hal ini akan mempengaruhi motivasi belajar mereka jadi peran dosen disini adalah sebagai fasilitator. Selain itu, perlu adanya pemenuhan standar sarana prasarana yg mampu meningkatkan kualitas intelektual mahasiswa seperti memaksimalkan peran dan fungsi perpusatakaan. Perpustakaan yang ideal bukanlah perpustakaan yang berdiri megah dan mewah melainkan perpustakaan yang mampu membuat pengunjungnya nyaman membaca serta mampu memuaskan keingintahuan mahasiswa akan ilmu yang dicarinya. Kondisi perpustakaan yang bersih, hening dari keributan, adanya sangsi yang tegas untuk pengunjung yang membuat kegaduhan, serta pengadaan buku-buku yang berkualitas dan baru adalah faktor pendukung pemenuhan peran dan fungsi perpustakaan yang sebenarnya. Yang tak kalah pentingnya adalah jangan hanya kualitas sarana prasarana saja yang ditingkatkan tetapi juga kualitas intelektual mahasiswanya pun perlu disikapi Adanya penyeleksian yang ketat pada acara-acara kemahasiswaan oleh pihak kampus akan tujuan, konten acara, follow up dan manfaat dari kegiatan mahasiswa. Satu catatan penting yang perlu menjadi perhatian adalah pemenuhan kebutuhan mahasiswa tak hanya berhenti atau terfokus pada pemenuhan fasilitas saja tetapi juga perlu dipikirkan tentang pemenuhan kualitas intelektual mahasiswa. Salah seorang tokoh cendekiawan Allahyarham Mohamad Natsir seringkali mengingatkan supaya ‘jangan sambil membangun kita robohkan” – membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan
Bukan Aksi Biasa
“apa yang dipahami orang lain tentang kita sebenarnya dibentuk oleh akumulasi sikap, perilaku, dan cara kita mengekspresikan diri. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar tentang kita, itulah yang menjadi factor pembentuk citra kita di benak mereka”. (Anis Matta)
Ironis sebenarnya, ketika menyaksikan kenyataan bahwa mahasiswa hari ini mulai kehilangan idealismenya bahkan jati dirinya sebagai mahasiswa. Mungkin mereka lupa, tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu bahwa mahasiswa jelas berbeda dengan anak SMA. Mahasiswa memiliki beban moral yang besar pada masyarakat, mereka dituntut berkontribusi untuk masyarakat sekitarnya juga negaranya. Tapi zaman membuatnya berbeda menjadikan mereka penganut hedonisme yang cenderung acuh tak acuh akan keadaan negaranya.
Indonesia 12 tahun yang lalu, belumlah lepas dari ingatan kita ketika gedung Negara dibanjiri lautan mahasiswa. Mereka tidak mencari nilai disana, tidak juga dengan menjadi bagian dari pendobrak reformasi itu mereka mendapatkan gelar sarjananya lebih awal. Tidak juga ada materi yang mereka dapatkan disana. Tapi, mengapa mereka membiarkan diri mereka menjadi sasaran bentrokan, mengorbankan waktunya berjam-jam berdiri tegap di gedung kebesaran itu, bahakn mengorbankan nyawa mereka hanya untuk REFORMASI. Lalu dimana mahasiswa seperti mereka saat ini?dimana idealisme mahasiswa itu pergi?
Kebanyakan mahasiswa kini menganggap demo atau aksi adalah perilaku tak terpuji, melanggar norma. Padahal mereka tahu bahwa negara ini negara demokrasi tapi tak mengerti esensi demokrasi. Tak bisa dipungkiri bahwa terjadi beberapa kasus anarkisme pada demo mahasiswa hingga mahasiswa bahkan masyarakat mengecamnya. Tapi seperti apa kata pepatah, nila setitik rusak susu sebelanga. Itulah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, semua demo dianggapnya anarkis tak bermoral tanpa mau melihat esensinya dan menyama-ratakan semuanya.
Kasus anarkisme demo yang dilakukan mahasiswa akhir-akhir ini sedikit banyak mempengaruhi citra KAMMI. KAMMI dalam pandangan mereka adalah sama halnya dengan mahasiswa yang hobi membuat ribut lewat berdemo tanpa peduli bahwa yang diperjuangkan adalah hak mereka, hak rakyat. Berdemo adalah salah satu cara kita mewacanakan isu yang akan kita angkat kepada publik. Sayangnya, masyarakat tak peduli konten isu tersebut, yang mereka tau cara yang digunakan untuk mewacanakannya adalah salah meskipun demo yang dilakukan berjalan damai karena nampaknya masyarakat sudah alergi dengan demonsrtasi.
Seharusnya ini menjadi tugas KAMMI untuk membuktikan bahwa tak semua aksi demonstarasi berakhir ricuh dan anarkis. Mewacanakan isu yang akan diangkat tak semudah mengangkat spanduk atau poster kemudian berorasi dan berteriak-teriak tanpa memahami isi dari isu yang diangkat tersebut. Dan sayangnya, itulah kelemahan gerakan mahasiswa hari ini tanpa dipungkiri begitupun dengan KAMMI. Tak jarang demo yang dilakukan kurang persiapan; tak ada kajian bersama mengenai isu tersebut, tak jarang hanya beberapa orang yang mendalami isu tersebut sehingga ketika ditanyakan oleh pihak lain(wartawan, pihak kepolisian atau bahkan masyarakat.red)tak sedikit dari peserta demo yang gugup menjawabnya lantaran tak memahami isi dari isu yang mereka angkat. Maka persiapan pengetahuan kita menjadi sangat penting, mengkaji isu tersebut dengan melibatkan seluruh peserta demo kemudian menyampaikan isu tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami seluruh kalangan jangan sampai rakyat yang kita bela dalam demo tersebut ternyata tak dipahami oleh masyarakat sendiri dan yang lebih miris adalah masyarakat merasa dirugikan dan mengecam aksi demo.
Aksi mahasiswa terbesar 12 tahun yang lalu masih bisa kita rasakan sampai saat ini, meskipun pesan reformasi yang saat itu di sampaikan masih belum diaplikasikan dengan baik tapi setidaknya masyarakat bisa keluar dari ke-otoriter-an penguasa orde baru. Maka dibutuhkan keberanian, pengorbanan, kepandaian, dan keikhlasan pada diri pemuda Indonesia untuk melakukan yang terbaik untuk bangsanya, dan mengaspirasikan hak rakyat adalah salah satu kewajiban mahasiswa sebagai jembatan masyaarakat dan pemerintah. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)
Ironis sebenarnya, ketika menyaksikan kenyataan bahwa mahasiswa hari ini mulai kehilangan idealismenya bahkan jati dirinya sebagai mahasiswa. Mungkin mereka lupa, tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu bahwa mahasiswa jelas berbeda dengan anak SMA. Mahasiswa memiliki beban moral yang besar pada masyarakat, mereka dituntut berkontribusi untuk masyarakat sekitarnya juga negaranya. Tapi zaman membuatnya berbeda menjadikan mereka penganut hedonisme yang cenderung acuh tak acuh akan keadaan negaranya.
Indonesia 12 tahun yang lalu, belumlah lepas dari ingatan kita ketika gedung Negara dibanjiri lautan mahasiswa. Mereka tidak mencari nilai disana, tidak juga dengan menjadi bagian dari pendobrak reformasi itu mereka mendapatkan gelar sarjananya lebih awal. Tidak juga ada materi yang mereka dapatkan disana. Tapi, mengapa mereka membiarkan diri mereka menjadi sasaran bentrokan, mengorbankan waktunya berjam-jam berdiri tegap di gedung kebesaran itu, bahakn mengorbankan nyawa mereka hanya untuk REFORMASI. Lalu dimana mahasiswa seperti mereka saat ini?dimana idealisme mahasiswa itu pergi?
Kebanyakan mahasiswa kini menganggap demo atau aksi adalah perilaku tak terpuji, melanggar norma. Padahal mereka tahu bahwa negara ini negara demokrasi tapi tak mengerti esensi demokrasi. Tak bisa dipungkiri bahwa terjadi beberapa kasus anarkisme pada demo mahasiswa hingga mahasiswa bahkan masyarakat mengecamnya. Tapi seperti apa kata pepatah, nila setitik rusak susu sebelanga. Itulah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, semua demo dianggapnya anarkis tak bermoral tanpa mau melihat esensinya dan menyama-ratakan semuanya.
Kasus anarkisme demo yang dilakukan mahasiswa akhir-akhir ini sedikit banyak mempengaruhi citra KAMMI. KAMMI dalam pandangan mereka adalah sama halnya dengan mahasiswa yang hobi membuat ribut lewat berdemo tanpa peduli bahwa yang diperjuangkan adalah hak mereka, hak rakyat. Berdemo adalah salah satu cara kita mewacanakan isu yang akan kita angkat kepada publik. Sayangnya, masyarakat tak peduli konten isu tersebut, yang mereka tau cara yang digunakan untuk mewacanakannya adalah salah meskipun demo yang dilakukan berjalan damai karena nampaknya masyarakat sudah alergi dengan demonsrtasi.
Seharusnya ini menjadi tugas KAMMI untuk membuktikan bahwa tak semua aksi demonstarasi berakhir ricuh dan anarkis. Mewacanakan isu yang akan diangkat tak semudah mengangkat spanduk atau poster kemudian berorasi dan berteriak-teriak tanpa memahami isi dari isu yang diangkat tersebut. Dan sayangnya, itulah kelemahan gerakan mahasiswa hari ini tanpa dipungkiri begitupun dengan KAMMI. Tak jarang demo yang dilakukan kurang persiapan; tak ada kajian bersama mengenai isu tersebut, tak jarang hanya beberapa orang yang mendalami isu tersebut sehingga ketika ditanyakan oleh pihak lain(wartawan, pihak kepolisian atau bahkan masyarakat.red)tak sedikit dari peserta demo yang gugup menjawabnya lantaran tak memahami isi dari isu yang mereka angkat. Maka persiapan pengetahuan kita menjadi sangat penting, mengkaji isu tersebut dengan melibatkan seluruh peserta demo kemudian menyampaikan isu tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami seluruh kalangan jangan sampai rakyat yang kita bela dalam demo tersebut ternyata tak dipahami oleh masyarakat sendiri dan yang lebih miris adalah masyarakat merasa dirugikan dan mengecam aksi demo.
Aksi mahasiswa terbesar 12 tahun yang lalu masih bisa kita rasakan sampai saat ini, meskipun pesan reformasi yang saat itu di sampaikan masih belum diaplikasikan dengan baik tapi setidaknya masyarakat bisa keluar dari ke-otoriter-an penguasa orde baru. Maka dibutuhkan keberanian, pengorbanan, kepandaian, dan keikhlasan pada diri pemuda Indonesia untuk melakukan yang terbaik untuk bangsanya, dan mengaspirasikan hak rakyat adalah salah satu kewajiban mahasiswa sebagai jembatan masyaarakat dan pemerintah. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)
Karena kita bukan bebek
Jangan jadi bebek !! sedikit tak enak di dengar memang. Tapi itulah penyakit yang mengidap kebanyakan masyarakat kita terutama para remaja tak terkecuali mereka yang bergelar mahasiswa. Tentu saja bebek dan manusia sangat berbeda karena manusia diberi kelebihan yang tak dimilki bebek, yaitu akal. Jadi wajar saja jika bebek ikut kemana saja mereka dibawa tanpa tau arah yang jelas. Tapi manusia memiliki akal yang sepatutnya digunakan untuk memilih mana yang baik untuk diikuti dan mana yang tidak pantas diikuti.
Mereka bilang bulan ini bulan penuh cinta, lalu tak adakah cinta di bulan lainnya?Sekarang bukalah pikiran kita seluas-luasnya. Terlalu sempit rasanya jika hanya ada satu hari untuk mengapreiasikan rasa cinta, terlalu sempit jika apresiasi cinta hanya ditujukan untuk kekasih, dan teramat sempit jika mengapresisasikannya dengan pesta hura-hura berujung maksiat. Lalu kemanakah cinta di hari-hari berikutnya?semudah itukah posisi cinta Allah dan RasulNya tergantikan dan semudah itukah mengabaiakan cinta ibu?serendah itukah arti cinta hingga mengapresiasikannya dengan pesta maksiat?
Dan tertawalah mereka yang memusihi islam melihat kebanyakan korbannya jauh dari al-qur’an dan as-sunnah, malu untuk menjalani identitas diri sebagai muslim, berpecah belah dan mengikuti apa yang tidak diketahui.
Jauh, meremehkan bahkan menentang apa yang tertulis dalam al-qur’an dan as-sunnah.
Malu dengan identitas sebagai muslim. Menomor satukan gengsi ketimbang mengikuti syariat. Seakan semua serba terbalik, malu mengenakan pakaian dengan rapih dan menutup aurat tapi bangga dengan pakaian serba mini seakan tak punya harga diri. Malu menghafalkan ayat-ayat Al Qur’an tapi bangga bila mampu menghafal syair-syair lagu yang mendewakan cinta palsu. Sepertinya malu saat ini telah kehilangan makna yang sebenarnya.
Yang lebih ironis banyak dari kita yang bangga akan suatu hal yang tidak kita ketahui. Larut dalam euforia valentine padahal tidak tahu sejarah valentine yang sesungguhnya.
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjwabannya.” (QS Al Isra;36)
Mari simak sejarah dari hari yang dibangga-banggakan tersebut. Valentine adalah nama seseorang yang menentang keputusan Raja Claudius II yang melarang prajuritnya menikah. Kemudiaan ia dibunuh pada tanggal 14 februari. 270 M. Untuk menagungkan santo valentine, para pengikutnya memperingati kematianya dengan mengadakan upacara keagamaan yang kemudian dikaitkan dengan pesta supercalis, sebuah pesta jamuan kasih sayang bangsa romawi. Orang –orang Eropa percaya bahwa 14 Februari adalah hari dimana burung mencari pasangan untuk kawin. Apakah kita mau disamakan dengan burung?
”...dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dzalim”.
Terlepas dari sejarah valentine yang memiliki beberapa versi tersebut, sebagai seorang muslim seharusnya kita sudah bisa menilai bahwa banyak keburukan yang didapat dalam perayaan valentine. Lalu apa yang diharapkan dari hal-hal yang lebih banyak mengandung keburukan ketimbang kebaikan?tak ada pilihan lain selain menjauhinya.
Rasulullah saw sudah menjelaskan dalam sebuah hadist :
”Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Dan dikuatkan dalam firman Allah swt:
”Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS Ali Imron;85)
Fenomena yang terjadi saat ini adalah diagung-agungkannya cinta palsu selayaknya ”tuhan” khusus di bulan Februari. Bahkan mengatasnamakan cinta untuk berbuat maksiat. Ke-fanatik-an para pemuja cinta palsu semakin menjadi ketika bulan Februari tiba dengan mengapresiasikannya melalui cara yang salah.
Mengungkapkan rasa cinta bukanlah hal yang salah. Bahkan Rasulullah menganjurkan agar kita mengungkapkan rasa cinta yang kita miliki kepada sahabat, saudaranya dengan kata-kata indah yang terungkap dari lisan seindah yang terpendam dalam kalbu dan tidak membatasi bahwa yang berhak mendapatkan ungkapan tersebut hanya kekasih seperti yang dilestarikan dalam budaya valentine. Bukankah cinta sejati kita adalah Sang Pemberi Cinta, Allah swt?Dzat yang Rahman dan Rahim yang kasih sayangnya melebihi marahnya. Bukankah kita memiliki Rasulullah yang memberikan bukti yang jelas akan kecintaannya kepada kita umatnya dimana beliau masih memikirkan umatnya di detik-detik terakhir usianya. Dan kita juga memiliki ibu yang cinta dan pengorbanannya begitu mudah kita rasakan.
Terlalu murah rasanya harga cinta yang kita miliki jika hanya diwakilkan dengan sebatang cokelat atau sekuntum bunga. Dan terlalu kerdil sepertinya makna cinta jika diungkapkan dengan pesta maksiat.
Saatnya kita bangun dan menyadari bahwa kita adalah korban empuk bagi setan dan musuh-musuh islam yang hendak membunuh kita melalui hal-hal yang bersifat kesenangan dunia tapi berakibat kesengsaraan di akhirat. Hebatnya, media-media yang mereka gunakan untuk menghancurkan kita itu berhasil menipu daya bahkan kita bangga-banggakan.
Manusia menjadi makhluk mulia karena memiliki akal dan manusia yang paling mulia adalah yang memiliki iman dan azzam yang kuat hingga menghasilkan ketaqwaan. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)
Mereka bilang bulan ini bulan penuh cinta, lalu tak adakah cinta di bulan lainnya?Sekarang bukalah pikiran kita seluas-luasnya. Terlalu sempit rasanya jika hanya ada satu hari untuk mengapreiasikan rasa cinta, terlalu sempit jika apresiasi cinta hanya ditujukan untuk kekasih, dan teramat sempit jika mengapresisasikannya dengan pesta hura-hura berujung maksiat. Lalu kemanakah cinta di hari-hari berikutnya?semudah itukah posisi cinta Allah dan RasulNya tergantikan dan semudah itukah mengabaiakan cinta ibu?serendah itukah arti cinta hingga mengapresiasikannya dengan pesta maksiat?
Dan tertawalah mereka yang memusihi islam melihat kebanyakan korbannya jauh dari al-qur’an dan as-sunnah, malu untuk menjalani identitas diri sebagai muslim, berpecah belah dan mengikuti apa yang tidak diketahui.
Jauh, meremehkan bahkan menentang apa yang tertulis dalam al-qur’an dan as-sunnah.
Malu dengan identitas sebagai muslim. Menomor satukan gengsi ketimbang mengikuti syariat. Seakan semua serba terbalik, malu mengenakan pakaian dengan rapih dan menutup aurat tapi bangga dengan pakaian serba mini seakan tak punya harga diri. Malu menghafalkan ayat-ayat Al Qur’an tapi bangga bila mampu menghafal syair-syair lagu yang mendewakan cinta palsu. Sepertinya malu saat ini telah kehilangan makna yang sebenarnya.
Yang lebih ironis banyak dari kita yang bangga akan suatu hal yang tidak kita ketahui. Larut dalam euforia valentine padahal tidak tahu sejarah valentine yang sesungguhnya.
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjwabannya.” (QS Al Isra;36)
Mari simak sejarah dari hari yang dibangga-banggakan tersebut. Valentine adalah nama seseorang yang menentang keputusan Raja Claudius II yang melarang prajuritnya menikah. Kemudiaan ia dibunuh pada tanggal 14 februari. 270 M. Untuk menagungkan santo valentine, para pengikutnya memperingati kematianya dengan mengadakan upacara keagamaan yang kemudian dikaitkan dengan pesta supercalis, sebuah pesta jamuan kasih sayang bangsa romawi. Orang –orang Eropa percaya bahwa 14 Februari adalah hari dimana burung mencari pasangan untuk kawin. Apakah kita mau disamakan dengan burung?
”...dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dzalim”.
Terlepas dari sejarah valentine yang memiliki beberapa versi tersebut, sebagai seorang muslim seharusnya kita sudah bisa menilai bahwa banyak keburukan yang didapat dalam perayaan valentine. Lalu apa yang diharapkan dari hal-hal yang lebih banyak mengandung keburukan ketimbang kebaikan?tak ada pilihan lain selain menjauhinya.
Rasulullah saw sudah menjelaskan dalam sebuah hadist :
”Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Dan dikuatkan dalam firman Allah swt:
”Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS Ali Imron;85)
Fenomena yang terjadi saat ini adalah diagung-agungkannya cinta palsu selayaknya ”tuhan” khusus di bulan Februari. Bahkan mengatasnamakan cinta untuk berbuat maksiat. Ke-fanatik-an para pemuja cinta palsu semakin menjadi ketika bulan Februari tiba dengan mengapresiasikannya melalui cara yang salah.
Mengungkapkan rasa cinta bukanlah hal yang salah. Bahkan Rasulullah menganjurkan agar kita mengungkapkan rasa cinta yang kita miliki kepada sahabat, saudaranya dengan kata-kata indah yang terungkap dari lisan seindah yang terpendam dalam kalbu dan tidak membatasi bahwa yang berhak mendapatkan ungkapan tersebut hanya kekasih seperti yang dilestarikan dalam budaya valentine. Bukankah cinta sejati kita adalah Sang Pemberi Cinta, Allah swt?Dzat yang Rahman dan Rahim yang kasih sayangnya melebihi marahnya. Bukankah kita memiliki Rasulullah yang memberikan bukti yang jelas akan kecintaannya kepada kita umatnya dimana beliau masih memikirkan umatnya di detik-detik terakhir usianya. Dan kita juga memiliki ibu yang cinta dan pengorbanannya begitu mudah kita rasakan.
Terlalu murah rasanya harga cinta yang kita miliki jika hanya diwakilkan dengan sebatang cokelat atau sekuntum bunga. Dan terlalu kerdil sepertinya makna cinta jika diungkapkan dengan pesta maksiat.
Saatnya kita bangun dan menyadari bahwa kita adalah korban empuk bagi setan dan musuh-musuh islam yang hendak membunuh kita melalui hal-hal yang bersifat kesenangan dunia tapi berakibat kesengsaraan di akhirat. Hebatnya, media-media yang mereka gunakan untuk menghancurkan kita itu berhasil menipu daya bahkan kita bangga-banggakan.
Manusia menjadi makhluk mulia karena memiliki akal dan manusia yang paling mulia adalah yang memiliki iman dan azzam yang kuat hingga menghasilkan ketaqwaan. Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)
saat diam menjadi pilihan
Maksud hati ingin menyelami ketenangan malam di teras rumah, tak kuduga malah aku terjebak dalam perbicangan dua orang wanita di hadapanku. Dengan perlahan mereka menarik kursi di hadapanku dan mengawali pembicaraan dengan suara pelan. Aku pun tahu diri, tak seharusnya aku ada disni tapi keduanya mencegahku dan mengijinkanku ada diantara mereka. Syukurlah, akupun takkan tertarik dengan pembicaraan mereka. Tapi pandanganku tertuju tajam pada dua sosok wanita di hadapanku. Seorang diantaranya sangat kukenal karena namanya selalu melekat di hatiku, tentu saja karena beliau ibuku. Sosok di hadapan ibuku pun kukenal hanya saja tak penting kusebutkan siapa dia disini. Tapi bagiku kisah hidupnya begitu menarik.
Sebut saja namanya bu Aini. Beliau adalah ibu dari 3 orang anak. Ia dan suaminya begitu beruntung karena Allah memberikan amanah seorang anak di beberapa bulan setelah pernikahannya. Hal tersebut disambut antusias oleh suaminya, pak Hendra. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Seorang bayi menangis dengan lantang, tapi hal itu disambut kecewa oleh pak hendra, terang saja karena suara tangisan yang lantang itu datang dari seorang bayi laki-laki yang tampan. Dan betapa kecewanya pak hendra, karena yang ia dambakan adalah seorang bayi perempuan.
Ternyata kekecawaan pak hendra tak berhenti di saat itu saja, tapi kekecewaannya itu ia lampiaskan sampai di 3 tahun berikutnya ketika sang bayi tumbuh menjadi balita yang lincah dan lucu. Sayangnya sebagai wujud kecewanya pak hendra kerap kali memperlakukan anak laki-lakinya dengan tidak wajar. Rambut anak laki-lakinya dibiarkannya panjang bahkan di beri poni bahkan tak jarang beberapa hiasan menghiasi rambutnya. Nurani seorang ibu tentu saja berontak, tak menerima anak laki-lakinya diperlakukan tak wajar oleh suaminya sendiri tapi apa yang bisa dilakukan bu aini hanya menangis di kesendirian, ia tak berani melawan suaminya bahkan ia selalu menutup-nutupi kesalahan suaminya di hadapan orang banyak.
Tahun berikutnya, seorang anak kembali lahir dari rahimnnya. Tapi hidup menakdirkan pak hendra untuk kecewa untuk kedua kalinya. Seorang bayi laki-laki yang kembali hadir d kehidupannya. Namun kali ini pelampiasan kekecewaannya lebih kejam karena ia memaksa istrinya menitipkan bayi keduanya kepada ibunda bu aini di kampung dengan alasan klasik yang bagiku tak bisa dengan mudah diterima begitu saja. Hanya karena alasan ekonomi, ia tega memisahkan seorang ibu dari anak kandungnya. Padahal di luar sana masih banyak keluarga yang jauh lebih memprihatinkan keadaan ekonominya tapi mereka tak mudah ”membuang” anakanya begitu saja. Bukankah rizki sudah ada yang mengatur dan bukankah anak juga merupakan rezeki dari Allah??
Kejadian itu ternyata tak mampu membuka mata hati bu aini untuk bersikap tegas pada suaminya. Entahlah apa mungkin ia diciptakan begitu lemah, atau karena rasa cintanya pada suaminya begitu besar hingga ia tak mampu melawan suaminya yang tak pernah henti menyakitinya. Seorang istri memang harus menuruti suaminya bahkan dalam hadist pun tertuang seperti itu. Tapi bagiku tidak untuk seorang suami macam pak hendra yang berperangai kasar, yang seringkali pulang dalan keadaan mabuk bahkan tak jarang ia dijumpai sedang bersama wanita lain.
Tiga tahun berikutnya, bu aini kembali mengandung dan melahirkan. Dan akhirnya Allah mengabulkan pintanya dengan memberikannya seorang bayi perempuan yang cantik. Tentu saja pak hendra sumringah menyambutnya. Seluruh perhatian dan kasih sayangnya ia curahkan semua pada putri kesayangannya hingga ia lupa bahwa ia memiliki dua anak laki-lakinya. Putrinya ini diperlakukan bak putri raja, ia tak pernah kekurangan kasih sayang dan harta dari kedua orangtuanya, semua keinginannya dipenuhi. Tapi ternyata hal ini berimbas pada anak laki-laki pertamanya yang dulu menjadi satu-satunya tempat mencurahkan kasih sayang, kini ia seperti mendapat saingan yang tak lain adik kandungnya sendiri. Ia mersa iri dan kecewa dengan sikap bapaknya yang tak lagi memperdulikannya. Sayangnya, kekecewaannya dilampiaskan pada adik laki-laki yang baru ia jumpai setelah 3 tahun dipisahkan. Ketika kedua kakak beradik itu bertemu, mereka layaknya musuh karena tak ada komunikasi diantara mereka. Bahkan mereka tak pernah bicara satu sama lain. Mereka hanya bisa mengekspresikan kekecewaan mereka pada bapaknya dengan diam dan cuek pada saudaranya sendiri. Sedangkan sang putri sudah asyik dengan dunianya yang penuh dengan segala keinginannya yang terpenuhi dan tak mau ambil pusing dengan masalah kakak-kakaknya.
Ketika sang putri menginjak usia sekolah. Keadaan ekonomi keluarga ini kembali berantakan. Sehingga memaksa bu aini berjualan makanan di dekat sekolah ketiga anaknya. Menyadari ibunya hanya seorang penjual makanan membuat putrinya malu mengakui bu aini sebagai ibunya. Ia tak pernah sekalipun terlihat membantu ibunya bahkan lewat di hadapannya ketika bu aini berjualan pun ia tidak mau karena takut diketahui oleh teman-temanya bahwa ia hanya seorang anak penjual makanan. Rupanya kasih sayang berlebih dari bapaknya telah membentuk kepribadian yang hampir sama mewarisi sifat bapaknya.
Betapa hancurnya perasaan bu aini melihat perkembangan anak-anaknya. Kedua anak laki-laki nya yang tak tampak seperti saudara bahkan lebih tampak seperti seorang yang tak pernah mengenal dan tak pernah mau saling mengenal, enatahlah mungkin itu adalah efek dari keduanya sudah dipisahkan sejak kecil dan ketika dipertemukan kondisi jiwa anak pertamanya sedang tak labil oleh sikap bapaknya yang tak lagi memperhatikannya seperti dulu hingga ia torehkan kekewaan itu dengan tak mau mengenal adiknya yang telah lama berpisah. Tak hanya itu, ia semakin miris melihat anak perempuanya tumbuh menjadi anak yang egois dan bahkan tak mau mengakuinya sebagai ibu. Sedangkan suaminya tak pernah berhenti menyakitinya.
Malam itu akhirnya ia beranikan diri untuk mencurahkan semua isi hatinya yang telah lama ia pendam pada ibuku. Airmatanya yang selama ini tertahan di hadapan semua orang, malam itu ia tumpahkan di hadapan ibu dan aku. Dan aku hanya bisa termenung mendengarkan kisahnya. Ingin hati ini marah pada pak hendra dan juga bu aini tapi aku tahu diri aku ini hanya anak kecil yang tak tau apa-apa tapi aku cukup tau bahwa bu aini harus bangkit dari kelemahnnya selama ini. Ia tak bisa membiarkan keluarganya hancur dengan sikap diamnya selama ini. Dan ternyata ibuku pun sapaham denganku hanya saja kata-katanya jauh lebih bijak dari sekedar kemarahanku.
Belum selesai ibu menenangkan bu aini, aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perbincangan mereka karena malam sudah begitu larut. Sebelum kupejamkan mata, aku termenung sejenak bersyukur pada Allah karena Dia telah mengaruniakan aku kedua orangtua yang menyayangi aku dan adikku serta selalu membimbing kami di jalanNya. Terlintas tiga sosok melintas di pikiranku, mereka adalah kedua orangtuaku dan juga adikku yang amat kucintai. Kupejamkan mataku dan kutengadahkan tanganku memujiNya dan memohon padaNya agar aku, kedua orangtuaku, dan adikku dapat berkumpul di tempat maha indah bernama surga.
Keesokan paginya kutemui kedua orangtuaku dan memeluk mereka erat sembari berdoa” Ya Illahi sesungguhnya aku tak ingin melepas pelukan ini sampai nanti kami benar-benar menjadi penghuni surgaMu, ma tunjukilah kami jalan yang lurus menuju surgaMu bersama cinta yang kami miliki, Ya Illahi aku mencintai mereka dan memiliki serta mencintai mereka adalah anugerah terindah dalam hidupku” (Assyifa)
Sebut saja namanya bu Aini. Beliau adalah ibu dari 3 orang anak. Ia dan suaminya begitu beruntung karena Allah memberikan amanah seorang anak di beberapa bulan setelah pernikahannya. Hal tersebut disambut antusias oleh suaminya, pak Hendra. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Seorang bayi menangis dengan lantang, tapi hal itu disambut kecewa oleh pak hendra, terang saja karena suara tangisan yang lantang itu datang dari seorang bayi laki-laki yang tampan. Dan betapa kecewanya pak hendra, karena yang ia dambakan adalah seorang bayi perempuan.
Ternyata kekecawaan pak hendra tak berhenti di saat itu saja, tapi kekecewaannya itu ia lampiaskan sampai di 3 tahun berikutnya ketika sang bayi tumbuh menjadi balita yang lincah dan lucu. Sayangnya sebagai wujud kecewanya pak hendra kerap kali memperlakukan anak laki-lakinya dengan tidak wajar. Rambut anak laki-lakinya dibiarkannya panjang bahkan di beri poni bahkan tak jarang beberapa hiasan menghiasi rambutnya. Nurani seorang ibu tentu saja berontak, tak menerima anak laki-lakinya diperlakukan tak wajar oleh suaminya sendiri tapi apa yang bisa dilakukan bu aini hanya menangis di kesendirian, ia tak berani melawan suaminya bahkan ia selalu menutup-nutupi kesalahan suaminya di hadapan orang banyak.
Tahun berikutnya, seorang anak kembali lahir dari rahimnnya. Tapi hidup menakdirkan pak hendra untuk kecewa untuk kedua kalinya. Seorang bayi laki-laki yang kembali hadir d kehidupannya. Namun kali ini pelampiasan kekecewaannya lebih kejam karena ia memaksa istrinya menitipkan bayi keduanya kepada ibunda bu aini di kampung dengan alasan klasik yang bagiku tak bisa dengan mudah diterima begitu saja. Hanya karena alasan ekonomi, ia tega memisahkan seorang ibu dari anak kandungnya. Padahal di luar sana masih banyak keluarga yang jauh lebih memprihatinkan keadaan ekonominya tapi mereka tak mudah ”membuang” anakanya begitu saja. Bukankah rizki sudah ada yang mengatur dan bukankah anak juga merupakan rezeki dari Allah??
Kejadian itu ternyata tak mampu membuka mata hati bu aini untuk bersikap tegas pada suaminya. Entahlah apa mungkin ia diciptakan begitu lemah, atau karena rasa cintanya pada suaminya begitu besar hingga ia tak mampu melawan suaminya yang tak pernah henti menyakitinya. Seorang istri memang harus menuruti suaminya bahkan dalam hadist pun tertuang seperti itu. Tapi bagiku tidak untuk seorang suami macam pak hendra yang berperangai kasar, yang seringkali pulang dalan keadaan mabuk bahkan tak jarang ia dijumpai sedang bersama wanita lain.
Tiga tahun berikutnya, bu aini kembali mengandung dan melahirkan. Dan akhirnya Allah mengabulkan pintanya dengan memberikannya seorang bayi perempuan yang cantik. Tentu saja pak hendra sumringah menyambutnya. Seluruh perhatian dan kasih sayangnya ia curahkan semua pada putri kesayangannya hingga ia lupa bahwa ia memiliki dua anak laki-lakinya. Putrinya ini diperlakukan bak putri raja, ia tak pernah kekurangan kasih sayang dan harta dari kedua orangtuanya, semua keinginannya dipenuhi. Tapi ternyata hal ini berimbas pada anak laki-laki pertamanya yang dulu menjadi satu-satunya tempat mencurahkan kasih sayang, kini ia seperti mendapat saingan yang tak lain adik kandungnya sendiri. Ia mersa iri dan kecewa dengan sikap bapaknya yang tak lagi memperdulikannya. Sayangnya, kekecewaannya dilampiaskan pada adik laki-laki yang baru ia jumpai setelah 3 tahun dipisahkan. Ketika kedua kakak beradik itu bertemu, mereka layaknya musuh karena tak ada komunikasi diantara mereka. Bahkan mereka tak pernah bicara satu sama lain. Mereka hanya bisa mengekspresikan kekecewaan mereka pada bapaknya dengan diam dan cuek pada saudaranya sendiri. Sedangkan sang putri sudah asyik dengan dunianya yang penuh dengan segala keinginannya yang terpenuhi dan tak mau ambil pusing dengan masalah kakak-kakaknya.
Ketika sang putri menginjak usia sekolah. Keadaan ekonomi keluarga ini kembali berantakan. Sehingga memaksa bu aini berjualan makanan di dekat sekolah ketiga anaknya. Menyadari ibunya hanya seorang penjual makanan membuat putrinya malu mengakui bu aini sebagai ibunya. Ia tak pernah sekalipun terlihat membantu ibunya bahkan lewat di hadapannya ketika bu aini berjualan pun ia tidak mau karena takut diketahui oleh teman-temanya bahwa ia hanya seorang anak penjual makanan. Rupanya kasih sayang berlebih dari bapaknya telah membentuk kepribadian yang hampir sama mewarisi sifat bapaknya.
Betapa hancurnya perasaan bu aini melihat perkembangan anak-anaknya. Kedua anak laki-laki nya yang tak tampak seperti saudara bahkan lebih tampak seperti seorang yang tak pernah mengenal dan tak pernah mau saling mengenal, enatahlah mungkin itu adalah efek dari keduanya sudah dipisahkan sejak kecil dan ketika dipertemukan kondisi jiwa anak pertamanya sedang tak labil oleh sikap bapaknya yang tak lagi memperhatikannya seperti dulu hingga ia torehkan kekewaan itu dengan tak mau mengenal adiknya yang telah lama berpisah. Tak hanya itu, ia semakin miris melihat anak perempuanya tumbuh menjadi anak yang egois dan bahkan tak mau mengakuinya sebagai ibu. Sedangkan suaminya tak pernah berhenti menyakitinya.
Malam itu akhirnya ia beranikan diri untuk mencurahkan semua isi hatinya yang telah lama ia pendam pada ibuku. Airmatanya yang selama ini tertahan di hadapan semua orang, malam itu ia tumpahkan di hadapan ibu dan aku. Dan aku hanya bisa termenung mendengarkan kisahnya. Ingin hati ini marah pada pak hendra dan juga bu aini tapi aku tahu diri aku ini hanya anak kecil yang tak tau apa-apa tapi aku cukup tau bahwa bu aini harus bangkit dari kelemahnnya selama ini. Ia tak bisa membiarkan keluarganya hancur dengan sikap diamnya selama ini. Dan ternyata ibuku pun sapaham denganku hanya saja kata-katanya jauh lebih bijak dari sekedar kemarahanku.
Belum selesai ibu menenangkan bu aini, aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perbincangan mereka karena malam sudah begitu larut. Sebelum kupejamkan mata, aku termenung sejenak bersyukur pada Allah karena Dia telah mengaruniakan aku kedua orangtua yang menyayangi aku dan adikku serta selalu membimbing kami di jalanNya. Terlintas tiga sosok melintas di pikiranku, mereka adalah kedua orangtuaku dan juga adikku yang amat kucintai. Kupejamkan mataku dan kutengadahkan tanganku memujiNya dan memohon padaNya agar aku, kedua orangtuaku, dan adikku dapat berkumpul di tempat maha indah bernama surga.
Keesokan paginya kutemui kedua orangtuaku dan memeluk mereka erat sembari berdoa” Ya Illahi sesungguhnya aku tak ingin melepas pelukan ini sampai nanti kami benar-benar menjadi penghuni surgaMu, ma tunjukilah kami jalan yang lurus menuju surgaMu bersama cinta yang kami miliki, Ya Illahi aku mencintai mereka dan memiliki serta mencintai mereka adalah anugerah terindah dalam hidupku” (Assyifa)
Kampanye damai yang tak berdamai dengan iman
Lebih dari seminggu sudah masyarakat kenyang menyaksikan aksi tebar pesona segelintir orang yang menyebut dirinya “pahlawan” yang akan membela masyarakat kecil. Tentu saja, aksi tebar pesona yang lebih tenar dengan nama kampanye damai ini melibatkan masyarakat kecil, bahkan anak-anak kecil yang seharusnya tidak ikut andil dalam aksi ini. Mungkin akan lebih mudah dimaafkan apabila kampanye yang katanya damai ini benar-benar berjalan damai. Damai disini bukan saja tak ada kerusuhan yang dapat menelan korban jiwa tapi damai disini juga termasuk tidak adanya “iman” yang akan menjadi korban. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penyanyi dangdut dengan penampilan yang siap menggoyahkan iman mewarnai setiap kampanye. Lalu dimana damai itu berada? Jika mata sudah tak aman melihat hal-hal yang dapat menggoyahkan iman. Dan ironisnya, masyarakat kecil itu terlebih masyarakat yang umurnya masih kecil menikmatinya sebagai suguhan yang menarik. Bagaimana tidak, kenikmatan duniawi apalagi yang hendak di dapat?dapat tontonan gratis yang menyegarkan mata meski membutakan mata hati dan setelah itu dapat uang transpotrasi.
Maka jadilah kegiatan ikut kampanye menjadi pekerjaan baru bagi sebagian masyarakat. Sejenak meraup untung dari upah berpartisipasi dalam kampanye dan melalaikan pekerjaannya. Apabila diminta memilih, ikut kampanye atau kembali ke pekerjaan sehari-hari?mungkin jawabannya dapat dilihat dari alas an berikut. Ikut kampanye dapat uang, apalagi jika membawa semua keluarga, maka minimal satu orang dapat dua puluh ribu rupiah lalu dikalikkan jumlah keluarga yang ikut. Menggiurkan bukan?dan pekerjaannyapun mudah. Hanya mengelu-elukan nama partai, berkeliling kota, bergoyang saat musik dangdut dimainkan lalu dapat upah plus kaos partai gratis. Maka tak heran jika sebagian orang menganggap kampanye sebagai ajang refreshing keluarga. Dan dapat ditebak hasilnya adalah sebagian masyarakat kita jadi malas bekerja saat musim kampanye tiba.
Apakah yang para “pahlawan-pahlawan” itu harapkan dari masyarakat kita apabila setiap kampanye menyuguhkan hiburan yang amoral seperti itu?bukankah masih ada alternative lain dalam memprogram kampanye?setidaknya dapat memberikan pesan moral kepada masyarakat. Lalu bagaimana para “pahlawan” itu akan mensejahterakan masyarakat apabila kampanyenya malah membuat masyarakatnya tak bermoral dengan suguhan yang amoral?Bukankah masyarakat akan hidup sejahtera apabila masyarakatnya memiliki moral yang baik?maka apakah kita dapat menyebutnya sebagai pembodohan masyarakat?
Kampanye damai seharusnya tak menelan korban jiwa, tak menggoyahkan iman, dan tak menggangu pekerjaan para peserta kampanyenya. (Assyifa)
Maka jadilah kegiatan ikut kampanye menjadi pekerjaan baru bagi sebagian masyarakat. Sejenak meraup untung dari upah berpartisipasi dalam kampanye dan melalaikan pekerjaannya. Apabila diminta memilih, ikut kampanye atau kembali ke pekerjaan sehari-hari?mungkin jawabannya dapat dilihat dari alas an berikut. Ikut kampanye dapat uang, apalagi jika membawa semua keluarga, maka minimal satu orang dapat dua puluh ribu rupiah lalu dikalikkan jumlah keluarga yang ikut. Menggiurkan bukan?dan pekerjaannyapun mudah. Hanya mengelu-elukan nama partai, berkeliling kota, bergoyang saat musik dangdut dimainkan lalu dapat upah plus kaos partai gratis. Maka tak heran jika sebagian orang menganggap kampanye sebagai ajang refreshing keluarga. Dan dapat ditebak hasilnya adalah sebagian masyarakat kita jadi malas bekerja saat musim kampanye tiba.
Apakah yang para “pahlawan-pahlawan” itu harapkan dari masyarakat kita apabila setiap kampanye menyuguhkan hiburan yang amoral seperti itu?bukankah masih ada alternative lain dalam memprogram kampanye?setidaknya dapat memberikan pesan moral kepada masyarakat. Lalu bagaimana para “pahlawan” itu akan mensejahterakan masyarakat apabila kampanyenya malah membuat masyarakatnya tak bermoral dengan suguhan yang amoral?Bukankah masyarakat akan hidup sejahtera apabila masyarakatnya memiliki moral yang baik?maka apakah kita dapat menyebutnya sebagai pembodohan masyarakat?
Kampanye damai seharusnya tak menelan korban jiwa, tak menggoyahkan iman, dan tak menggangu pekerjaan para peserta kampanyenya. (Assyifa)
Agar cintamu tak bertepuk sebelah tangan
Pernah ngerasain patah hati, sahabat ?
Cuma orang yang hidupnya ribet yang bakal ngerasain patah hati. Kenapa?karena dia gak nyari sesuatu yang sudah pasti dalam hidupnya. Hidup itu cari yang pasti-pasti aja, bener ga sich?
Ibaratnya gini dech, kalo kita mau cari buah-buahan, pastinya kita langsung ke toko buah kan?gak perlu muter-muter nyari di toko buku atau toko besi. Atau kalo kita belum pernah liat lumba-lumba, ya kita harus ke laut kalo mau liat bukannya ke pegunungan. Intinya adalah kalo kita mau cari sesuatu, ya kita cari ke sumbernya atau tempat yang udah pasti ada sesuatu yang kita cari itu, jadi gak perlu muter-muter gak jelas.
Begitupun dengan cinta, sahabat!!mungkin diantara kamu pernah patah hati gara-gara cintamu bertepuk sebelah tangan. Kalo kamu nyari cinta, ya cari dimana Sumber Cinta itu berasal. Yupz, jawabannya kita cari pada Sang Pemberi Cinta alias Allah swt. Kalo kamu cinta ma cowo atau cewe puajaanmu belum pasti cinta kamu berbalas kan? Tapi beda kalo kamu cinta ma Allah, Dia gak bakal mungkin nolak cinta kamu!!Dia adalah Dzat yang tak kan pernah sanggup menolak cinta hambaNya. Dan Dia adalah Dzat yang pemalu untuk mengembalikan tangan hambaNya dengan kehampaan. Bahkan ketika kamu punya cinta seluas lautan maka Ia akan membalas cintamu sebesar dunia beserta isinya.
Kalo cewe atau cowo pujaanmu itu minta banyak syarat supaya cintamu diterima; harus beli banyak hadiah, harus punya motor, harus traktir makan plus nonton setiap weekend, harus ngerjain tugas-tugas kuliahnya, dan seabrek permintaan yang ujung-ujungnya bakal ngerugiin diri kamu sendiri. Tapi Allah gak minta banyak supaya cintamu diterima, kamu gak mesti banyak uang and gak mesti ganteng atau cantik. Karena Allah liat smua hambaNya punya derajat yang sama Cuma keimanan yang membuatnya lebih istimewa.
Nah, sekarang gimana caranya supaya menghadirkan cinta kepada Allah dalam hati kita. Kata orang tak kenal maka tak sayang. So, kenali dulu Cinta Sejati kita. Gimana caranya??salah satu caranya lewat akal. Coba berfikir dan merenungi ayat-ayat Allah yang ada di alam misalnya: lewat fenomena terjadinya alam, fenomena pengabulan do’a, fenomena hikmah, fenomena petunjuk dan ilham. Begitu juga lewat ayat-ayat Qur’aniyah- Nya dalam surat cintaNya alias Al-Qur’an, seperti keindahan penyampaian, ketinggian bahasa, adanya penemuan-penemuan ilmiah, adanya kisah-kisah kaum terdahulu, bahkan pemberitahuan kejadian-kejadian di masa yang akan datang. Dengan merenungi hal-hal tersebut kita akan tau betapa Maha Besarnya Allah, betapa Hebatnya Dia. Dan selanjutnya akan timbul kekaguman dalam diri kita yang merupakan bibit-bibit hadirnya Cinta.
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Mungkin sebagian orang berfikir “duh, berat banget ya caranya”. Tapi cara yang menurut kamu berat itu sebenarnya akan berbuah kebaikan bagi dirimu sendiri. Dengan semua itu InsyaAllah kamu akan bertemu denganNya di tempat Maha indah bernama surga, sedangkan syarat-syarat yang harus kamu lakukan demi cinta cewe atau cowo pujaan kamu itu gak bakal ngejamin kamu masuk Surga kan?dan belum tentu juga kamu akan bertemu dengan si dia di kehidupan akhirat nanti. Kalopun kamu beruntung bersama-sama dengan si dia lagi di kehidupan nanti, belum tentu dia akan berada di surga kalo dia masuk neraka??Naudzubillahimindzalik.
Maka dari itu sahabat MINI, kita harus berhati-hati pada rasa cinta yang kita punya jangan sampai cinta yang kita punya termasuk cinta yang hina yaitu cinta berdasar hawa nafsu atau cinta yang lebih mengutamakan dunia dan melupakan Allah.
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54).
Semoga kita termasuk ke dalam kaum tersebut. Amin..
Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)
Cuma orang yang hidupnya ribet yang bakal ngerasain patah hati. Kenapa?karena dia gak nyari sesuatu yang sudah pasti dalam hidupnya. Hidup itu cari yang pasti-pasti aja, bener ga sich?
Ibaratnya gini dech, kalo kita mau cari buah-buahan, pastinya kita langsung ke toko buah kan?gak perlu muter-muter nyari di toko buku atau toko besi. Atau kalo kita belum pernah liat lumba-lumba, ya kita harus ke laut kalo mau liat bukannya ke pegunungan. Intinya adalah kalo kita mau cari sesuatu, ya kita cari ke sumbernya atau tempat yang udah pasti ada sesuatu yang kita cari itu, jadi gak perlu muter-muter gak jelas.
Begitupun dengan cinta, sahabat!!mungkin diantara kamu pernah patah hati gara-gara cintamu bertepuk sebelah tangan. Kalo kamu nyari cinta, ya cari dimana Sumber Cinta itu berasal. Yupz, jawabannya kita cari pada Sang Pemberi Cinta alias Allah swt. Kalo kamu cinta ma cowo atau cewe puajaanmu belum pasti cinta kamu berbalas kan? Tapi beda kalo kamu cinta ma Allah, Dia gak bakal mungkin nolak cinta kamu!!Dia adalah Dzat yang tak kan pernah sanggup menolak cinta hambaNya. Dan Dia adalah Dzat yang pemalu untuk mengembalikan tangan hambaNya dengan kehampaan. Bahkan ketika kamu punya cinta seluas lautan maka Ia akan membalas cintamu sebesar dunia beserta isinya.
Kalo cewe atau cowo pujaanmu itu minta banyak syarat supaya cintamu diterima; harus beli banyak hadiah, harus punya motor, harus traktir makan plus nonton setiap weekend, harus ngerjain tugas-tugas kuliahnya, dan seabrek permintaan yang ujung-ujungnya bakal ngerugiin diri kamu sendiri. Tapi Allah gak minta banyak supaya cintamu diterima, kamu gak mesti banyak uang and gak mesti ganteng atau cantik. Karena Allah liat smua hambaNya punya derajat yang sama Cuma keimanan yang membuatnya lebih istimewa.
Nah, sekarang gimana caranya supaya menghadirkan cinta kepada Allah dalam hati kita. Kata orang tak kenal maka tak sayang. So, kenali dulu Cinta Sejati kita. Gimana caranya??salah satu caranya lewat akal. Coba berfikir dan merenungi ayat-ayat Allah yang ada di alam misalnya: lewat fenomena terjadinya alam, fenomena pengabulan do’a, fenomena hikmah, fenomena petunjuk dan ilham. Begitu juga lewat ayat-ayat Qur’aniyah- Nya dalam surat cintaNya alias Al-Qur’an, seperti keindahan penyampaian, ketinggian bahasa, adanya penemuan-penemuan ilmiah, adanya kisah-kisah kaum terdahulu, bahkan pemberitahuan kejadian-kejadian di masa yang akan datang. Dengan merenungi hal-hal tersebut kita akan tau betapa Maha Besarnya Allah, betapa Hebatnya Dia. Dan selanjutnya akan timbul kekaguman dalam diri kita yang merupakan bibit-bibit hadirnya Cinta.
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Mungkin sebagian orang berfikir “duh, berat banget ya caranya”. Tapi cara yang menurut kamu berat itu sebenarnya akan berbuah kebaikan bagi dirimu sendiri. Dengan semua itu InsyaAllah kamu akan bertemu denganNya di tempat Maha indah bernama surga, sedangkan syarat-syarat yang harus kamu lakukan demi cinta cewe atau cowo pujaan kamu itu gak bakal ngejamin kamu masuk Surga kan?dan belum tentu juga kamu akan bertemu dengan si dia di kehidupan akhirat nanti. Kalopun kamu beruntung bersama-sama dengan si dia lagi di kehidupan nanti, belum tentu dia akan berada di surga kalo dia masuk neraka??Naudzubillahimindzalik.
Maka dari itu sahabat MINI, kita harus berhati-hati pada rasa cinta yang kita punya jangan sampai cinta yang kita punya termasuk cinta yang hina yaitu cinta berdasar hawa nafsu atau cinta yang lebih mengutamakan dunia dan melupakan Allah.
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54).
Semoga kita termasuk ke dalam kaum tersebut. Amin..
Wallahu’alam bishowab. (Assyifa)
Iman dan Ilmu harus bersahabat
Mungkin belum lepas dari ingatan kita, berita tertangkapnya sejumlah mahasiswa dalam pesta shabu-shabu beberapa bulan yang lalu. Dan dilanjutkan dengan berita duka atas tewasnya seorang mahasiswa yang OD setelah semalaman pesta miras. Berikut juga berita terperangkapnya seorang mahasiswa dan mahasiswi dalam razia PEKAT di sebuah hotel. Kasus diatas hanya potret kecil pergaulan dunia mahasiswa di sekitar kita ini. Dan bukan tidak mungkin masih banyak kasus-kasus serupa yang tidak teridentifikasi oleh publik.
Ada apa dengan kaum yang katanya terpelajar ini?tidakkah mereka pelajari bahwa bergelut dengan miras, narkoba dan berbagai bentuk kemaksiatan adalah suatu kesia-siaan yang tidak hanya akan membelenggu mereka, bukan saja penjara dunia tapi juga penjara akhirat yang tentunya lebih ganas.
Ada hal penting yang harus kita perhatikan disini. Mahasiswa ada untuk disiapkan terjun ke masyarakat. Tentu saja sebagai pemegang tonggak kepemimpinan yang mampu memperbaiki moralitas bangsa, untuk itu tak salah jika dibutuhkan pendidikan tinggi sebagai bekal. Tapi apa jadinya jika mereka setelah terjun ke masyarakat nanti bukannya menjadi agent of change tapi menjadi bagian dari penyakit masyarakat. Maka tak perlu pendidikan tinggi jika hanya sekedar ingin menjadi bagian dari penyakit masyarakat kan?
Sebenarnya ketika kita telah membawa gelar mahasiswa dalam status kita. Ada banyak titipan harapan yang bukan saja harus kita jaga tapi juga harus kita penuhi. Harapan akan kehidupan yang lebih baik dari orangtua dan masyarakat sekitar. Dan yang terpenting adalah harapan yang Allah titipkan agar kita bisa menjadi pembaharu moral umat yang memiliki daya guna yang tinggi kepada masyarakat karena pancaran keimanan.
Karena ilmu saja tak cukup kuat untuk memenuhi harapan-harapan itu, karena ilmu perlu iman sebagai teman untuk menguatkan perjuangan ini. Di luar sana berserakan contoh-contoh bagaimana ilmu menjadi sia-sia karena iman tak menyertai.
Kawan, dunia ini sudah sesak menampung kemaksiatan. Dengan ilmu dan iman yang kita punya, niatkan diri untuk mampu menghimpun kekuatan untuk mengusir kemaksiatan itu agar dunia dapat bernafas lega. Jika mengusir kemaksiatan dari dunia adalah mimpi yang terlalu tinggi maka Setidaknya ilmu dan iman yang kita miliki ini mampu mengusir kemaksiatan jauh dari diri sendiri sehingga kita mampu bernafas lega di kehidupan yang kekal nanti.
Dari Imam Ghozali bahwa manusia berada dalam kebinasaan, kecuali: ilmu, amal, syi’ar dan ikhlas. Tak perlu mmenunggu menjadi professor untuk mengamalkan ilmu yang kita dapatkan. Dan tak perlu menjadi ustadz terkenal untuk menularkan ilmu yang telah kita amalkan itu kepada orang lain karena yang kita butuhkan adalah ikhlas. Ikhlas mencari ilmu, ikhlas mengamalkan ilmu, ikhlas menyampaikan ilmu yang telah diamalkan.
Dan engkau wahai mahasiswa!!dengan predikatmu sebagai kaum terpelajar yang tentu saja berilmu. Jadikan ilmu yang kau punya sebagai modal dasarmu untuk berbakti pada semuanya yang telah menitipkan harapan besar di pundakmu. (Assyifa)
Ada apa dengan kaum yang katanya terpelajar ini?tidakkah mereka pelajari bahwa bergelut dengan miras, narkoba dan berbagai bentuk kemaksiatan adalah suatu kesia-siaan yang tidak hanya akan membelenggu mereka, bukan saja penjara dunia tapi juga penjara akhirat yang tentunya lebih ganas.
Ada hal penting yang harus kita perhatikan disini. Mahasiswa ada untuk disiapkan terjun ke masyarakat. Tentu saja sebagai pemegang tonggak kepemimpinan yang mampu memperbaiki moralitas bangsa, untuk itu tak salah jika dibutuhkan pendidikan tinggi sebagai bekal. Tapi apa jadinya jika mereka setelah terjun ke masyarakat nanti bukannya menjadi agent of change tapi menjadi bagian dari penyakit masyarakat. Maka tak perlu pendidikan tinggi jika hanya sekedar ingin menjadi bagian dari penyakit masyarakat kan?
Sebenarnya ketika kita telah membawa gelar mahasiswa dalam status kita. Ada banyak titipan harapan yang bukan saja harus kita jaga tapi juga harus kita penuhi. Harapan akan kehidupan yang lebih baik dari orangtua dan masyarakat sekitar. Dan yang terpenting adalah harapan yang Allah titipkan agar kita bisa menjadi pembaharu moral umat yang memiliki daya guna yang tinggi kepada masyarakat karena pancaran keimanan.
Karena ilmu saja tak cukup kuat untuk memenuhi harapan-harapan itu, karena ilmu perlu iman sebagai teman untuk menguatkan perjuangan ini. Di luar sana berserakan contoh-contoh bagaimana ilmu menjadi sia-sia karena iman tak menyertai.
Kawan, dunia ini sudah sesak menampung kemaksiatan. Dengan ilmu dan iman yang kita punya, niatkan diri untuk mampu menghimpun kekuatan untuk mengusir kemaksiatan itu agar dunia dapat bernafas lega. Jika mengusir kemaksiatan dari dunia adalah mimpi yang terlalu tinggi maka Setidaknya ilmu dan iman yang kita miliki ini mampu mengusir kemaksiatan jauh dari diri sendiri sehingga kita mampu bernafas lega di kehidupan yang kekal nanti.
Dari Imam Ghozali bahwa manusia berada dalam kebinasaan, kecuali: ilmu, amal, syi’ar dan ikhlas. Tak perlu mmenunggu menjadi professor untuk mengamalkan ilmu yang kita dapatkan. Dan tak perlu menjadi ustadz terkenal untuk menularkan ilmu yang telah kita amalkan itu kepada orang lain karena yang kita butuhkan adalah ikhlas. Ikhlas mencari ilmu, ikhlas mengamalkan ilmu, ikhlas menyampaikan ilmu yang telah diamalkan.
Dan engkau wahai mahasiswa!!dengan predikatmu sebagai kaum terpelajar yang tentu saja berilmu. Jadikan ilmu yang kau punya sebagai modal dasarmu untuk berbakti pada semuanya yang telah menitipkan harapan besar di pundakmu. (Assyifa)
Maaf aku belum mampu berlari mengejarmu
Seperti Matahari yang tetap bersinar tanpa lelah
Meski hujatan terlontar dari manusia-manusia kolong langit yang
mengeluh kepanasan
Seperti matahari dan hujan yang sedia menghadirkan pelangi
Sebagai penghibur atas kekesalan manusia-manusia kolong langit yang jemurannya basah apabila datang hujan
Maka biarkan aku menjaga semangat ini atas nama dakwah
Setidaknya untuk mengobati kekecawaan saudara-saudaraku atas ketidamampuanku memenuhi harapan mereka
Karena aku belum mampu menjadi seperti mereka
Maka ijinkanlah aku menghadirkan semangat di setiap langkahku yang
baru mampu berjalan
Sementara mereka menginginkan aku berlari
Beri aku waktu agar semangat itu mampu mengantarkanku berlari cepat
Meski mungkin muak rasanya mendengar permintaan “beri aku waktu”
Assyifa
Meski hujatan terlontar dari manusia-manusia kolong langit yang
mengeluh kepanasan
Seperti matahari dan hujan yang sedia menghadirkan pelangi
Sebagai penghibur atas kekesalan manusia-manusia kolong langit yang jemurannya basah apabila datang hujan
Maka biarkan aku menjaga semangat ini atas nama dakwah
Setidaknya untuk mengobati kekecawaan saudara-saudaraku atas ketidamampuanku memenuhi harapan mereka
Karena aku belum mampu menjadi seperti mereka
Maka ijinkanlah aku menghadirkan semangat di setiap langkahku yang
baru mampu berjalan
Sementara mereka menginginkan aku berlari
Beri aku waktu agar semangat itu mampu mengantarkanku berlari cepat
Meski mungkin muak rasanya mendengar permintaan “beri aku waktu”
Assyifa
tempat pembuangan kata
Aku hanya ingin mengikat ilmuku dengan kata per kata, hingga terangkai kalimat
Biarlah semua mencemooh rangkaian ini
Bahkan mungkin semua penyair menertawakannya
Ketika lidah ini lebih buas dari tangan
Maka tak ada salahnya kugerakkan tangan ini untuk menyambung lidahku
Hati, akal dan pikiran ini sudah tak mampu menyimapan kata
Maka kubuang kata-kata itu ke dalam pembuangan imajinasiku berwujud tulisan ini
Apakah salah ketika tak kubiarkan kata-kata ini terbuang sia-sia?
Nikmatilah jika memang layak
Sisihkanlah jika membuatmu muak
Tapi jangan pinta aku membuangnya sebagai kotoran
Karena tempat pembuangan kata-kata ini ádalah jalanku
Untukku pergi menyusul “Dua Cintaku” ke Tempat penuh cinta
Karena kuasaku adalah jihad lewat tulisan ini.
Assyifa
Biarlah semua mencemooh rangkaian ini
Bahkan mungkin semua penyair menertawakannya
Ketika lidah ini lebih buas dari tangan
Maka tak ada salahnya kugerakkan tangan ini untuk menyambung lidahku
Hati, akal dan pikiran ini sudah tak mampu menyimapan kata
Maka kubuang kata-kata itu ke dalam pembuangan imajinasiku berwujud tulisan ini
Apakah salah ketika tak kubiarkan kata-kata ini terbuang sia-sia?
Nikmatilah jika memang layak
Sisihkanlah jika membuatmu muak
Tapi jangan pinta aku membuangnya sebagai kotoran
Karena tempat pembuangan kata-kata ini ádalah jalanku
Untukku pergi menyusul “Dua Cintaku” ke Tempat penuh cinta
Karena kuasaku adalah jihad lewat tulisan ini.
Assyifa
semua salah cinta
Rasa itu tak ubahnya Virus mematikan
Ia Siap membunuh semangatmu
Hingga mengubah Ikrar yang hadir di setiap mimpi
Dan akhirnya hilanglah sudah
Hilanglah ruh iman yang kita tanam bersama
Dan mungkin ia kan merenggutmu dari langkah ini
Sampaikan hal ini pada hatimu, saudaraku..
Hingga ia mampu meramu obat
Sebelum hati dan pikiranmu terlapisi racun
Racun bernama cinta!!
Mengapa menyalahkan cinta?
Cinta takkan pernah salah!!!
Tapi cinta yang kau punya Sekarang belum saatnya untuk hadir
Ketika nanti cinta itu datang pada waktunya dan ia tak mengusir cinta Illahi dari singgahsana cinta tertinggi di hatimu..
Maka cinta takkan pernah salah!!!
Dan sekarang nikmatilah cinta ILlahi untuk kau jaga sampai nanti kau kembali padaNya.
(Assyifa)
Ia Siap membunuh semangatmu
Hingga mengubah Ikrar yang hadir di setiap mimpi
Dan akhirnya hilanglah sudah
Hilanglah ruh iman yang kita tanam bersama
Dan mungkin ia kan merenggutmu dari langkah ini
Sampaikan hal ini pada hatimu, saudaraku..
Hingga ia mampu meramu obat
Sebelum hati dan pikiranmu terlapisi racun
Racun bernama cinta!!
Mengapa menyalahkan cinta?
Cinta takkan pernah salah!!!
Tapi cinta yang kau punya Sekarang belum saatnya untuk hadir
Ketika nanti cinta itu datang pada waktunya dan ia tak mengusir cinta Illahi dari singgahsana cinta tertinggi di hatimu..
Maka cinta takkan pernah salah!!!
Dan sekarang nikmatilah cinta ILlahi untuk kau jaga sampai nanti kau kembali padaNya.
(Assyifa)
Diantara terompet dan bom
Semalam pelosok negeriku riuh oleh suara terompet,
kau tau di negeri malang bernama Palestina riuh oleh suara tembakan dan bom di pelosok negerinya.
Semalam lazuardi negeriku benderang oleh cahaya kembang api,
kau tau di lazuardi tempat Al Aqsho bernaung benderang oleh kilatan bom mengotori indahnya lazuardi nauangan Al Aqsho.
Semalam sauadara-saudaraku di negeriku tertawa bahagia menyambut datangnya tahun baru,
kau tau saudara-saudaraku di negeri para nabi itu menangis, menjerit, merintih, menahan sakit, menahan lapar, menyambut serangan bengis yahudi laknatullah.
Semalam saudara-saudaraku menghabiskan waktu di gemerlap cafe, seraya berteriak ”Happy New Year!!”.
Kau tau saudara-saudaraku yg lain menghabiskan waktu di barak-barak penampungan, di rumah sakit, bahkan mungkin sembunyi di bawah puing-puing rumah mereka yg telah hancur, sembari berteriak ”Rabb...dimana saudara-saudara seimanku di saat aku membutuhkannya...”.
Saudaraku, karena iman kita dipersaudarakan
Karena iman, kita ini bagai satu tubuh
Karena kita ini satu tubuh maka ketika ada satu anggota tubuh yg sakit,anggota tubuh yg lainpun akan merasakan sakit.
Harusnya....
Tapi, apa yg kusaksikan hari ini..??
Pahit rasanya menyaksikan dua hal jauh yg berbeda
Getir kurasa, hanya dapat berdiam diri menyaksikan hal yg menyesakkan itu.
Ya illahi ..aku percaya janjiMu benar adanya,
Engkau akan mengabullkan doa seorang saudara yg mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu.
Jadikan setiap tetes darah mereka bahan bakar untuk menuju surga-Mu
Jadikan setiap jerit tangis mereka kekuatan untuk meraih surga-Mu
Maka jadikan setiap peluru yahudi lakanatullah itu gumpalan api yg siap menerkam mereka
Ya illahi..aku percaya adzab-Mu pedih adanya.
(Assyifa)
kau tau di negeri malang bernama Palestina riuh oleh suara tembakan dan bom di pelosok negerinya.
Semalam lazuardi negeriku benderang oleh cahaya kembang api,
kau tau di lazuardi tempat Al Aqsho bernaung benderang oleh kilatan bom mengotori indahnya lazuardi nauangan Al Aqsho.
Semalam sauadara-saudaraku di negeriku tertawa bahagia menyambut datangnya tahun baru,
kau tau saudara-saudaraku di negeri para nabi itu menangis, menjerit, merintih, menahan sakit, menahan lapar, menyambut serangan bengis yahudi laknatullah.
Semalam saudara-saudaraku menghabiskan waktu di gemerlap cafe, seraya berteriak ”Happy New Year!!”.
Kau tau saudara-saudaraku yg lain menghabiskan waktu di barak-barak penampungan, di rumah sakit, bahkan mungkin sembunyi di bawah puing-puing rumah mereka yg telah hancur, sembari berteriak ”Rabb...dimana saudara-saudara seimanku di saat aku membutuhkannya...”.
Saudaraku, karena iman kita dipersaudarakan
Karena iman, kita ini bagai satu tubuh
Karena kita ini satu tubuh maka ketika ada satu anggota tubuh yg sakit,anggota tubuh yg lainpun akan merasakan sakit.
Harusnya....
Tapi, apa yg kusaksikan hari ini..??
Pahit rasanya menyaksikan dua hal jauh yg berbeda
Getir kurasa, hanya dapat berdiam diri menyaksikan hal yg menyesakkan itu.
Ya illahi ..aku percaya janjiMu benar adanya,
Engkau akan mengabullkan doa seorang saudara yg mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu.
Jadikan setiap tetes darah mereka bahan bakar untuk menuju surga-Mu
Jadikan setiap jerit tangis mereka kekuatan untuk meraih surga-Mu
Maka jadikan setiap peluru yahudi lakanatullah itu gumpalan api yg siap menerkam mereka
Ya illahi..aku percaya adzab-Mu pedih adanya.
(Assyifa)
Mengapa harus puas mendapat nilai B jika mampu mendapat nilai A
Hidup adalah pilihan, rasanya kalimat itu cocok untuk hidupku. “mau beli boneka baru apa baju baru?” atau “mau liburan di rumah nenek apa ke kebun binatang?”. Ya, sejak kecil aku sudah disuguhi pilihan yg sulit. Ternyata berlangsung hingga saat ini, “jadi aktfis mahasiswa atau mahasiswa pasifis?”. “setumpuk agenda dakwah atau setumpuk pekerjaan rumah”.
Di depanku terhidang stumpuk pekerjaan rumah tapi pikiranku terlempar dikejar-kejar deadline tugas dakwahku. Ketika ku jalani aktifitas dakwahku, sosok lemah ibuku yg mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri menghantuiku dan membuyarkan konsentrasiku. Ujung-ujungnya apakah ku harus memilih di antara keduanya?dan meninggalkan salah satunya?.
Sampai-sampai terhempas suara-suara tak bertanggung jawab dalam keraguanku, “andai kau pilih menjadi mahasiswa biasa alias mahasiswa pasifis pasti tentu tak kan bingung seperti ini memilih 2 hal yg dicintai. Toh, menjadi mahasiswa biasa bukan perbuatan dosa selama nilai-nilai agama masih kau pegang. Dan hidupmu akan lebih santai tanpa harus di kejar-kejar “deadline” tugas dakwah, tugas kuliah, dan tugas di rumah”.
Tiba-tiba suara tak bertanggung jawab itu pecah oleh gelombang suara lain, “ya kau benar menjadi mahasiswa biasa bukan perbuatan dosa selama nilai-nilai agama masih kau pegang, tapi mengapa harus puas mendapat nilai B jika sebenarnya kita mampu mendapat nilai A. Dengan menjadi mahasiswa biasa yang tetap memegang teguh nilai-nilai agama, kau telah mendapat nilai B, tapi dengan menjadi mahasiswa sekaligus aktifis dakwah kampus insya Allah, Sang Maha Adil akan memberimu nilai A”. subhanallah
Jadi teringat slogan hidup sahabatku, “syukuri nikmat agar hati tak banyak menuntut” subhanallah…tepat sekali!!kalau saja aku bersyukur atas nikmat Sang Maha Pemurah, nikmat memiliki saudara-saudara yg mencintaiku karena Allah, nikmat berupa kesempatan lebih besar untukku bisa menyadari hakikat hidupku dan mengenal “Cinta sejatiku”, menikmati liku-liku perjuangan dakwah yg Rasulullah rasakan meski tak seberat yg beliau rasakan. Dan nikmat lainnya…
Andai kusadari semua nikmat yg tak semua penghuni bumi dapatkan itu ku syukuri sebagai nikmat yg besar pasti tak akan lahir banyak kalimat berawalan “kenapa” dan “andai”. “kenapa tak ada waktu untukku beristirahat?” dan “andai saja ada satu hari lagi setelah hari ahad dan sebelum hari senin untukku beristirahat”.
Hati, sadarilah bahwa sesungguhnya kesalahan bukan pada waktu, tapi ada pada dirimu, kau adala kunci kebimbangan ini. Bukankah otak dan hati masih bisa di ajak berkompromi bagaimana me-manaje waktumu agar semua amanah di pundak dapat dijalani dengan baik dan seimbang?belajar menjadi manager untuk dirimu sendiri, tetapkan skala prioritas dalam peta hidupmu. Menemukannya bukan dengan mencari di buku atau bertanya pada orang lain tapi cari dan tanyakan pada hati. Tentu saja bukannya tanpa petunjuk, kaupun harus meminta petunjuk Sang Maha Mengetahui.
Lagi-lagi teori, gampang rasanya menghafal teori. Tapi praktiknya?siapa bilang sulit??tidak ada yang sulit ketika semua amalan di latar belakangi oleh niat ikhlas untuk mencari ridho-Nya dan konsisten dari awal hingga akhir.
Hati, ketahuilah bahwa dunia ini hanya sementara. Begitupun istirahatmu di dunia tak akan senikmat tempat istirahatmu di tempat terindah bernama surga yg telah Allah persiapkan untuk mujahid dan mujahidah yg menghabiskan waktunya untuk menegakan kalimat tauhid di setiap sisi-sisi dunia dalam rangka menggapai ridho-Nya. Karena istirahanya pejuang dakwah adalah kematian untuknya. Azzamkan bahwa pengorbanan seorang umat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti dan kau tau kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu biasanya seiring dengan perintah yg diberikan kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia.Wallahu’alam bishawab .(Assyifa)
Di depanku terhidang stumpuk pekerjaan rumah tapi pikiranku terlempar dikejar-kejar deadline tugas dakwahku. Ketika ku jalani aktifitas dakwahku, sosok lemah ibuku yg mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri menghantuiku dan membuyarkan konsentrasiku. Ujung-ujungnya apakah ku harus memilih di antara keduanya?dan meninggalkan salah satunya?.
Sampai-sampai terhempas suara-suara tak bertanggung jawab dalam keraguanku, “andai kau pilih menjadi mahasiswa biasa alias mahasiswa pasifis pasti tentu tak kan bingung seperti ini memilih 2 hal yg dicintai. Toh, menjadi mahasiswa biasa bukan perbuatan dosa selama nilai-nilai agama masih kau pegang. Dan hidupmu akan lebih santai tanpa harus di kejar-kejar “deadline” tugas dakwah, tugas kuliah, dan tugas di rumah”.
Tiba-tiba suara tak bertanggung jawab itu pecah oleh gelombang suara lain, “ya kau benar menjadi mahasiswa biasa bukan perbuatan dosa selama nilai-nilai agama masih kau pegang, tapi mengapa harus puas mendapat nilai B jika sebenarnya kita mampu mendapat nilai A. Dengan menjadi mahasiswa biasa yang tetap memegang teguh nilai-nilai agama, kau telah mendapat nilai B, tapi dengan menjadi mahasiswa sekaligus aktifis dakwah kampus insya Allah, Sang Maha Adil akan memberimu nilai A”. subhanallah
Jadi teringat slogan hidup sahabatku, “syukuri nikmat agar hati tak banyak menuntut” subhanallah…tepat sekali!!kalau saja aku bersyukur atas nikmat Sang Maha Pemurah, nikmat memiliki saudara-saudara yg mencintaiku karena Allah, nikmat berupa kesempatan lebih besar untukku bisa menyadari hakikat hidupku dan mengenal “Cinta sejatiku”, menikmati liku-liku perjuangan dakwah yg Rasulullah rasakan meski tak seberat yg beliau rasakan. Dan nikmat lainnya…
Andai kusadari semua nikmat yg tak semua penghuni bumi dapatkan itu ku syukuri sebagai nikmat yg besar pasti tak akan lahir banyak kalimat berawalan “kenapa” dan “andai”. “kenapa tak ada waktu untukku beristirahat?” dan “andai saja ada satu hari lagi setelah hari ahad dan sebelum hari senin untukku beristirahat”.
Hati, sadarilah bahwa sesungguhnya kesalahan bukan pada waktu, tapi ada pada dirimu, kau adala kunci kebimbangan ini. Bukankah otak dan hati masih bisa di ajak berkompromi bagaimana me-manaje waktumu agar semua amanah di pundak dapat dijalani dengan baik dan seimbang?belajar menjadi manager untuk dirimu sendiri, tetapkan skala prioritas dalam peta hidupmu. Menemukannya bukan dengan mencari di buku atau bertanya pada orang lain tapi cari dan tanyakan pada hati. Tentu saja bukannya tanpa petunjuk, kaupun harus meminta petunjuk Sang Maha Mengetahui.
Lagi-lagi teori, gampang rasanya menghafal teori. Tapi praktiknya?siapa bilang sulit??tidak ada yang sulit ketika semua amalan di latar belakangi oleh niat ikhlas untuk mencari ridho-Nya dan konsisten dari awal hingga akhir.
Hati, ketahuilah bahwa dunia ini hanya sementara. Begitupun istirahatmu di dunia tak akan senikmat tempat istirahatmu di tempat terindah bernama surga yg telah Allah persiapkan untuk mujahid dan mujahidah yg menghabiskan waktunya untuk menegakan kalimat tauhid di setiap sisi-sisi dunia dalam rangka menggapai ridho-Nya. Karena istirahanya pejuang dakwah adalah kematian untuknya. Azzamkan bahwa pengorbanan seorang umat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti dan kau tau kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu biasanya seiring dengan perintah yg diberikan kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia.Wallahu’alam bishawab .(Assyifa)
Titah cinta
Kubawa kakikku melangkah sejauh mungkin
Kupaksakan kakikku berlari secepat mungkin
Kudengarkan hatiku berbisik
“pergi dan lupakan semuanya tentang mereka!!”
Tapi kurasakan berat langkahku
Kulihat mereka menyatu dengan bayanganku di setiap jengkal langkahku
Kucoba untuk menutup mata, telinga, hati, dan anganku dari mereka
Tapi mata, telinga, hati, dan anganku lebih menuruti titah Tuhannya ketimbang titahku
Mataku menyadarkanku bahwa ia adalah saksi bisu berapa banyak air mata bahagia, sedih, haru ketika kususuri titah cinta bersama mereka
Telingaku berontak karena ia adalah saksi bisu gema takbir penyemangat ketika kuperjuangkan titah cinta bersama mereka
Anganku mengingatkanku bahwa ia adalah saksi bisu berapa banyak kenangan manis dan pahit ketika kuarungi titah cinta bersama mereka
Hatiku berteriak bahwa ia adalah saksi bisu betapa besar rasa cinta itu tertanam untuk mereka
Semakin cepat aku berlari, semakin kurasakan bisikan angin
“kembalilah dan ingatlah semuanya tentang mereka!!”
Kutengokkan kepalaku dan aku melihat mereka melambaikan tangan dengan air mata
“kami mencintaimu karena Allah, kau dititahkan untuk berjuang bersama kami untuk syahid”
“Allahu akbar !!”
Kuraih tangan mereka dan menyambut takbir dengan airmata yang jatuh sebagai bukti cintaku pada sang Maha Cinta yang telah memberiku titah untuk menjumpaiNya di surga. (Assyifa)
Kupaksakan kakikku berlari secepat mungkin
Kudengarkan hatiku berbisik
“pergi dan lupakan semuanya tentang mereka!!”
Tapi kurasakan berat langkahku
Kulihat mereka menyatu dengan bayanganku di setiap jengkal langkahku
Kucoba untuk menutup mata, telinga, hati, dan anganku dari mereka
Tapi mata, telinga, hati, dan anganku lebih menuruti titah Tuhannya ketimbang titahku
Mataku menyadarkanku bahwa ia adalah saksi bisu berapa banyak air mata bahagia, sedih, haru ketika kususuri titah cinta bersama mereka
Telingaku berontak karena ia adalah saksi bisu gema takbir penyemangat ketika kuperjuangkan titah cinta bersama mereka
Anganku mengingatkanku bahwa ia adalah saksi bisu berapa banyak kenangan manis dan pahit ketika kuarungi titah cinta bersama mereka
Hatiku berteriak bahwa ia adalah saksi bisu betapa besar rasa cinta itu tertanam untuk mereka
Semakin cepat aku berlari, semakin kurasakan bisikan angin
“kembalilah dan ingatlah semuanya tentang mereka!!”
Kutengokkan kepalaku dan aku melihat mereka melambaikan tangan dengan air mata
“kami mencintaimu karena Allah, kau dititahkan untuk berjuang bersama kami untuk syahid”
“Allahu akbar !!”
Kuraih tangan mereka dan menyambut takbir dengan airmata yang jatuh sebagai bukti cintaku pada sang Maha Cinta yang telah memberiku titah untuk menjumpaiNya di surga. (Assyifa)
Jumat, 30 April 2010
you still my partner, sist
Menatap wjh bru sbrkas krts bernama sama dgn ukurany,mbwt ku tringt pd se2org yg mnemaniku mnangs trsedu ktika ku trima amnh yg lbh brt dr sblmnya.
s'sungguhnya dlm tangs tu tsimpan janji pd diriku sndri utkmu.tp hingga kini janji tu blm ku tepati.
Mlhtmu kini,aku bangga memiliki saudara sprtimu yg mampu bdiri tegar dn mandiri mlnjtkn hrpn kita:mencerahkn kmpus kita dgn warna warni pena islam.
Mengingt hari2 tu,hari2 yg mlelahkn akbt d kjr deadline tp smgtmu dn ukhwh qt mampu mengusir smw lelah yg menyerang.
Dan kini hari2 tu tak ku lwti kmbli,dn membiarkanmu mlwtinya sndri.
Ukhti, jarangnya intensitas ptmuan qt,mbwtku mrasa jauh dr mu saat ini,
ingn rasany kmbli k masa tu,
dan hingga kini predikt my best partner tu msh milikmu,
from "assyifa" for "2u"
s'sungguhnya dlm tangs tu tsimpan janji pd diriku sndri utkmu.tp hingga kini janji tu blm ku tepati.
Mlhtmu kini,aku bangga memiliki saudara sprtimu yg mampu bdiri tegar dn mandiri mlnjtkn hrpn kita:mencerahkn kmpus kita dgn warna warni pena islam.
Mengingt hari2 tu,hari2 yg mlelahkn akbt d kjr deadline tp smgtmu dn ukhwh qt mampu mengusir smw lelah yg menyerang.
Dan kini hari2 tu tak ku lwti kmbli,dn membiarkanmu mlwtinya sndri.
Ukhti, jarangnya intensitas ptmuan qt,mbwtku mrasa jauh dr mu saat ini,
ingn rasany kmbli k masa tu,
dan hingga kini predikt my best partner tu msh milikmu,
from "assyifa" for "2u"
Menyimpan memory alam dalam hati
Jika di ijinkan..
aku ingin mengambil ketenangan laut utk ku pindahkn ke dalam hati ini,
memindahkn kesunyian malam utk bermukim di hati ini,
mempelajri alunan nada kicauan burung agar ketika ku berteriak melepas isi hati tak da yg terganggu oleh pekikanku,
mengalihkan kekuatan karang utk mengisi dinding2 hati yg mulai rapuh,
membanjiri hati ini dgn smgt para syuhada d kegentingan pertempuran,
mencintai cintaMu utk ku sandarkn pd singgahsana cinta tertinggi d hatiku,
aku ingin mengambil ketenangan laut utk ku pindahkn ke dalam hati ini,
memindahkn kesunyian malam utk bermukim di hati ini,
mempelajri alunan nada kicauan burung agar ketika ku berteriak melepas isi hati tak da yg terganggu oleh pekikanku,
mengalihkan kekuatan karang utk mengisi dinding2 hati yg mulai rapuh,
membanjiri hati ini dgn smgt para syuhada d kegentingan pertempuran,
mencintai cintaMu utk ku sandarkn pd singgahsana cinta tertinggi d hatiku,
dari Al Furqon untuk Nurul Ilmi
Terlelap d balik deruman mobil yg bising,d antar lantunan sholawat dr musisi jalanan. Hingga Al furqon berdiri tegap di hadapanku dan aku terpesona pd pndangan ptma. Akhrnya ktahuilah bhwa ia bs bgtu mengagumkn krn org2 d skelilingnya bgtu mencintainya dn pedulikannya. Tak pandang mreka adlh org2 besar bergelar besar dan berhati besar. Tak pernah kutemui mreka d Nurul ilmiku. Profesor doktor berpangkat tinggi d univrsts2 trnama itu mau mnyediakn wktnya utk kami,menyediakn luang pikirnya utk memikirkan pusat peradaban kaum intlektual bernama masjid kampus. Andaikn ku temui sosok2 sprti mreka pd kampusku..
"orang2 besar lahir dr masjid kampus!"
"karena kita terlahir utk menjadi seorang pemimpin!".
Bagi mreka menjadi aktfs masjid adlh tugas mulia karena panggilan jiwa. Maka tak da peduli dgn gelar dn jbtn tinggi yg mrka emban.
Andaikn mreka mampu menularkn fikrah mreka pd ptinggi2 d kampusku,mungkin Nurul ilmi kan berdiri tegap dan bersiap utk mnjlnkn peran sbg pusat peradaban. Rangkaian terakhr d tu2p dgn merndhkn hati,menundukn kpla,mernungkn nurul ilmiku nun jauh dsna. Dlm ktndukn tu,mreka tnamkn rasa cinta masjid menusuk k dlm hati kami. Ada kerinduan , ada smgt, ada ksedihn ktika mata ini kupejamkan. Membayangkn Nurul ilmi d thn2 mendatang mampu menjadi terang dlm gelap temaram unswagati..
Dan menanti serta mengejar 30 thn mendatang dmana aktfs masjid kampus,aktfs dakwah kampus kan mampu menjadi org ptma d negeri ini atau mampu meneruskn jejak profsor2 itu. Maka tunggulah saat itu tiba dgn kerja keras,kerja cerdas dan ikhlas utk membuat ibu pertiwi bersuka hati dgn linangan air mata bahagia dlm lantunan lagu "ibu pertiwi" yg sering d serukan siswa2 SD. Bukan mksud tak menghargai karya ismail marjuki,tp kami hanya ingin mlht ibu perthwi bhgia tak lg bersdih hati.
"orang2 besar lahir dr masjid kampus!"
"karena kita terlahir utk menjadi seorang pemimpin!".
Bagi mreka menjadi aktfs masjid adlh tugas mulia karena panggilan jiwa. Maka tak da peduli dgn gelar dn jbtn tinggi yg mrka emban.
Andaikn mreka mampu menularkn fikrah mreka pd ptinggi2 d kampusku,mungkin Nurul ilmi kan berdiri tegap dan bersiap utk mnjlnkn peran sbg pusat peradaban. Rangkaian terakhr d tu2p dgn merndhkn hati,menundukn kpla,mernungkn nurul ilmiku nun jauh dsna. Dlm ktndukn tu,mreka tnamkn rasa cinta masjid menusuk k dlm hati kami. Ada kerinduan , ada smgt, ada ksedihn ktika mata ini kupejamkan. Membayangkn Nurul ilmi d thn2 mendatang mampu menjadi terang dlm gelap temaram unswagati..
Dan menanti serta mengejar 30 thn mendatang dmana aktfs masjid kampus,aktfs dakwah kampus kan mampu menjadi org ptma d negeri ini atau mampu meneruskn jejak profsor2 itu. Maka tunggulah saat itu tiba dgn kerja keras,kerja cerdas dan ikhlas utk membuat ibu pertiwi bersuka hati dgn linangan air mata bahagia dlm lantunan lagu "ibu pertiwi" yg sering d serukan siswa2 SD. Bukan mksud tak menghargai karya ismail marjuki,tp kami hanya ingin mlht ibu perthwi bhgia tak lg bersdih hati.
pesan dari cinta
Perkenalkan,aku cinta. Aku yakin hampir smua orang sering mendengar namaku disebut. Dalam kisah bodoh romeo n juliet, dalam kisah tragis laila majnun, sampai kisah dilematis siti nurbaya. Dan kini bisa kausaksikan namaku dipuja puji dalam syair-syair lagu, dalam jalan cerita di sinetron dan dalam film-film tak bermutu. Dan hasilnya,dari anak di bawah umur hingga orang yang berumur banyak semua memujiku. Seharusnya aku bangga karena aku di puja banyak orang. Tapi entah kenapa yang kurasa justru sebaliknya,aku sakit menyaksikannya. Tentu saja, karena banyak dari mereka (pemuja cinta.red) menilai salah tentang aku.
Aku cinta, sebuah karunia yg di anugerahkan Allah sebagai fitrah manusia. Aku cinta, yg Allah sebutkan dalam firmanNya:
"Dijadikan indah padamanusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,yaitu wanita-wanita,anak-anak,ha rta yang banyak dari jenis emas,perak,kuda pilihan,binatang-binatang ternak,dan sawah ladang.itulah kesenangan hidup di dunia;dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik ".(Ali Imron;14)
begitupun sbgaimana aku tertera dlm Q.S Maryam;96 dn Ar Rum ;21.
Aku akan bhgia jika aku ada dlm hati manusia jika aku ditujukn kpd Allah Yang menciptakan aku,kepada Rasulullah yg mengenalkn aku hingga terbitlah terang dari kgelapn, kepada jihad sebagai bukti adanya aku utk Allah dlm hati manusia, dan kepada orang-orang mukmin yg memiliki aku karena Allah.
Itulah aku sesungguhnya..
Tapi banyak dari mereka(pemuja cinta.red) enggan mengenalku lebih dlm,mencemarkn nama baikku,membuat pernytaan palsu tentang aku,dan bahkan mengatasnamkan aku untuk berbuat maksiat.
Aku tak ingin menjadi hina krena mreka (pemuja cinta.red)mempersembahkan aku untuk thogutnya dan untuk musuh-musuh Allah. Dan Demi Allah, aku pun tak rela aku dijadikan kambing hitam hanya karena hawa nafsu.
Jika memang ada aku di hatimu,maka aku ingin aku ada untuk Allah. Maka buktikan dengan mengabdi padaNya,menjadikanNya orientasi satu-satunya dlm hidupmu,LILLAH!. Lihatlah bagaimana Rasulullah memperlakukan aku begitu lembut hingga aku penuh sesak di hatinya,dan sekali lagi untuk Allah.
Maka kenali aku lebih dalam. Kenali aku dalam MAHABATULLAH..disanalah kan kau temukan aku yg sesungguhnya dalam wujud asliku bukan dalam wujud palsu!!
Waallahu'alam bishawab
Aku cinta, sebuah karunia yg di anugerahkan Allah sebagai fitrah manusia. Aku cinta, yg Allah sebutkan dalam firmanNya:
"Dijadikan indah pada
begitupun sbgaimana aku tertera dlm Q.S Maryam;96 dn Ar Rum ;21.
Aku akan bhgia jika aku ada dlm hati manusia jika aku ditujukn kpd Allah Yang menciptakan aku,kepada Rasulullah yg mengenalkn aku hingga terbitlah terang dari kgelapn, kepada jihad sebagai bukti adanya aku utk Allah dlm hati manusia, dan kepada orang-orang mukmin yg memiliki aku karena Allah.
Itulah aku sesungguhnya..
Tapi banyak dari mereka(pemuja cinta.red) enggan mengenalku lebih dlm,mencemarkn nama baikku,membuat pernytaan palsu tentang aku,dan bahkan mengatasnamkan aku untuk berbuat maksiat.
Aku tak ingin menjadi hina krena mreka (pemuja cinta.red)mempersembahkan aku untuk thogutnya dan untuk musuh-musuh Allah. Dan Demi Allah, aku pun tak rela aku dijadikan kambing hitam hanya karena hawa nafsu.
Jika memang ada aku di hatimu,maka aku ingin aku ada untuk Allah. Maka buktikan dengan mengabdi padaNya,menjadikanNya orientasi satu-satunya dlm hidupmu,LILLAH!. Lihatlah bagaimana Rasulullah memperlakukan aku begitu lembut hingga aku penuh sesak di hatinya,dan sekali lagi untuk Allah.
Maka kenali aku lebih dalam. Kenali aku dalam MAHABATULLAH..disanalah kan kau temukan aku yg sesungguhnya dalam wujud asliku bukan dalam wujud palsu!!
Waallahu'alam bishawab
seberapa banyak kalimat tanya menghinggapimu?
Kawan, seberapa sering kau ucap cinta pada pujaan hatimu??
Sama seringnya dengan kau ucap cinta untuk ibumu??
Adakah dalam satu hari ada satu kata cinta untuk ibu??
Atau mungkin hanya satu tahun sekali kata itu terucap??
Kapan terakhir kali kau nyatakan cinta pada ibumu??
Atau mungkin tak pernah ada kata cinta terlontar untuk ibumu?
Kawan, seberapa besar perhatianmu pada pujaan hatimu??
Sama besarnya dengan perhatianmu pada ibumu??
Apakah ketika kau tanyakan keadaan pujaan hatimu, terpikir pula olehmu keadaan ibumu saat itu??Sudah makankah ia??sehatkah ia??
Kawan, seberapa mahalnya hadiah yang kau beri untuk pujaan hatimu??
Sama mahalnya dengan hadiah-hadiah yang kau beri untuk ibumu??
Atau mungkin seulas senyum saja tak pernah kau hadiahkan untuk ibumu??
Kawan, seberapa sering kau rasa patah hati dikhianati pujaan hatimu?
Pernahkah pengkhiantan cinta itu datang dari ibumu??
Pernahkan ibumu meninggalkanmu saat kau terjatuh??
Kawan, Mencintai itu tak seindah dan semudah yang terpikir
Karena akhir dari mencintai adalah pertanggungjawaban
Dan menyatakan cinta itu tak semudah mengedipkan mata
Kawan, Kufikir munafik rasanya ketika ku katakan cinta tapi kata-kata dan tingkah lakuku hanya berbekas sakit di hatinya
Kata cinta itu dirasa percuma jika aku hanya bisa membuat jejak tangisan di wajah lembutnya
Kawan, seberapa besar dan seberapa banyak salahmu padanya
Jauh lebih banyak kata maaf yang ia simpan untukmu
Dan jauh lebih besar rasa cinta yang ia pelihara untukmu
Sadarkah kawan, rasa cinta itu yang membuatnya bertahan di masa awal kehadiran kita di dunia hingga seperempat abad usia kita saat ini
Sama seringnya dengan kau ucap cinta untuk ibumu??
Adakah dalam satu hari ada satu kata cinta untuk ibu??
Atau mungkin hanya satu tahun sekali kata itu terucap??
Kapan terakhir kali kau nyatakan cinta pada ibumu??
Atau mungkin tak pernah ada kata cinta terlontar untuk ibumu?
Kawan, seberapa besar perhatianmu pada pujaan hatimu??
Sama besarnya dengan perhatianmu pada ibumu??
Apakah ketika kau tanyakan keadaan pujaan hatimu, terpikir pula olehmu keadaan ibumu saat itu??Sudah makankah ia??sehatkah ia??
Kawan, seberapa mahalnya hadiah yang kau beri untuk pujaan hatimu??
Sama mahalnya dengan hadiah-hadiah yang kau beri untuk ibumu??
Atau mungkin seulas senyum saja tak pernah kau hadiahkan untuk ibumu??
Kawan, seberapa sering kau rasa patah hati dikhianati pujaan hatimu?
Pernahkah pengkhiantan cinta itu datang dari ibumu??
Pernahkan ibumu meninggalkanmu saat kau terjatuh??
Kawan, Mencintai itu tak seindah dan semudah yang terpikir
Karena akhir dari mencintai adalah pertanggungjawaban
Dan menyatakan cinta itu tak semudah mengedipkan mata
Kawan, Kufikir munafik rasanya ketika ku katakan cinta tapi kata-kata dan tingkah lakuku hanya berbekas sakit di hatinya
Kata cinta itu dirasa percuma jika aku hanya bisa membuat jejak tangisan di wajah lembutnya
Kawan, seberapa besar dan seberapa banyak salahmu padanya
Jauh lebih banyak kata maaf yang ia simpan untukmu
Dan jauh lebih besar rasa cinta yang ia pelihara untukmu
Sadarkah kawan, rasa cinta itu yang membuatnya bertahan di masa awal kehadiran kita di dunia hingga seperempat abad usia kita saat ini
bidadari berwajah keriput
Biarkn aku tak sepaham dgn dunia
karna bagiku cleopatra buknlh yg tcntik
bidadari itu..
Pemilik mata sayu yg wjhny d hiasi garis2 kriput
yg tanganya kasar dn rmbutnya d dominasi akn wrna putih
tapi dr mata sayu tu kutemukn pncrn sinar yg tak pernah redup
dr wjh kriputny kutemukn kcntikn yg tak prnh pudr olh zaman
kurasakn klembutn shelai kapas dr belaian tangan ksrny
mata sayu tu tlh trlalu lelah menangis d kheningn mlm
sjenak trpejam lalu trlintas sosok bayi mungil yg ia antrkn k dunia
hanya blaian tngan ksrnya lah yg mampu mredam tangs sang bayi
dn bayi tu yg akhrny slma 20 thn tak mampu trkelap sblm mlht wjhny
krna bayi itu adlh aku,putri yg ia antrkn k dunia dgn cinta sbg pnghntrny
kekagumnku mlbhi dunia yg memuja kcntikn cleopatra
dn dunia bserta isiny mnjd saksi pnghrapnku d kheningn mlm
aku ingn mnjumpai mata sayu brhias kriput d wjhny itu d tmpt dmn para bidadari bkumpul
ats nama cinta utkny yg ku panggil ibu..
With love assyifa
karna bagiku cleopatra buknlh yg tcntik
bidadari itu..
Pemilik mata sayu yg wjhny d hiasi garis2 kriput
yg tanganya kasar dn rmbutnya d dominasi akn wrna putih
tapi dr mata sayu tu kutemukn pncrn sinar yg tak pernah redup
dr wjh kriputny kutemukn kcntikn yg tak prnh pudr olh zaman
kurasakn klembutn shelai kapas dr belaian tangan ksrny
mata sayu tu tlh trlalu lelah menangis d kheningn mlm
sjenak trpejam lalu trlintas sosok bayi mungil yg ia antrkn k dunia
hanya blaian tngan ksrnya lah yg mampu mredam tangs sang bayi
dn bayi tu yg akhrny slma 20 thn tak mampu trkelap sblm mlht wjhny
krna bayi itu adlh aku,putri yg ia antrkn k dunia dgn cinta sbg pnghntrny
kekagumnku mlbhi dunia yg memuja kcntikn cleopatra
dn dunia bserta isiny mnjd saksi pnghrapnku d kheningn mlm
aku ingn mnjumpai mata sayu brhias kriput d wjhny itu d tmpt dmn para bidadari bkumpul
ats nama cinta utkny yg ku panggil ibu..
With love assyifa
syifa'ul Qolbu tetap milikmu
Dengarlah cinta..
Dalam bisikan hati ini....
Ada namamu diiringi melodi cinta karena Allah
Perhatikanlah...
Kisah kita akan selalu membayangi langkah hidupku
Cinta, tak ada perpisahan bagiku setelah Allah mempertemukan kita.
Bahkan maut pun bukanlah perpisahan untuk kita
Tapi maut akan menjadi awal kebersamaan yang abadi
Cinta, ingatkah indahnya Allah mempertemukan kita??
Kemudian Ia menyatukan kita dalam sebuah nama,
Nama itu mampu menjadi obat di kala sedihku, di kala aku rindu, di kala aku merasa terpuruk
Nama yang dibingkai oleh cinta karena Allah itu mampu menjadi obat hatiku
Nama itu tersusun di atas nama cinta kita karena Allah
maka namamu akan menjadi bagian dari obat hatiku selamanya hingga Allah mempertemukan kita lagi di Jannah-Nya
Ingatkah rumus yang kita buat bersama ??
Kini rumus itu kukembangkan menjadi
Nama kita x cinta Allah = 1
Aku ingin nama kita memiliki tempat khusus di hatimu
Cinta, seperti yang pernah kita sepakati
Bahwa kita semua memang mujahidah yang cengeng, yang mudah sekali menangis
Tak jarang di setiap pertemuan, ada saja air mata yang terjatuh
Bahkan tak jarang kita menangis berjama’ah
Dan aku selalu menyatakan diri bahwa aku jauh lebih kuat dari kalian,
bahwa aku lebih kuat menahan air mata ketimbang kalian
Tapi kini terpaksa kutelan ludahku sendiri
Ketika kutuliskan ini, aku tak mampu menahan air mataku,
Cinta, kuharap aku bisa menghabiskan senja di tepi laut bersamamu
Lalu kan kuijinkan kita berteriak dan menangis berjama’ah
Tapi dengan catatan tangisan kita tak boleh lebih banyak dari senyum yang mampu mejadi semangat
Tapi ingat bukan tangisan sedih karena perpisahan
Melainkan tangisan kebahagiaan karena Allah menghendaki kita untuk dipertemukan dan dipersatukan baik di dunia maupun di akhirat kelak
Dan ingatlah tak ada kata perpisahan dalam cinta kita!!
Maafkan aku, aku hanya ingin mengabadikan nama kita dalam notes ini
Ukhibukifillah ukhti.....
Dalam bisikan hati ini....
Ada namamu diiringi melodi cinta karena Allah
Perhatikanlah...
Kisah kita akan selalu membayangi langkah hidupku
Cinta, tak ada perpisahan bagiku setelah Allah mempertemukan kita.
Bahkan maut pun bukanlah perpisahan untuk kita
Tapi maut akan menjadi awal kebersamaan yang abadi
Cinta, ingatkah indahnya Allah mempertemukan kita??
Kemudian Ia menyatukan kita dalam sebuah nama,
Nama itu mampu menjadi obat di kala sedihku, di kala aku rindu, di kala aku merasa terpuruk
Nama yang dibingkai oleh cinta karena Allah itu mampu menjadi obat hatiku
Nama itu tersusun di atas nama cinta kita karena Allah
maka namamu akan menjadi bagian dari obat hatiku selamanya hingga Allah mempertemukan kita lagi di Jannah-Nya
Ingatkah rumus yang kita buat bersama ??
Kini rumus itu kukembangkan menjadi
Nama kita x cinta Allah = 1
Aku ingin nama kita memiliki tempat khusus di hatimu
Cinta, seperti yang pernah kita sepakati
Bahwa kita semua memang mujahidah yang cengeng, yang mudah sekali menangis
Tak jarang di setiap pertemuan, ada saja air mata yang terjatuh
Bahkan tak jarang kita menangis berjama’ah
Dan aku selalu menyatakan diri bahwa aku jauh lebih kuat dari kalian,
bahwa aku lebih kuat menahan air mata ketimbang kalian
Tapi kini terpaksa kutelan ludahku sendiri
Ketika kutuliskan ini, aku tak mampu menahan air mataku,
Cinta, kuharap aku bisa menghabiskan senja di tepi laut bersamamu
Lalu kan kuijinkan kita berteriak dan menangis berjama’ah
Tapi dengan catatan tangisan kita tak boleh lebih banyak dari senyum yang mampu mejadi semangat
Tapi ingat bukan tangisan sedih karena perpisahan
Melainkan tangisan kebahagiaan karena Allah menghendaki kita untuk dipertemukan dan dipersatukan baik di dunia maupun di akhirat kelak
Dan ingatlah tak ada kata perpisahan dalam cinta kita!!
Maafkan aku, aku hanya ingin mengabadikan nama kita dalam notes ini
Ukhibukifillah ukhti.....
mata kecil mujahid kecilku
Mujahid kecilku, kau terlalu kecil untuk tau bahwa merah yg mengalir deras dari sekujur tubuh orang-orang tercintamu itu bukanlah tinta merah,
Tapi kau cukup tau bahwa aliran berwarna merah itu adalah bukti rasa sakit orang-orang tercintamu
Mujahid kecilku, kau terlalu kecil untuk tau bahwa merah menyala di langit kelam itu bukanlah kembang api, bukan sorot lampu, bukan pula bintang-bintang apalagi pelangi.
Tapi kau cukup tau bahwa merah menyala di langit kelam itu telah merampas ayah, ibu, kakak, dan semua harapanmu
Setidaknya mata kecilmu kini tau siapa Makhluk bernama iblis berwujud manusia yg telah menebar merah menyala di langit kelam itu.
Tapi tenangalah…
Merah menyala itu kan menjadi teman hidup mereka di dunia hingga akhirat akhirnya di sarang iblis-iblis bernama neraka jahanam,
Dan akan ada pelangi, bintang-bintang juga cahaya terang yang akan menemani orang-orang yang kau cintai di tempat terindah bernama surga
Tapi kau cukup tau bahwa aliran berwarna merah itu adalah bukti rasa sakit orang-orang tercintamu
Mujahid kecilku, kau terlalu kecil untuk tau bahwa merah menyala di langit kelam itu bukanlah kembang api, bukan sorot lampu, bukan pula bintang-bintang apalagi pelangi.
Tapi kau cukup tau bahwa merah menyala di langit kelam itu telah merampas ayah, ibu, kakak, dan semua harapanmu
Setidaknya mata kecilmu kini tau siapa Makhluk bernama iblis berwujud manusia yg telah menebar merah menyala di langit kelam itu.
Tapi tenangalah…
Merah menyala itu kan menjadi teman hidup mereka di dunia hingga akhirat akhirnya di sarang iblis-iblis bernama neraka jahanam,
Dan akan ada pelangi, bintang-bintang juga cahaya terang yang akan menemani orang-orang yang kau cintai di tempat terindah bernama surga
shinu hodo koishii
Selasa, 30 maret 2010
Dear Kekasih Allah,
Disini, aku berharap semoga engkau dibanjiri shalawat serta salam dari jutaan umatmu yang masih mencintaimu hingga tiba saatnya kami dipertemukan denganmu. Dan sudikah kiranya engkau menerima cinta dan rindu yang begitu sesak menyesaki dadaku. Rindu ini begitu menyiksaku, hingga airmata ini tak mampu lagi menahan diri untuk tak membasahi pipiku.
Wahai kekasih Allah, malam ini ku bermaksud mengobati rinduku dengan menyaksikan kisahmu melalui sebuah film. Tapi apa yang terjadi? Rinduku ini semakin menjadi dan dadaku semakin sesak dibuatnya. Aku iri bahkan benar-benar iri dengan mereka yang bisa menatap wajahmu, mendengar suaramu, menghabiskan waktu disampingmu, berjuang bersamamu, dan berdiri di hadapanmu agar pedang dan panah-panah yang hendak memburumu itu tak bertengger di tubuhmu melainkan ke tubuhku. Dan jika hal itu terjadi kan kututup usiaku dengan senyuman kebahagiaan tanpa mengindahkan rasa sakit yang dihasilkan tajamnya ujung tombak dan pedang.
Ijinkan aku sebentar saja larut dalam imajinasiku. Dimana ada engkau di hadapanku, maka takkan aku palingkan mataku dari menatap wajahmu yang menentramkan hatiku dan mengingatkanku pada Kekasih Sejatimu. Dan kan kumanjakan telingaku dengan suaramu yang lembut.
Jika saja doraemon benar-benar ada maka kan kupinjam pintu ajaibnya untuk menemuimu di masa indahnya islam bersamamu.
Dear Kekasih Allah,
Disini, aku berharap semoga engkau dibanjiri shalawat serta salam dari jutaan umatmu yang masih mencintaimu hingga tiba saatnya kami dipertemukan denganmu. Dan sudikah kiranya engkau menerima cinta dan rindu yang begitu sesak menyesaki dadaku. Rindu ini begitu menyiksaku, hingga airmata ini tak mampu lagi menahan diri untuk tak membasahi pipiku.
Wahai kekasih Allah, malam ini ku bermaksud mengobati rinduku dengan menyaksikan kisahmu melalui sebuah film. Tapi apa yang terjadi? Rinduku ini semakin menjadi dan dadaku semakin sesak dibuatnya. Aku iri bahkan benar-benar iri dengan mereka yang bisa menatap wajahmu, mendengar suaramu, menghabiskan waktu disampingmu, berjuang bersamamu, dan berdiri di hadapanmu agar pedang dan panah-panah yang hendak memburumu itu tak bertengger di tubuhmu melainkan ke tubuhku. Dan jika hal itu terjadi kan kututup usiaku dengan senyuman kebahagiaan tanpa mengindahkan rasa sakit yang dihasilkan tajamnya ujung tombak dan pedang.
Ijinkan aku sebentar saja larut dalam imajinasiku. Dimana ada engkau di hadapanku, maka takkan aku palingkan mataku dari menatap wajahmu yang menentramkan hatiku dan mengingatkanku pada Kekasih Sejatimu. Dan kan kumanjakan telingaku dengan suaramu yang lembut.
Jika saja doraemon benar-benar ada maka kan kupinjam pintu ajaibnya untuk menemuimu di masa indahnya islam bersamamu.
untuk wajah yang selalu melintas di rabithohku
Sesungguhnya Engkau tau bahwa hati ini telah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan, Bersatu dalam perjuangan
Menegakan syari’at dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalanNya
Terangilah dengan cahaya Mu yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami
Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu
Hidupkan dengan ma’rifatMU, matikan dalam syahid di jalanMU
Engkaulah pelindung dan pembela
Do’a itu terngiang lagi di telingaku, membawa alam bawah sadarku ke suatu malam hening. Semakin hening ketika tiba-tiba mati lampu dan hanya di terangi lampu HP. Kami duduk melingkar, berpegangan tangan erat. Genggaman tangan itu semakin erat ketika do’a yang terlantun indah memecah keheningan. Malam itu, sengaja kami pejamkan mata kami agar wajah saudara-saudara kami melintas bebas dengan senyuman. Tak terasa, hati ini tiba-tiba sesak hingga air mata menjadi bukti betapa hati ini penuh sesak oleh ukhuwahfillah yang sedang kami nikmati saat ini.
Malam itu terlalu singkat berlalu, tapi genggaman tangan saudara-saudaraku masih bisa kurasakan setiap ku dengar do’a ini,
Untukmu yang selalu mencintai ukhuwah ini, kutitip wajahku dalam rabithohmu...
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan, Bersatu dalam perjuangan
Menegakan syari’at dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalanNya
Terangilah dengan cahaya Mu yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami
Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu
Hidupkan dengan ma’rifatMU, matikan dalam syahid di jalanMU
Engkaulah pelindung dan pembela
Do’a itu terngiang lagi di telingaku, membawa alam bawah sadarku ke suatu malam hening. Semakin hening ketika tiba-tiba mati lampu dan hanya di terangi lampu HP. Kami duduk melingkar, berpegangan tangan erat. Genggaman tangan itu semakin erat ketika do’a yang terlantun indah memecah keheningan. Malam itu, sengaja kami pejamkan mata kami agar wajah saudara-saudara kami melintas bebas dengan senyuman. Tak terasa, hati ini tiba-tiba sesak hingga air mata menjadi bukti betapa hati ini penuh sesak oleh ukhuwahfillah yang sedang kami nikmati saat ini.
Malam itu terlalu singkat berlalu, tapi genggaman tangan saudara-saudaraku masih bisa kurasakan setiap ku dengar do’a ini,
Untukmu yang selalu mencintai ukhuwah ini, kutitip wajahku dalam rabithohmu...
haruskah ibu kartini tersnyum?
“Andai saja Ibu Kartini masih ada, mungkin ia akan tersenyum bahagia melihat wanita Indonesia saat ini bisa bersekolah tinggi, berkarier layaknya pria, dan tak lagi dipandang sebelah mata oleh kaum laki-laki.”
Setidaknya banyak orang beranggapan seperti itu di sepanjang April ini. Mungkin benar adanya, karena perjuangannyalah perempuan Indonesia saat ini bisa mengenyam pendidikan sama tingginya dengan kaum laki-laki. Karena perjuangannya, perempuan Indonesia saat ini bisa berkarier sama tingginya dengan kaum laki-laki. Dan patutlah kaum hawa bersyukur atas kesempatan ini. Kesempatan yang tidak hanya harus disyukuri tapi juga dijaga agar semua perjuangannya tidak ternodai oleh hal-hal yang jauh dari norma dan adab.
Tapi haruskah ibu kartini tersenyum?jika ia melihat fenomena yang terjadi saat ini?dimana perempuan Indonesia saat ini telah kehilangan jati dirinya sebagai perempuan Indonesia yang identik dengan kelembutan, keramahan dan penuh sopan santun.
Haruskah ibu kartini tersenyum?jika ia tahu bahwa perempuan Indonesia yang nasibnya ia perjuangkan, kini telah berkiblat pada dunia barat dalam berpakaian, bertingkahlaku, dan bergaul?
Lihatlah bagaimana cara berpakaian mereka saat ini, yang gemar berpakaian serba mini. Entahlah mungin cuaca di Indonesia sudah semakin panas atau mungkin masyarakat kita sudah terlalu miskin untuk hanya membeli selembar kain yang bisa menutupi aurat wanita.
Belum lagi jika ia melihat fenomena kekerasan antar siswi yang menjadi trend baru dalam pergaulan remaja putri saat ini. Jika ditelusuri pemicunya adalah soal popularitas, dan yang mengiris hati hanya karena merebutkan sang pujaan hati mereka rela mempermalukan dirinya sendiri.
Memilukan mungkin kebebasan yang dulu diperjuangkan ibu Kartini kini disalahgunakan. Kebebasan yang dulu ia perjuangkan bukanlah kebebasan bertindak semaunya, bukan kebebasan berpakaian semininya, bukan kebebasan bergaul sebebasnya tanpa batas.
Ibu kartini pun tidak pernah mengajarkan kita kalau kita boleh mengatasnamakan emansipasi wanita di setiap pengkhianatan atas perjuangannya. Karena saat ini nyatanya banyak orang yang mendewa-dewakan emansipasi wanita tapi sebenarnya telah melanggar apa yang diharapkan ibu Kartini dalam perjuangannya. (Assyifa)
Setidaknya banyak orang beranggapan seperti itu di sepanjang April ini. Mungkin benar adanya, karena perjuangannyalah perempuan Indonesia saat ini bisa mengenyam pendidikan sama tingginya dengan kaum laki-laki. Karena perjuangannya, perempuan Indonesia saat ini bisa berkarier sama tingginya dengan kaum laki-laki. Dan patutlah kaum hawa bersyukur atas kesempatan ini. Kesempatan yang tidak hanya harus disyukuri tapi juga dijaga agar semua perjuangannya tidak ternodai oleh hal-hal yang jauh dari norma dan adab.
Tapi haruskah ibu kartini tersenyum?jika ia melihat fenomena yang terjadi saat ini?dimana perempuan Indonesia saat ini telah kehilangan jati dirinya sebagai perempuan Indonesia yang identik dengan kelembutan, keramahan dan penuh sopan santun.
Haruskah ibu kartini tersenyum?jika ia tahu bahwa perempuan Indonesia yang nasibnya ia perjuangkan, kini telah berkiblat pada dunia barat dalam berpakaian, bertingkahlaku, dan bergaul?
Lihatlah bagaimana cara berpakaian mereka saat ini, yang gemar berpakaian serba mini. Entahlah mungin cuaca di Indonesia sudah semakin panas atau mungkin masyarakat kita sudah terlalu miskin untuk hanya membeli selembar kain yang bisa menutupi aurat wanita.
Belum lagi jika ia melihat fenomena kekerasan antar siswi yang menjadi trend baru dalam pergaulan remaja putri saat ini. Jika ditelusuri pemicunya adalah soal popularitas, dan yang mengiris hati hanya karena merebutkan sang pujaan hati mereka rela mempermalukan dirinya sendiri.
Memilukan mungkin kebebasan yang dulu diperjuangkan ibu Kartini kini disalahgunakan. Kebebasan yang dulu ia perjuangkan bukanlah kebebasan bertindak semaunya, bukan kebebasan berpakaian semininya, bukan kebebasan bergaul sebebasnya tanpa batas.
Ibu kartini pun tidak pernah mengajarkan kita kalau kita boleh mengatasnamakan emansipasi wanita di setiap pengkhianatan atas perjuangannya. Karena saat ini nyatanya banyak orang yang mendewa-dewakan emansipasi wanita tapi sebenarnya telah melanggar apa yang diharapkan ibu Kartini dalam perjuangannya. (Assyifa)
Hidup ini ga se-singkat reality show
Pernah melihat reality show yang menghadiahkan sejumlah uang untuk orang yang bersabar?atau reality show yang mencari orang yang rela berkorban menolong orang dan di penghujung cerita si penolong dikejutkan dengan sejumlah uang dari kru TV tersebut?dan juga Reality show yang mengejutkan orang dengan sejumlah pertanyaan dan setiap jawaban di bayar tunai.
Ternyata indahnya menjadi orang sabar, menjadi orang yang rela berkorban untuk orang lain serta beruntungnya menjadi orang yang berilmu. Buktinya ada balasan dan penghargaan di akhir cerita seperti dalam reality show.
Ajaibnya semua orang berlomba-lomba memutar diri menjadi orang yang sabar, penolong, dan berwawasan luas tapi sayangnya semua terobsesi mendapat hadiah dari reality show.
Sebenarnya tak perlu masuk reality show untuk mendapatkan balasan setelah melakukan kebaikan. Karena sejak reality show belum naik daun bahkan mungkin sejak tivi masih dalam angan-angan. Balasan atau hadiah itu sudah ada untuk orang-orang yang berbuat kebaikan. Bukan satu atau dua juta bahkan bisa melebihi dunia dan seisinya bisa kita dapatkan karena Allah punya kuasa atas hal itu.
Sayangnya, kebanyakan dari kita baru menyadarinya hari ini ketika semua terekam dalam kamera dan menjadi konsumsi public. Dan itupun karena ada aiming-iming imbalan.
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu”,
“Sessungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”
Begitu petikan ayat Allah yang menerangkan janji Allah untuk meninggikan derajat bagi orang-orang yang berilmu, Allah akan selalu menyertai orang-orang yang bersabar, dan Allah memberikan predikat terbaik untuk manusia yang bisa menolong orang lain. Jadi, sebenarnya tanpa ada reality show beserta imbalannya masuk dalam kehidupan kita pun Allah akan memberikan balasan yang jauh lebih menggiurkan dari imbalan reality show. (Assyifa)
Ternyata indahnya menjadi orang sabar, menjadi orang yang rela berkorban untuk orang lain serta beruntungnya menjadi orang yang berilmu. Buktinya ada balasan dan penghargaan di akhir cerita seperti dalam reality show.
Ajaibnya semua orang berlomba-lomba memutar diri menjadi orang yang sabar, penolong, dan berwawasan luas tapi sayangnya semua terobsesi mendapat hadiah dari reality show.
Sebenarnya tak perlu masuk reality show untuk mendapatkan balasan setelah melakukan kebaikan. Karena sejak reality show belum naik daun bahkan mungkin sejak tivi masih dalam angan-angan. Balasan atau hadiah itu sudah ada untuk orang-orang yang berbuat kebaikan. Bukan satu atau dua juta bahkan bisa melebihi dunia dan seisinya bisa kita dapatkan karena Allah punya kuasa atas hal itu.
Sayangnya, kebanyakan dari kita baru menyadarinya hari ini ketika semua terekam dalam kamera dan menjadi konsumsi public. Dan itupun karena ada aiming-iming imbalan.
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu”,
“Sessungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”
Begitu petikan ayat Allah yang menerangkan janji Allah untuk meninggikan derajat bagi orang-orang yang berilmu, Allah akan selalu menyertai orang-orang yang bersabar, dan Allah memberikan predikat terbaik untuk manusia yang bisa menolong orang lain. Jadi, sebenarnya tanpa ada reality show beserta imbalannya masuk dalam kehidupan kita pun Allah akan memberikan balasan yang jauh lebih menggiurkan dari imbalan reality show. (Assyifa)
Langganan:
Komentar (Atom)